
Malam itu, hujan mengguyur Sormenia bagian tengah dengan terpaan cukup deras. Angin bertiup ribut, beberapa jendela yang belum terkunci rapat tampak terbuka-tutup sendiri karena tekanan dari luar. Gesekan ranting pohon yang menggores kaca terdengar cukup menyeramkan, namun hal tersebut tidak menghalangi seorang anak laki-laki untuk tetap bermain.
Alastair yang saat itu masih berusia lima tahun tengah duduk di depan tungku perapian sambil memainkan sebuah belati. Beberapa kali tubuh kecilnya terhempas di atas karpet tebal yang hampir menutupi seluruh bagian lantai di ruangan tersebut, namun dia tetap tertawa riang dan melanjutkan kegiatannya bersama sang adik sepupu, Evandre yang berjarak tiga tahun lebih tua darinya. Sedangkan dari kejauhan sang ratu, Isabelle la Empyrean yang merupakan ibu kandung dari Alastair tengah duduk di sebuah sofa sambil memperhatikan interaksi keduanya.
Tak lama terdengar handle pintu dibuka dari arah luar. Menampilkan sosok pria yang kembali menoleh ke kanan dan kiri sebelum berani memasuki ruangan tersebut.
"Adik ipar," sapa Isabelle dengan pancaran bahagia lalu bangkit dari kursi. "Lama sekali. Aku menunggumu sejak tadi."
Izaikhel melirik kedua anak laki-laki yang sedang bermain di depan tungku lalu kembali mengalihkan tatapannya kepada Isabelle. "Jangan keras-keras. Kedua anak itu bisa mendengar ucapanmu."
"Mereka hanya bocah, tidak perlu dikhawatirkan," jawab Isabelle lalu mengusap dada Izaikhel dengan manja. "Apa kau tidak merindukan diriku?"
"Untuk kebohongan besar, maka jawabannya adalah iya." Izaikhel menurunkan wajahnya sedikit lalu mengecup benda merah ranum yang selalu menyunggingkan senyum manis Isabelle. "Istriku sudah tertidur dan suamimu sedang berada di medan perang. Bukankah malam ini akan menjadi malam yang begitu indah, sayang?"
Isabelle terkekeh lalu memeluk Izaikhel. "Aku mencintaimu, Khelee. Aku berjanji, apapun yang kau inginkan maka akan ku berikan dengan senang hati."
"Termasuk takhta kakakku?"
Isabelle mendongak lalu tersenyum lebar. Tanpa pertimbangan dia langsung menjawab, "Ya, termasuk takhta Derrick."
"Aku beruntung memiliki wanita seperti dirimu."
Alastair tersentak dari tidurnya setelah lagi-lagi mengalami mimpi buruk tersebut. Pria itu terduduk, masih berusaha menyesuaikan penglihatannya di kala gelapnya kamar tidur. Ia beranjak menghampiri meja kecil yang berdiri di dekat balkon. Mengambil segelas air putih lalu meminumnya dalam sekali teguk.
Sebenarnya itu bukanlah mimpi, melainkan ingatan lama Alastair yang tidak pernah hilang dari otaknya. Ingatan mengenai perbuatan ibunya sendiri begitu membekas sampai-sampai Alastair membenci semua wanita yang terlihat berpura-pura sopan dan anggun padahal busuk dan pengkhianat.
Tapi dari banyaknya bangsawan yang Grand Duke hadapi, mayoritas mereka memang bersikap munafik seperti itu.
Berkat kejeniusannya, Alastair bisa mengingat apapun sejak berusia dua tahun termasuk kejadian tersebut. Terkadang Alastair berfikir bahwa kejeniusan bukanlah anugerah, melainkan siksaan pahit yang Tuhan berikan padanya.
Pria tersebut membuka balkon kamarnya yang langsung menghadap ke arah hutan barat laut yang dekat dengan garis pantai. Deburan ombak terdengar halus mengalun saat menabrak dasar pasir putih yang cerah. Kantuk Alastair menguap seketika, pikirannya melayang pada kejadian rumah bordil baru-baru ini.
"Tidak semua wanita sama seperti ibumu. Kau harus bisa membedakan mana yang benar-benar tulus dan mana yang hanya ingin kekayaanmu."
Ucapan Luz tempo hari tiba-tiba terlintas di benak sang Grand Duke. Sebenarnya Alastair sering mengamati wanita dan rata-rata semua sama seperti ibunya; Gila harta dan kekuasaan. Memangilnya dengan gelar ditambah tatapan berbinar, tapi di saat Alastair kacau, mereka menghilang seperti sebuah ilusi.
Alastair ... masih menyimpan benci terhadap wanita. Tidak semudah itu untuk menghilangkan trauma yang dialaminya sejak belasan tahun silam.
Bayangan saat Ratu Isabelle berselingkuh dengan adik iparnya yang sekarang berkuasa menjadi raja....
Lalu dilanjutkan dengan Raja Derrick yang diracuni tepat di hari yang sama saat ia pulang dari medan perang.
