
Sesuai prediksi, papan pengumuman kota sudah dikerumuni banyak orang. Berita mengenai pergantian Crystal Lady melonjak tinggi di kalangan masyarakat baik itu kaum bangsawan ataupun golongan awam. Di surat berita maupun majalah gosip pun tak kalah sama hingga masyarakat yang menanggapinya pun seolah terbagi menjadi dua; menjadi pro atau kontra terhadap laporan yang Luz lakukan tempo hari.
Berdesak-desakan tidak menghalangi tingkat keingintahuan orang-orang terhadap pengumuman kerajaan mengenai masalah langka yang satu ini. Setelah melihat hasilnya, mereka lalu berbisik-bisik pelan. Sebab jika kritikan mereka sampai ke telinga para bangsawan, maka bisa dipastikan akan menimbulkan bahaya.
"Apa keputusan hakim sudah benar?"
"Yah, aku tidak yakin. Tapi kita bisa apa?"
"Tapi aku mendengar desas-desus dari Thompsville. Katanya, ini yang terbaik."
Luz semakin penasaran akan hasil yang diputuskan oleh hakim. Wanita itu semakin merapatkan tutup kepalanya, menerobos masuk berbaur bersama masyarakat lain yang ikut antusias menunggu hasil perebutan gelar Crystal Lady antara dua putri Marquis Thompsville yang aura permusuhannya sudah kental sejak dulu. Athene dengan aura tangguh yang tidak akan membiarkan adik sedarah nya menggantikan posisinya, dan Odyssey si adik yang lemah tidak berdaya namun ingin mendapatkan keadilan.
Itulah yang rakyat lihat. Tapi realitanya berbanding terbalik!
...Surat keputusan Hakim Kerajaan...
...Sormenia...
...Mengenai kepada siapa yang berhak atas gelar Crystal Lady, dengan ini semua petinggi bersama dengan dekrit Raja sudah sepakat bahwa Lady Brietta Odyssey de Cera, putri kedua Marquis Thompsville telah terpilih sebagai pengemban gelar Agung Wanita pilihan Sormenia. Untuk itu, semua yang sudah diumumkan hukumnya mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. Semoga Tuhan memberkati negeri kita yang makmur....
Luz terhenyak. "Aku terpilih...."
"Percuma saja gelar-gelar aneh seperti ini."
Luz menoleh, menyaksikan seorang pria berkisar empat puluh tahunan yang tampak marah-marah dengan tubuh kurusnya.
"Gelar kehormatan bedebah, itu tidak penting dan tidak bisa memberikan kita beras. Apa gunanya, hah?!"
Luz termenung. Tentu saja Athene tidak pernah memikirkan hal seperti yang orang itu ucapkan karena setiap hari gadis itu hanya bersenang-senang dengan kekayaan Marquis Thompsville. Tapi sekarang, wewenang Crystal Lady sudah jatuh di tangan Luz.
"Berdoa saja agar Crystal Lady yang baru berbeda dari Crystal Lady yang lama," sahut wanita tua yang lain. "Lagipula, bukankah Grand Duke sudah sering membagikan hasil gudangnya kepada kita secara cuma-cuma?"
"Kehidupan tidak melulu tentang perut," sahut yang lainnya kisruh. "Kita memerlukan pakaian, rumah, dan modal untuk berdagang. Hidup tidak hanya untuk makan!"
"Dasar, tua-tua tidak pandai bersyukur!" sahut yang lain tak kalah marah, "Jika Grand Duke tidak menyantuni kita lagi, kau bisa apa, hah!"
"Bukannya tidak pandai bersyukur, aku hanya mengatakan yang sejujurnya." pria itu tampak semakin emosi. "Pekerjaan semakin terbatas karena banyak anak-anak muda yang lebih baik dari kita sedangkan aku tidak bisa berdiam diri saja di rumah tanpa melakukan apapun!"
"Jika tidak ingin hidup damai lagi, pindah saja dari Brighton!" balas lainnya yang ikut terpancing untuk meledakkan amarah.
"Tidak perlu bertengkar, saya memiliki jalan tengah atas kekhawatiran kalian."
Mereka serempak menoleh ke arah Luz yang masih setia menutup kepalanya hingga manik amethyst-nya pun ikut tertutup sehingga memberikan kesan misterius.
Pria tua tadi bedecih, "Memangnya kau punya apa, gadis kecil?"
"Kebetulan sekali saya perintis produk baru di sini." Luz membuka penutup kepalanya lalu tersenyum cerah, "Saya membuka toko baru di pusat kota. Rencananya akan ada peluncuran baru produk kecantikan yang cocok untuk semua gender. Bagaimana, apa Anda sekalian mau bekerja sama dengan saya?"
