Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
23. Ruang Rahasia Grand Duke



Marquis Thompsville berkedip beberapa kali saat ia membuka pintu kamarnya dan Marchioness yang berisikan sebuah ruangan gelap gulita. Ia masuk, lalu menutup pintu. Tampak jelas siluet seorang wanita yang sedang berbaring di atas tempat tidur dengan posisi menyamping, memunggunginya.


"Selene ...."


Tidak ada sahutan. Marchioness tidak menjawab meski Marquis Thompsville tahu bahwa istrinya itu tidak tidur.


Melepas sepatu, Alfonso —Marquis Thompsville— merangkak naik ke atas ranjang. Ikut berbaring lalu memeluk tubuh istrinya dari samping.


"Ada apa?"


Dengan lembut Alfonso membalik tubuh Selene agar berhadapan dengannya. Wajah cantik yang sering menampilkan ekspresi sinis itu berubah seratus delapan puluh derajat. Selalu begini. Selene tidak pernah membiarkan orang lain melihat penderitaannya. Hanya Marquis Thompsville, satu-satunya orang tempat wanita itu berbagi keluh kesah.


"Dia bukan Odyssey."


Satu kalimat yang membuat Marquis mengernyit. "Apa maksudmu?"


"Aku tahu, aku bukan ibu yang baik untuknya. Aku egois karena selama ini aku hanya memikirkan bagaimana perasaanku tanpa memikirkan perasaan Odyssey." Selene menatap Alfonso dengan wajah nanar. "Tapi instingku tidak bisa dibohongi, Marquis. Dia ... dia bukan putri kita lagi."


Marquis Thompsville tersenyum tipis. Ia merasa maklum. Mungkin Selene sedang dalam pikiran yang kacau akibat perubahan sikap yang sangat signifikan terjadi pada Odyssey.


Marquis membelai rambut merah mudanya, "Itu konyol. Jikapun benar, bagaimana bisa seseorang berpenampilan persis seperti Odyssey? Itu mustahil," jawab Alfonso. Jempolnya bergerak mengusap air mata Selene yang hampir mengering. "Odyssey memiliki semua ciri khas keluarga de Cera. Tidak mungkin ada yang bisa menirunya."


"Ya .... itu sangat konyol," aku Selene setelah memikirkan baik-baik ucapan suaminya. Dia mengangguk pelan. Alfonso benar, mungkin itu hanya perasaannya saja yang berlebihan.


Ha, lucu sekali. Aku menangis seharian penuh hanya karena hal tak berguna, pikir Selene miris.


...----------------...


"Ochonner, yang itu sepertinya enak. Ayo beli satu!"


Ochonner menatap kakaknya dengan sinis. "Apa makanan-makanan tadi belum cukup?"


"Yang tadi camilan, mereka hanya mengisi pinggiran perutku," adu Luz lalu ia kembali berbinar saat melihat daging sapi iris berkuah tomat. "Itu sepertinya enak juga. Harus coba!"


Ochonner kesal. Tujuannya ke pasar Brighton untuk sesuatu, bukan mencicipi seluruh makanan yang dijual satu-persatu. Pria itu melirik Grand Duke yang masih berjalan tenang di sisi kiri Odyssey. Tampak tidak terganggu sama sekali padahal calon Grand Duchess-nya ini luar biasa heboh.


Luz terlalu bersemangat. Melihat tumpukan makanan di mana-mana, perutnya seolah tidak pernah merasa kenyang. Banyak makanan yang belum pernah ia jumpai di New York ternyata dijual dan harganyapun mahal di sini. Tapi harga bukanlah halangan sebab Ochonner kaya, tidak seperti dirinya yang masih melarat dan butuh uang dari orang sekitar. Contohnya adalah Ochonner yang rela menjadi inang.


"Begini saja, kakak silakan belanja sepuasnya di sini. Aku dan Grand Duke ingin pergi sebentar," ucap Ochonner pusing.


"Tunggu!"


"Kita akan bertemu di kedai arak, setuju?" lanjut Ochonner pura-pura tidak mendengar Luz.


"Aku ingin ikut!"


"Sampai jum—"


"Chonner, ajak saja dia sekalian," putus Alastair yang membuat Luz bersorak senang.


Kan kan. Pasti ada sesuatu yang ingin mereka lakukan di sini sampai Ochonner enggan mengajaknya.


Ochonner mendengus lalu melangkah lebih dulu meninggalkan mereka di belakang.


"Ayo, lady," ajak Alastair hangat.


"Mencurigakan," selidik Luz ngeri. Yang dia tahu, Alastair adalah pria yang ganas, bukan tipikal lembut seperti ini. "Anda berpura-pura baik pasti ada maksud lain, kan. Jika itu tentang hutang, maaf saja tapi tidak bisa. Hutang harus tetap dibayar!"


