Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
33. Putra Mahkota itu Tidak Sebaik yang Dilihat



Keesokan paginya Luz sudah bersiap-siap di meja makan. Dengan gaun merah marun, dia mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja seolah tidak sabar menunggu Ochonner turun dan makan bersama. Sepintas Luz memperhatikan pintu, dan saat itu bertepatan dengan orang yang dicarinya masuk dengan alis bertaut.


"Hari ini memangnya hari apa?"


Bergantian Luz yang mengernyit. "Aneh sekali. Kenapa bertanya?"


"Tidak biasanya kau duduk lebih dulu di ruang makan." Ochonner mengambil tempat duduk tepat berada di seberang Luz. "Biasanya setelah aku memerintahkan pelayan untuk memanggilmu, baru kau bangun dan turun sarapan."


"Hei, di jam seperti itu biasanya aku sudah bangun, tahu." Luz bersungut-sungut. "Hanya saja terkadang aku lebih suka bermalas-malasan di atas ranjang."


Ochonner bergumam, "Apa bedanya."


Luz mendengarnya namun ia hanya mendengus kesal. Sedetik kemudian, wajahnya kembali cerah namun firasat Ochonner yang berubah menjadi buruk.


"Aku akan pergi ke istana setelah ini."


Ochonner tersedak jus apelnya. "Untuk apa?"


"Untuk pengesahan gelar." Luz dengan santai meraih buah-buahan yang sudah dikupas lalu memasukkannya ke dalam mulut. "Dan bertemu putra mahkota. Tidak lama, hanya sebentar saja."


"Untuk apa kau menemuinya?" sentak Ochonner kaget. "Kalian tidak ada hubungan."


"Kami ada hubungan, kau saja yang tidak tahu," jawab Luz. "Lagipula tidak sampai malam, Chonner. Jadi tidak masalah, kan."


"Asal kau tahu, dia itu tidak bisa mencintai satu wanita saja, Odyssey." Ochonner mendesah pasrah. "Dan lagi, sejak kapan kalian dekat?"


"Aku agak lupa ... ah, itu. Saat pesta kepulangan kalian dari perang. Kami sempat berdansa lalu berkenalan."


"Jika hanya berteman, tidak masalah tapi jangan sampai terlalu dekat dengannya," peringat Ochonner serius. "Sudah banyak wanita yang menjadi korban dengan iming-iming takhta ratu. Tapi akhirnya apa, wanita-wanita bekas itu langsung dibuang begitu saja setelah dia merasa bosan."


Luz berpikir, ucapan Ochonner cukup mengerikan jika itu benar-benar terjadi pada dirinya. Memang benar, mulut Evandre sangat lihai menjerat hati wanita. Begitu manis dan penuh pujian, bersikap layaknya seorang gentleman yang setelah sekian lama akhirnya menemukan cinta sejati.


Luz sudah cukup mengenal Ochonner dan percaya kepadanya karena dia saudara kembar Odyssey, tapi jika putra mahkota....


Luz tidak ingin menjadi wanita bekas orang lain.


"Aku mengerti," jawab Luz pada akhirnya. Ia menghabiskan jus jeruknya cepat-cepat lalu beranjak. "Aku pergi dulu. Sampai jumpa."


"Odyssey, habiskan sarapanmu dulu!"


"Aku sudah kenyang!" balas Luz tak kalah nyaring.


Jujur saja, Luz merasa sikap Ochonner sangat mirip dengan ayahnya di New York. Selalu jika sarapan Luz tidak habis, maka Ken Anderson akan meneriaki putrinya itu dari meja makan dan akan Luz jawab dengan jawaban yang sama seperti tadi.


Huft, merindukan rumah memang tidak ada habis-habisnya.


...----------------...


Cuaca cerah yang berangin mampu menjadikan suasana hati Luz semakin baik. Wanita itu mendekap erat dokumen tentang gelarnya yang sudah sah menjadi Crystal Lady yang baru dengan perasaan lega. Setidaknya satu anak tangga menuju ambisi sempurnanya sudah terlewati.


"Your Highness tidak ada di kamarnya, My Lady."


Luz berhenti melangkah. "Di mana putra mahkota sekarang?"


Wah, cukup menyenangkan jika menonton orang memanah walau Luz juga ingin mencoba, tapi dia tidak pernah memegang busur. "Tolong antar kan aku ke sana."


"Lewat sini, My Lady."


Luz melewati lorong sebelah selatan istana yang bercabang-cabang seperti labirin besar yang dipenuhi hiasan mahal tertempel di atas dinding. Di bagian lelangitan, pahatan Cupid dengan khas panah cinta yang dia bawa tampak begitu realistis dan tiga dimensi. Selain itu, tidak perlu takut jika berada di dalam kegelapan sebab disepanjang lorong berdiri kandelir indah yang hanya terpisahkan jaraknya dengan pilar-pilar kecil.


Pelayan tersebut membukakan sebuah pintu ganda yang letaknya kira-kira di sebelah tenggara istana. "Saya akan memberitahukan kedatangan Anda kepada His Royal Highness."


Luz mengangguk lalu pelayan tersebut masuk lebih dulu dengan sikap yang lebih lembut. Setelah beberapa waktu menunggu, barulah ia diperbolehkan masuk.


Luz mengerjap saat cahaya matahari merongrong masuk menembus retinanya. Setelah penglihatannya cukup jelas, Luz baru menyadari bahwa tempat ini sangatlah sempurna.


