
Keesokan harinya, ketakutan Luz —syukurnya— tidak terjadi. Sejak peresmian rumah kecantikannya tadi pagi, wanita putih itu sering kali celingukan mencari seseorang walau yang dia cari tidak menampakkan batang hidungnya. Di hari pertama, Luz tidak ingin tempat ini langsung ramai pelanggan karena tadi malam dirinya berbincang dengan Ochonner sampai larut malam dan lupa waktu. Jam istirahatnya tergusur, rasa kantuk dan kurang fokus cukup mengganggu Luz kali ini.
"Halo, Anda pemilik tokonya, ya?"
Luz tersentak dan segera menoleh ke arah pintu. Di sana berdiri seorang pria berwajah ramah tengah tersenyum lebar ke arahnya.
"Ya, itu aku." Luz kembali menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. "Anda datang terlalu pagi, My Lord."
"Hei, apa tidak ada satupun orang yang memberitahu padamu siapa aku?" tanya pria itu lagi. "Aku Sean Travis, tunangan putri Giselle."
"Tidak ada orang yang sudi menceritakan apapun tentang diri Anda." Luz menguap, lalu kembali menatap Sean dengan malas. "Jika dongeng Anda sudah selesai, pintu keluar ada di sebelah sana."
"Aku tidak sedang mengada-ada, nona kampungan." Sean tanpa disuruh langsung menduduki salah satu kursi rias. "Sekarang, dandani aku. Dua jam lagi Putri Giselle dan aku akan berkencan."
"Berkencan di dalam mimpi," gumam Luz memilih abai terhadap umpatan Sean namun ia tetap bangkit dan menyiapkan dandanan yang cocok untuk postur wajah Sean yang sempurna jika diberikan make up ala pria Korea. Wajahnya yang tampan-tampan cantik akan lebih menawan jika ditambah garis pipi. Tapi untuk eyeshadow, Luz sangat tidak menyarankan pewarna di bagian kelopak mata itu untuk dipakainya.
"Aku benar-benar tunangan Putri Giselle. Kenapa kau tidak percaya?" jawab Sean yang ternyata mendengar bisikan Luz. "Putri Giselle malah beruntung memiliki tunangan sepertiku sebab banyak wanita yang rela mengantri untukku di luar sana."
"Ya-ya."
"Lihat saja nanti."
"Hn."
"Menyebalkan. Percaya sedikit saja apa susahnya?!"
"Aku percaya, My Lord. Aku percaya."
Luz segera mengaplikasikan make up yang ia rasa cocok. Ia hanya tak menyangka, di zaman ini laki-laki sudah tidak dipermasalahkan jika memakai riasan yang sama seperti wanita. Walau kadarnya tentu berbeda, tapi pasti sedikit banyak make up bisa menunjang ketampanan mereka. Contohnya si Sean-Sean ini.
"Haih, Grand Duke itu. Apa susahnya memberikan aku sebidang tanah di bagian timur tanpa uang sewa? Bukankah kita keluarga, harusnya sesama keluarga itu saling tolong menolong bukan mempersulit!" gumam Sean yang sepertinya berbicara pada dirinya sendiri. Luz hanya memperhatikan pria itu dari pantulan kaca lalu menggeleng heran, siapa sebenarnya orang ini.
"Omong-omong, apa hubunganmu dengan Grand Duke?" tanya Luz sambil menyapukan kuas vitamin di bagian rambut pirang Sean. Sean pelanggan pertama, pasti dia mengetahui lebih dulu mengenai toko ini dari Grand Duke juga.
"Alastair itu adik sepupu," jawabnya singkat.
"Wah, ternyata kalian keluarga?"
Sean mengangguk. "Begitulah."
"Berarti Anda juga bangsawan?"
"Tentu saja!" Sean melirik Luz terkejut. "Aku Earl Travis, bagaimana kau bisa tidak tahu, Lady?"
Jadi tunangan putri Giselle merupakan seorang Earl? Lalu mengapa sang putri tidak dijodohkan dengan laki-laki yang satu kasta dengannya?
"Sebenarnya putri Giselle itu keluarga jauh," jawab Sean yang seolah mengerti isi kepala Luz yang bertanya-tanya. "Aku sepupu dari pihak ibu Alastair, sementara Putri Giselle sepupu dari pihak ayahnya. Semudah itu."
Wait, kenapa skema keluarga mereka seperti ini?!
Berarti hubungan Grand Duke dengan raja sekarang....
"Oh, ya. Dari mana Grand Duke memungut mu, Lady?"
"Memungut?"
"Rambutmu terlihat seperti uban semua, My Lord. Jadi anggap saja aku membantumu mencabutnya."
