Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
18. Membuat Perhitungan



"Ibu...."


Selene de Cera menoleh dari balik cermin. Awalnya dia senang Athene datang ke kamarnya, tapi setelah melihat ekspresi putrinya yang kacau, Marchioness tahu di sini ada yang tidak beres.


Marchioness beranjak. Menyambut putrinya dengan hangat. "Athene sayang, ada apa? Kenapa wajah cantikmu itu merengut, hm?"


"Lagi-lagi Odyssey menggangguku." Athene melemparkan tubuhnya di atas sofa empuk milik Marchioness lalu merengek keras. "Tidak mau tahu, ibu harus membantuku mengalahkannya sampai Odyssey sadar bahwa dirinya itu bukan apa-apanya dibanding aku!"


"Tenang, dear. Tenang." Marchioness duduk di depannya, sedih melihat sang putri kesayangannya ini kesal setengah mati. "Bukankah biasanya kau akan membalas, kenapa sekarang kau tidak melakukannya lagi?"


"Ibu tahu, dia berubah semenjak mati suri."


Marchioness terdiam. Athene benar, Luz sangat jauh berbeda saat berusaha bunuh diri menggunakan pecahan kaca, merobek urat nadinya sendiri. Jika bukan karena sorotan bangsawan lain mengarah pada keluarga mereka, Marchioness sebenarnya malas membiarkan Odyssey tinggal bertahun-tahun di manor house Thompsville.


Dia kembali bangun, tapi menjadi tukang pembuat onar.


"Ibu?"


Marchioness tersentak lalu tersenyum tipis.


"Dia sudah berbeda dari yang dulu. Jika aku melawannya sendirian, jujur aku sedikit takut," sambung Athene lagi tanpa peduli kekhawatiran sang ibu barusan. "Odyssey bisa membalas perbuatan ku jika ibu tidak ikut turun tangan."


"Odyssey memang bukan seperti Odyssey lagi." Marchioness menggeleng samar lalu meraih tangan Athene. "Kau tenang saja. Ibu akan membuatnya kembali seperti dulu lagi supaya kau tidak perlu kesal setiap hari."


Athene tersenyum lebar. "Ibu bisa melakukannya?"


"Tentu saja." Marchioness berdiri, lalu mengelus lembut puncak kepala Athene. "Ibu ingin pergi sebentar. Setelah ini istirahat saja, nanti sore kita akan pergi ke mansion Viscountess Aleshky."


Athene memegang tangan Marchioness. "Ibu ingin pergi menemui Odyssey, kan. apa aku boleh ikut?"


Athene mengetahuinya. Tidak ada pilihan, Marchioness pun mengangguk.


"Ayo kita kunjungi dia."


...----------------...


Bersama dengan Athene, Marchioness menuju lantai empat manor untuk menemui Odyssey. Wanita itu mengernyit kala menyadari banyak yang berbeda dari tempat ini. Karpet ungu digelar sampai menutupi tengah-tengah tangga, dekorasi dinding seperti lukisan tidak jelas juga digantung di sana. Bukan lukisan tidak jelas, tapi itu lukisan abstrak yang dapat dijual seharga berjuta-juta koin emas.


Mereka mendekati salah satu lukisan. Memiliki perpaduan antara warna rock dan pastel yang bergradasi sempurna. Tapi tak lama Marchioness syok setelah menyadari siapa yang melukisnya. Di ujung bingkai, nama Odyssey tercetak jelas dengan tinta emas.


Ia menghela napas. Baru beberapa bulan Marchioness tidak menginjakkan kaki di sini, keadaan sudah berubah banyak.


Sementara itu Luz masih sibuk dengan tumpukan kotak di dalam kamarnya. Semua itu merupakan hadiah dari para gentleman di pesta kemarin malam. Bentuk kotak dan hadiahnya pun beragam. Luz mencoba membuka kotak secara random, akan membuang-buang waktu jika membuka semuanya satu-persatu. Mayoritas mereka memberi bunga dalam wadah kaca berisikan air juga sebuah surat yang tertempel di sudut kotak.