Lapangan hijau yang super duper luas dibingkai cicitan burung kenari dan target panah di mana-mana semakin meningkatkan gejolak Luz untuk mencoba olahraga memanah. Di pinggir lapangan, pria yang Luz cari tampak tersenyum cerah saat calon putri mahkotanya datang. Dengan sekantong anak panah yang menggantung di punggung dan busur yang ukurannya melebihi setengah dari tinggi tubuh Luz, Evandre mendekat dengan intim sampai ia menyuruh semua abadinya untuk keluar.


"Kejutan yang sangat spesial saat aku melihat bidadari cantik sepertimu rela ke tempat terbuka seperti ini," sapa Evandre lalu meraih punggung tangan Luz dan mengecupnya. "Apa kabar, Crystal Lady?"


Luz masih cukup aneh dengan gelar barunya tersebut. Tapi ia hanya tersenyum tipis, lalu menjawab, "Selalu merasa baik saat bersama Anda, Putra Mahkota."


Satu sama. Rayuan melawan rayuan, siapa yang akan menang?


Evandre terkekeh geli. "Aku suka dengan penampilanmu hari ini." Ia menatap gaun merah marun yang Luz pakai tanpa berkedip dari atas ke bawah lalu melanjutkannya dengan berbisik, "Sangat indah apalagi jika aku bisa merasakan bagaimana rampingnya tubuhmu ini."


Sekarang Luz percaya seratus persen pada ucapan Ochonner tadi pagi. Evandre ternyata hanyalah seorang pria gila yang menginginkan keuntungan dari wanita yang diinginkannya. Benar-benar tidak beradab!


Evandre melepaskan busurnya lalu bergerak semakin mendekat. Tatapan bola matanya yang biru itu menajam, sama seperti tatapan seekor singa terhadap buruan yang baru didapatkannya. Luz merasakan alarm pertanda bahaya berdengung di dalam pikirannya, dia tidak boleh sampai terjerat dengan si putra mahkota Evandre sialan.


"Ochonner sudah menjemput ku, putra mahkota." Luz dengan ringan mendorong dada Evandre untuk menciptakan jarak di antara mereka. Untuk sebentar fokusnya terhenti pada sebuah bros pedang dengan batu amethyst yang tergantung indah di dada Evandre, bros yang pernah dia berikan pada pria itu. "Sebenarnya aku kemari hanya karena merindukanmu, sungguh. Jika tidak ada yang mengganggu, mungkin lain kali kita bisa menghabiskan waktu bersama?"


Setidaknya Luz bisa menyelamatkan dirinya sendiri untuk hari ini walau ia berani berbohong.


"Ochonner bisa menunggu," jawab Evandre tidak sabaran. "Ayolah, bersamaku sebentar saja. Tidak ada siapa-siapa di sini yang akan mengetahui perbuatan kita."


"Aku tidak bisa memberikan sesuatu sebelum pernikahan," tolak Luz terang-terangan. "Tolong hargai keputusanku."


Evandre mengunci pergerakan Luz. Kedua tangannya berada di sisi kiri dan kanan hingga wanita itu tidak bisa bergerak kemana-mana. Evandre menggeram tertahan, "Apa kau tidak tulus mencintaiku, Odyssey. Apa kau hanya menginginkan takhta saja, begitu. Aku bisa memberikan pernikahan dan segalanya untukmu tapi kau ... kau sendiri tidak mau berkorban sedikitpun untukku?"


"Bukan ini pengorbanan yang akan calon ratu hadapi." Luz mendekat, seolah-olah ingin menciumnya hingga cengkraman Evandre pada pintu melonggar. Sepersekian detik pria itu lengah dan Luz segera mengambil kesempatan dengan membuka pintu, melepaskan lengan Evandre yang menghalanginya dan berhasil keluar.


Sesuai dugaan, para pelayan Evandre masih berdiri di luar dengan tertib. Mereka sempat terheran-heran melihat Luz yang keluar dari pintu seperti seekor kelinci kecil yang berhasil keluar dari sarang harimau.


Luz bersorak. Jika ramai seperti ini, Evandre tidak akan berani menyentuhnya.


"Terima kasih atas waktu Anda, Your Highness." Luz menunduk hormat. "Jika ada waktu luang, bisakah kita bertemu kembali?"


"Tentu saja," jawab Evandre walau hatinya sedikit sakit atas penolakan Luz barusan. "Lain kali aku yang akan berkunjung ke mansion Lord de Cera, bagaimana cantik?"


"Setuju." Luz tersenyum lebar. "Kalau begitu aku permisi. Sampai jumpa lagi, putra mahkota."


Luz berbalik pergi dan seketika senyum palsu yang dibuatnya tadi luntur. Apa-apaan ini, bagaimana bisa pria se-mengerikan itu bisa menjadi putra mahkota, calon penerus raja. Dia saja kesusahan menahan nafsu, bagaimana andai di masa depan nanti —saat dia sudah menjadi raja— terjadi kekacauan di dalam istana sementara dia dalam nafsu yang tidak terkontrol seperti itu. Bisa-bisa kerajaan akan hancur karena rajanya yang hobi beristri!


Masa bodoh dengan belajar memanah, Luz lebih baik pulang dan menyiapkan bahan-bahan untuk tokonya dibanding menghabiskan waktu bersama Evandre gila.