Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
67. Perpisahan di Saat Yang Manis



Suasana istana selatan terasa sepi dan dingin. Pelayan dan prajurit yang berlaku lalang pun jauh lebih sedikit dibandingkan istana tengah. Giselle cukup enggan menapaki tempat ini andai ibunya, Monetta tidak ditempatkan di sini sejak Alastair naik takhta.


Posisinya, Monetta hanyalah istri dari raja terdahulu. Tidak lagi dihormati, justru terlihat seperti dibuang.


"Apakah ibuku ada di dalam?"


Pelayan yang berdiri di depan pintu kamarnya mengangguk. "Beliau sudah menunggu kedatangan Anda sejak tadi sore."


Setelah mendengar jawaban tersebut, Giselle tanpa ragu membuka pintu kamar mantan ratu. Di sana, di dalam sebuah kamar yang masih bisa dikatakan cukup layak terlihat Monetta sedang berbaring, memunggungi Giselle yang posisinya masih berdiri di depan pintu.


"Ibu."


"Lama sekali," protesnya dingin. "Apakah kau akan berlaku sama seperti mereka juga, Giselle? Mengacuhkan ibu karena sudah melahirkan anak tidak berguna seperti Evandre?"


"Ak-aku tidak bermaksud begitu, ibu—"


"Baguslah. Saat ini, hanya kau seorang yang bisa ibu harapkan."


Monetta bangkit dari ranjangnya. Mempersilakan Giselle duduk di sebuah sofa berwarna biru lembut yang ditata apik di sudut kamar. Disampingnya, sebuah jendela raksasa tampak terbuka lebar, menyuguhkan pemandangan yang mengarah langsung ke luar istana. Di atas langit, Giselle bisa melihat dengan jelas bulan purnama seolah ikut dalam perbincangan mereka.


"Tempat ini sangat tidak layak. Bagaimana ibu bisa tahan?" tanya Giselle bergidik, "Harusnya sebelum bergerak membantu Kaisar, ibu bisa berpikir lebih matang. Sekarang lihat, apa yang sudah dia lakukan terhadap ibu."


"Hari itu aku termakan hasutan Permaisuri untuk membunuh putraku sendiri." Monetta berdehem, merasa canggung saat memanggil Crystal Lady sebagai Permaisuri. "Dia datang di saat yang tepat, hari di mana aku sangat terpuruk. Emosiku tentu langsung meledak dan cenderung tidak hati-hati setelah tahu bahwa ternyata pembunuhnya adalah Evandre. Itu kesalahanku, dan untuk itu ibu akan memperbaikinya."


"Caranya?"


"Bukankah ibu sudah memberitahukannya padamu?" Ia tersenyum miring. "Hanya kau seorang yang bisa ibu harapkan," ulangnya lagi penuh penekanan.


"Aku tidak bisa!" Giselle memotongnya lantang. "Aku tidak ingin bertindak seperti Evandre. Membunuh, meracuni, semuanya aku tidak akan bersedia. Silakan ibu lakukan sendiri, tapi konsekuensinya jangan sekali-kali libatkan aku."


Giselle berdiri, melangkah cepat ke arah pintu namun Monetta kembali menambahkan.


"Aku tidak memintamu untuk membunuh siapapun, Giselle. Kesalahan kakakmu, jangan sekali-kali kau tiru."


Giselle menoleh, "Apa maksud ibu?"


"Ayolah, jangan terburu-buru." Ia terkekeh, "Kau ingin aku kembali berkuasa, bukan?"


Giselle mengangguk.


"Kau ingin ibumu ini tidak tinggal di tempat kumuh seperti ini lagi, kan?"


Giselle lagi-lagi mengangguk.


"Kalau begitu, rayu kaisar."


Giselle terbelalak, "Apa?!"


"Setidaknya bertahap, putriku. Tidak masalah jika posisimu sebagai selir." Ia menatap putrinya serius. "Ku dengar Earl of Travis ingin memutuskan pertunangan kalian. Apa itu benar?"


Giselle terdiam sejenak. Lidahnya kelu, tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan sang ibu.


"Aku bertanya padamu, Giselle la Empyrean!"


"D-dia mencintai wanita lain. Earl of Travis mengatakan akan melamar perempuan itu pertengahan bulan ini," jawabnya pelan.


