
Beberapa hari yang lalu saat Luz menginjakkan kakinya di istana, ia melihat sang ratu masih setia di depan peti mati yang menyimpan mayat suaminya. Wajahnya pucat pasi, pun dengan tubuhnya yang semakin kurus tambah meyakinkan bahwa wanita itu sedang sengsara. Agaknya, menyusul sang suami terdengar lebih baik ketimbang masih hidup namun bukan lagi sebagai ratu.
Melihat kedatangan Luz, salah satu pelayan menghampiri mantan wanita nomor satu itu. Luz melihat sendiri dari jauh. Ratu Monetta sempat menoleh, lalu mengangguk lemah.
Setelah mendapat izin barulah Luz mendekat. Dielusnya punggung sang ratu, berusaha menguatkan. Dan disitulah ratu menarik tangannya. Menatap Luz dengan mata membengkak.
"Tidak ada harapan lagi. Suka ataupun tidak, aku akan datang pada Marquis Thompsville, melamar dirimu untuk Putra Mahkota." Ia menampilkan senyum getir, "Aku tahu Evandre membutuhkan wanita hebat seperti dirimu di sisinya dan Grand Duke pasti akan mengalah. Ya, dia akan mengalah seperti yang sudah-sudah."
"Your Majesty...."
"Grand Duke tidak pernah menolak permintaanku," ujarnya lagi keras kepala. Benar-benar terlihat seperti orang gila. "Kau harus, Crystal Lady. Harus. Jika menolak, takhta Sormenia bisa saja berpindah tangan karena lemahnya cakupan Evandre."
"Berpindah tangan?" Luz tersenyum tipis. "Harusnya memang itu yang terjadi, kan?"
Sang ratu terbelalak. Genggamannya pada tangan Luz sontak terlepas antara percaya atau tidak, hal menyakitkan itu meluncur bebas dari bibir seorang gadis yang ia percayai sebagai calon menantu. "Ap-apa maksudmu."
"Bukannya sudah tertulis jelas di hukum Sormenia, Yang mulia?" Luz berdiri menghampiri peti mati yang memuat mayat orang nomor satu di Sormenia itu. Melirik sebentar foto Raja Izaikhel yang diletakkan tak jauh dari atas peti matinya. "Bahwa pembunuh raja sebelumnya tidak berhak atas takhta walaupun pembunuh itu putra mahkotanya sendiri."
"Katakan dengan jelas!" Mata Ratu Monetta berkilat marah. Ia berusaha menggapai Luz, akan tetapi jarak yang terbentang di antara mereka cukup jauh dan tenaganya yang kurang akibat mogok makan selama empat hari cukup menghentikan niatnya itu. "Siapa yang membunuh siapa?!"
"Saya tidak ingin menuduh siapa-siapa sebab saya tahu Anda bisa menilainya sendiri."
Luz mengambil sesuatu dari balik kantongnya. Sebuah catatan pembelian racun berkedok sigaret tercantum dibeli sekitar satu minggu yang lalu atas nama putra mahkota sendiri. Hal yang tidak dapat di dustakan, ada stempel pribadi milik Evandre yang tertempel di atas kertas tersebut.
"Cornelius sudah memeriksa racun di dalam sigaret yang dibeli Putra Mahkota. Dan hasilnya persis sama dengan racun yang terkandung dalam arak yang diminum His Majesty."
"Hanya ini?" Ratu Monetta menatapnya sinis. "Apakah aku harus percaya padamu ketimbang putraku sendiri, begitu?"
"Anda merupakan ibunya. Jauh di dalam lubuk hati, Anda mengenal Putra Mahkota lebih dari siapapun." Luz menimbang-nimbang. Ia berjongkok, menyetarakan tingginya dengan sang ratu yang masih bersimpuh.
Luz tahu wanita di depannya ini masih sangat mencintai kedudukannya. Oleh karena itu, Luz yakin bahwa ucapan terakhirnya kali ini sedikit banyak pasti bisa merubah pikiran sang ratu.
