
Kereta kuda yang akan dinaiki keluarga Marquis Thompsville sudah terparkir rapi di depan manor sejak tadi siang. Begitu undangan dari raja disebar ke seluruh bangsawan Sormenia, Marquis tidak kalah heboh saat menyiapkan segala hal yang diperlukan saat berada di dalam pesta sebab putra bungsunya, Brianno Ochonner de Cera akan pulang setelah dua bulan singkatnya di barak militer.
Omong-omong, Ochonner memiliki rupa yang mirip dengan Marquis saat muda dulu. Marquis merasa melihat dirinya sendiri sewaktu muda saat berhadapan dengan Ochonner. Selain itu Ochonner-lah yang banyak membantu mengharumkan nama bangsawan de Cera yang sudah menjalani karier di usia muda sebagai tangan kanan Grand Duke of Brighton sampai sekarang. Calon menantunya.
Tapi tak dapat dipungkiri, Ochonner tentu saja sangat mirip dengan saudari kembar identiknya, Odyssey.
"Ladies, apa kalian sudah selesai berdandan? Ochonner sudah menunggu kita," ucap Marquis Thompsville tidak sabar saat melihat betapa lambannya bedak putih itu menghiasi wajah istri dan putrinya.
"Ochonner tidak akan lari, ayah. Biarkan aku berdandan sebentar jika ayah ingin putri de Cera ini menjadi pusat perhatian," balas Athene yang masih sibuk dengan perona pipi tanpa menoleh sedikitpun ke arah Marquis yang menengok di depan pintu kamarnya.
"Apa kita perlu mengajak Odyssey sekalian?"
Marchioness yang awalnya duduk santai di samping Athene yang berdandan sontak melepaskan bacaannya dan menoleh ke arah Marquis. "Aku memang mengajaknya tapi bukan berarti kita bisa mengajaknya satu kereta bersama kita."
"Biarkan saja dia jalan kaki," sahut Athene menambahkan.
"Ku serahkan masalah ini pada kalian. Aku akan menunggu di kereta. Nikmati waktu kalian," balas Marquis akhirnya lalu beranjak dari tempat tersebut.
Marquis Alfonso de Cera, anak tertua sekaligus pewaris gelar resmi de Cera yang ke-dua ratus sembilan sebenarnya tidak pernah takut dengan apapun. Sayangnya dia mencintai orang yang salah, orang yang berhasil mematikan rasa berkuasanya. Selene Monswill atau sekarang Marchioness Selene de Cera, putri utama Earl of Monswill yang ambisius dan materialistis, tidak segan untuk membuang putrinya sendiri jika itu bisa menyelamatkan dan menambah seluruh hartanya.
Cinta bisa membutakan segalanya, itulah yang Marquis Thompsville rasakan.
Dan hal ini terjadi pada Odyssey, putri kedua mereka yang tersingkirkan. Marquis tidak bisa berbuat banyak, semua keputusan terkait wanita-wanita dalam lingkup manor house Thompsville ada di tangan Marchioness.
Dua jam berlalu, Marquis menghela napas namun kemudian ia kembali semangat saat melihat siluet istri dan putrinya turun dari tangga teratas manor house dengan gaun elegan dan memukau.
Terlihat jelas di sini Athene lah yang menjadi bintang utamanya. Menggunakan gaun biru dengan kain brokat berlapis-lapis, ia tampak semakin cantik saat tersenyum dan berjalan anggun seperti wanita terhormat lainnya. Surai merah muda yang ia warisi dari sang Marchioness sangat kontras dengan warna gaun, tapi itu bukanlah sesuatu yang bisa disebut norak.
Athene, sosok luar biasa dari seorang Crystal Lady.
"Tampak cantik dan anggun, lady." Marquis Thompsville menyambut telapak tangan Marchioness yang ditutupi sarung tangan putih, mengecup punggung tangannya lalu mengajak masuk ke dalam kereta bak gentleman biasa lakukan.
"Lady Odyssey sudah pergi?" tanya Marquis pada Athene yang sudah duduk nyaman di samping ibunya.
"Kenapa ayah selalu menanyakan dirinya di saat hanya ada kita di sini. Itu sangat tidak penting. Oh, atau ayah diam-diam peduli padanya, begitu? Ingat, dia itu pembawa sial keluarga kita!" sentak Athene kesal berbanding terbalik dengan citranya di luaran sana sebagai gadis dengan predikat paling anggun dan penyabar.
Air muka Marquis berubah masam, "Apa maksudmu menuduh ayah dengan hal yang tidak benar?"
"Nyatanya ayah memang bersikap seperti itu sejak Si Sampah siuman!"
"Kita akan pergi ke istana, kenapa kalian justru beradu mulut?" Marchioness menanggapinya santai. "Tidak baik jika orang-orang menyadari hal ini dari kalian. Kalian hanya akan menjadi bahan gosip murahan di luaran sana."
Athene langsung menutup mulutnya rapat-rapat lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela. Begitu juga Marquis Thompsville yang lagi-lagi menghela napas pasrah lalu memutuskan diam hingga kereta kuda membawa mereka sampai di istana.
Halaman istana yang luas kini sudah dipenuhi kereta-kereta kuda bangsawan lain yang sudah datang lebih awal. Tapi diantara semuanya, kereta milik keluarga de Cera lah yang paling mewah ditambah panji putih sebagai ciri khas mereka.
"Nona Sierra," sapa Athene pada seorang perempuan yang sudah ia kenali bahkan dari siluet punggungnya.
Sierra Avistasius, putri tunggal Earl Of Avistasius itu menoleh lalu tersenyum simpul. "Senang bertemu dengan Anda, Crystal Lady."
