
"Saya izin menghadap, semoga Raja Sormenia panjang umur seribu tahun lagi!"
Ruangan tersebut kembali diambil alih oleh keheningan. Semua pelayan disuruh meninggalkan tempat tersebut. Kini, hanya tersisa tiga orang yang bertahan. Sang raja, Grand Duke dari Brighton, dan juga wali dari Crystal Lady, Marquis dari Thompsville.
"Apakah kau lekas-lekas kemari karena dekrit yang baru ku turunkan itu, Marquis?"
Marquis menekuk lutut di atas lantai yang dingin. Menunduk hormat, ia lalu menjawab, "Perkiraan Anda benar, Your Majesty."
"Kalau begitu, kau berada di pihak siapa. Putraku atau Grand Duke?" tanyanya lagi, tepat pada sasaran. "Ah, atau jangan-jangan Marquis Thompsville tidak mengerti dengan apa yang kumaksud?"
Raja Izaikhel sekilas melirik Grand Duke yang berdiri tak jauh dari Marquis Thompsville. Namun anehnya, ia tidak menemukan ekspresi terancam dari pria nomor satu di Brighton itu. Alastair justru tampak menikmati tontonan menarik yang tersaji di depannya.
Dari sifat de Cera, Alastair sudah tahu bagaimana sidang dadakan ini akan berakhir.
"Tidak, Yang Mulia. Sebelumnya saya sudah mengetahui hubungan antara Grand Duke dan putri kedua saya. Saya hanya terkejut dengan dekrit Anda yang begitu tiba-tiba muncul tadi pagi," jawabnya jujur. Manik amethyst yang diwarisi oleh Odyssey itu kini menatap Grand Duke dengan tatapan yang sulit diartikan.
Diam-diam Raja Izaikhel mencengkeram erat pegangan kursinya. Sialan, jika Marquis Thompsville sudah mengetahui hubungan Odyssey dengan keponakannya itu, sebenarnya sudah sampai mana Alastair berani bergerak?
"Marquis Thompsville, aku tahu kau adalah orang yang sangat mahir dalam hukum kerajaan." Ia memainkan pena, menatap sang Marquis dengan tajam. "Apakah kau lupa apa hukuman bagi orang yang berani mengabaikan dekrit Raja?"
Marquis Thompsville sempat terdiam. Dirinya sedang ditekan. Tapi kembali lagi ke ucapan sang raja, orang-orang de Cera memang terkenal dalam hal hukum. Maka dari itu, sebisa mungkin ia akan mengatur pernikahan Odyssey seperti hukum yang sudah tertulis.
"Saya tahu betul, Yang Mulia."
Raja Izaikhel menopangnya kaki kanannya di atas kaki kiri, tersenyum angkuh. "Ya, aku harap jawabanmu dapat memuaskan ku."
"Akan tetapi, sebelumnya saya memohon maaf karena tidak bisa menjawab sesuai keinginan Anda."
Mimik wajahnya berubah. "Apa maksudmu, Marquis."
"Grand Duke telah datang lebih dulu untuk melamar putri kedua de Cera," jawabnya jujur. "Seperti dalam hukum Sormenia, jika salah satu pasangan yang akan dinikahkan ternyata sudah memiliki lamaran lain, maka dekrit raja sekalipun tidak akan bisa menghalanginya."
Ekspresi Raja Izaikhel masih terbilang tenang namun di bawah sana, tangannya mengepal erat. Lagi, Alastair menggagalkan rencananya. Kenapa? Kenapa harus seperti ini?!
Sejak awal, Raja Izaikhel sudah membenci Alastair sejak bocah tidak tahu diri itu masih berada di dekapan ibunya. Keberadaannya membuat Izaikhel kembali kepada realita, Isabelle adalah istri kakaknya dan Izaikhel dapat pastikan bahwa Alastair memang benar-benar putra Derrick.
Mereka memiliki sifat yang sama. Benar-benar licik.
Ia ingin membunuh Alastair sejak lama. Setelah kematian Derrick dan Isabelle, Izaikhel sering melihat kilat samar yang menggambarkan dendam dari manik gelap keponakannya itu.
Sekarang Raja Izaikhel menyesal. Ah, seharusnya dia membunuh Alastair sejak kecil dengan begitu semuanya tidak akan sulit. Pemuda ini adalah ancaman terbesar Evandre. Suara rakyat mendominasi namanya, dan sang raja khawatir jika suatu saat Alastair berani mengayunkan pedangnya untuk membasmi anggota keluarga kerajaan satu-persatu.