"Perempuan perebut tunangan orang, benar-benar tidak tahu malu. Dari keluarga bangsawan mana dia berasal?"


"Itu ...." Giselle meremat gaunnya, ia tahu betul bagaimana reaksi sang ibu jika mengetahui siapa wanita itu. "Dia pelayan utama Crystal Lady. Kalau tidak salah namanya Rose Azuritte."


Monetta tertawa geli, "Kau seorang putri ternyata kalah saing dengan pelayan rendahan." Tawanya berderai sinis. Dan benar saja, usai tertawa, ia tiba-tiba membentak. "Benar-benar memalukan, selama ini, apa saja yang sudah kau pelajari?!"


Takut ibunya melayangkan pukulan, Giselle buru-buru berlutut, menundukkan kepala. Perlahan isakan kecil keluar dari bibirnya. "D-dia wanita penggoda, bu. Entah apa yang sudah ia berikan kepada Earl of Travis sampai-sampai dia ingin menikahi wanita itu tanpa pikir panjang."


"Sudahlah, lagipula kau akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik."


Monetta sudah masa bodoh, wanita itu justru berjalan ke arah meja rias. Tidak peduli pemakaman suaminya masih belum kering, ia dengan berani memoleskan gincu di atas bibirnya yang pucat setelah beberapa hari tidak menggunakan benda berwarna tersebut.


"Besok aku akan mengajukan permohonan kepada Kaisar agar bisa menjadikan dirimu sebagai selir pertamanya. Sudah seharusnya dia membayar jasaku karena telah membantu menyingkirkan Evandre." Ia tampak puas dengan warna merah terang yang melekat di bibirnya. "Jika dirimu berhasil menjadi selir, jalan kita akan semakin mudah. Kursi permaisuri sudah di depan mata, tinggal mendepak Odyssey de Cera dan kekuasaan sepenuhnya akan menjadi milikmu. Dan aku? Tentu saja aku bisa kembali berkuasa, bukan begitu, Giselle sayang?"


Giselle terlihat ragu. Dirinya akui, dia masih menyimpan perasaan kepada Alastair. Tapi rasanya ... ia tidak begitu tega untuk memutuskan hubungan pasangan baru tersebut.


Giselle sudah merasakan bagaimana sakit hati saat Earl of Travis berpaling darinya dan memilih wanita lain. Tapi dalam kasus ini, Giselle sendiri tidak bisa menyalahkan Travis sebab dirinyalah yang pertama kali berkhianat dan meruntuhkan kepercayaan pria itu.


Beberapa hari yang lalu, Giselle berani bermalam bersama bangsawan tampan yang tidak memiliki wilayah kekuasaan. Sayangnya hal itu diketahui oleh Earl of Travis.


Sekarang, sebagai sesama perempuan, dia tidak ingin Odyssey merasakan penderitaan yang sama. Tapi atas permintaan sang ibu ... bagaimana mungkin Giselle dapat menolak?


"Aku akan bergerak jika permintaan ibu untuk menjadikanku selir sudah diterima oleh Kaisar," jawabnya berberat hati.


...----------------...


Perlahan matahari naik ke atas, menerobos masuk melalui celah-celah gorden yang digantung di depan jendela kamar peraduan Kaisar dan Permaisuri.


Sesaat setelah bangun, Alastair menoleh ke samping. Menemukan istrinya yang masih tertidur pulas dengan deru napas teratur. Tangannya terulur, menyapu anak rambut Luz yang menempel akibat keringat yang menghiasi keningnya.


"Selamat pagi."


Alastair tersenyum lembut saat Luz perlahan membuka mata. Mengerjap lucu saat menyesuaikan penglihatannya yang diterpa cahaya hangat matahari.


"Yang Mulia, apakah ini sudah siang?"


Luz perlahan bangkit, masih mempertahankan selimutnya di depan dada. Namun Alastair tidak berpikiran sama, pria itu justru menarik istrinya kembali berbaring dan mengungkungnya di antara kedua lengannya yang berotot.


"Lovely ... Apa kau sudah tahu sesuatu?"


"Apa itu?"


"Kalau aku sangat mencintaimu melebihi apapun." Alastair bergerak maju, meraih kening Luz dan memberikan ciuman di sana. "Apapun yang kau inginkan, apapun itu. Katakan saja padaku. Aku akan berusaha sebisa mungkin untuk mewujudkannya walaupun harus mencari sampai ke ujung dunia."


