
Alastair tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Menggunakan dua pedang sekaligus, ia dengan lincah menebas lawannya sama seperti menebas pohon kecil. Dalam hitungan menit, ruangan yang berlantaikan marmer putih itu seketika dipenuhi lumuran darah bak aliran anak sungai. Bertumpuk-tumpuk mayat tak terhitung banyaknya namun jumlah mereka seolah tiada habis. Selalu berdatangan dengan jumlah yang lebih besar. Tapi bukan berarti Alastair kehilangan cara.
Tanpa Alastair sadari, mereka yang sudah terbunuh bisa hidup kembali dengan tubuh sisa tubuh yang ada.
Evandre yang menyaksikan hal tersebut hanya bisa menggeram marah. Ia sangat ingin turun tangan, menikam Grand Duke sebayak yang ia bisa sampai pria itu menjadi bangkai yang tidak layak dikuburkan. Sayangnya Evandre tidak bisa melakukannya sebab Alastair terlalu kuat, jelas bukan tandingannya. Untuk itu, sang putra mahkota hanya bisa mengharapkan orang-orang Authoris untuk melenyapkan pria pemimpin Brighton tersebut.
Mengetahui musuh tidak ada habisnya, Alastair akhirnya menarik diri saat teringat pada Pasukan pertama yang jumlahnya sedikit. Alastair berlari keluar ruangan dan apa yang dilihatnya di dalam, tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di luar.
Bunyi dentingan pedang yang saling beradu, bau anyir darah, mayat, dan teriakan melolong menggema di mana-mana. Alastair melihat Ochonner berdiri di menara paling atas, ia menyalakan kembang api kecil sebagai kode untuk Ochonner agar pasukan kedua segera datang.
Tak lama kembang api besar sebanyak dua kali menghiasi langit istana yang dipenuhi simbahan cairan merah. Menandakan bahwa pasukan pertama memerlukan banyak bala bantuan.
Alastair kembali menarik pedang beracun miliknya saat salah satu orang Authoris mendekat dengan kapak di tangan kanannya lalu mengaum bak monster. Teknik berperang mereka juga tidak bisa dikatakan lemah. Selain kuat, mereka juga pandai menggunakan benda tumpul untuk melemahkan musuh.
Strategi. Alastair mengharapkan strategi malam ini berlangsung lancar sebab serangan orang Authoris sama sekali tanpa perhitungan. Brutal dan liar.
Love. Alastair juga berharap agar wanita itu selalu aman.
...----------------...
"Kembang api sudah dinyalakan!" Luz berucap saat melihat percikan api menghiasi malam. Ia berbalik tegap lalu mengacungkan pedang ke langit. "Untuk pasukan selatan, silakan menyerang lewat gerbang timur. Sebentar lagi pasukan elit milik keluarga Carter akan datang membantu. Ingat, jangan lengah. Kemenangan akan menjadi milik kita!"
Mereka mengeratkan senjata masing-masing. Mengangguk, lalu dalam hitungan detik debu berterbangan saat kuda-kuda mereka serempak berlari ke arah gerbang timur. Jenderal Franklin berada di depan, memimpin pasukannya sama seperti strategi yang sudah dijelaskan.
Kini Luz tinggal sendirian di balik pohon-pohon tinggi, mengintai dari kejauhan. Burung elang pemberian Alastair masih setia bertengger di atas pundaknya, sesekali tampak mengepakkan sayap dengan angkuh. Luz merogoh kantung. Mengambil sebuah kertas dan pena lalu menuliskan sesuatu di atasnya.
Buka semua gerbang. Tinggal menunggu waktu, pasukan besar akan datang mengepung.
"Ck, ribet sekali." Luz mengikat surat tersebut menjadi sebuah gulungan lalu mengikatnya lagi menggunakan tali di kaki burung elangnya. "Antar kan surat ini ke Cornelius."
Seolah mengerti, burung elang tersebut dalam sekejap terbang melintasi langit. Dari kejauhan, Luz dapat melihatnya masuk istana melewati atap yang terbuka dan hilang ditelan bangunan.
"Andai Cornelius mempunyai aplikasi chatting, aku tidak perlu susah-susah membawa burung elang."
Rencananya Luz akan ikut masuk bersamaan dengan pasukan terakhir, yaitu pasukan ketiga. Sambil menunggu, Luz masih memperhatikan dari jauh. Menghitung-hitung kemungkinan yang terjadi apabila dia mengambil tindakan baru. Contohnya, nekat masuk sendirian tanpa menunggu pasukan ketiga yang belum terlihat kedatangannya.
Luz menggeleng. Strategi akan hancur jika ia tidak sabaran.
Dentingan senjata besi yang saling bertabrakan terdengar jelas sampai di luar dinding istana. Di langit, tiba-tiba terlihat asap mengepul riak dari api yang menggelegar tinggi. Dari asal asapnya, api tersebut dapat dipastikan berasal dari dalam istana. Kerusakan bangunan tersebut pastinya bukan main-main lagi. Di bagian menara atas tampak gosong di beberapa bagian akibat kebakaran tersebut. Tidak keseluruhan bangunan yang terbakar, tapi entah kenapa menyaksikan hal tersebut semakin membuat Luz cemas.
Apakah Alastair baik-baik saja?
