
"Your Grace?"
Louis yang sebelumnya sibuk memperhatikan keramaian pasar dari lantai atas sebuah kedai tiba-tiba menoleh ke arah pintu.
"Grand Duke sudah tiba."
Louis mengangguk. "Aku sudah menunggu, biarkan dia masuk."
Tak lama seorang pria bertudung gelap masuk tanpa membuka wajahnya. Louis hafal betul dengan postur tubuh Alastair hingga dia tahu pasti bahwa orang yang berada di balik kain tersebut pastilah sahabat lamanya.
"Aku baru saja membeli beberapa botol anggur kualitas terbaik berusia puluhan tahun." Louis memamerkan sebotol minuman pekat dengan senyum bangga. "Mau menikmatinya bersamaku? Kau masih suka minum, kan?"
"Lancess ...."
"Khusus malam ini aku sudah menyewakan lima orang wanita untuk menemanimu. Aku tahu, perjalanan dari Brighton kemari pasti memakan banyak waktumu yang sangat berharga itu. Untuk itu anggap saja wanita-wanita yang ku sewa untukmu kali ini sebagai perwakilan atas permintaan maaf ku."
Rahang Alastair mengeras. "Aku tidak memerlukan wanita-wanitamu itu."
"Jangan marah." Louis terkekeh lalu menuangkan anggur ke dalam dua buah gelas kaca. "Aku hanya bercanda. Ckckck, tak ku sangka dari dulu sampai sekarang kau belum berubah juga."
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Sebentar lagi season debutante. Kau tidak berniat mencari istri, begitu?" tanya Louis disertai senyuman jahil. "Tahun ini rencananya aku akan hadir."
Alastair membalasnya dengan tatapan kesal. "Apa hanya itu yang ingin kau katakan?"
Louis terbahak. "Tenang, Grand Duke. Tenang. Usia kita semakin bertambah, secepat mungkin harus memiliki istri untuk melanjutkan gelar kita."
"Untuk saat ini wanita bukan fokus utamaku. Tadi pagi aku mendapatkan laporan tentang anak-anak desa yang menghilang entah kemana. Bagaimana jika ... kehilangan mereka ternyata berkaitan dengan barang-barang asing yang kau maksud tempo hari?"
Louis menghentikan gerakannya yang sedang menuang anggur tersebut lalu kembali meletakkan botolnya di atas meja. Manik gelapnya mengartikan banyak hal. Entahlah, Alastair tidak tahu pasti.
"Aku sudah menemukan siapa yang terlibat dalam perdagangan mencurigakan itu."
"Bolehkah aku tahu siapa pelakunya?"
Louis sempat terdiam sebelum dia menyebut dengan kode, "Orang kedua Sormenia."
Putra Mahkota. Evandre.
"Atas dasar apa kau berkata seperti itu?" Alastair menjawabnya dengan santai sambil meminum anggur yang sudah Louis tuangkan. Dia tidak terkejut, sama sekali tidak. Mengingat sifat Evandre yang sama seperti ayahnya —haus akan kekuasaan— tidak menutup kemungkinan jika pria itu terlibat langsung dalam masalah ini.
"Beberapa tempat pengiriman sudah aku cek di lapangan. Bersamaan dengan itu, inisial ElE selalu ada dalam daftar nama pengunjung," jelas Louis serius. "Dan yang membuatku sangat yakin adalah saat kepengurusan prajurit sayap kiri kemarin malam. Putra Mahkota menggunakan kode yang sama dengan yang aku lihat di daftar nama pengunjung itu."
"ElE. Evandre la Empyrean?"
Mendengar jawaban Alastair, Louis mengangguk pelan.
"Bocah itu benar-benar gila." Alastair menggeleng samar, merutuki kebodohan Evandre. "Usianya saja yang lebih tua dibandingkan diriku, tapi pemikirannya tidak jauh seperti anak-anak yang akan luluh hanya dengan sogokan permen."