Luz tertawa kecil. Menangkup wajah suaminya itu dengan gemas, "Bukankah yang aku inginkan sudah berada di depan mata. Untuk apa mencari kebahagiaan lain?"


Usai mengucapkan hal tersebut, perhatian Luz tak sengaja berpindah dari Alastair menuju tangannya. Bukan ilusi, Luz benar-benar bisa melihat dengan jelas jika ujung jarinya berubah seperti asap, membentuk kabut hitam yang perlahan melenyapkan bagian tubuhnya satu-persatu.


"Alastair ...."


Alastair yang terkejut dengan perubahan ekspresi Luz perlahan menyentuh tangan Luz yang bertengger di pipinya. Matanya terbelalak tak percaya saat menyaksikan bagaimana Luz akan menghilang. Tepat di depan matanya sendiri.


"Love, katakan ada apa ini?!"


"Kutukan ku lenyap," ujarnya dengan suara bergetar. Luz ingat, hal serupa pernah dialaminya sesaat sebelum ia bangun di tubuh Odyssey. "Alastair, jika aku sudah tiada ... tolong jadilah Kaisar yang hebat. Aku percaya—"


Dalam sekejap, keadaan berputar balik. Kebahagiaan mereka sirna saat Luz harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa ia harus kembali. Napas wanita itu tersengal, kabut hitam yang menelan ganas sudah menjalar sampai ke rongga dada. Menenggelamkan hampir seluruh tubuhnya.


"Aku percaya kita akan tetap bersama walau berada di dunia yang berbeda."


"LOVELY!" Alastair berusaha untuk meraup kabut hitam yang merayap di tubuh Luz. Tidak, istrinya tidak boleh pergi. "Tunggu sebentar, aku akan mencari Sir O'Leary!"


"Tidak perlu. Justru jika kau pergi sekarang, selamanya kita tidak akan pernah berjumpa lagi."


Tidak bisa melakukan apa-apa. Untuk pertama kalinya, pikiran Alastair kalut. Seumur hidup, dia tidak pernah mendapatkan kasus pelik yang melibatkan jarak dan zaman yang berbeda.


"Satu yang perlu kau ketahui. Setelah pernikahan kita, aku tidak akan pernah berpikir untuk menduakan mu," ucap Luz terakhir kalinya. Kemudian dengan ikhlas memberikan seulas senyum tipis, pertanda selamat tinggal sebelum tubuhnya tersapu bak pasir yang dihantam ombak.


Asap hitam pertanda kepergian istrinya tampak menari-nari di udara. Alastair menyentuh asap terakhir, sebelum kabut kutukan tersebut membuat Luz hilang sepenuhnya dari Sormenia.


Kutukannya menghilang setelah mereka saling mengungkapkan perasaan satu sama lain.


Dan setelah kepergian Luz, ruangan tersebut kembali didominasi oleh perasaan hampa dan kosong. Sunyi, deru napas Alastair yang memburu mengambil alih suasana. Sang pemimpin yang awalnya membenci wanita, kini telah ditinggalkan oleh wanita yang ia cintai.


Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, Alastair kembali menitikkan air mata. Rasa sesak, marah, dan tidak berdaya kembali hadir di dalam dirinya.


Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, Alastair kembali bertanya. Kenapa Tuhan selalu menyingkirkan semua orang yang dia sayangi? Dimulai dari orang tua lalu pasangan. Kenapa kehidupan seolah tidak pernah berlaku adil padanya?


Setelah kejadian ini, hati Alastair yang mulai menghangat perlahan kembali mati.


......................


Tidak kuat, tolong Alastair jangan sedih. Daripada ngegalau, mending cari istri yang baru😭💔


Masih ingat sama calon suaminya Luz di New York, Erickson? Apakah masih ada yang berharap Luz sama cowok yang dia tinggalin pas mau nikahan itu🤔


Segala macam uneg-uneg, kritik, dan saran bisa ditulis di kolom komentar. Ditunggu loh ya. Apalagi wejangan buat itu si Alastair, silakan juga gapapa. Kasian masih sedih tuh ntar kalau dia sampai bunuh diri kan susah😭


^^^Salam hiksrot dari pasangan beda jaman kita^^^


^^^Luztair🤴👸^^^