Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
21. Kutukan Belasan Tahun yang Lalu



Marchioness mendongak saat mereka sampai di ujung kaki tangga menuju kuil di puncak bukit sebelah Utara Sormenia. Kabut tebal menutupi sebagian gunung, tapi bangunan besar itu masih bisa dijangkau oleh mata.


Marchioness mengusap perutnya yang membuncit. Apa dia sanggup menaiki anak tangga satu-persatu?


"Ayo," ajak Marquis Thompsville lalu menggandeng Selene de Cera, istrinya yang berasal dari keluarga Monswill itu naik ke atas.


Selene mengangguk. Ia berbalik, menatap Athene kecil dan membungkuk. "Ibu pergi sebentar, tolong tunggu di sini mungkin tidak akan lama. Mengerti?"


Athene terlihat enggan. "Ibu, jangan tinggalkan aku ...."


"Pelayan-pelayan juga di sini bersamamu. Athene tidak akan sendirian," bujuk sang ibu lalu tersenyum hangat. "Ini demi adikmu. Athene mau mengalah, kan?"


Akhirnya Athene mengangguk pelan. "Hati-hati. Tangganya sangat panjang, jangan sampai adik tercecer."


Selene dan Alfonso tertawa ringan saat mendengar celetukan Athene. "Baik, gadis kecil. Ibu akan menjaganya, sampai jumpa."


Mereka mulai melangkahi satu demi satu anak tangga yang dibangun miring seperti sisi Piramida. Hanya Marquis dan Marchioness saja, tanpa pasukan atau pengawalan lebih sebab mereka akan mendatangi sang Tetua. Bukan hal yang baik jika membawa senjata dan pengawal saat datang ke tempatnya bertapa selama lebih puluhan tahun.


Bangunan kuil dibuat dengan pahatan patung-patung yang berjejer di sekeliling ruangan. Warna kuning kecoklatan dan putih lebih mendominasi, sekilas terlihat seperti warna pasir yang dipahat apik namun tetap kokoh.


"Lewat sini."


Marquis mengangguk saat seseorang yang dia kenal sebagai pelayan sang Tetua mempersilahkan mereka masuk. Berbeda dengan nuansa terang di luar, di dalam ruangan Tetua justru dibuat gelap dengan melebihkan warna hitam dan ungu tua. Berbagai jimat tertempel di setiap sudut sampai-sampai Marchioness mengernyit. Tangannya ingin sekali mencabuti jimat-jimat itu sampai tak bersisa. Baginya, kertas aneh itu hanya mengurangi nilai estetika sebuah ruangan.


"Duduk."


Marquis dan Marchioness duduk bersampingan. Sesuai tradisi keluarga, mereka harus kemari saat istri sedang mengandung. Marquis tersenyum senang sambil mengusap perut istrinya.


"Istri saya sedang hamil. Apakah Anda bisa meramalkan bagaimana kedepannya?"


Tetua mengangguk. Dia membaca-baca mantra sambil memonitori Marchioness menggunakan tangannya lalu mengamati sesuatu dari balik kuali.


"Anakmu memiliki kutukan. Sejenis kutukan yang berasal dari keluarga terdahulu."


Bak tersambar petir di siang bolong, Marquis terkejut bukan main.


"Itu karena Crystal Lady pertama pernah membunuh salah satu dari anak kembar suci di perbatasan Sormenia saat perang berlangsung. Dia tidak melakukan penebusan dosa, dan kebetulan anak kalianlah yang akan menanggungnya."


Marquis Thompsville tahu Crystal Lady mana yang Tetua maksud. Dia adalah wanita yang sama dengan pencetus gelar itu sendiri, wanita kesayangan Raja walau akhirnya mereka tidak ditakdirkan bersama.


Gelar Crystal Lady menyiratkan level yang tertinggi terhadap wanita di keluarga mereka. Tapi ada dampaknya juga dibalik hal itu. Anak lain yang menjadi korban.


"T-tapi kenapa harus anak kami?" tanya Marchioness yang siap menumpahkan air mata.


"Itu karena anak kalian akan terlahir kembar." Berita bahwa anaknya terlahir kembar cukup menggembirakan, tapi secepat itu jualah angin masalah kembali menerpa mereka. "Kutukan ini sudah pernah terjadi abad lalu, tapi sangat jarang. Para tabib mulia memberi nama kutukan ini sebagai kutukan twinster. Tapi jangan khawatir sebab kutukan itu hanya bekerja untuk satu orang dari salah satu kembar. Setelah sembilan belas tahun, saat kalian yakin anak mana yang mengandung kutukan, maka jangan biarkan dia tetap hidup."


"Maksud Anda kami harus membunuhnya?!" Marquis Thompsville hampir dirundung emosi namun cepat-cepat Marchioness menyentuh tangannya untuk menenangkan.


Ketimpangan macam apa ini, pikir Marquis.


"Apa tidak ada cara lain untuk menghapus kutukannya, Tetua?" Selene hampir putus asa. "Kami akan berusaha sebisa mungkin."


