
"Your Majesty, Cornelius meminta izin untuk menghadap Anda."
Alastair yang sedang menyelesaikan tugasnya itu pun menoleh dan mengangguk singkat. Walau bekerja, tapi pikirannya masih melayang pada saat kejadian di mana hilangnya Luz, sama sekali tidak bisa lepas dari otaknya. Tak lama, suara pertemuan antara sepatu boots dan lantai marmer terdengar mendekat. Cornelius menunduk hormat, lalu kembali menatap junjungannya.
"Ada apa, Jenderal?"
"Saya mendapatkan berita dari para petugas bahwa kota untuk para penyihir sudah selesai dibangun," ujarnya memberitahu. "Apa yang perlu kita lakukan selanjutnya?"
"Jika tempat itu dirasa sudah aman, aku akan menghubungi Sir O'Leary secepatnya," sahut Alastair datar. "Kita tidak bisa menyampaikan informasi ini langsung kepada para penyihir. Klan mereka hidup berpindah-pindah, di dalam hutan, dan tidak dapat ditebak."
Cornelius mengangguk paham. "Apakah ada yang perlu ditambahkan lagi, Your Majesty?"
"Soal keamanan," tukas Alastair lalu memperhatikan lawan bicaranya lamat-lamat. "Rekrut pasukan patroli yang baru untuk berjaga di kota itu. Tingkat kejahatan masih belum bisa diprediksi, takutnya ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi."
"Saya mengerti."
"Baiklah kalau begitu."
Cornelius menyerahkan sebuah perkamen peresmian kota penyihir. Alastair membukanya, memperhatikan detail denah kota, penataan, dan gedung-gedung. Namun dari semua itu, ada satu kolom kosong yang tersisa. Kota tersebut belum memiliki nama. Alastair lalu kembali bersuara.
"Kota Arkarus."
Cornelius mengerjap, "Ya?"
"Aku menamainya Kota Arkarus. Pada saat pengumuman pembukaan nanti, barulah kita umumkan nama ini di depan publik," sambung sang kaisar lagi lalu membubuhkan stempel kerajaan di atas goresan pena yang baru ia torehkan di atas perkamen tersebut.
"Baik, Yang Mulia."
Ia menyerahkan perkamen tersebut. "Salin. Setelah selesai, perkamen yang asli ini kembalikan lagi padaku. Sedangkan yang satunya tolong serahkan kepada Sir O'Leary. Dalam suasana baru seperti sekarang, lebih baik dialah yang kembali memimpin para penyihir."
Cornelius menerima kembali perkamen tersebut dengan hati-hati. Jika dipikir-pikir, sungguh tugasnya semakin terasa menyenangkan setelah Alastair yang mengambil alih Sormenia. Menyenangkan karena memang inilah bidang yang Cornelius kuasai. Pikirkan saja, orang mana yang akan benci kepada sosok yang menyenangkan seperti sang kaisar satu ini?
"Kau boleh keluar."
Pria itu menunduk hormat, "Terima kasih, Your Majesty," ucapnya patuh sebelum melangkahkan kaki keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan Alastair kembali dalam kesendirian dan setumpuk dokumen yang belum rampung.
Omong-omong masalah penyihir, Alastair tiba-tiba teringat pada penyihir yang ia temui beberapa waktu yang lalu di hutan barat. Seorang penyihir wanita dan seorang anak.
Tapi satu hal yang membuat Alastair mendapatkan titik terang. Ia segera membuka laci yang terletak di samping meja kerjanya. Giok ungu. Benda pemberian penyihir itu masih tersimpan rapi di dalam sana. Alastair meraihnya, memperhatikan ukiran rumit yang menghiasi permukaan giok.
"Pecahkan batu itu dan kau bisa mempermainkan waktu dalam sekali percobaan."
Ia kembali teringat pada perkataan sang penyihir. Seolah mendapatkan jalan keluar dari kegelisahan yang menimpanya selama beberapa hari, Alastair akhirnya bisa tersenyum tipis.
"Mari kita coba bagaimana benda ini dapat bekerja."
"Yang Mulia."
Prajurit yang berjaga di depan pintunya kembali masuk.
"Duke of Lancess izin menghadap."
Tepat sekali. Belum diminta, orang yang ia perlukan datang sendiri.
"Cepat, suruh dia masuk."
Alastair tidak pernah setergesa-gesa ini dalam berbuat sesuatu.
