Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
52. Taktik Putra Mahkota



"Grand Duke sedang tidak ada di tempat, Milady."


Lagi, Luz mendapatkan jawaban yang sama dari para pelayan di kastil sang Grand Duke. Ia mengacak kepala, sebenarnya di mana orang itu berada?!


"Apakah His Grace ada mengatakan ke mana ia akan pergi?"


"Itu—"


"Ku dengar ada seseorang yang mencariku."


Bertepatan dengan Luz yang berbalik, Grand Duke yang sejak tadi ia cari kini sudah berdiri menjulang tepat di belakangnya. Aha, tepat sekali!


"Kita perlu bicara."


"Apakah kau ingin membicarakan tentang pernikahan kita, calon istri?" Alastair terkekeh saat mendapati wajah Luz yang berubah semerah tomat. "Mari ikut denganku."


Luz melirik sekitarnya. Benar juga, tidak baik rasanya jika membahas pernikahan mereka di tempat yang ramai seperti ini terlebih lagi di depan halaman kastil. Ah, Luz sendiri tidak mengerti, apakah hubungan antara dirinya dan Alastair hanyalah sebatas pernikahan ... politik?


Mengangguk, Luz akhirnya mengikuti langkah Alastair memasuki kastil bertingkat tersebut.


Ia harus memastikan, apa tujuan Alastair sampai berani mengambil langkah besar dengan menikahinya. Dengan begitu Luz tidak akan salah langkah.


Tidak lucu, kan, jika Luz mencintai pria di depannya ini di saat hubungan mereka ternyata bukanlah suami istri yang sesungguhnya. Hanya memainkan peran. Membayangkannya saja sudah membuat Luz tersenyum kecut.


"Kau ... kapan kau datang menghampiri ayahku di Thompsville?" Luz memijit keningnya perlahan.


Merasa di sekitar mereka tidak ada siapa-siapa, barulah mereka berhenti di sebuah ruangan yang terletak di bawah tangga. Tempat yang cukup rahasia, mengingat akan sangat jauh jika mereka berbicara di ruang kerja Grand Duke.


"Tadi pagi. Aku membawa Ochonner bersamaku," jawabnya jujur.


Luz mengangguk paham. Pantas saja kembaran durhakanya itu tidak menunjukkan batang hidungnya sejak tadi pagi, bahkan Ochonner melewatkan sarapannya.


"Terima kasih karena kau bersedia membantuku, Grand Duke. Dengan pernikahan kita, Putra Mahkota tidak akan berani menggangguku lagi."


Alastair mengangguk kecil. "Tidak masalah."


Beberapa waktu yang lalu, Alastair sudah mengetahui segalanya, tentang rencana Evandre yang akan menggunakan titah raja agar bisa menikahkan dirinya dengan Crystal Lady. Dengan atau tanpa persetujuan Luz, semua itu harus dilaksanakan.


Tentang dekrit pernikahan itu sendiri, tidak ada satupun yang bisa menghalanginya. Setinggi apapun jabatan orang tersebut. Terkecuali jika salah satu pasangan sudah menjadi tunangan orang lain sebelum dekrit diturunkan, maka dekrit itu bisa dinyatakan hilang keabsahannya.


"Lalu bagaimana denganmu?"


Alastair menatap Luz. Dalam. Namun wanita itu tidak menyerah dan terus bertanya.


"Sebenarnya keuntungan apa yang ingin kau ambil dari pernikahan ini?"


"Odyssey ...."


Luz menatapnya. Rumit. "Katakan saja, apa tujuanmu, Your Grace."


"Haruskah aku memiliki tujuan untuk melakukan sesuatu?"


"Tentu saja harus karena di dunia ini, tidak ada yang namanya lemah lembut—"


Ucapan Luz terhenti saat Alastair tiba-tiba menunduk lalu menyatukan bibir mereka berdua. Hanya sebuah kecupan, tidak lebih.


Namun hal tersebut sukses membuat Luz membatu.


"Kau benar, di dunia ini tidak ada satu pun yang mengenal lemah lembut. Saling bunuh dan mengkudeta adalah hal biasa." Alastair mendekat, memainkan rambut Luz yang menggantung indah. "Tapi setelah mengenalmu, akhirnya aku mengenal sesuatu yang lebih indah dari lemah lembut. Kau tahu apa?"


Luz tidak menjawab. Wanita itu masih merasa terguncang namun rasa penasaran akan ucapan Alastair selanjutnya lah yang membuat ia rela membuka mulut.


"A-apa?"


Dengan senyum tulus yang sangat jarang dilihat pada dirinya, Alastair menjawab, "Cinta. Aku harap kau tidak marah apalagi melarang diriku karena perasaan ini. Kau menanyakan tujuanku, kan? Inilah tujuanku yang sebenarnya. Menikahi mu demi rasa cinta, hal yang lebih penting untuk didapatkan dibanding hal yang lain. Aku tidak memerlukan takhta atau apapun itu. Asalkan kau bersedia menghabiskan sisa usiamu bersamaku ... bagiku itu sudah lebih dari cukup."


"Alastair." Luz menatap tepat di dalam bola mata topaz pria itu. Begitu jernih dan tajam, Luz tidak bisa mendeteksi kebohongan di dalamnya. Mungkinkah Alastair berkata jujur?


"Katakan, Love. Apa kau merasakan perasaan yang sama padaku?"


"Aku .... tidak tahu."


"Aku tidak memaksa." Alastair mencoba tersenyum simpul namun ia gagal melakukannya. Luz tahu, pria itu sedang jatuh cinta dan patah hati di saat yang bersamaan.


Tetapi Luz belum begitu yakin pada perasaannya sendiri. Dia tidak ingin membohongi siapapun.


