
"Ada berita yang datang dari kerajaan!"
Luz yang baru saja selesai membaca sebuah buku mendongak saat mendengar seorang pelayan tiba-tiba datang mengumumkan hal tersebut pada dirinya. Luz dan Ochonner sama-sama bertatapan, seolah berbicara dari mata ke mata. Saling berdiskusi sekaligus menebak, kiranya apa yang raja ingin sampaikan kepada mereka.
"Silakan masuk."
Seorang pria yang memakai rompi hijau dan juga cravat hitam memasuki ruang baca. Membungkuk hormat, ia dengan segera membuka sebuah gulungan lalu membacakannya dengan lantang.
"Dekrit Raja telah turun! Semoga Sormenia selalu dalam lindungan Tuhan disertai kemakmuran dan kesejahteraan. Atas nama Raja Agung yang ke-delapan puluh empat diimbangi dengan kontribusi besar dari Crystal Lady, maka dari itu, pihak istana memutuskan untuk memberikan Lady Odyssey de Cera, putri kedua Marquis Thompsville sebuah kehormatan yang tak ternilai harganya. Untuk hal itu, Crystal Lady secara terbuka akan diberikan kedudukan sebagai calon putri mahkota!"
Ochonner melotot saat mendengarkan seruan barusan. Ia menggenggam bukunya kuat-kuat sampai beberapa halaman tampak sobek dan tidak bisa diperbaiki. Luz tahu, namun ia masih duduk diam di atas kursinya.
"Aku akan pergi ke istana."
Ochonner menoleh tajam. Tapi sebelum ia berhasil menumpahkan emosi, seluruh pengawal dan juga utusan dari istana disuruhnya menunggu di depan pintu.
"Apakah kau gila? Kau masih bersikeras ingin mendapatkan posisi putri mahkota, begitu?!"
"Sabar, aku belum selesai bicara." Luz dengan santainya terkekeh lalu meletakkan bukunya di atas meja. "Siapa bilang aku masih terobsesi dengan gelar semu itu? Tidak, bukan itu maksudku."
Alis Ochonner terangkat. "Lalu apa?"
"Aku ingin membalaskan dendam kepada putra mahkota bahwa aku sudah tidak bisa dimiliki olehnya. Cukup membuatnya kehilangan muka, dan memang itulah tujuanku."
Luz kemudian berdiri dan beranjak dari ruangan tersebut. Manik amethyst Ochonner mengikuti gerak-geriknya sampai dia bertanya, "Pergi sekarang?"
Luz hanya menoleh sebentar. "Tidak, aku berubah pikiran. Lupakan saja, aku tidak jadi pergi ke sana."
"Ada apa lagi?"
"Apakah kau lupa siapa yang sedang melamar ku?" Luz terkekeh. "Aku jamin Grand Duke tidak akan tinggal diam saat berita ini sudah menyebar dan didengar olehnya."
...----------------...
"Grand Duke, apakah Anda sudah membaca tabloid hari ini?"
Alastair yang sibuk membaca perkamen demi perkamen yang berisikan data yang rumit itu mendesis. Ia menatap Sean yang kebetulan bergegas menghampirinya di kastil itu dengan tatapan tajam.
"Tidak ada waktu untuk berbincang denganmu, Travis. Seminggu lagi, mungkin kau baru bisa—"
"Jika seminggu lagi kau baru mendengarkan aku, jangan salahkan siapa-siapa jika Crystal Lady sudah direbut putra mahkota!"
Alastair menoleh cepat. "Apa maksudmu."
"Coba lihat ini!" Sean menunjukkan sebuah salinan dekrit Raja yang ditempel di papan pengumuman tepat di pusat kota. "Raja sudah menurunkan dekrit untuk menikahkan putra mahkota dengan Crystal Lady. Apa yang akan kau—"
"Nanti kita bahas. Aku sibuk."
"Your Grace, bagaimana bisa Anda tidak peduli— hei, Grand Duke, Anda akan pergi ke mana!"
Alastair bergegas menyarungkan pedangnya di pinggang, lalu pergi begitu saja meninggalkan Sean yang terperangah melihat langkah lebarnya keluar dari ruangan tersebut.
Apa yang sudah menjadi milik Alastair, maka tidak akan bisa merebutnya kembali bahkan jika itu dewa sekalipun!
Kali ini Alastair tidak menggunakan kereta kudanya. Melihat seorang pengawal tengah bertugas, dengan cepat ia memanggil pengawal tersebut dan meminjam kudanya. Mengendarai binatang berbulu coklat itu dengan kecepatan tinggi.