Malam demi malam berlalu, tak terasa bulan berganti bulan. Sudah banyak hal dan perubahan yang terjadi pada Luz. Perusahaan make-up rencananya akan ia berikan kepada sang nenek. Entahlah ... setiap kali melihat benda-benda kecil itu tersusun di atas meja, rasanya Luz kembali teringat akan masa-masa menyenangkannya memiliki toko sendiri di Brighton. Bagaimana kabar Rose —yang terakhir kali terlihat dekat dengan Earl of Travis— dan juga bagaimana keadaan rakyatnya. Semua orang di sana sungguh Luz rindukan. Terutama sang kaisar.
Di New York, semuanya bersikap profesional. Terkesan kaku dan hanya akan berinteraksi jika ada keperluan. Luz tidak memiliki perasaan yang sama terhadap orang-orang di sini kecuali kepada ayahnya dan juga Denise.
Hah, Luz tidak tahu. Sampai kapan ia bisa melepaskan ingatan indah itu.
"Ayah rasa kau perlu liburan."
Suasana makan malam yang biasanya hening itu tiba-tiba dikejutkan dengan pernyataan Ken yang membuat Luz mendongak.
"Fisikmu sudah sehat, tapi ayah tahu mentalmu sama sekali belum siap," ujar pria paruh baya itu bijak lalu kembali meminum air putihnya. "Atau kau lelah dengan New York? Bagaimana jika mencoba mengelola perusahaan cabang kita di Amsterdam. Ah, jika keberatan kau bisa memilih perusahaan mana saja yang ingin kau jalankan."
"Yeah, mengelola perusahaan keluarga tidak buruk. Bukankah itu juga harapan ayah padaku untuk melanjutkan warisan keluarga?" Luz tersenyum tipis. Benar, dia satu-satunya pewaris Kebely Group. Tidak mungkin melimpahkan kepemimpinan kepada orang lain jika bukan dirinya. "Sudah cukup bermain-main dengan hobi ku sebagai penata rias. Sekarang aku akan mencoba serius untuk melanjutkan kejayaan keluarga kita, ayah."
Ken menghentikan gerakannya yang ingin mengambil sepiring pudding. Menatap lekat putrinya dengan tatapan bangga. "Ayah tidak menyangka kau sudah dewasa. Tahu mana kewajiban mu sebagai pewaris tunggal, itu sangat membuatku senang. Bukan berarti ayah tidak menyukaimu bergelut di dunia rias—tidak. Maksudku ... keegoisanmu, Luz."
Ken tersenyum lembut. "Keegoisanmu sudah hilang. Dengan begini ayah tidak perlu khawatir akan nasibmu di masa depan."
"Aku akan mengambil alih perusahaan kita yang berada di Ukraina," ungkap Luz sambil menusuk-nusuk spaghetti miliknya yang masih tersisa separuh. "Dan mengenai liburan. Bagaimana jika ke pantai?"
"Pantai?" Ken mengangguk-angguk setuju. "Ku dengar pantai Los Roques di Venezuela sangat mengagumkan. Aku belum pernah ke sana, tapi aku yakin kau akan puas jika melihatnya."
Luz mengernyit, "Huh, dari mana keyakinanmu itu berasal jika ayah sendiri tidak pernah ke sana?"
"Aku mendengarnya dari orang-orang."
"Ya sudah. Daripada hanya mendengarkan perkataan orang, lebih baik ayah juga ikut bersamaku."
"Tidak semudah itu, gadis kecil," jawab Ken geli. "Jadwalku masih padat sampai satu bulan ke depan. Menungguku sebulan lagi pasti akan sangat lama. Sudah, kau pergi sendiri juga aku tidak masalah."
Luz memberengut, "Ayah akan melewatkan kesempatan emas."
"Aku tidak menyesal. Itulah resiko pebisnis."
Luz mendengus dan hal itu tentu tak luput dari perhatian Ken.
"Sudah-sudah, jangan marah. Sampai di sana, jangan lupa bawakan ayah sesuatu, ok?"
"Sesuatu seperti apa yang ayah perlukan?"
"Menantu. Kalau bisa cari yang kaya."
"Ayah!!"
Seketika Ken terbahak melirik putrinya yang kini sudah memerah menahan kesal dengan tatapan melotot tajam seolah siap menerkam dirinya.
......................
Kira-kira Alastair mau nyobain batu giok nya ke Duke Lancess dulu atau gimana yaa, apa ada yang bisa nebak?🤔
Btw, jangan ditiru yaa bapaknya Luz itu walau dia baik, tapi otaknya masih otak duit dan itu sudah biasa lah bagi orang-orang bisnis. Ga peduli anaknya mau jadi apa, yang penting perusahaan jalan tros. Ingat, protagonis tidak melulu benar hidupnya—eh.
Wajib komen, aku tunggu😼