Wanita bersurai coklat menjawab dengan ragu. "Pasti untuk modalnya saja sudah mahal."
"Tidak perlu bayar sepeserpun." Luz menjentikkan jari. "Alias gratis!"
"Menjebak apanya, bukankah kalian tidak perlu mengeluarkan uang?" jawab Luz santai. "Jika kalian tidak yakin, Grand Duke yang akan menjaminnya untuk itu."
Grand Duke, maaf. Aku melibatkan mu, heheh.
"Maaf menyela." Seorang anak-anak maju lebih dulu, "Aku. Biarkan aku bekerja dengan mu, nona."
Luz menyetarakan tingginya dengan anak laki-laki berpakaian lusuh tersebut. Tersenyum tipis lalu mengelus kepalanya. "Siapa namamu, sayang?"
Luz menularkan senyumnya hingga anak tersebut ikut tersenyum lebar secerah mentari pagi. "Hansel!"
"Baik, Hansel pandai. Kau diterima." Luz mengambil sesuatu dari dalam kantongnya. "Ini ada sesuatu untukmu."
"Wah, roti!" Hansel menerima sepotong roti yang rencananya sebagai sarapan Luz itu dengan mata berbinar. "Terima kasih!"
"Semoga kau suka," balas Luz senang.
"Kalau begitu ... aku akan mencoba bekerja dengan mu," ujar wanita bersurai coklat tadi. "Benar apa yang tuan tadi katakan, pekerjaan semakin terbatas. Di usiaku yang tidak lagi muda ini, semakin susah untuk mencari pekerjaan."
"Tidak masalah. Kalian boleh mencoba beberapa hari dulu jika tidak yakin dengan pekerjaan yang saya tawarkan." Luz berdiri. "Sepekan lagi, datanglah ke toko saya. Setelah itu, urusan lainnya akan diterangkan di sana."
"Sudah selesai dengan urusanmu?"
Saat berbalik, Luz begitu terkejut saat mendapati Grand Duke sudah berdiri tepat di belakangnya. Saat melihat pria ini, Luz kembali teringat dengan kejadian kemarin hingga pipinya kembali merona.
Mau tahu bagaimana perasaan Luz saat ini? Rasa malu itu kembali naik ke permukaan.
"H-halo, Grand Duke. Lama tidak bertemu," sapa Luz basa-basi.
"Bagaimana, apa kau puas dengan hasilnya, Crystal Lady?"
Mendengar jawaban Grand Duke sontak masyarakat bertanya-tanya. Pertama, kenapa nona asing ini bisa bersikap begitu akrab dengan pemimpin mereka, dan yang kedua, kenapa Grand Duke memanggilnya Crystal Lady. Bukankah Crystal Lady yang baru bertempat tinggal di Thompsville —secara tempat itu memang kelahirannya— bukan di Brighton?
"Ya, sesuai harapan dan seterusnya aku akan berusaha membantu rakyat," jawab Luz puas. "Jika Anda mengizinkan, Your Grace."
"Kenapa tidak selama itu baik untuk semuanya?" Alastair mengalihkan tatapannya kepada semua orang. "Jika ada yang belum memiliki pekerjaan, maka kalian boleh bekerja dengan Crystal Lady sama seperti yang dia katakan tadi. Selama di Brighton, dia akan membantu kalian dengan membuka lapangan pekerjaan baru."
Semua orang masih menganga tidak percaya. Yang berdiri di hadapan mereka saat ini ternyata benar-benar Crystal Lady!
"Aku yang akan menjamin keamanan kalian." Alastair melirik Luz yang berdiri di sampingnya. "Jika Crystal Lady berani menipu kalian, maka aku tidak akan segan-segan menghukumnya."
"Terima kasih, Grand Duke. Berkat Anda dan Crystal Lady, kami jadi terbantu," celetuk Hansel dengan memamerkan gigi kelincinya yang putih bersih. "Kalian benar-benar pasangan yang cocok!"
Gurauan tersebut tentu mengundang tawa banyak orang yang mendengarkannya. Tidak ada yang takut terhadap Grand Duke, mereka semua tampak akrab seperti sebuah keluarga yang utuh. Alastair juga bukan tipikal orang yang gila hormat, dan ya ... suasana di Brighton memang damai persis seperti yang mereka katakan saat adu mulut beberapa menit yang lalu.
Tapi ada satu kesalahan di sini. Karena kulitnya yang pucat, semburat merah terlihat begitu jelas menghiasi kedua pipi Luz setelah mendengar candaan Hansel hingga menambah kekehan geli orang-orang yang ikut gencar meledeknya bersama Grand Duke.
Katakan, dari mana bocah sekecil Hansel belajar menjodoh-jodohkan orang?!