Marquis dan Marchioness Of Thompsville memilih bergandengan mesra dan masuk ke dalam istana untuk berbaur dengan bangsawan lain. Meninggalkan Athene di halaman depan bersama sahabatnya.
"Seperti biasa, Anda tampak memukau," puji Sierra berlebihan. Padahal menurutnya Athene tidak lebih cantik di banding dirinya.
"Terima kasih. Memerlukan banyak waktu untuk menyiapkan tampilan sesempurna ini," sambut Athene senang bukan main. Inilah yang ia sukai dari Nona Avistasius, dia akan memujinya dimana pun mereka bertemu.
"Luar biasa, bagaimana jika kita masuk sekarang?" Ajak Sierra anggun.
"Tentu."
"Halo, Crystal Lady, lama tidak berjumpa denganmu." Theodore Aegera menghampiri lalu meraih dan mengecup punggung tangan Athene yang tertutup sarung tangan.
"Anda yang lama tidak berkunjung ke manor house Thompsville, tuan," balasnya ramah.
"Akhir-akhir ini saya dan Sir Aegera sedang melakukan ekspansi bisnis ke Azga, kami belum sempat berkunjung," Marquis termuda sekaligus mantan tunangan Odyssey yang menyahut. Dia Achilles da Beta, pria matang yang hampir memasuki usia empat puluh tahun. Sudah memiliki istri pengganti Odyssey namun ketertarikannya pada Athene jauh lebih besar dari apapun.
Lagipula dia cukup tahu diri, Athene bergelar Crystal Lady. Sebagai seorang Marquis biasa, egonya sangat diuji oleh gelar itu jika sampai Achilles menikahinya.
"Itu bukanlah alasan yang cocok untuk menelantarkan ku sendirian di dalam manor," jawab Athene lagi dengan nada manja.
"Besok kami akan berkunjung, Anda jangan risau," balas Achilles lagi ditambah rona bahagia pada wajahnya yang tersenyum mesum.
Sierra hanya diam namun jauh di lubuk hatinya ia merasa jijik.
Er .... Crystal Lady tentu bisa bebas berbuat apa saja terlebih jika itu terjadi di manor miliknya sendiri. Tapi jika itu dilakukan untuk berbuat yang tidak-tidak, jika boleh Sierra akan berdoa pada Tuhan agar gelar Crystal Lady dicabut dari Athene. Dia tidak berhak atas gelar sehebat itu.
Yah, walau itu sangat mustahil. Gelar kehormatan Crystal Lady harus diteruskan dan saudari Athene yang lain sangat buruk untuk menopang gelar se-elegan itu.
"Rupanya kalian di sini."
"Your highness." Serempak sekumpulan bangsawan itu membungkuk hormat saat Putri Giselle la Empyrean, adik perempuan putra mahkota yang tiba-tiba ikut bergabung sambil membawa segelas sampanye di tangannya.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?"
"Ah, tidak terlalu penting. Kami hanya memuji gaun indah yang dipakai Crystal Lady," jawab Achilles cepat.
"Oh, benarkah. Jarang ada pria yang mau membuang-buang waktu dengan menilai pakaian wanita," balas Giselle lagi. Dia tahu Achilles berbohong padanya, tapi ia memilih masa bodoh dan mengganti topik pembicaraan.
"Menurut kalian lebih sempurna mana, gaunku atau gaun Crystal Lady?" tanyanya bangga.
Sang putri juga terlihat tak kalah cantik malam ini. Menggunakan gaun kuning lembut dari satin sutra dipadukan dengan warna rambutnya yang tidak kalah cantik dan cocok. Pirang. Dilihat dari sudut manapun, sang putri tentu tidak ada cela sedikitpun.
"Menurut saya...." Achilles masih membandingkan pakaian kedua perempuan terhormat di depannya sebelum bisik-bisik menyeruak di belakang mereka.
"Dia berasal dari keluarga mana?"
"Sangat mempesona, dari warna surai sepertinya dia kerabat dekat Marquis Of Thompsville?"
"Dia sangat bersinar. Ku rasa dia lebih sempurna dibanding Crystal Lady."
Mendengar bisikan terakhir membuat Athene meradang sampai telinganya memerah. Dia mendekat, berusaha menerobos kerumunan orang-orang yang mengelilingi 'Gadis yang katanya lebih bersinar' itu susah payah. Ia terbelalak, betapa terkejutnya Athene saat menyadari siapa orang yang dipuji semua kalangan bangsawan malam ini.
Itu Odyssey. Jujur, dia sangat cantik.
Rambut putih kristal khas keluarga de Cera miliknya digelung rapi dengan bagian poni yang dipotong khas Korean Style. Karena rambut asli Odyssey memang bergelombang, jadi Luz tidak perlu bersusah-payah memberi roll di sana-sini. Gaun yang dia pakai tentu limited edition sebab beberapa bagian sudah Luz tambahkan dengan sentuhan modern ala-ala model yang biasa berjalan di catwalk.
Luz sebenarnya tahu bagaimana tatapan tajam Athene terhunus padanya tapi ia justru menikmati kemarahan gadis congkak itu. Diam-diam ia tersenyum miring dan bersyukur, Tuhan sangat baik dan selalu berpihak terhadap apapun yang ia lakukan.
Achilles melanjutkan. "Lady yang di sebelah sana jauh lebih menarik," ucapnya jujur. Tidak menyadari bahwa wanita yang baru saja di ia puji merupakan wanita yang sama dengan mantan tunangannya.
Hanya memiliki uang lima koin perak, tapi tampilannya justru yang paling mewah. Luz juga bisa merasakan Putri Giselle menatapnya penuh minat.
Mau tahu bagaimana cara Luz mendapatkan gaun dan penampilan sehebat ini?
Ah, baca saja kelanjutannya.