
Rasanya sudah lama sejak Ochonner tidak melihat Grand Duke seantusias pagi hari ini. Sebelum matahari terbit, Alastair sudah mengambil pedangnya lalu berlatih hingga semburat kekuningan terlihat dari ufuk timur. Dilanjutkan dengan memanah, Ochonner tidak tahu kapan pria itu akan berhenti.
"Grand Duke, apa yang terjadi?"
Alastair sempat menghentikan gerakan memanahnya. Menoleh, pria itu akhirnya kembali menarik busur yang tadi hampir ia lesatkan.
"Hari ini aku akan pergi."
"Oh ya?" Ochonner manggut-manggut. "Hampir setiap hari pergi tapi kau tidak pernah berlatih keras seperti ini. Apakah terjadi sesuatu di perbatasan?"
"Tidak ada," jawabnya singkat. "Aku akan pergi ke ... rumah calon mertua. Mungkin."
"Apa?!"
Apakah dirinya salah dengar? Calon mertua yang mana, Grand Duke saja selalu lari saat dikenalkan dengan wanita-wanita di luaran sana.
"Kenapa masih berdiri di sana?"
Lamunan Ochonner buyar. Pria itu mengarahkan tatapannya kepada Grand Duke.
"Aku?"
"Ya, cepatlah bersiap-siap."
"Kenapa aku harus mengikuti mu kemana-mana?"
"Ah, itu dia aku lupa memberi tahu." Alastair melirik sebentar, terkesan santai. "Menurut tradisi di Thompsville, kau, 'kan, calon adik ipar ku. Jadi temani lah calon kakakmu ini untuk menemui Marquis Thompsville."
"Ya?"
Sekarang Ochonner merasa dirinya seperti orang bodoh. Siapa yang akan Grand Duke lamar jika dirinya akan menjadi adik ipar ....
"Astaga, Grand Duke. Sejauh mana hubunganmu dengan kakakku?!"
"Tidak terlalu jauh," jawab Alastair namun sudut bibirnya berkedut menahan senyum.
"Apakah Crystal Lady sendiri tahu akan rencana mu ini?"
"Tentu saja dia mengetahuinya." Alastair meletakkan panahnya kembali ke tempat semula. Latihannya sudah selesai. "Rencananya aku ingin membuat kejutan untuknya tapi kau tahu, kan, aku tidak suka ditolak jadi ya ... ku rasa di berhak tahu. Lagipula pernikahan ini masa depannya, Crystal Lady berhak untuk memutuskan," ujar Alastair lalu melewati Ochonner menuju pintu keluar.
Ochonner berbalik, masih menatapnya pangling. "Anda akan pergi sekarang?"
"Memangnya kapan lagi?"
"Jangan berbicara seperti itu, Grand Duke. Ucapan mu itu membuatku gugup."
Alastair melirik kesal. "Yang akan ku nikahi itu Lady Odyss, bukan dirimu jadi jauhkan perasaan konyol itu!"
"Kau tidak akan tahu bagaimana rasanya." Ochonner mengelus dada, "Yang pertama, aku harus membantumu mendapatkannya dan itu sangat membuatku gugup, yang kedua, berarti dia tidak lama lagi akan menikah, dan yang ketiga ...."
Alastair mengernyit.
"Kau akan mengambilnya dariku!" jerit Ochonner tidak terima.
"Ada apa denganmu hari ini, Lord de Cera?" Alastair cukup merinding dibuatnya. "Lagipula, dia tetap tinggal di sini, di Brighton. Kau bisa melihatnya setiap hari jika itu mau mu."
"Tapi semuanya tidak akan sama!"
"Jadi kau ingin adikmu sendirian selamanya, begitu?" jawab Alastair telak. "Suatu saat nanti, kau sendiripun akan menikah dan meninggalkan dirinya."
Ochonner tidak mendapat bantahan lain. Mengikuti langkah Alastair yang kembali masuk ke dalam kastilnya, pria itu kembali bersuara.
"Baik, aku belum merestui hubunganmu dengan adikku sekarang. Tapi sebagai teman, aku akan menemanimu pergi ke Thompsville untuk menemui Marquis."
Alastair terus berjalan bahkan tidak menoleh ke arahnya sama sekali. "Baguslah."
"Kau tidak berusaha membujuk ku untuk merestui mu sekarang juga, Grand Duke?"
...----------------...