"Kutukan bisa dihapus hanya dengan Crystal Lady yang bersangkutan." Tetua menggeleng samar, "Maaf, dosa tetaplah dosa."


Marchioness merasa hidupnya tidak adil. Kenapa harus anaknya yang mengalami hal sepahit ini, kenapa. Kenapa tidak orang lain saja, kenapa harus dirinya. Dia merutuk, nyatanya keluarga de Cera yang dia agung-agungkan sejak dulu tidaklah sesempurna pikirannya. Sekarang, keturunannya lah yang terancam.


"Apa yang terjadi jika kami melanggarnya?"


"Anak itu membawa kesialan, maka seluruh aset dan harta akan habis sia-sia. Nama keluarga akan lenyap, kalian akan kembali ke titik nol," jawab Tetua sesuai dengan apa yang dilihatnya. "Aku tahu, kalian pasti tidak ingin jatuh miskin, kan?"


Semenjak hari itu, suasana manor house Thompsville yang awalnya hangat perlahan berubah. Marchioness lebih sering mengurung diri di kamar yang terpisah dengan suaminya. Setiap jam makan, dia lebih sudi tetap di kamar daripada turun dan makan bersama yang lain di meja makan. Marquis Thompsville selalu berusaha membujuknya, tapi sambutan Marchioness justru selalu berakhir dengan amukan.


Dan puncaknya terjadi pada suatu malam. Athene sendirian, menunggu kedua orang tuanya di meja makan sambil sesekali melihat ke arah pintu. Kapan mereka makan, pikirnya bingung. Rasa penasaran melandanya, daripada menunggu Athene lebih memilih untuk mencari mereka dan mengajak makan malam bersama-sama.


"Semua ini karena keluargamu! Salah satu anakku yang malang harus memiliki kutukan menjijikkan yang kau bawa. Katakan, Alf, katakan. Apa yang harus ku lakukan sekarang?!"


Athene mematung saat mendengar amukan Marchioness dari balik pintu. Tubuhnya gemetar ketakutan dan satu hal meracuni pikirannya; biang masalah yang merenggangkan hubungan kedua orang tuanya disebabkan oleh salah satu calon adik yang belum lahir. Anak kutukan. Pembawa masalah. Penghancur segalanya. Itu yang dia pikirkan.


Tangan mungil Athene mencengkeram erat sisi gaunnya sampai terdapat garis-garis kusut yang samar. Dia membenci adik pembawa sial.


"Jika kau tidak ingin membunuhnya, maka lakukanlah. Tapi ku peringatkan padamu, jika waktunya telah tiba jangan sesekali mencoba menghalangiku untuk menjauhkannya dari keluarga kita." Marquis Thompsville memeluk istrinya yang kacau. Matanya sembab, belum lagi kantong mata yang membesar dan tubuhnya yang juga semakin kurus. Marchioness benar-benar terpukul. "Kita bisa saja mengorbankan satu anak, tapi jika melepaskan aset de Cera ... maka kita telah menyia-nyiakan ratusan tetes darah leluhur yang berjuang demi kesejahteraan kita. Itu bukanlah hal yang sepadan."


Deru nafas Marchioness memenuhi ruangan. "Kau merelakan darah daging mu sendiri, begitu?" Ia tersenyum getir.


"Demi keluarga kita, Selene." Marquis kembali memeluk tubuh istrinya yang ringkih. "Demi Athene, dan calon anak kita yang lain."


Marchioness tidak bisa berkata apa-apa selain menangis dan memeluk erat tubuh suaminya.


Marchioness bertekad di dalam hati. Walau terasa seperti berjalan di atas duri, dia harus bisa membenci anak yang dikutuk itu. Dengan begitu, penderitaan yang seperti ini tidak akan dialaminya lagi saat kepergian sang anak. Dia harus membencinya ... demi de Cera, putra-putrinya, dan Marquis. Perasaannya sebagai seorang ibu memberontak, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Untuk sementara biarkan dia tinggal di sini."


Marquis mengernyit. "Kenapa?"


"Biarkan aku melihatnya tumbuh besar. Setidaknya kita memberinya fasilitas sampai usianya cukup untuk hidup sendiri." Marchioness menjeda. "Lagipula ... kutukan twinster sangat tidak adil untuknya."


"Ya, lakukan jika itu membuatmu senang." Marquis mengusap pundak Selene lalu mencium puncak kepalanya. Tidak ada yang lebih menyakitkan dibanding terpaksa dipisah dari buah hati.


Setelah itu Athene berjalan ke kamarnya, melupakan makan malam dan tidur lebih cepat. Pribadinya yang tertutup membuat orang-orang tidak tahu, apa yang ada di pikirannya bahkan Marchioness yang notabene orang terdekat Athene pun tidak mengerti dengan jalan pikirannya. Dia menyimpan kebencian yang kuat terhadap anak yang dikutuk dan bersumpah untuk menyingkirkan anak itu secepatnya agar keluarga de Cera kembali hangat seperti sedia kala.


Athene kecil yang malang, tumbuh dalam pikiran polos yang malah menjebaknya sampai dia beranjak dewasa.