Luz mengedarkan pandangan saat mendengar gemerisik besi terdengar dari kejauhan. Senyum lebarnya perlahan terbit saat melihat pasukan Carter datang menolong bekerja sama dengan jenderal Utara, anak buah dari Duke of Lancess.
"Maaf jika kami terlambat, My Lady."
"Baik!"
Luz akhirnya masuk ke dalam pasukan yang akan menyerang lewat selatan. Begitu pintu dibuka, aroma karat besi tak bisa lagi dielakkan. Api membumbung tinggi yang ia lihat sebelumnya ternyata berasal dari sini, tepat di samping Ochonner yang sibuk membakar orang-orang Authrine.
Luz merinding. Seumur hidupnya, ia tidak pernah menyaksikan manusia dibakar hidup-hidup.
Namun anehnya bukan melolong kesakitan, orang-orang bak monster itu masih bisa bangkit saat tubuhnya sudah dihinggapi api. Bahkan tidak ada tanda-tanda terganggu sedikitpun di balik wajah mengerikannya. Luz dan Ochonner hanya bisa terbelalak, antara percaya atau tidak, musuh kali ini hampir tidak bisa dibunuh dengan cara apapun.
"Odyssey, lari!" Ochonner berteriak saat datang lagi dua orang Authoris yang masing-masing ditangannya membawa pisau daging. Dua lawan satu, Odyssey tentu sangat khawatir dengan kondisi saudaranya.
"Lari, cepat!" bentak Ochonner lagi saat tahu Luz ingin ikut membantunya.
Ochonner menyesal. Seharusnya sejak awal ia melarang saudarinya ikut bergabung. Sekuat apapun, Odyssey adalah seorang wanita dan bahkan pria kuat sepertinya saja cukup kesulitan saat dihadapkan pada dua orang musuh yang memiliki kekuatan di luar akal sehat ini.
Tidak ingin memecah konsentrasi Ochonner, Luz akhirnya mengikuti perintah dan berlari menjauh dengan memungut sebilah pedang berlumur darah.
Aneh. Apakah orang-orang Authrine itu bukan manusia? Mereka sangat sulit untuk dibunuh.
Luz berlari tak menentu arah, berusaha menyelipkan diri diantara keributan. Namun sayangnya, hal itu sia-sia sebab buktinya ada lima orang Authoris yang tiba-tiba muncul dan mengejarnya sama seperti seorang hewan buruan.
Luz sesekali menoleh lewat bahunya. Napasnya terengah-engah, semakin menciut saat mendengar lolongan ngeri dari mereka yang mengejar tanpa mengenal lelah. Tanpa sadar, kakinya membawa ke sebuah lorong meliuk seperti tangga ulir tanpa ada penerangannya sedikitpun. Luz semakin pasrah saat tubuhnya tiba-tiba terpental ke bawah, seperti bola yang menggelinding di meja bilyard. Kemudian masuk ke sebuah ruangan yang membuatnya pusing karena terantuk benda-benda keras.
Luz mengenyahkan sakit, berusaha kuat agar kesadarannya tak hilang walau pandangan sudah berubah buram. Ia berbalik saat pandangannya kembali jernih. Bibirnya terbuka saat melihat tumpukan —menyerupai gunung— benda mewah di dalam istana ternyata diletakkan di sini. Termasuk lampu gantung dari emas, kandelir emas berhiaskan permata, dan juga pigura.
Kenapa benda berharga justru dibuang? Bukankah hal tersebut tentu sangat aneh jika digabungkan dengan sifat putra mahkota. Pria itu mencintai harta, tidak mungkin baginya membuang-buang barang mewah.
Geraman orang Authoris kembali terdengar. Luz kembali kepada kesadarannya, mereka masih mengejar. Saat terpental ke ruangan ini, Luz tidak sengaja menjatuhkan pedangnya hingga ia tidak tahu harus berbuat apa.
Dalam waktu yang tidak kurang dari sepuluh detik, kelima orang Authoris sudah menghadang tepat di depan pintu. Hanya di depan pintu, mereka tidak berani melangkahkan kaki masuk lebih jauh atau menyeret Luz keluar. Hal tersebut tentu membuat Luz semakin heran.
Iseng, Luz akhirnya memberanikan diri mengambil sebuah tongkat gorden yang kebetulan terbuat dari emas asli. Ia mengarahkan benda tumpul tersebut seperti sebilah pedang tepat di depan wajah lima orang yang kini ketakutan itu.
"Kalian berlima, beri aku jalan atau jantung kalian akan ku tusuk menggunakan benda ini!"
Ajaibnya, lima orang itu langsung patuh dan mempersilahkan Luz untuk lewat. Sayangnya, Luz tidak bodoh. Saat mereka lengah, Luz benar-benar melakukan apa yang ia katakan tadi. Wanita itu menusuk tepat di bagian dada dan dalam sekejap mereka menjerit kesakitan, mati, dan tubuhnya meluruh bak abu yang ditiup angin pagi.
Luz merasa lega bukan kepalang. Tanpa menunggu lama, ia kembali berlari ke luar, menuju Ochonner yang terlihat letih akibat melawan empat orang Authoris yang menyerangnya secara bersamaan.
Ternyata kekalahan mereka bukanlah senjata tajam.
Orang-orang Authoris membenci emas.