Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
63. Akhir Pertarungan



Luz bergerak maju dan menusuk punggung salah satu musuh yang melawan Ochonner. Saat emas tersebut menyentuh pakaian mereka, masih tidak ada reaksi berarti seperti yang Luz harapkan. Sekarang Luz mengerti. Mereka hanya akan mati jika emas bisa menyentuh kulit mereka secara langsung.


Sama seperti yang Luz lihat sebelumnya, saat bilah emas berhasil mengoyak bagian tubuhnya, barulah orang Authoris itu ambruk dan berubah menjadi abu.


Melihat hal tersebut, Ochonner dan yang lainnya sontak mendapat titik terang dari akhir pertarungan ini. Luz menunjuk gudang istana yang pintunya terletak di pojok bangunan tak terpakai lalu bersuara lantang.


"Semua harta disimpan di sana. Apapun itu, asalkan terbuat dari emas ambil dan gunakan untuk membunuh mereka!"


Gerombolan pasukan segera mengambil semua barang yang terbuat dari emas. Beberapa orang Authoris berusaha menghalang-halangi jalan namun bukan berarti pasukan Grand Duke akan menyerah.


Tidak kehabisan akal, orang-orang kanibal itu saling berdiri di depan pintu gudang. Berteriak ganas seolah mengatakan bahwa siapapun yang berani lewat, mereka tidak akan segan-segan untuk melahapnya.


"My Lady!"


Luz yang awalnya merasa kalut akhirnya bisa lega saat melihat Cornelius mendekat. Pria itu tampak baik-baik saja dengan pakaian khas bangsawan. Luz pikir, Cornelius masih mendapat kepercayaan penuh dari Evandre. Putra Mahkota belum mencium tindak pengkhianatannya.


"Ada pintu lain menuju ruangan yang Anda maksud. Mari ikuti saya."


Luz mengangguk. Dengan komandonya, beberapa pasukan disuruh menghadang orang-orang Authoris yang masih berjaga agar mereka tidak curiga saat Grand Duke mengambil pintu lain.


Namun, akhirnya mereka sadar.


"Aneh, kenapa jumlah mereka sangat sedikit?" salah seorang dari mereka tampak menghitung jumlah pasukan Grand Duke yang berhasil dikalahkan.


"Benar juga, bukannya tadi ada banyak? Kalau jumlahnya hanya segini mana mungkin kenyang." Yang lain ikut bertanya-tanya lalu menggaruk kepala.


Tak lama terdengar bunyi dobrakan dari dalam. Bunyi tersebut berasal pintu yang mereka jaga dan hal itu cukup menyadarkan mereka bahwa mereka sedang ditipu. Pasukan Grand Duke sudah masuk ke dalam gudang emas, dan pasukan sedikit yang luka-luka di depannya ini hanyalah umpan agar mereka lengah.


"Sialan!"


Pintu terbuka dengan Ochonner yang lebih dulu membawa samurai emas. Pertarungan kedua dimulai. Mereka saling tabrak, menegaskan siapa yang paling kuat di antara mereka. Tanpa menunggu lama, ratusan bahkan ribuan orang-orang bar-bar sudah dapat dilumpuhkan. Luz akui, mereka benar-benar kuat namun secara bersamaan mereka juga bisa menjadi makhluk lemah saat dihadapkan dengan kekalahannya.


"Milady!"


Jenderal Franklin menghampirinya. Terlihat banyak luka di sekujur tubuh pria itu namun ia tak terlihat menyerah.


"Sampai sekarang saya belum melihat tanda-tanda keberadaan Grand Duke." Jenderal Franklin terlihat cemas, "Apakah Anda melihatnya?"


"D-dia tidak ada?"


Jenderal Franklin mengangguk pelan.


Tanpa ba-bi-bu, Luz langsung berlari dari lorong ke lorong untuk mencari Alastair yang sampai sekarang belum ia lihat keberadaannya. Luz tidak peduli saat napasnya semakin memendek. Dengan sekuat tenaga, menggerakkan kakinya yang lelah agar terus berlari.


Langkahnya terhenti saat melihat Alastair dikepung dimana-mana. Tidak bisa dideskripsikan, antara lega dan khawatir. Pria itu sudah terdesak. Dibelakangnya berdiri dinding setinggi sepuluh meter tampak kokoh tanpa celah untuk kabur, sedangkan di depannya terlihat ada belasan orang bar-bar kelaparan yang sudah meneteskan liur, bersiap mematahkan tulangnya.


"Alastair!"


Alastair langsung tahu bahwa yang memanggilnya saat ini adalah Luz karena sejauh ini, hanya gadis itu yang berani memanggil nama aslinya secara terang-terangan. Alastair dengan sigap menangkap bilah emas yang Luz lemparkan padanya. Sontak orang Authoris mundur selangkah saat tahu bahwa mangsa utama mereka kini membawa senjata emas.


"Kini giliran ku."


Seolah tahu bahwa benda kuning berkilau ini adalah kelemahan mereka, Alastair tanpa aba-aba langsung menusuk musuhnya tanpa ampun. Darah berceceran dari mulut mereka saat benda sepanjang satu meter itu berhasil menembus jantung, merobeknya, sama seperti balon yang ditembus pisau cutter. Menyaksikan hal se-mengerikan itu, beberapa orang Authoris memilih mundur dan kabur melewati pintu keluar. Sayangnya, di depan sana sudah berdiri Jenderal Franklin dengan dua bilah pisau emas.


Pertarungan selesai. Benar-benar selesai.


Orang-orang Authoris sudah dihabisi. Bersamaan dengan debu-debu mereka yang berterbangan di mana-mana.


