
"Terima kasih atas tumpangannya, Grand Duke."
Alastair membalasnya dengan senyuman tipis lalu mengernyit kala menyadari bahwa nuansa toko yang dia ingat terakhir kali berbeda dengan toko yang berada di depannya. "Tunggu, sejak kapan warna catnya berubah?"
"Warna merah muda terlalu feminim dan lembek, aku kurang suka maka dari itu aku menggantinya dengan warna putih gading dan emas," jawab Luz antusias. "Lagipula bukan hanya wanita yang perlu ke salon, sewaktu-waktu pria juga membutuhkannya."
"Memangnya ada pria yang datang kemari?"
"Pelanggan pertamaku justru pria." Luz terkekeh, "Aku lupa siapa namanya. Dia pernah mengaku sebagai tunangan Putri Giselle."
"Earl of Travis?"
"Nah, itu dia!"
Alastair terkekeh, "Dia bukan mengaku-ngaku, tapi memang begitulah keadaannya."
"Oh, benarkah?" Mereka berdua sama-sama memasuki toko tersebut saat Luz berhasil memasukkan kunci di dalam lubangnya. "Mengingat statusnya, Putri Giselle seharusnya bisa menikahi pria yang ... lebih baik, kan. Seperti dirimu contohnya."
Luz buru-buru menambahkan, "Tapi bukan berarti aku menyepelekan Earl of Travis. Dia mungkin saja lebih hebat. Ya, tidak ada yang tahu."
"Mereka menjadi tunangan karena sudah menjadi teman lama sejak kecil. Mungkin mereka merasa lebih dekat dibandingkan susah-susah mencari pasangan lain? Yang jelas Earl of Travis sangat mencintai Putri Giselle," jelas Grand Duke panjang lebar. Namun sedetik kemudian seringai geli menghiasi wajahnya, "Lagipula jika dia yang menjadi tunangan ku, bagaimana dengan dirimu. Tidak, aku hanya ingin bersamamu, Love. Bukan yang lain."
"Tidak waras." Luz meninju dada Grand Duke yang disambut tawa menggelegar dari pria itu. Buru-buru dia menghampiri salah satu meja rias, pura-pura sibuk. Namun nyatanya Luz berusaha menutupi rona merah di wajahnya.
Aih, berdekatan dengan Grand Duke ternyata tidak baik untuk kesehatan jantung. Lalu dia memanggil apa tadi, Love? Uh.
"Lalu bagaimana dengan Putri Giselle, apa dia juga mencintai Earl Travis?" tanya Luz mengalihkan pembicaraan.
Alastair mengedikkan bahu setelah tawanya berhenti, "Aku tidak mengetahuinya sampai sana."
"Tapi terakhir kali aku melihat Putri Giselle di pesta waktu itu dia tidak mengenalkan Earl Travis sebagai tunangannya pada tamu-tamu." Luz bergerak lincah meletakkan barang-barangnya di atas meja. "Kau tahu maksudku, kan. Semacam ... pamer pasangan, mungkin? Ya, bangsawan selalu melakukannya tapi tidak dengan Putri Giselle."
"Sejujurnya aku tidak terlalu peduli," balas Alastair lalu duduk di salah satu sofa panjang. "Sayangnya kedua orang itu adalah sepupuku. Apa yang mereka lakukan terlebih kejelekan di mata publik, maka akan ikut mencoreng nama baikku juga."
"Masalah keluarga menjadi masalahmu juga?" Luz mendengus, "Resiko menjadi pemimpin. Huh, menyusahkan saja."
"Aku terlahir untuk itu."
Luz melirik sebentar, "Tipikal pria penurut, eh?"
"Hidupmu akan berantakan jika tidak berfikiran sama dengan leluhur mu."
Luz tidak bisa menyalahkan Alastair. Pria itu benar, di dunia kerajaan seperti ini tentu saja anak-anak akan mewarisi apapun yang didapatkan dari orang tuanya. Berbeda dengan Luz yang terlahir di negara maju, urusan anak dan orang tua tentu berbeda. Anak tidak dituntut mengerjakan hal yang turun temurun dari orang tua justru orang modern mengajarkan kemandirian hingga membudayakan tinggal mandiri sejak usia belasan tahun.
Beda abad, beda pola pikir. Semudah itu kira-kira.
Tak lama pintu toko kembali terbuka menampilkan sesosok pasangan yang tampak cocok menggunakan barang-barang mewah dan berkelas. Kali ini Luz merasa heran. Baru saja dirinya membicarakan dua orang ini dengan Grand Duke tiba-tiba saja mereka sudah datang tepat di jam pertama bekerja.
"Selamat pagi, Your Highness dan My Lord," sapa Luz berusaha ramah. "Suatu keberuntungan toko kecil milik saya dan Grand Duke ini didatangi oleh Anda."
