Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
16. Dia Putra Mahkota



"Keberkahan atas Anda, Your Majesty." Luz menekuk lututnya lalu mengangkat kedua ujung gaun yang ia pakai ke atas sembari menunduk hormat sekaligus anggun.


Raja Izaikhel tertawa puas. "Ini putri keduamu, Thompsville?"


Marquis Thompsville mengangguk tanpa mengurangi rasa hormatnya. "Benar, Your Majesty. Dia Lady Odyssey de Cera. Adik dari Crystal Lady."


Luz melirik sinis. Kenapa wanita pink itu mesti dibawa-bawa?


"Tapi jika dilihat-lihat mereka sangat berbeda. Secara penggambaran, mungkin Lady Odyssey lebih cocok atas gelar Crystal Lady. Fisiknya persis seperti Anda, Marquis," sahut sang ratu yang duduk di samping raja menatap Luz antusias.


Oh, i see. Ratu pasti satu tim dengan Luz. Benci terhadap si pink cengeng.


Marquis berdehem. "Saya tidak pernah membeda-bedakan putri satu dengan putri lainnya. Mereka mendapatkan hak yang seadil-adilnya di dalam manor house setiap hari. Jadi jika hanya masalah fisik yang Anda permasalahkan ... bakat Lady Athene bisa melampaui daripada itu."


Mendengarnya saja, perut Luz rasanya bergejolak. Bakat apanya. Wanita sok kuat itu sebenarnya tidak lebih baik dari segi manapun apalagi jika dibandingkan dengan Denise, manager Luz di NY dulu yang menyandang gelar sarjana lulusan Universitas terkenal di Inggris. Sangat tanggap dan detail pada setiap kontrak kerja sama dan sangat menghargai waktu bahkan untuk satu menit. Bukankah mereka jauh berbeda.


Athene berbakat? Pft, sepertinya dunia sudah terbalik.


"Oh ya, seperti apa?" tanya ratu lagi. Bukan ke arah tertarik, dari nada bicaranya saja Luz tahu bahwa sang ratu mencoba menantang lawan bicaranya. Marquis Thompsville, karena dia tahu betul bagaimana tabiat Athene yang sebenarnya.


"Hatinya bersih tulus seperti berlian murni. Dia begitu polos dan jujur," sahut Marquis Thompsville bangga. "Fisik bukan jaminan, saya hanya meletakkan gelar yang sesuai kepada putri yang pantas. Bukankah hati yang bersih menjadi cerminan dari gelar Crystal Lady itu sendiri?"


Secara tidak langsung Marquis menuduh Odyssey, putri keduanya ini memiliki banyak sifat buruk dan pembohong. Tidak lebih baik dari Athene.


Untuk tuduhan tersirat bahwa hatinya kotor, Luz tidak dapat menampik. Odyssey memang memiliki hati yang suci, tapi setelah kedatangan Luz mungkin hati yang bersih itu perlahan akan berubah warnanya.


Entah bagaimana nantinya. Akankah kedatangan Luz membawa dampak positif atau justru ... sebaliknya.


Sang ratu, Monetta la Empyrean beralih pada Luz yang belum mengeluarkan suara sama sekali sejak selesai menyapa mereka.


"Hei, lady. Apa kau tidak ingin menyanggah ucapan ayahmu?"


"Saya ingin, tapi tidak bisa."


"Kenapa?"


"Anda berdua adalah pemimpin tertinggi di Sormenia. Mana bisa saya berani bercakap tanpa perintah dari Anda?" sahut Luz manis.


Point + 1


Rasa suka sang ratu terhadap Odyssey semakin mantap. Memang itu yang Luz inginkan. Dari tatapannya saja, Luz bisa tahu bahwa ratu menginginkan dirinya yang dinobatkan sebagai Crystal Lady. Mengingat dari setiap generasi belum pernah ada yang berani melanggar ketentuan utama gelar khusus tersebut kecuali Athene.


Sesuai namanya, Crystal Lady harus memiliki surai putih sebagai ciri khas. Dan Athene tidak termasuk.


Raja Izaikhel pun terlihat semringah. Dia tidak menyangka jika Odyssey sangat pandai merebut hati orang-orang. "Kenapa baru sekarang kau memperlihatkan permata de Cera paling berharga, Thompsville. Ternyata selain menawan, Lady de Cera juga pandai beretika. Jika calon menantuku memiliki sopan santun seperti Lady de Cera, aku tidak perlu khawatir putraku di masa depan membangun negeri ini bersamanya," ucap sang raja lalu tertawa singkat.


Point ++ 99


Raja sangat menyukai Odyssey bahkan berniat menjadikannya menantu.


Marquis Thompsville hanya tersenyum tipis sebagai jawabannya.


Tak lama seorang pria muda dengan pakaian biru tua datang menghampiri mereka, "Salam, Your Majesty. Saya dengar Anda memanggil saya?"