"Rambutmu sendiri lebih putih dari rambutku," sungut Sean kesal. "Tunggu, rambut putih. Apa kau kerabat dekat Marquis Thompsville?"
"Marquis Thompsville?" tanya Luz balik. "Siapa itu?" sambungnya pura-pura tidak mengenal.
"Aih, ternyata kau ini memang sangat-sangat primitif," tuding Sean lalu berdecak remeh. "Itu, Marquis Thompsville yang memimpin wilayah barat Sormenia. Tidak mungkin kau tidak kenal, kan?"
"Seperti apa orangnya?"
"Yah, tergantung dari mana kau menilainya." Sean memejamkan mata saat Luz memberikan spray ke area wajah. "Tapi tentang kesetiaan, orang-orang harus belajar banyak darinya."
"Dia begitu loyal kepada keluarga kerajaan, ya?"
"Kesetiaan sudah menjadi ciri khas keluarga Thompsville sejak leluhur mereka, Crystal Lady dengan berani memimpin pasukan Sormenia menuju perbatasan," sahut Sean ringan. "Jangan bilang kau juga tidak tahu dengan sejarah keluarga mereka yang luar biasa terkenal itu."
Luz mengangkat bahunya, "Aku orang baru. Tentang sejarah keluarga, aku tidak tahu bagaimana detailnya."
"Selama hidupmu, apa yang kau kerjakan?" dikte Sean ketus. "Penting untuk mengetahui sejarah yang seperti itu agar pergaulan tingkat atas mu tidak diremehkan orang-orang."
"Hn. Dari ceritamu aku tahu bahwa keluarga Thompsville memang orang-orang pilihan," jawab Luz seadanya.
"Kata siapa semuanya orang pilihan?" Sean tertawa kecil. "Kau pasti belum mengenal satu orang di keluarga Thompsville. Dia Lady Odyssey de Cera. Wah, yang satu ini sangat luar biasa."
"Luar biasa kenapa?"
"Yah, sebenarnya kasihan juga wanita seperti Lady de Cera itu lahir di keluarga Thompsville. Kau tahu, kan, bagaimana ketatnya keluarga mereka dan tebak apa yang akhirnya Lady de Cera lakukan karena kedisiplinan tinggi itu?"
Luz bertanya-tanya.
"Dia hampir melakukan bunuh diri karena tidak tahan." Sean tersenyum remeh. "Untungnya hal itu bisa digagalkan. Ha, saranku harusnya Lady de Cera tumbuh sebagai rakyat jelata saja agar hidupnya tidak lagi tertekan, paling dia akan sibuk memikirkan urusan perut saja. Itu baru percobaan bunuh diri pertama, bagaimana jika ada yang kedua. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana arwahnya akan bergentayangan di manor house Thompsville."
"Sebegitu buruknya kah Lady de Cera?"
"Kurang lebih seperti itu. Dia nekat melakukan bunuh diri tanpa pikir panjang. Maksudku, hanya karena Marquis Galilee membatalkan pernikahan mereka saja dia berani menyayat nadinya. Bah, mental wanita itu sungguh lemah."
Luz diam saja. Toh, Sean Travis tidak tahu bagaimana cerita di balik layar mengapa Odyssey nekat melakukan bunuh diri. Karena keluarga super ketat itulah yang mendorong Odyssey untuk menghabisi nyawanya sendiri.
Odyssey tidak lemah. Malah sebenarnya dia yang paling tegar. Selama hidupnya, dia tidak pernah mendapatkan keadilan, kan. Sean Travis tidak pernah tahu apa yang Odyssey asli rasakan.
Tak lama, pintu toko terbuka lebar. Menampilkan sesosok pria yang Luz kenal sebagai orang kepercayaan Ochonner. "Lady de Cera, kebetulan sekali Anda di sini. Keputusan hakim mengenai sidang perebutan gelar Crystal Lady sudah ditempel di papan pengumuman kota!"
"Apa maksudmu memanggil Lady de Cera, orang itu tidak ada di sin—"
"Terima kasih, Wilbert. Aku akan ke sana sekarang." Bertepatan dengan itu, Luz kembali meletakkan peralatannya bersamaan dengan make up Sean yang sudah selesai.
Melihat Sean yang terbengong, Luz kembali melanjutkan. "Terima kasih, Earl Travis. Berkatmu, aku tahu bagaimana pandangan orang-orang terhadap diriku yang bermental lemah ini."
Sean tidak bisa berkata apa-apa. Dia sudah menghina seseorang di depan orangnya sendiri!
"Kau ... Lady de Cera yang itu?" tanya Sean lagi memastikan.
Luz yang sudah berada di ambang pintu berbalik, lalu tersenyum lebar tanpa rasa tersinggung. "Yes, i am."