
"Ck, berhenti minum arak!" Alastair merebut botol kaca yang Luz pegang dengan serampangan. "Ini sudah yang ketujuh botol, tahu."
"Memangnya apa urusanmu?" Wajah gadis itu memerah, berbicara melantur antara sadar atau tidak. "Oh, iya. Aku pinjam uangmu dulu ya, Grand Duke."
Alastair menghela napas.
Setelah Luz keluar dari rumah bordil tadi, ekspresinya sama sekali tidak bisa dibaca. Begitu tenang namun —menurut Alastair— datar dan sedikit tegang. Setelah mendapat uangnya kembali, Luz bahkan urung mewujudkan keinginannya untuk memotong kesembilan jari si pencuri seperti sumpah serapahnya.
Ajaib, Luz malah membagi uangnya yang dicuri tersebut dan memberikan setengahnya untuk pencuri disertai nasihat agar berhenti menyusahkan orang lain.
Si perhitungan tiba-tiba memberi tanpa pamrih. Benar-benar aneh.
Akhirnya mereka kembali ke kedai arak yang ingin Alastair tunjukkan. Sepanjang jalan Luz hanya diam, menjawab seadanya jika Alastair bertanya. Hal tersebut masih terjadi sampai mereka duduk di salah satu kursi deretan kiri, sedangkan Luz masih termenung.
Dan di sinilah mereka sekarang.
"Terjadi sesuatu di tempat tadi?"
Luz menoleh sekilas. Menggali bola mata topaz itu lebih dalam dan memutuskan percaya padanya untuk berbagi cerita.
Perlahan ia mengangguk.
"Temanmu bekerja di sana?"
"Tidak."
"Kau dilecehkan?"
Luz terkekeh, "Bisa-bisanya berfikir seperti itu."
"Itu, 'kan, tempat kotor." Alastair mengedikkan bahu. "Atau kau bertemu dengan seorang?"
"Kurang lebihnya. Ya."
Alastair menatapnya dalam. "Apa Ochonner?!"
"Bukan!" Luz membalasnya dengan tatapan kesal lalu memukul bahu Alastair walau pria itu sama sekali tidak bergerak. "Kembaranku bukan tipikal pria seperti itu."
"Lalu siapa?"
"Rasa penasaran itu terkadang bisa membunuhmu, Grand Duke." Luz memesan sebotol arak sekali lagi lalu menuangkannya ke dalam gelas kaca. "Eh, kau mau?"
Alastair memajukan gelasnya lalu Luz mengisi benda tersebut dengan arak yang ia pegang. Ha, minum sedikit saja rasanya tidak akan cukup.
"Sebetulnya aku pernah dekat dengan putra mahkota."
Alastair menghentikan gerakannya. "Siapa? Aku tidak mendengarnya dengan jelas."
"Putra mahkota."
"Putra mahkota?!" Alastair mengamati ekspresi Luz dan wanita itu terlihat benar-benar jujur. "Pangeran Evandre?"
"Siapa lagi." Luz menelungkup kan kepalanya di atas meja. "Berkat pencuri itu, aku jadi tahu semua kebusukan Putra Mahkota."
"Biar ku tebak. Kau memergokinya di rumah bordil bersama wanita lain?" Alastair meminum arak nya dalam sekali teguk.
"Kurang lebih seperti itu. Hah, Grand Duke, apa aku ini gila? Membuang-buang waktu demi pria brengsek otak ************ sepertinya?" Luz mendesah lelah, "Mentang-mentang putra raja, dia berani berbuat seenaknya. Bergonta-ganti wanita, apa dia tidak takut terkena penyakit?!"
"Sebenarnya hal yang seperti itu sudah biasa untuk kalangan kita," jawabnya jujur. "Kenapa kau memutuskan mundur? Kursi putri mahkota tidak bisa didapatkan dua kali."
"Dia tidak benar-benar mencintaiku." Luz tersenyum pahit. "Jika nanti aku menjadi ratu di saat dia baru mendapatkan cinta dari wanita lain, tidak menutup kemungkinan Putra Mahkota sendiri yang akan menurunkan jabatan ku dengan menceraikan ku demi selingkuhannya."
"Aku belajar di komik-komik terkenal." Luz kembali meminum arak nya seperti orang kehausan. Melupakan rasa lapar, wanita itu terus bergumam pada hal yang tidak jelas.
Alastair mengernyit, "Komik?"
"Ah, orang-orang seperti kalian belum pernah membacanya." Luz mendekat, "Buku yang seperti itu hanya ada di zaman ku."