Dan ... Ratu Isabelle yang dijadikan kambing hitam atas kematian suaminya sehingga diberikan hukuman gantung.
Dan yang terakhir, Alastair yang yatim piatu disingkirkan dari istana ke Kota Brighton, kota kekuasaan Raja Derrick sebelum menjadi raja. Gelar putra mahkota miliknya dicabut, digantikan oleh Evandre karena Raja Izaikhel merasa putranya lebih pantas.
Dari kejauhan, mata topaz pria itu menyipit tatkala melihat siluet seseorang tengah berdiri di dekat kolam air mancur.
"Lord de Cera?" Gumam Alastair lalu berbalik dan mengambil mantelnya untuk menghampiri Ochonner yang berdiri di luar.
"Sudah lama menunggu, Chonner?" Alastair memulai percakapan dengan bahasa yang santai. Dia memposisikan diri sebagai teman, bukan partner kerja.
"Tidak juga," jawab Ochonner, "Odyssey bekerja seharian untuk membuat riasan baru. Melihatnya saja aku lelah, jadi ku putuskan ke mari. Ku rasa mengobrol dengan mu jauh lebih baik daripada melihatnya sibuk sendiri."
"Diabaikan, eh?"
"Ya, begitulah." Ochonner mendengus.
"Tepat waktu sekali. Ada beberapa perkamen yang belum rampung rencananya akan ku diskusikan bersamamu besok hari tapi ternyata malam ini juga kau datang sendiri untuk menyelesaikannya," ujar Alastair puas. "Kalau begitu tunggu aku di ruang kerja selagi masih ada beberapa hal yang perlu ku urus."
Ochonner terperangah begitu Alastair berbalik meninggalkan dirinya yang lagi-lagi disuruh bekerja. Kedatangannya kemari untuk berbagi cerita, bukan bekerja sampai pagi tapi Grand Duke gila itu ... Ah, sudahlah!
Ya Tuhan, kapan selesainya!
Ochonner menghela napas. Tidak ada juga gunanya menunda-nunda. Mencoba ikhlas dipaksa bekerja di luar jam yang seharusnya, Ochonner melangkahkan kaki menuju bangunan sebelah Utara yang didominasi oleh cat putih gading dengan lantai marmer krem muda. Setelah menaiki undakan tangga, Ochonner mengambil jalan lorong sebelah kanan dan membuka handle pintu kayu di sisi kiri.
"Selamat malam, Duke of Lancess. Kebetulan sekali bertemu denganmu di sini," sapa Ochonner setelah melihat seseorang yang duduk di salah satu sofa hitam dengan ukiran patung di ruangan tersebut.
Duke of Lancess, Louise Georgetown yang membelakangi pintu pun menoleh lalu terkekeh. Dia membalas Ochonner dengan tatapan jahil. "Selamat malam, Lord de Cera. Seharusnya aku yang mengatakan hal itu padamu. Bukankah kau alergi bekerja di luar waktunya?"
Ochonner mengenal Duke of Lancess dengan baik. Dia adalah seorang bangsawan tinggi yang menempati kekuasaan di sebelah Utara, berbatasan langsung dengan kekuasaan Grand Duke di Brighton. Dirinya, Grand Duke dan Duke of Lancess berteman baik sejak berada dalam kamp yang sama di medan pertempuran delapan tahun silam.
"Ya, aku menyesal datang kemari." Walau begitu Ochonner tetap mengambil tempat duduk tepat di samping Louise. "Biasanya kau datang ke Brighton setahun sekali dan jatah tahun ini sudah kau pakai saat perayaan istana beberapa bulan yang lalu. Apa di dermaga terjadi sesuatu?"
Dan satu lagi keunikan dari Duke of Lancess. Karena wilayahnya yang berdekatan dengan laut, maka selain menata kota, tugasnya juga difungsikan sebagai pemeriksa barang-barang yang masuk atau keluar Sormenia. Dermaga menjadi darah dagingnya sejak dulu, pria itu bahkan berjanji tidak akan pernah meninggalkan tanah kelahirannya yang kaya akan kerang-kerangan itu karena kecintaannya akan Lancess.
"Setiap tahun pekerja selalu bertambah dan aku cukup terbantu dengan itu," jawabnya singkat.
"Hanya itu?"
"Ada beberapa masalah," ungkap Louise pada akhirnya jujur. "Untuk itu aku kemari, membicarakannya dengan Grand Duke agar dia mau membantuku."
"Lancess meminta bantuan?" beo Ochonner yang terheran-heran. Dia mengenal sosok pria pirang di depannya ini sebagai sosok yang berani, bukan tipikal pria yang berlindung di balik orang lain.
"Aku tidak bisa melakukannya sendiri. Kali ini ... pelakunya bukan orang biasa. Menurutku, tapi masih belum jelas kebenarannya."
"Siapakah orang luar biasa yang menggentarkan Duke Lancess sampai rela kemari?"
"Kau akan tahu nanti," balas Louise yang bagai teka-teki. "Yang jelas, dia bukan orang sembarangan."