Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
69. Bimbang



Denise Olivia atau yang kerap dipanggil Nessie itu melongok dari arah pintu. Senyumnya mengembang sempurna begitu melihat Luz yang duduk bersandar di atas ranjang pasien. Ditangannya, ia membawa sekeranjang buah-buahan segar dan juga sekotak red velvet cake kesukaan Luz.


"Ya Tuhan, aku sempat mengira kita tidak akan pernah bertemu lagi!"


Ia menyeruak masuk dan memeluk sahabatnya itu erat. Luz membalasnya, tidak kalah senang.


"Sudah berapa lama kau bangun, Luz?"


"Sekitar tiga hari yang lalu."


"Ku dengar kau mengalami koma. Tanpa gejala, apakah ada sesuatu yang membuatmu langsung hilang kesadaran begitu?" tanya Denise prihatin. Sebab yang dia tahu, Luz tidak pernah memiliki penyakit serius. Paling berkaitan dengan masalah asam lambung jika ia telat makan, hanya itu.


Luz menggeleng, "Mungkin karena aku kelelahan."


Jelas tidak masuk akal. Tapi Denise tidak ingin memperpanjang perdebatan mereka.


"Oh, ya. Ada berita penting yang harus kau ketahui."


"Apa itu?"


"Aku hamil!"


Senyum Luz kembali mengembang saat tahu bahwa Denise ternyata sedang dalam keadaan hamil.


"Congrats, sebentar lagi kau akan menjadi ibu," ucap Luz lemah namun ia masih memaksakan seulas senyum tipis menghiasi bibirnya.


"Ini salahmu yang tidak bangun selama bertahun-tahun. Aku tidak memiliki pekerjaan lain, akhirnya memaksakan diri untuk melamar pekerjaan di Gloris Group sebagai sekretaris dan memutuskan berpacaran dengan putra pemiliknya." Denise dengan pede mengibaskan rambut coklat sebahu miliknya lalu mengusap perutnya yang sedikit menggembung. "Ini cucu pewaris Gloris Group, harta berharga. Doakan kami bisa menikah tahun depan," ujarnya lagi lalu terkikik geli.


"Kalian pasti menikah. Kalau tidak, akan ku pukul wajahnya sampai bengkak!"


Perlahan, senyum Luz reda.


"Semuanya sudah berbeda, ya. Aku bahkan sampai merasa asing," ucap Luz menghela napas. Jangankan status teman-temannya, saat Luz menengok ke luar jendela pun, suasana New York jelas sangat berbeda dari yang terakhir ia ingat. Entahlah, Luz rasanya kurang betah. Dia menginginkan suasana alami seperti di ... Ah, lupakan saja.


Denise menepuk pundaknya pelan. "Belum ada kata terlambat. Lekas sembuh dan lihatlah keadaan New York yang baru. Oh, ya. Omong-omong perusahaan makeup milikmu itu sekarang diambil alih oleh nenekmu yang sebelumnya tinggal di Skotlandia."


Dahi Luz mengkerut, "Grandma mau melakukannya untukku?"


"Ya, demi cucu kesayangannya apa yang tidak," jawab Denise lalu tertawa ringan.


"Dulu aku tidak pernah berhasil membujuknya untuk bekerja bersamaku di sini, dia bersikeras untuk tetap tinggal di Skotlandia," sahut Luz cemberut. "Dasar. Saat cucu satu-satunya sekarat, barulah Grandma mau menerima tawaran kerjaku yang sudah bertahun-tahun lamanya!"


Denise terbahak, "Begitulah manusia. Saat orang terdekatnya telah tiada, barulah ada keinginan untuk mewujudkan impian orang tersebut. Yah, kurang lebih sama seperti penyesalan." Denise mengedikkan bahu, "Manusiawi."


Luz mengangguk, "Nessie, ada beberapa pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu."


"Apa?"


"Kau ingat Manuel? Manuel ...." Luz berusaha mengingat marga pria itu namun ia sama sekali lupa. "Aish, teman sekelas mu saat High School dulu. Masih ingat?"


Kini berbalik Denise yang mengerutkan kening. "Manuel mana, setahuku tidak ada yang bernama Manuel di kelasku dulu."


"Dia anak culun yang tidak suka bersosialisasi itu," sambung Luz berusaha memberi clue. "Tidak mungkin kau sudah melupakan teman-temanmu, kan?"


"Aku selalu ingat nama-nama orang walaupun baru sekali aku temui, lagipula anak-anak High School sering mengadakan reuni. Tapi ... Manuel. Aku tidak pernah ingat memiliki teman bernama Manuel."


"Coba ingat-ingat lagi, Nessie. Dulu dia sering duduk sendirian di kelas."


"Aku benar-benar tidak tahu siapa yang kau maksud, Luz."


"Jangan bohong!"