"Pikirkan saja. Apakah masih pantas orang yang membunuh suami Anda dengan keji, membunuh jalan Anda sebagai ratu, dan membunuh harapan Anda sebagai pemimpin masih dibiarkan berkeliaran hidup bebas di dalam dinding istana?"
...----------------...
Setelah Luz mengalami pingsan, akhirnya ia kembali sadar. Namun sadar di alam yang berbeda.
Luz merasakan kehampaan memenuhi relung tubuhnya. Udara serasa tipis, hampir membuatnya kesulitan bernapas. Rasanya sama seperti tinggal di sebuah rumah sempit yang dibiarkan tertutup selama beberapa tahun. Samar-samar ia melihat siluet seorang wanita yang memunggunginya. Terlihat asyik bermain piano sampai wanita tersebut sadar bahwa ia sedang diamati.
Wanita itu menoleh lewat bahu. Lalu memamerkan senyum tulus.
Luz terkejut sekaligus terpana. Kakinya melangkah mundur. Menyadari hal itu, wanita yang tadinya bermain piano terkekeh lalu turun dari kursinya.
"Jangan takut, Luz. Bagaimana, apakah tinggal di dalam tubuhku rasanya menyenangkan?"
Itu Odyssey yang asli. Memakai gaun polos yang serasi dengan warna rambutnya.
"Aku tidak takut, hanya kaget karena ini kali pertama kita bertemu." Luz menggaruk kepalanya. "Sebelumnya, terima kasih sudah membiarkan aku tinggal di Sormenia."
"Ambil saja ragaku, Luz."
Luz mengerjap, "Ya?"
"Aku tidak memiliki keinginan untuk hidup kembali." Ia menampilkan senyum nanar. "Sejak kecil aku merasa terkurung di dalam keluarga de Cera dan sekarang akhirnya aku bisa keluar dari penjara itu. Katakan, setelah bebas, burung mana yang ingin ditangkap lagi untuk kedua kalinya?"
Tapi di sisi lain, Luz tidak tahu. Keberadaannya di Sormenia ... akankah berlangsung selamanya atau justru sebaliknya.
Dari kutukan Manuel, Luz tahu ia bisa kembali ke New York jika ada seseorang yang mencintainya dengan tulus. Masalahnya, Luz tidak tahu apakah cinta sejati itu benar-benar ada atau hanya khayalan belaka.
Sekarang Luz berada di dua pilihan yang sama beratnya. Antara tetap tinggal di Sormenia atau kembali ke rumah lamanya lalu kembali beraktivitas seperti semula. Menjadi penata rias profesional dan tinggal bersama ayahnya.
Walau Odyssey sudah memberikan tubuhnya untuk Luz, tetapi Luz tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya.
Pertemuan mereka berlangsung singkat. Seolah hanya ingin mengatakan bahwa dirinya akan pergi selama-lamanya, Odyssey menghilang dari pandangan Luz.
...----------------...
"Love, tolong bangun."
Mendengar perkataan Alastair, sontak saja Ochonner mendelik. Seolah bukan apa-apa jika saudarinya sakit, ia dengan cepat menyeletuk.
"Jangan terlalu cinta pada makhluk yang bernama perempuan, Your Grace. Mereka hanya akan berbangga diri jika selalu dipanggil dengan nama kesayangan."
Masih mengelus punggung tangan Luz yang belum sadar, Alastair membalas, "Apakah Crystal Lady yang sekarang ini jauh berbeda dengan kepribadiannya yang dulu?"
"Hah?" Ochonner mengerjap, "Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu?"
"Tidak. Aku hanya bertanya."
"Ya, dia memang banyak berubah." Ochonner menghela napas namun akhirnya ia tersenyum lembut ke arah saudari kembarnya tersebut. "Tetapi aku menyukai perubahannya. Dulu, aku sangat khawatir jika harus terpisah dengannya sebab keluarga kami sangat membenci Odyssey akibat termakan kutukan bodoh."
Ochonner berdecih. "Sekarang lihat. Odyssey bisa menjadi orang terpandang karena dirinya sendiri, bukan bantuan dari keluarga. Dan jujur ... aku salut padanya."