Tangannya terulur mengelus lembut surai putih Luz yang digerai. "Masih ada beberapa pekerjaan yang harus kulakukan. Senang melihatmu berada di kastil ku, Crystal Lady."


Alastair kemudian berbalik lalu meninggalkan Luz berdiri sendirian di ruangan tersebut. Mengikuti ke arah mana punggung itu menjauh, Luz menelan air liurnya dengan susah payah. Oh, baik. Sekarang pernikahan politik ini akan semakin sulit!


Alastair berbalik sebentar, sambil menaikkan sebelah alis, dia berkata, "Kali ini mungkin kau belum bisa menerimaku. Tapi besok? Kita tidak tahu. Lihat saja nanti dan aku akan membuatmu jatuh sejatuh-jatuhnya."


Itu pernyataan atau sebuah ... kutukan?


Hal yang lebih mengejutkan Luz, kenapa pria itu bisa berubah seratus delapan puluh derajat. Dulu, saat Luz memegang tangannya saja Alastair akan bereaksi berlebihan. Tapi sekarang?


Dia justru berani mencuri sebuah ciuman!


Sementara itu tanpa seorang pun tahu, Alastair buru-buru melangkah ke sebuah ruangan acak. Menutup pintu lalu bersandar tepat di belakangnya.


Sambil mengusap wajahnya yang memerah sampai ke telinga, Alastair bergumam rendah, "Ah, memalukan. Apa yang baru saja aku lakukan."


...----------------...


"Yang Mulia, Putra Mahkota izin menghadap."


Raja Izaikhel kembali meletakkan pena miliknya di atas meja. Bagian bawah matanya yang menampilkan gurat-gurat lelah itu tampak memandang lurus ke arah pintu. Mengangguk, akhirnya ia memberikan izin kepada Evandre.


"Suruh dia masuk."


Tak lama pria yang mirip seperti sosoknya selagi muda itu muncul di ambang pintu. Setelah pintu tertutup, barulah Evandre menghampirinya seraya membungkuk hormat.


"Panjang umur, Raja Sormenia Yang Agung!"


"Ada apa, Putra Mahkota?" balas Izaikhel tenang. Dia tahu bahwa kedatangan putranya ini pasti ada sesuatu yang dia inginkan.


Menanggalkan tata krama formal, Evandre kembali bangkit lalu terkekeh. "Ayah ternyata sangat mengenal diriku dengan baik."


"Kau putraku, tentu saja aku mengenal dirimu lebih dari siapapun," balas Izaikhel menatap putranya dalam. "Katakan saja, apa yang kau inginkan."


"Aku menginginkan seorang wanita."


Raja Izaikhel tersenyum miring. "Apakah wanita-wanita di rumah bordil itu masih belum cukup untukmu, Putra Mahkota?" sindirnya tajam.


Jujur, Izaikhel sebagai seorang ayah merasa gagal saat tahu bagaimana sikap buruk putranya ini saat berada jauh di bawah pengawasannya. Evandre putranya bukanlah orang sembarangan, dia harus bisa membangun citra baik di masyarakat agar saat proses pengangkatan dirinya sebagai raja di kemudian hari tidak mengalami masalah.


Tapi apa yang bisa Izaikhel harapkan. Tanpa dirinya tahu, cucu haramnya hampir lahir di luar sana andai Grand Duke tidak membantunya menangani masalah ini.


Ha, bukankah itu tidak adil? Evandre yang bertindak tetapi justru Alastair yang bertanggung jawab untuk membantu menyelesaikan semua masalahnya.


Izaikhel merasa kecewa. Sangat.


"Aku menginginkan istri sah," jawab Evandre tanpa pikir panjang. "Aku tahu ayah bisa melakukannya untukku."


"Oh ya? Siapa wanita yang berhasil menarik perhatianmu itu?"


"Crystal Lady, putri kedua Marquis Thompsville. Lady Odyssey de Cera. Aku menginginkannya, ayah."


Izaikhel meledakkan tawanya yang menggema di dalam ruangan tersebut. Ia berdiri, menghampiri putranya lalu menepuk pundak Evandre dengan tatapan bangga.


"Aku tidak menyangka, ternyata kau sudah mengerti konsep politik. Inilah putraku, jika itu mau mu, mudah saja. Ayah akan menurunkan dekrit kerajaan kepada keluarga Thompsville!"


Evandre mengangguk puas. Jujur saja, dirinya tidak terlalu mengerti konsep politik seperti yang Izaikhel katakan. Dia hanya menginginkan Odyssey sebagai istrinya. Miliknya, hanya itu. Tidak boleh ada yang menyentuh wanita itu terutama si Grand Duke sialan yang beruntung bisa dekat dengan Odyssey.


Evandre merasa puas. Alastair ... kali ini biarkan aku yang menjadi pemenang, soraknya di dalam hati.


......................


Hello readers!


Apa kabar nih?


Untuk ummat Islam, author ucapkan Selamat Tahun Baru Hijriah, ya. Semoga semua amal ibadah kita di tahun lalu diterima oleh Allah SWT. Aamiin.


Sekedar spoiler (bagi yang ga suka spoiler silakan di skip) di episode selanjutnya Evandre bakal kalah telak nih karena Grand Duke ternyata sudah melamar Luz duluan ketimbang dekrit Raja turun. Udah, itu aja spoiler nya ntar kalau diterusin yang ada kalian ga baca episode berikutnya😂


Adakah pesan untuk tokoh tercinta kita?


• Pesan untuk Luz/Odyssey


• Pesan untuk Grand Duke


• Or pesan untuk Putra Mahkota?


Silakan tulis di kolom komentar. Jangan lupa semangati babang Grand Duke supaya stop malu-malu kalau lagi sama Luz si calon bininya, ups😆


Sekian, see you next episode!