"Luz!" sentak Denise tegas. "Ada apa denganmu. Bersikap aneh dan tidak percaya pada sahabatmu sendiri, katakan apa yang sedang kau pikirkan!"


"A-aku...." Lidahnya kelu. Luz tidak bisa menyanggah, dia akui bahwa dirinya sudah keterlaluan. "Maafkan aku, Nessie. Penting untuk mengetahui di mana Manuel tinggal."


"Teman seangkatan High School kita yang bernama Manuel itu tidak ada. Jadi cukup, jangan cari laki-laki itu lagi." Denise melunak, mencoba maklum lalu menuntun Luz kembali berbaring. Menaikkan selimutnya hingga ke dada. "Mungkin kau perlu istirahat. Dua hari lagi Mr. Anderson akan menemanimu pergi belajar berjalan. Ku harap kau benar-benar sembuh, Luz."


Malam semakin larut bergelung dalam kesunyian rumah sakit. Luz terbangun, kemudian melirik jam dinding digital yang menunjukkan angka satu. Sepi, tidak ada yang menemaninya kecuali makan-makanan mewah, berkotak-kotak hadiah, dan berbagai ucapan manis yang ditulis di kertas warna-warni mengerubungi meja di seberang ranjangnya, satupun belum ada yang tersentuh oleh tangan Luz.


Soal Denise tadi sore, Luz masih merasa heran. Dia tahu wanita itu tidak pernah bisa berbohong padanya, tapi bagaimana mungkin Denise mengatakan tidak tahu siapa Manuel padahal jelas-jelas mereka dulu berada di kelas yang sama.


Luz meraih ponselnya yang berada di atas meja kecil tepat di samping tubuhnya. Menyalakan benda persegi panjang itu, dan merasa kurang nyaman dengan lock screen yang dia gunakan. Fotonya bersama Erickson yang diambil saat Gala Premier Show beberapa tahun lalu.


"Andai aku bisa mengambil foto bersama Alastair," gumamnya lirih sambil mengganti lock screen tersebut dengan tema default.


Aplikasi pertama yang Luz lihat adalah pesan. Ribuan chat yang belum terbaca memenuhi ponselnya. Telpon tidak diangkat sudah tidak terhitung, belum lagi dengan kontak pesan seseorang yang menarik perhatiannya.


Dari Erickson. Totalnya 50 pesan.


26 April, 2020


Lovely, apa yang membuat dirimu tidur terlalu lama? Bangunlah, aku merindukanmu.


27 April, 2020


Hari ini aku kembali bekerja. Ku harap, saat aku pulang aku bisa mendengar kabar bahwa kau sadar.


30 April, 2020


Keluargaku mulai mencerca tentang pernikahan. Aku harus bagaimana?


15 Mei, 2020


Love sayang, orang tuaku sudah mengatur perjodohan. Dua bulan lagi aku akan menikah. Setiap hari aku tidak pernah berhenti meminta kepada Tuhan agar segera mengembalikan dirimu padaku.


02 Juni, 2020


Kawin lari? Aku sudah memikirkannya andai kau berada di sisiku. Haha, sepertinya tidak ada harapan lagi untuk hubungan kita.


07 September, 2020


Bolehkah aku menyerah atas dirimu?


Luz langsung menggulir layarnya ke bawah, menuju pesan yang paling baru diantara semua pesan lalu membacanya.


10 Januari, 2022


Aku akan menikah hari ini tapi bukan berarti aku bisa melupakanmu. Aku masih berdoa agar kau kembali sadar dan mungkin ... kita bisa kembali bersama?


Erick, seseorang yang selalu menunggumu.


Usai membaca pesan-pesan tersebut, suara pintu yang dibuka dari arah luar sontak membuat Luz mendongak. Di sana, berdiri ayahnya yang juga menatapnya terkejut kemudian tersenyum tipis sambil melangkah masuk dan membawa sesuatu di tangannya.


"Sudah bangun? Ayah membawakan gnocchi* kesukaanmu," ucapnya hangat.


Melihat ketulusan Ken yang rela datang jauh-jauh demi memperhatikan pola makannya, justru membuat Luz ragu untuk kembali ke Sormenia.


Dia harus memilih salah satu dan melepaskan yang lainnya.


Antara meninggalkan New York, kembali ke Sormenia dan meninggalkan sang ayah yang begitu mencintainya.


Atau, meninggalkan Sormenia, kembali ke kehidupan semula dan melupakan cinta sejatinya di sana.


......................


*makanan khas Italia sejenis pasta yang dibuat dari kentang.


Apa kabs? Maaf kemaren aku gak update Luztair karena ada sedikit kesibukan—ekhem


Kasih saran dong Luz mesti gimana, New York or Sormenia?🤔


Jangan lupa komennya ditunggu😼🤙🏻