"Love...." Alastair sempat tersenyum hangat saat maniknya bertabrakan dengan tatapan nanar milik Luz. Luz tidak menyangka, begitu banyak goresan di tubuh pria itu. Dan yang paling parah, sebuah luka dalam melintang dari alisnya hingga ke tulang pipi sebelah kiri.


Alastair melepaskan pedangnya. Dalam sekejap, tubuhnya yang sudah lemah itu langsung ambruk diantara cipratan genangan darah.


"Alastair!" Luz berlari menghampirinya, mengindahkan peringatan Jenderal Franklin yang hanya dianggap angin lalu. Saat mereka bertemu, waktu seolah terhenti. Perasaan keduanya seolah tercampur aduk. Sedih, senang, bahagia, dan terluka. Mereka turut merasakan rasa sakit masing-masing.


Luz tidak bisa kembali menahan sesak saat melihat telapak tangan Alastair yang sebagiannya telah koyak akibat gigitan Orang Authoris. Luz kemudian mendongak. Kembali bertatapan, namun air matanya tak kuasa dibendung saat melihat mata kiri Alastair yang mengeluarkan darah bersamaan dengan garis melintang yang Luz lihat sebelumnya.


"Bodoh."


"Jangan menangis."


Akibat ucapan lirih tersebut, Luz akhirnya benar-benar tak mampu menahan laju air matanya. Luz benar-benar menangis. Terisak-isak sampai napasnya tersendat. Sebaliknya, walau bersusah payah Alastair tetap bergerak maju. Memeluk gadisnya itu dengan pelukan hangat dan menepuk-nepuk punggungnya. Berusaha menenangkan walau dirinya sediri tidak dalam keadaan baik-baik saja.


"Apakah kau terluka?"


Luz menggeleng, masih menguraikan air mata yang teredam di antara pelukan mereka.


"Lalu mengapa menangis, hm?"


"D-dasar tidak peka!" Luz memukul dadanya hingga Alastair terkekeh. "Kenapa hanya terluka, kenapa tidak mati saja sekalian?!"


Aku ingin kau baik-baik saja tanpa terluka sedikitpun, Alastair.


"Aku bukan bayi yang langsung mati saat ditikam." Alastair mengelus lembut surai putih Luz. Bersamaan dengan bibirnya yang tiada henti tersungging kecil. "Tapi aku juga bukan makhluk abadi yang tidak bisa terluka. Aku masih manusia, Love."


Luz mengangguk lemah. Benar. Sekuat apapun, manusia mana yang tidak akan terluka saat dihadapkan dengan monster kanibal dengan jumlah yang sama sekali tidak sedikit?


"Tenang saja." Luz menyentuh tangan Alastair. "Jika kau mati, aku juga pasti akan mati. Begitu, kan?"


Jantung Alastair seolah berhenti. Sebegitu besarnya kah perasaan Luz terhadap dirinya? Apakah Luz memang benar-benar bukan wanita yang sama seperti mendiang ibunya yang suka berkhianat?


Pertanyaan itu, pertanyaan yang sering Alastair pikiran. Hari ini semua keraguannya lenyap tak bersisa.


Jika Luz hanya mencintai kedudukan, dari awal dia pasti sudah memilih Evandre secara pria itu mengemban gelar penerus takhta sehingga ia tidak perlu bersusah payah membantu Alastair.


Jika Luz hanya menginginkan perlindungan, dari awal dia pasti tidak akan berani melancarkan ide hebatnya dan berani mengambil konsekuensi atas perbuatannya itu.


Dan jika Luz hanya menginginkan nama Grand Duchess, dia tidak perlu peduli dan mengorbankan diri untuk ikut andil dalam kejadian ini.


Apakah ... Luz benar-benar merasakan perasaan yang sama terhadap dirinya?


Bolehkah Alastair berharap lebih?


"Love, andai aku—"


"Awas!"


Mereka sontak menoleh saat Evandre dengan mata merah menyala tiba-tiba bergegas menyambar sebilah pedang, turun dari takhtanya. Tatapannya berubah beringas, tidak peduli Alastair atau Luz, salah satu atau lebih baik lagi keduanya harus mati!


"Seorang pengkhianat ternyata juga jatuh cinta pada pengkhianat. Kalian berdua, pergilah ke neraka!"


Saat Evandre mengangkat pedangnya tinggi-tinggi untuk menikam kedua orang tersebut, gerakannya terhenti dengan mulut menganga dan mata terbelalak. Belum sempat menyelesaikan niatnya, tubuh Evandre lah yang justru terjatuh bulat-bulat.


Saat pria itu menghantam lantai, barulah terlihat sebuah pedang menancap di belakang punggungnya.


"Yang Mulia Ratu?!"


Ratu Monetta menatap bengis putranya sendiri. Tangannya yang bergetar masih memegang pedang yang berlumuran darah. Darah yang bukan lain dari Evandre.


"Terima kasih." Luz bersuara, lebih menyerupai cicitan. Tak disangka kedatangannya ke istana beberapa hari yang lalu dapat merubah pikiran sang ratu dan membantu di saat-saat genting seperti ini.


"Terima kasih." Ucapnya lagi lalu kehilangan kesadaran tepat saat Grand Duke berhasil menangkap tubuhnya yang lunglai.


Dalam sekejap, semuanya berubah hitam.


......................


Tolong jangan hujat Luz yang tetiba pingsan ya guys soalnya kan dia dulunya penata rias, kerjaan di depan cermin. Bukan mafia atau CIA yang udah terbiasa sama dunia tusuk-menusukšŸ™Š


Kira-kira apa yang Luz katakan sampai Ratu Monetta rela membunuh anak kesayangannya sendirišŸ¤”


Ayok tinggalkan komentar kalian🤯