Grand Duke mengernyit saat mendengar namanya ikut disebut. Toko kecantikan ini sudah ia berikan secara cuma-cuma kepada Luz jadi bukan miliknya lagi. Namun pria itu memutuskan bungkam.
"Aku kemari justru karena mendengar bahwa toko milikmu adalah toko kecantikan paling besar di Sormenia, Crystal Lady." Putri Giselle terkekeh, "Kau tahu, di ibukota orang-orang ramai memperbincangkan dirimu."
"Memperbincangkan diriku?"
Luz sebenarnya malas jika mengobrol perihal pilihannya. Ini hidup Luz, ini jalannya. Kenapa orang-orang yang justru ribet seolah Luz ikut menyusahkan mereka?
Luz melirik ke belakang Putri Giselle. Sean Travis yang notabenenya selalu ceria dan asal bicara itu sudah duduk tak jauh dari Grand Duke. Melihatnya duduk diam seperti ini seolah seperti menyaksikan momen langka. Oh, pasti pria itu masih sungkan bertemu Luz mengingat pertemuan pertama mereka sama sekali tidak mengesankan sesuatu yang baik.
Masih ingat, kan. Sean pernah menghina Lady Odyssey tepat di depan wajah orangnya sendiri.
"Jadi ...." Luz kembali memperhatikan Putri Giselle. "Apa yang bisa saya bantu?"
"Travis menyukai perawatan darimu tapi dia enggan sendirian entah karena apa dan kebetulan aku ingin ke sini." Sang putri menghela napas namun kemudian wajahnya kembali cerah, "Setelah Travis, biarkan aku mencoba perawatan mu juga!"
"Tentu saja, Your Highness. Saya yakin kalian tidak akan kecewa dengan hasilnya." Luz menatap Sean yang beranjak dengan berat hati. "Silakan, My Lord."
Kemudian Luz dan Sean pun berlalu menuju ruang spa meninggalkan Grand Duke dan Putri Giselle berdua di ruang tunggu.
Merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, Alastair berdiri dari tempat duduknya. "Saya harus pergi, Putri Giselle. Senang bertemu dengan Anda."
"Grand Duke, tunggu!"
Alastair diam menunggu Putri Giselle melanjutkan ucapannya.
"Anu ... jangan cemburu. Walau Sean adalah tunangan ku, tapi hatiku masih ada padamu."
Alastair mengernyit, "Katakan yang jelas. Apa maksudmu."
"Kau menyukaiku, kan?" tebak Putri Giselle terang-terangan lalu ia menunduk malu. "Aku juga begitu. Jika kau benar-benar serius, tolong perjuangkan aku, Grand Duke. Hubunganku dengan Travis hanyalah keinginan sebelah pihak dan ayahku, aku tidak bisa memilih. Maka dari itu ... gantikan lah posisi Travis, ya?"
"Apa Anda sakit, Your Highness?" cetus Alastair yang membuat Putri Giselle merinding karenanya. "Kita hanyalah sepupu dan teman di masa lalu. Tidak ada kaitannya dengan omong kosong mu barusan."
Putri Giselle merasa tertohok namun dia tetap bersikeras. Menemui Grand Duke dalam kondisi berduaan terbilang sangat susah jadi ini adalah momen terbaik untuk mengatakan segalanya. "Tapi ... dengan menikahiku bukankah peluang dirimu diangkat menjadi raja akan semakin besar?"
"Simpan saja perasaanmu, Your Highness. Aku sibuk." Alastair mengangguk sebentar, "Selamat pagi dan permisi."
Putri Giselle hanya bisa menatap punggung yang semakin menjauh itu dengan tatapan nanar. Bukan setahun dua tahun dirinya mencintai Grand Duke, tapi belasan tahun lamanya dia bertahan pada perasaan yang tidak tahu pasti akan menyambutnya atau tidak.
Putri Giselle tahu Grand Duke memiliki hak atas takhta maka dari itu dia menawarkan peluang besar untuk menjadi raja asalkan menikah dengan dirinya.
Grand Duke juga tidak pernah jatuh cinta. Tapi kenapa dia menolak perasaan Putri Giselle dan melewatkan kesempatan emas?
......................
Hallo readers SBWTT!
Bagi yang beragama Islam, author ucapkan selamat hari raya Idhul Adha 1442 Hijriyah. Mohon maaf lahir batin semoga Allah SWT selalu memudahkan kita semua untuk beribadah kepada-Nya, Aamiin ya rabbal alamin.
Akhir-akhir ini author kurang semangat ngelanjutin cerita yang ini. Boleh minta semangatnya? Dorong author buat nulis SBWTT sampe selesai dong😿
Komentar, vote, dan cemungutnya ditunggu😉
^^^^^^Love u, all^^^^^^
^^^Zet^^^