Isi suratnya tidak jauh dari rayuan, lamaran secara tersirat, dan bahkan ada yang dengan gamblangnya mengatakan cinta.


"Nona, saya menemukan hadiah dari Putra Mahkota. Apa perlu kita gabungkan hadiahnya dengan hadiah yang lain?" tanya Rose sambil mengangkat sebuah kotak merah dengan pita berwarna senada.


Luz memperhatikannya. "Sisihkan kotak yang itu, Rose. Letakkan saja di lemari."


"Kemarin Grand Duke dan sekarang Putra Mahkota. Anda akan memilih siapa, milady?" Rose terkikik, menularkan tawanya kepada pelayan lain.


"Sudah ku bilang. Grand Duke dan aku tidak memiliki hubungan apa-apa," bantahnya kesal.


"Oh, ya, lalu bagaimana dengan Putra Mahkota?"


"Terserah!"


Mendengar jawaban Luz, sontak Rose dan yang lainnya kembali tergelak. Sementara si empunya justru mendengus kesal dan kembali melanjutkan pekerjaannya seolah ejekan dari pelayannya itu hanyalah angin lalu.


Setelah menyisihkan hadiah dari Putra Mahkota, mereka kembali menyusun kotak-kotak yang tersisa di pojok ruangan agar kamar Luz —yang berubah warna dari merah muda menjadi putih gading ini— bisa kembali lenggang seperti biasa. Bertepatan dengan hal itu, Marchioness dan Athene membuka pintu dari luar tanpa permisi.


"Bertumpuk-tumpuk kotak dikirimkan untuk Odyssey sedangkan aku hanya mendapat lima belas kotak." Athene tidak bisa menahan rasa sesak di dadanya. "KAU KETERLALUAN, ODYSSEY. KETERLALUAN. KAU LEBIH BAIK MATI!"


"Puas membuat kakakmu bersedih?"


"Marchioness, aku—"


"DIAM!" Marchioness menatap pelayan Odyssey satu-persatu. "Kalian keluar."


Para pelayan menunduk ketakutan lalu melirik Luz. Melihat majikannya mengangguk pelan, mereka terpaksa keluar dari tempat tersebut sebelum Marchioness kembali murka.


Pintu kembali ditutup. Kini tersisa Luz dan Marchioness yang tertinggal di dalamnya.


"Kau bukan putriku."


Napas Luz tercekat. Tidak-tidak, Marchioness harusnya tidak tahu akan hal itu karena mereka hampir tidak pernah bertegur sapa apalagi sampai mengenal diri masing-masing.


"Apa yang Anda bicarakan, Marchioness. Ah, sudahlah. Sejak dulu aku memang bukan putri—"


"Salah. Maksudku, kau bukan Odyssey."


Marchioness menyapukan pandangannya pada kotak-kotak yang menggunung di sebelah meja rias. Ia mengitari Luz, menatap sang kristal dari atas ke bawah.


"Siapa dan dari mana kau berasal, aku tidak tahu. Tapi yang pasti aku akan melindungi Athene dari orang picik sepertimu."


"Apa boleh buat jika Anda sudah tahu." Luz tersenyum miring dan membalas dengan nada menantang. "Jika aku bukan putrimu, memangnya apa yang ingin kau lakukan?"


"Banyak cara bisa kulakukan. Jadi sebelum itu terjadi, ku sarankan agar kau tetap diam di dalam kamar." Marchioness menjawab diiringi tatapan dingin. "Jika aku sudah bertindak, kau pasti akan takut atau bahkan gila karenanya."


"Takut hanya akan melenyapkan diriku secara perlahan. Kau, si gila Athene, dan juga Marquis semuanya sama! Kalian membiarkanku hidup tapi kalian jugalah yang membunuh jiwaku sampai mati rasa. Apa kalian sudah puas menyakiti putri kedua kalian?!"