"Ya ... dan kita tidak bisa membiarkan Putra Mahkota semena-mena. Raja sudah lanjut usia, sebentar lagi takhta akan diwariskan kepadanya."
"Jika Evandre tidak bertindak, mungkin Raja masih bisa hidup sampai beberapa tahun lagi." Alastair menipiskan bibir. "Tapi menurut perhitungan ku, Raja tidak akan lama lagi."
"Apakah Raja memiliki penyakit?"
Alastair terkekeh, "Penyakit yang diberikan oleh anaknya sendiri."
"Apa...."
"Selama ini Evandre rutin memberikan racun di dalam sigaret-nya," jawab Alastair santai. "Tua bangka itu akan mati perlahan."
"Grand Duke, bagaimana Anda bisa tahu?"
"Secara tidak langsung akulah yang menyuruh Evandre bodoh itu untuk melakukannya. Sangat mudah untuk menghasut dirinya yang tidak memiliki prinsip." Kali ini Alastair menjawab dengan dingin. "Nyawa ayahku harus dibayar dengan nyawanya. Jika dia berpikir bisa mengendalikan pikiran ibu untuk membunuh ayahku, maka aku pun bisa mengendalikan pikiran putranya untuk membunuh dirinya. Impas, kan?"
Louis terdiam. Dia tahu betul jika Alastair memiliki luka dalam akibat kejadian puluhan tahun silam dan dia tidak akan pernah bisa memaafkan pria bertakhta itu sampai dendamnya terbalas.
Dan takhta. Selama pewarisnya masih hidup, takhta sebenarnya adalah hak Alastair sebagai putra kandung raja terdahulu. Bukan Izaikhel apalagi Evandre.
Setelah keterdiaman yang cukup lama menggantung, akhirnya Louis kembali angkat bicara. "Akan sangat sulit jika lawan kita kali ini berasal dari keluarga kerajaan."
"Sulit bukan berarti tidak bisa."
Louis mendongak saat Alastair berdiri dari tempat duduknya setelah mengucapkan kalimat tersebut.
"Aku pergi. Tunggu aba-aba dariku dan jangan berani bergerak sendiri. Mata-mata Putra Mahkota tersebar dimana-mana. Ada yang menyamar sebagai pejalan kaki."
Lalu Alastair melirik pengawal Louis yang berdiri diam di samping pintu. "Lalu yang lainnya menyamar sebagai bawahan yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan kita."
Louis mengerti kode dari Alastair lalu matanya ikut melirik ke arah pria yang Alastair maksud. "Aku mengerti. Sampah yang berada di tempatku, biar aku saja yang menghancurkannya."
"Aku tidak tertarik untuk ikut campur." Alastair menepuk pundak Louis, seperti yang sering mereka lakukan dulu lalu tersenyum tipis. "Sampai jumpa lagi. Saran dariku, jika ingin membuang sampah, pastikan kau membuang semuanya tanpa sisa. Ku lihat sampah milikmu cukup banyak."
Louis tersentak lalu mengerti. Pantas saja butuh waktu yang lama untuk dirinya mengusut kasus Putra Mahkota. Ternyata banyak bawahannya berasal dari orang yang dia curigai dan hal itu diketahui Grand Duke.
Ah, andai Grand Duke tidak memberitahunya, entah kapan masalah ini akan selesai.
"Akan ku lakukan." Louis mengangguk singkat.
Kemudian Alastair berbalik pulang melewati pintu setelah menutup wajahnya kembali. Menyaru di kegelapan malam, bersatu dengan bayangan, dan kembali tanpa ada yang menyadarinya.
...----------------...
Hawa dingin ditambah jam yang semakin larut tidak menyurutkan tekad Luz untuk menunggu Ochonner pulang dari Thompsville tepat di pelataran mansion. Dia duduk di undakan tangga teratas sambil merapatkan mantelnya yang sesekali melorot. Rasa kantuk menyerangnya sejak beberapa menit yang lalu akibat dilanda kebosanan, tapi wanita bersurai putih itu sama sekali tidak memiliki niat untuk beranjak dari sana.