Alastair terbengong. Dia hampir melupakan perihal hutang itu. Lagipula, jumlahnya tidak terlalu banyak.


"Lima puluh koin emas."


"Oh, hanya segitu?" Alastair mengedikkan bahu. "Setelah ini aku akan mengirimkannya—"


"Tidak semudah itu." Luz tersenyum miring. "Setiap hari bunganya naik seratus persen. Nah, silakan hitung sendiri kira-kira berapa hutang Anda padaku."


"Bunga macam apa itu?!"


"Jangan banyak protes!" Luz berjalan lebih dulu sedangkan Alastair mengikutinya dari belakang. "Karena aku sedang berbaik hati, maka akan kuberikan keringanan."


"Oh ya, apa itu?"


"Anda diizinkan menyicil jika tidak sanggup membayar sekaligus," jawab Luz lalu tertawa kecil.


Ha, indahnya hidup ini andai dia terus memiliki rekening berjalan seperti Grand Duke dan Ochonner. Luz tidak takut kelaparan, ada Ochonner yang selalu tidak tega saat dirinya dalam keadaan susah. Luz juga tidak takut kekurangan harta, sebab ada Grand Duke yang akan membayar hutang dan bunga-bunganya setiap bulan.


Mungkin jika hitung-hitung, uang yang diberikan Grand Duke setiap bulan cukup untuk membeli sebuah mobil.


Luz tidak bermaksud memeras. Dia hanya memaksimalkan potensi yang ada. Benar, 'kan.


Tapi lain halnya dengan pikiran Alastair saat ini.


Dia pria yang baik dalam memasang topeng. Ekspresinya memang terlihat syok dan ngeri, tapi sebenarnya hati Alastair sedang bersorak gembira. Bagaimana tidak, pikiran saja. Jika setiap bulan dia harus mengantar hutangnya kepada Odyssey, bukankah kesempatan mereka untuk bertemu akan semakin sering. Sama seperti wanita-wanita lain, Alastair optimis bahwa Odyssey akan jatuh cinta padanya secepat mungkin. Karena pesonanya. Atau ... gadis itu sudah melirik dirinya sampai-sampai mengizinkan pembayaran bertahap agar sering berjumpa? Hehe, tidak ada yang tahu isi hati manusia tapi mungkin saja.


Setelah berjalan beberapa saat, mereka sampai di sebuah toko meubel. Aroma kayu menyengat menyeruak ke seisi ruangan. Debu-debu kadang berterbangan di sekitar meja pemahat kayu. Tapi Luz tidak keberatan sama sekali, dia justru menyukai tempat ini.


"Ingin membeli sesuatu, tuan?"


Alastair mendekat lalu berucap pelan. "Kebebasan untuk Brighton. Alpha akan segera dialihkan kepada yang berhak."


Luz awalnya mengernyit bingung lalu ia terbelalak saat mengerti maksudnya. Alastair sedang menyebutkan sebuah kode!


Jadi pria ini memiliki ruangan rahasia di tempat tak terduga. Wow, luar biasa.


Wajah si penjual melunak. Dia menggeser tubuhnya sedikit lalu mempersilahkan. "Mari, tuan."


Alastair mengangguk singkat lalu berbalik. Menatap Luz sebentar lalu menarik ujung rumbai di pergelangan tangannya dan menyeret masuk. Sama seperti cara orang mengangkat anak kucing.


Luz merengut. Apa dirinya dipenuhi kuman sampai Grand Duke tidak sudi memegang tangannya baik-baik? Moodnya anjlok seketika. Tapi hal itu tidak berlangsung lama sebab apa yang dicurigai Luz benar adanya.


Penjual tadi mengajak mereka masuk ke dalam sebuah ruangan yang dipenuhi berkarung-karung bahan mentah dan potongan kayu tak terpakai. Ia menarik sebuah lampu tembok yang ternyata adalah sebuah tuas, lalu seketika sebuah ruangan bawah tanah terbuka berserta undakan tangganya yang menjorok ke dalam.


"Ini ...."


"Ayo masuk."


"Tunggu. Ruangan apa ini, dan kau, untuk apa kau memberitahuku semua ini?"


"Ini ruangan rahasia milikku. Ochonner sudah menunggu di dalam." Tanpa menunggu lebih lama, Alastair kembali menarik lengan baju Luz dan membawanya masuk ke dalam ruangan tersebut. "Ada beberapa hal yang ingin aku katakan padamu."


"Mengenai apa?"


"Perkamen. Masih ingat?"


Luz menatapnya waspada. Apa tidak berlebihan membahas hal itu sampai mengajaknya ikut serta pergi ke Brighton. Pasti bukan hanya perkamen itu yang akan dibahasnya. Pasti.


Oh, Grand Duke. Apa yang kau inginkan?