"Kau akan mendapat pelajaran."


"Tidak perlu, Marchioness. Setiap hari aku mendapatkan banyak pelajaran dari sikap buruk kalian bahwa manusia itu tidak sebagus sampulnya. Kalian bangsawan tapi tega memperlakukan anak dengan kejam melebihi binatang."


"Odyssey!"


"Apa, sudah kehabisan kata-kata, Marchioness?" Luz tertawa sumbang. "Aku sudah tahu niatmu kemari untuk menekan diriku agar tetap menjadi bayang-bayang Athene, kan. Tapi maaf saja, aku tidak bodoh dengan menuruti ancaman mu itu, jadi lebih baik kau pergi dan silakan rencanakan hal lain."


"Tidak tahu diri. Inikah balasan mu setelah kami membiarkanmu hidup sampai selama ini?!" Marchioness kalap. Dia melupakan ajaran kebangsawanan-nya dan meringsek maju bak kesetanan, menarik surai kristal milik Luz yang lembut kini berubah seketika.


Luz diam mematung saat Marchioness berhasil meraih rambutnya, merampas helai demi helai putih itu secara bersamaan. Rasa nyeri dan sakit pada rambut yang rasanya ingin lepas dari kepala itu masih kalah dengan sakit hati yang ia rasakan. Luz tidak tahu, padahal dia tidak memiliki hubungan apapun dengan keluarga de Cera. Hanya Odyssey putri mereka, bukan dirinya.


"Wanita biadab! Haruskah aku merobek mulutmu itu supaya kau bisa belajar sopan santun?!" Selene de Cera tidak berniat melepaskan cengkeramannya walau Luz hanya diam. Dia masih bersemangat menyakiti.


Di dalam lubuk hatinya, Marchioness menyesal telah membiarkan Odyssey tumbuh di dalam manor house Thompsville. Harusnya saat baru dilahirkan, Odyssey sudah dibuang agar tidak ada satupun orang yang tahu akan kehadirannya di dunia ini. Harusnya dia dan Marquis Thompsville hanya mengakui Athene dan Ochonner saja sebagai penerus de Cera. Dengan begitu, menyingkirkan Odyssey akan jauh lebih mudah tanpa harus terlibat skandal apapun.


"Ibu, apa yang ibu lakukan?!"


Ochonner yang awalnya berniat mengajak Luz pergi tiba-tiba terkejut bukan main saat menyaksikan sang ibu tengah main fisik dengan putrinya sendiri. Ia segera masuk, memeluk Marchioness dari belakang dan menghentikan kebrutalan Selene de Cera dengan mata yang masih melotot merah.


"Ibu, sudah cukup. Apa kau tidak kasihan saat melihat kak Odyssey terluka karena mu? Jika ibu tidak bisa menganggapnya sebagai putri ibu, setidaknya perlakukan dia seperti manusia!"


Marchioness menoleh lalu berdecih, "Kau lebih membela wanita tidak benar ini dibandingkan ibumu, begitu?"


"Aku hanya berusaha membuat ibu sadar." Ochonner merendahkan suaranya, "Lagipula, alasan ibu untuk membencinya itu tidak sebanding dengan kasih sayang yang kak Odyssey berikan."


Kasih sayang? Pft.


"Berharap banyak pada barang rongsokan hanya akan membuatmu kecewa, Ochonner." Marchioness menatap Luz nyalang. "Kau. Kau tinggal di rumahku, maka ikuti semua perintahku jika ingin hidup gampang!"


"Tenang saja, Marchioness. Aku pun tak betah berlama-lama di rumah gubuk milikmu ini." Luz mengangkat sebelah alisnya, menantang. Sedangkan kedua tangan dilipatnya di depan dada. "Setelah aku mendapatkan gelar Crystal Lady, aku akan segera pergi dan menuntut semua siksaan yang ku alami selama ini bersama kalian."