Sudah beberapa jam berlalu. Tapi kenapa Ochonner tidak kunjung muncul? ungkap Luz di dalam hatinya.
Tanpa Luz sadari, tak lama kereta kuda terlihat memasuki mansion.
"Apa Grand Duke ada menanyakan sesuatu selama aku pergi?"
Wilbert McKinney mengangguk saat mereka sudah turun dari kereta dan berjalan beriringan menuju pintu masuk. "Beliau mengirimkan pertanyaannya dalam bentuk perkamen. Semuanya sudah siap di atas meja kerja Anda."
Ochonner menghela nafas lalu menggerutu, "Baru sampai sudah disuruh bekerja."
Wilbert tersenyum maklum. "Untuk malam ini Anda bisa beristirahat sebentar. Besok pagi saya akan menggabung pekerjaan Anda yang sekarang dengan yang besok, bagaimana?"
"Tidak, aku akan mengerjakannya sekarang," jawab Ochonner cepat.
Menggabung pekerjaan itu sama sekali pilihan yang buruk. Ochonner tidak ingin meja kerjanya dipenuhi bertumpuk-tumpuk tugas karena tidak dikerjakan tepat waktu.
"My Lord, apakah yang sedang duduk di sana itu Crystal Lady?"
Ochonner mengangkat wajah lalu menyipitkan mata untuk memfokuskan penglihatannya pada siluet wanita yang duduk di undakan tangga. Tidak salah lagi, saat melihat rambut putihnya pasti itu Odyssey.
"Apa yang dia lakukan di sana saat musim dingin begini?" Gigi Ochonner beradu kesal. "McKinney, duluan saja. Aku akan menyusul."
"Baik, My Lord."
Ochonner segera mendekat ke arah kembarannya itu dengan wajah super kesal. "Odyss, apa maksudmu duduk sendirian di sini malam-malam?!"
Luz tidak menjawab. Kakinya ditekuk dengan kepala yang bersandar di atasnya dengan deru napas teratur.
"Tidak perlu menungguku sampai selarut ini. Perhatikan kesehatanmu sendiri, idiot." Ochonner menyelipkan tangannya di bawah lutut Luz, sedangkan tangan yang satunya lagi berada di bawah leher wanita itu lalu menggendongnya memasuki mansion yang terlihat lenggang.
Untungnya tubuh Luz tidak begitu berat sehingga Ochonner tidak keberatan saat dirinya membawa gadis itu menaiki undakan tangga melingkar yang terhubung menuju kamar-kamar mereka. Merebahkannya di atas ranjang, lalu Ochonner kembali dan masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Dua orang pelayan yang awalnya bertugas untuk membersihkan guci keramik di lantai dua sontak menyadari kedatangan sang pemilik mansion yang tengah membopong tubuh adiknya.
"Sudah lama ku perhatikan jika majikan kita ini berbeda dari saudara-saudara lainnya. Ah, andai mereka bukan bersaudara, aku pasti akan sangat mendukung hubungan mereka!" ucap salah satunya yang terbawa suasana.
"His lordship sangat menyayangi saudaranya. Oh, tidak. Mereka sama-sama saling menyayangi. Kalau tidak, tak mungkin her ladyship mau duduk di luar menunggunya pulang di musim dingin begini," timpal yang satunya tak kalah riuh. "Mau bersaudara ataupun bukan, tidak peduli. Aku akan menjadi pendukung dua bersaudara itu sampai mereka menikah!"
"Lagipula keluarga kerajaan pun pernah melakukan pernikahan sedarah. Selanjutnya, biarkan tuan dan nona kita yang akan menyusul!"
Dan yah, mungkin tak lama lagi gosip miring akan menyebar di mansion milik orang yang digosipkan tersebut.