Acara afternoon tea yang diadakan di manor house sudah selesai. Di paviliun utama, semua tamu dari keluarga terhormat sudah pulang, menyisakan Marchioness dan Athene yang masih enggan beranjak.
Sejak kembali dari debutante, Athene berubah menjadi pendiam. Marchioness tentu mengkhawatirkan kondisi putri kesayangannya ini. Namun setiap kali ditanya, Athene hanya menjawabnya dengan gelengan pelan.
Untuk itu Marchioness mengadakan afternoon tea. Agar hati Athene kembali tenang. Tapi sepertinya hal itu kurang efektif karena Athene masih bungkam dengan tatapan kosong yang mengarah ke taplak meja.
"Athene ...." Marchioness mendesah lelah. "Sampai kapan kau ingin diam seperti patung?"
"Itu ... tidak ada apa-apa," jawab Athene lalu buru-buru mengambil cangkir dan menenggak isinya sebagai peralihan suasana.
"Aku bukan peramal, bagaimana aku bisa tahu isi hatimu?"
Athene sempat bungkam namun akhirnya dia bersuara, "Lain kali aku akan menceritakannya."
Marchioness memijit kening, merasa frustasi. Entah sampai kapan Athene akan bersikap seperti ini.
Tak lama, seorang pelayan yang awalnya berdiri di depan pintu masuk berlari ke arah mereka. "My Lady, kita kedatangan tamu spesial."
"Siapa?"
"Grand Duke dari Brighton."
Marchioness mengernyit. "Untuk apa His Grace kemari. Setelah mengajak Odyssey tinggal di wilayah kekuasaannya, kita sudah tidak ada urusan dengannya lagi."
"Ibu, jangan berbicara seperti itu!" Athene memukul permukaan meja hingga semua perhatian tertuju pada dirinya.
Marchioness tentu merasa syok, sebelumnya Athene tidak pernah berani membentak seperti itu.
"Athene, kau ...."
"Katakan untuk apa Grand Duke kemari?" tanya Athene kembali kepada pelayan yang menunduk ke arah mereka.
"Saya dengar beliau datang untuk melamar."
"Apa?!"
"Bantu aku bersiap-siap, Maida!" Maida, pelayan Athene yang berdiri di belakangnya itu ikut senang dengan nasib baik yang akan menanti majikannya.
Gelar Grand duchess, kekayaan, dan kekuasaan. Ah, sebentar lagi impian Athene akan terjawab.
"Athene, apa yang kau lakukan?!"
"Ibu tidak tahu? Grand Duke datang tentu saja untuk melamar ku." Athene menjawabnya dengan kepercayaan diri yang penuh. "Pasti karena His Grace kagum padaku saat berada di acara debutante kemarin. Tanpa basa-basi dia akan melamar diriku secara langsung!"
"Benarkah seperti itu? Ibu mengira dia ingin melamar Odyssey."
"Odyssey sudah berada di wilayahnya, untuk apa His Grace bersusah-payah datang kemari. Pasti dia datang untukku."
Marchioness ingin melarang, namun melihat kekalutan Athene yang perlahan menghilang sepenuhnya saat tahu Grand Duke datang untuk melamar membuatnya urung melakukan hal tersebut.
Dia tidak bisa melakukan apa-apa selain membantu menyenangkan Athene.
"Baiklah kalau begitu, kenapa kau masih berdiri di sini? Cepatlah berdandan dan bergabunglah bersama kami di ruang tamu," jawab Marchioness lalu tersenyum tipis.
"Terima kasih, My Lady." Athene menunduk hormat tanpa bisa menahan senyumannya. "Kalau begitu aku pamit, semoga harimu menyenangkan."
Marchioness menatap punggung putrinya yang perlahan menjauh. Kenapa Athene masih mengharapkan Grand Duke, masih banyak pria lain yang mau menerima dirinya. Lagipula, menikah dengan Grand Duke sama saja dengan bertemu Odyssey lagi karena mereka akan berada dalam wilayah yang sama.
Sedangkan Athene sangat muak dengan kehadiran wanita itu.
Akan tetapi, jika menikah dengan Grand Duke adalah keinginan Athene, Marchioness tidak bisa menolak. Dia akan ikut berjuang mendapatkan Grand Duke muda itu sebagai menantunya.
Sebagai calon suami Athene, bukan untuk putrinya yang lain.