"Akhirnya kau datang juga, Vandre." Masih dengan binar bangga, sang raja menunjuk Odyssey menggunakan tatapannya. "Aku akan senang jika kalian mau berkenalan. Pergi dan berdansa-lah dengannya."


"Tentu," jawab Luz lalu menyambut uluran tangan itu tanpa rasa canggung.


Mereka berdua bergabung dengan bangsawan lain di tengah-tengah hall. Berdansa bak pasangan tepat di bawah lampu gantung raksasa yang tertempel di lelangitan istana. Melihat Lady de Cera mau menerima ajakan dansa putra mahkota, para bangsawan lain juga berharap agar mereka juga mendapat kesempatan yang sama untuk berdekatan dengan si kristal.


"Maaf jika gerakanku kaku, tuan. Aku tidak terbiasa berdansa," ucap Luz sambil sesekali menatap khawatir kalau-kalau kakinya tidak sengaja menginjak kaki lawan dansanya.


Evandre terkekeh, "Tidak masalah. Aku bisa mengajarimu."


"Terima kasih."


Tubuh mereka berdua berayun lepas pada garis melodi nan melantun syahdu. Perlahan Luz mulai memahami gerak langkah yang harus ia ambil dan setelah beberapa waktu gadis itu bisa menari tanpa ragu.


"Belajar dengan sangat cepat," komentar Evandre lalu tersenyum simpul.


"Berkat bantuanmu," balas Luz ringan. "Omong-omong kau terlihat dekat dengan Yang Mulia Raja."


"Tentu saja. Dia ayahku."


Luz melotot, memperhatikan wajah Evandre yang tidak terlalu mirip dengan raja sampai-sampai Luz tidak menaruh curiga akan kemungkinan yang satu itu. Mereka bisa dekat karena memiliki ikatan darah!


Jadi Evandre adalah pangeran? Wah.


Melihat ekspresi Luz yang berubah, Evandre tidak kuasa menahan tawa. "Memangnya kau pikir aku siapa?"


"Saya sempat mengira jika Anda tangan kanan His Majesty," jawab Luz tanpa repot-repot menghapus mimik syok dari wajahnya yang putih pucat. Tak lupa ia juga memperbaiki bahasanya agar lebih sopan.


Sebenarnya bohong. Luz sempat mengira jika Evandre adalah pelayan yang biasa menuangkan minum untuk keluarga kerajaan. Karena sebelum memulai drama manisnya, Luz sempat melihat jika bir di dalam cangkir porselen sang raja hanya tersisa seperempat.


Tapi Luz memilih tidak mengatakan isi kepalanya. Boro-boro niat menjadi Crystal Lady tercapai, Luz mungkin saja langsung digorok ditempat karena dianggap sudah menghina keluarga kerajaan.


"Kemana saja kau selama ini?" tanya Evandre. Dia memegang pinggul Luz mesra, membawanya semakin larut dalam obrolan yang mulai tidak berbobot. Menurut Luz.


"Uh?"


"Bukankah nama Lady de Cera sangat jarang terdengar. Tapi malam ini kau berhasil menunjukkan siapa dirimu dengan mengejutkan orang-orang. Terlebih raja dan ratu," jawab pria itu tanpa melepaskan tatapannya dari manik ungu Luz yang berpendar indah.


"Benar. Dan sekedar informasi, raja juga menyukai saya. Jika tidak keberatan, posisi calon putri mahkota bisa saya rebut kapan saja jika Anda mengizinkan," goda Luz tanpa tahu malu.


Hei, jika dirinya diam saja sambil menunggu dan berharap Pangeran Evandre duluan-lah yang jatuh cinta pada Odyssey, rencananya mungkin tidak akan berhasil. Pasti banyak wanita yang ingin merebut perhatian sang pangeran yang berarti tidak sedikit saingan yang harus Luz hadapi. Dia ... harus sedikit agresif.


Evandre lagi-lagi tersenyum kecil. "Kita baru bertemu, tapi rasanya aku sudah jatuh terlalu dalam padamu, Lady."


Luz tersenyum cerah, "Jadi?"


"Kau sudah merebut hatiku. Apapun yang ingin kau dapatkan, maka sudah menjadi kewajiban ku untuk mewujudkannya." Evandre menatapnya hangat, menundukkan kepala lalu berbisik, "Silakan bunuh kepercayaan diri gadis-gadis lain dengan kesempurnaan-mu. Untuk pertama kalinya aku seperti ini, mengizinkan seseorang untuk merebut gelar itu karena seseorang itu cukup spesial."


Luz merona malu. Tapi di balik semua itu, rencananya berhasil. Luz sempat mengira jika jalan menuju putri mahkota mungkin akan memakan waktu kurang lebih sebulan, tapi semua berjalan lebih spektakuler dibanding ekspektasinya. Dalam semalam, putra mahkota sudah menjanjikan posisi istimewa itu dengan cuma-cuma.


Walau Luz tidak merasakan perasaan yang sama, tapi bukankah kekuasaan yang paling penting dan utama?


Lagipula, Luz sudah mati rasa pada segala sesuatu yang bernuansa romantis.