"Dulu, dia juga sering berkata ingin melakukan bunuh diri. Syukurlah hal itu tidak terwujud. Aku senang dia berbalik arah dan berani melawan orang-orang yang menginjaknya," sambung Ochonner lagi.
Pada akhirnya, mereka sama-sama terdiam. Saling terlarut dalam pikiran masing-masing. Ochonner yang masih setia bersandar pada pilar ranjang tampak memaku tatapannya pada lantai marmer gelap di bawah. Sedangkan Alastair ... entah sebab apa tiba-tiba saja kekhawatiran menyeruak di dalam hatinya.
Evandre memang belum mati, dia hanya mengalami luka tusuk yang cukup dalam namun bukan berarti hal tersebut mampu merenggut nyawanya. Tapi secara garis besar, dirinya dan Luz sudah menang.
Apakah setelah ini Luz akan pergi?
Jika benar, Alastair rasa hidupnya tidak akan sama lagi. Lalu bagaimana caranya agar gadis ini bisa tinggal di Sormenia. Selamanya?
Alastair tidak sanggup. Gadis nakalnya ini sudah membawa seluruh hatinya.
Secara bersamaan, jari-jari Luz bergerak pelan. Menunjukkan atensi bahwa dirinya sudah sadar walau matanya masih terpejam. Alastair tersentak, sementara Ochonner langsung berlari keluar untuk mencari tabib.
"Love!"
Perlahan Luz kembali membuka matanya. Semuanya masih terlihat buram, namun satu hal yang is tahu; Alastair sejak tadi selalu bersamanya.
"Apa masih ada yang sakit? Love, apa kau bisa mendengarku?"
"Alastair ...." Suara Luz yang serak membuat Alastair kembali panik. Tangan wanita itu terulur, mengelus pelan luka melintang yang masih membekas dari alis sampai tulang pipi prianya. "Jangan khawatirkan aku. Keadaanmu sekarang juga tidak baik-baik saja. Lihat, bekas ini sangat mengganggu."
"Jangan bergerak!" perintah Alastair sambil sesekali menengok pintu. "Lama sekali. Kemana perginya Ochonner itu. Apakah dia memanggil tabib di ujung dunia?!"
"Grand Duke, jangan mengalihkan pembicaraan."
"Aku tidak melakukannya."
"Sudahlah, jangan berdebat denganku."
"Apa tenggorokanmu kering?" Alastair mengambilkan segelas air putih lalu mengulurkannya. "Minumlah sedikit."
"Aku masih sakit," ujar Luz memberengut. "Kau tega membiarkan aku minum sendiri?"
"Oh, maaf."
Alastair berdiri, membantu Luz bersandar pada sandaran ranjang kemudian memberikan air minum tersebut untuk Luz menggunakan tangannya yang otomatis jarak mereka terlihat begitu dekat.
"Grand Duke."
"Hm?"
"Aku menarik ucapan ku barusan."
"Yang mana?"
"Tentang garis di matamu ini." Luz mengamatinya lamat-lamat. "Ternyata sama sekali tidak mengganggu. Justru kau terlihat lebih— ehm tampan."
Mendengar ucapan Luz, sontak Alastair tidak sengaja melepaskan pegangannya pada gagang gelas. Akibatnya, gelas yang berisikan air itu tumpah bebas di atas pangkuan Luz.
"Grand Duke kenapa kau begitu ceroboh!"
"M-maaf, itu tadi tidak sengaja!" jawabnya panik lalu berusaha keras agar Luz tidak menyadari perubahan warna pada wajahnya yang merah padam.
......................
Wkwk seganas apapun Alastair, dia pasti berubah malu-malu meong kalau lagi digoda Luz ekhem🤭
Yang pada belum ngeh sama mata Alastair yang sobek, coba cek lagi visualnya yang ada di PROLOG. Mueheheh, tapi jangan kelamaan liatnya yaa, entar naksir trus di grebek pawangnya kan tambah susah😝