Dan seperti saat ini. Raja Izaikhel tahu bahwa gerakan permulaan Alastair dimulai dengan menutup semua akses yang berpotensi menguatkan kedudukan Evandre.
"Bagaimana jika putra mahkota menikahi putri pertama saya, Your Majesty?"
Lamunan Izaikhel terhenti. Matanya yang mendadak beringas itu kembali menatap Marquis.
"Maaf, Marquis Thompsville. Bukan bermaksud merendahkan mu. Lady Athene memang terkenal dengan bakatnya yang pandai menyulam dan mempercantik diri. Akan tetapi citranya di mata publik cukup buruk." Sang raja menghela napas. "Bagaimana jika aku memerintahkan Kepala pasukan sayap kiri untuk menikahi putrimu itu?"
"Sekarang kau bisa pergi."
Marquis Thompsville berdiri. "Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Yang Mulia." Ia kemudian menoleh ke arah Grand Duke. "Suatu kehormatan bisa bertemu Anda di sini, Your Grace."
Sesuai perintah, Marquis Thompsville akhirnya angkat kaki dari ruangan mencekam tersebut. Setelah pintu ditutup, barulah Alastair menunjukkan seringai geli.
"Maafkan saya, Your Majesty. Tapi saya lebih cepat satu hari dibandingkan dekrit Anda."
"Kau sudah merasa menang, Grand Duke?"
"Belum, tapi akan." Dengan santainya, Alastair berdiri dengan tangan kiri bertumpu di atas meja kerja sang raja. "Permainan yang sebenarnya akan dimulai. Harap Yang Mulia bersiap-siap."
"Masih banyak cara yang bisa ku tempuh. Kau yang masih muda, sama sekali bukan tandinganku." Raja Izaikhel membalasnya sengit. "Ambil saja wanita itu. Aku sudah tidak peduli."
"Usia bukan suatu masalah jika saya bisa menandingi Anda. Yang bukan tandingan saya adalah Putra Mahkota. Sekedar saran, lain kali dia harus banyak belajar." Alastair mengatakannya dengan ringan. Tidak ada ketakutan di balik matanya yang selalu memancarkan kepuasan. "Hasil akhir biar waktu yang menentukan. Kira-kira siapa yang akan bertahan hidup lebih lama, saya atau Anda?"
"Keluar. Biarkan aku sendiri."
Alastair merasa menang telak. Masih menebarkan senyum lebar, ia membungkuk hormat lalu keluar dari ruangan tersebut, menyusul Marquis Thompsville yang ternyata menunggunya di luar. Tampak berdiri tak jauh dari pintu.
"Bagaimana, Your Grace?"
Alastair mengangguk. "Tidak ada masalah. His Majesty mungkin hanya kelelahan sehingga dia berbicara meledak-ledak kepadamu. Sisanya aman, Kamu bisa kembali ke Thompsville."
"Syukurlah kalau begitu." Marquis Thompsville menghela napas. "Sampai kapanpun Grand Duke tetap akan menjadi calon menantu saya. Tidak peduli siapa musuhnya, hubungan Thompsville dan Brighton harus tetap bersatu melalui pernikahan kalian."
Alastair diam-diam menghela napas. Hah, dasar penjilat. Andai bukan wali sah Luz, ia tidak akan mau mengobrol santai alias berbasa-basi dengan pria paruh baya ini.
"Sore ini hadiah dariku akan tiba di manor house milikmu. Aku harap Marquis menyukainya."
Marquis Thompsville menarik sudut bibirnya, membentuk seulas senyum lebar. "Lady Odyssey beruntung memiliki calon suami se-dermawan Anda!"
Katanya keluarga de Cera adalah keluarga yang taat pada hukum.
Nyatanya? Tidak juga. Disogok dengan berpeti-peti harta berharga, iman manusia mana yang tidak akan goyah.
Dan begitulah cara Alastair mempertahankan suara Marquis Thompsville agar selalu dibelakangnya. Setiap hari, tidak peduli berapa permata yang dikirimkan ke Thompsville, pria tua beserta istrinya itu selalu menyambutnya dengan penuh pujaan.
Sekarang kesetiaan keluarga de Cera perlahan berpindah. Dari Ochonner —calon Marquis Thompsville berikutnya— yang selalu berdiri di samping Grand Duke.
Dilanjutkan dengan Marquis Thompsville sendiri yang silau akan kekayaan calon menantu.
Yang Mulia raja, siapa suruh kau mengabaikan keluarga penting ini sebelumnya?
...----------------...
Luz-nya disimpen dulu ya, readers. Gaada adegan uwu-uwu sampai episode selanjutnya🙈