Begitu sampai dengan waktu yang kurang dari dua jam, Alastair segera masuk ke dalam istana. Ornamen cantik yang biasanya akan membuat siapa saja terpukau, kini ia hiraukan. Berjalan hingga menemukan sebuah ruangan berpintu-kan besi yang dibalut emas asli, Alastair mengetuk hingga muncul seorang pria yang ia kenal sebagai tangan kanan raja.
"Aku ingin menemui raja."
Orang tersebut mengangguk hormat. "Baik, tunggu sebentar akan saya umumkan."
"Jangan lamban!"
Tanpa basa-basi, Alastair menerobos masuk hingga pria yang menjadi tangan kanan raja itu tampak panik. Langkah kaki Alastair yang panjang membawanya masuk ke sebuah ruangan mewah bertakhtakan emas di mana-mana. Raja Izaikhel yang awalnya sedang menulis tampak terkejut begitu ia mendongak. Tatapannya yang renta bertemu dengan wajah Grand Duke yang menyiratkan kemarahan. Tidak seperti biasanya.
"Your Grace, Anda tidak bisa menerobos masuk seperti ini, terpaksa saya harus—"
Raja Izaikhel mengangkat tangannya agar orangnya itu diam. "Biarkan saja. Kau bisa kembali ke tempatmu."
Mengangguk patuh, pria berpakaian coklat itu melepaskan Grand Duke lalu kembali ke tempatnya semula tanpa bermaksud menguping pembicaraan antar dua orang terpenting di Sormenia itu.
"Terjadi sesuatu, Grand Duke? Tidak biasanya kau masuk tanpa sungkan-sungkan terhadapku."
Tangan Alastair yang berada di sisi tubuhnya mengepal erat. "Your Majesty, katakan. Apakah Anda yang menyetujui pernikahan putra mahkota dengan Crystal Lady?"
Keheningan mengambil alih sejenak. Raja Izaikhel menghentikan gerakan menulisnya lalu mengenyampingkan semua buku-buku yang berada di atas meja. Matanya tak lepas terus menatap Alastair.
"Biar aku bertanya. Apakah kau berhak menyuarakan ketidaksetujuanmu?"
"Anda berniat menjadikannya menantu agar dukungan keluarga bangsawan Thompsville dan separuh Brighton jatuh kepada putra mahkota, kan. Anda mengira putra mahkota pantas menjadi raja selanjutnya?"
Raja Izaikhel meremat sapu tangannya hingga berbentuk gumpalan kertas. "Tutup mulutmu!"
"Bukalah matamu itu dan lihatlah kebenarannya. Putramu itu selalu menciptakan masalah tanpa mau menyelesaikan perbuatannya sendiri. Menyusahkan orang lain, tapi bermimpi ingin menjadi penguasa. Your Majesty, tanyakan pada hati nuranimu sendiri. Apakah putramu pantas untuk menjadi raja?"
Apakah putramu pantas untuk menjadi raja.
Mendengar ucapan Alastair membuat sang raja merasa tertampar. Sekeras apapun mencoba, putranya tidak akan pernah bisa menandingi kekuatan dan kekuasaan Grand Duke. Kehidupan mereka berbeda, cara mereka tumbuh pun bagaikan langit dan bumi.
Evandre selalu mendapatkan apapun yang ia mau sejak kecil, harta tak ternilai hanyalah sebuah mainan, semua kehendaknya akan terkabul dengan sekali menjentikkan jari.
Sedangkan Alastair ... Kehidupan keponakannya ini cukup berat. Izaikhel tahu dirinya sangat berdosa saat mendepak Alastair dari anggota keluarga kerajaan, tepat di hari kematian ibunya dan menjadi sebatang kara. Mengirimnya ke setiap medan perang agar mati secara alami, tapi ajaibnya Alastair masih bisa bertahan hidup hingga sekarang.
"Apapun yang terjadi, jangan sekali-kali kau berani mengangkat pedangmu untuk melukai putraku!"
Raja Izaikhel memijit keningnya, teringat akan masa lalu. Dia tidak bisa menyentuh Alastair seujung kuku pun karena sebelum dipenggal, Isabelle memberikan permohonan terakhir itu kepadanya.
Sebagai seorang pria, menepati janji adalah kewajiban.
Terlebih untuk seseorang yang rela menjadi kambing hitamnya, sang selingkuhan.
"Your Majesty." Pesuruh raja kembali mendekat. "Marquis Thompsville berada di luar, His Lordship ingin bertemu Anda."
"Tepat sekali," gumam Raja Izaikhel puas. "Tunggu apalagi, suruh dia masuk."
"Sekarang kita lihat saja. Antara putraku atau dirimu, siapa yang akan Marquis Thompsville pilih sebagai menantu," tandasnya penuh kemenangan namun lagi-lagi, Alastair hanya menanggapinya dengan santai.
Pria bermanik topaz itu tersenyum miring. Ya, kita lihat saja nanti.