"Aneh. Memangnya apa bedanya dengan zaman sekarang" Alastair khawatir saat melihat Luz kembali menuangkan arak. "Jangan minum lagi, sekarang kita pulang!"
Luz pasrah saja saat Grand Duke menarik tangannya setelah meletakkan uang di atas meja. Mereka keluar dari kedai tersebut, untungnya Alastair ingat ada jalan pintas dari sini menuju mansion milik Ochonner.
"Grand Duke, kenapa kau masih belum menikah, hm. Kaya, tampan, dan sukses. Apalagi yang kau tunggu?"
Alastair tersenyum tipis saat pujian tersebut meluncur dari mulut Luz sementara tangan kokohnya masih menggenggam tangan Luz agar gadis itu tidak berjalan jauh darinya.
"Kau juga sudah tua. Ochonner saja sebentar lagi akan menikahi tunangannya."
Secepat itu juga senyum Alastair luntur. Tua apanya?!
"Tidak semua wanita sama seperti ibumu. Kau harus bisa membedakan mana yang benar-benar tulus dan mana yang hanya ingin kekayaanmu." Cegukan keluar dari mulutnya. "Ku beri tahu satu rahasia. Jika kau ingin mengetes wanita, cobalah bersikap hemat padanya. Kenapa aku berkata seperti itu? Sebab melihat dari kedudukan mu yang tinggi pasti mereka menginginkan banyak harta seperti ekspektasinya. Hanya seminggu, dan lihatlah perubahan sikap mereka padamu. Ah, tidak usah panjang lebar, kau akan tahu nanti jika sudah mencobanya."
Alastair menoleh dengan dahi yang mengerut, dari mana wanita ini tahu masalah ibunya?
Mengingat akan hal itu, lagi-lagi Alastair hanya bisa tersenyum pahit.
"Lady Odyssey, andai aku menyukaimu, apa yang akan kau lakukan?"
"Cih, aku tidak percaya ada perasaan konyol seperti itu pada pria." Ia mendengus. "Aku adalah wanita yang hampir menikah, Grand Duke. Nyaris, andai aku tidak berurusan dengan orang sinting yang membawaku kemari."
"Oh ya?" Rasanya cukup gila jika mengobrol dengan orang mabuk tapi ada yang mengatakan jika orang mabuk akan berbicara jujur. "Siapa orang sinting yang kau maksud?"
"Penyihir gila, siapa 'ya namanya ..." Luz memasang pose berfikir. "Ah, Manuel. Ya, itu dia, Manuel!"
Alastair rasa Luz hanya berbicara omong kosong belaka. Menggeleng samar, pria itu memutuskan tutup mulut sampai Luz kembali berbicara.
"Calon suamiku, Erickson. Sedang apa dia di New York sana?"
Alastair tidak tahu bagaimana perasaannya sendiri sekarang. Siapa Erickson, bukankah Marquis Galilee yang hampir menikahinya beberapa bulan yang lalu dan berakhir gagal. Alastair mengenal banyak Lord dan pimpinan di dalam maupun luar Sormenia, tapi tidak ada satupun yang dia kenal bernama Erickson.
Karena Alastair tahu, Marquis Thompsville tidak mungkin menikahkan putrinya dengan pria biasa tanpa status bangsawan.
"Di mana kau mengenal Erickson?"
"Dia dulu teman high school-ku berlanjut sampai menjadi teman kampus," ujar Luz bercerita. "Kami hanya berpacaran dua tahun lalu hampir menikah. Hebat, kan?"
High school?
Kampus?
Semakin lama, Alastair semakin tidak mengerti. Tempat di dunia belahan mana itu, dia tidak tahu. Tapi satu hal yang ia yakini bahwa; Luz berkata jujur.
Ini mungkin kelewat gila, tapi sejak tadi benak Alastair selalu mempertanyakan inti dari cerita Luz yang ia tahu sangat berbeda dengan cerita Odyssey.
Dan pertanyaan paling gila tersebut meluncur begitu saja dari mulut Alastair. "Sebenarnya siapa dirimu, kau bukan Lady Odyssey yang asli, kan?"
"Akhirnya ada orang yang tahu siapa diriku." Luz tertawa terbahak, "Selamat, Grand Duke. Kau orang pertama yang mengetahuinya!"
Alastair terdiam. Setelah mengetahui segalanya, dia ... tidak tahu harus berbuat apa.
"Aku Lovely Anderson," sambungnya parau. "Senang bertemu denganmu, Grand Duke."