
Dan hari besar yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Tepat seminggu setelah pemberontakan selesai, seluruh rakyat turut antusias atas penobatan sekaligus pernikahan kaisar pertama mereka.
Tiga berita besar mewarnai Sormenia. Yang pertama, kekejaman Evandre akan musnah digantikan pemimpin baru—Grand Duke yang disetujui banyak orang.
Yang kedua, pemimpin baru tersebut akan melaksanakan pernikahan dengan seorang wanita pemurah yang sangat membantunya dalam pengambilan takhta, Crystal Lady.
Dan yang ketiga, Sormenia secara resmi akan berubah menjadi kekaisaran mengingat militer dari Brighton yang tidak main-main telah bergabung dalam pasukan kerajaan.
Umbul-umbul ucapan selamat, karangan bunga, dan berbagai hiasan tampak memenuhi halaman istana. Walau tidak diminta, berbondong-bondong rakyat mengantri untuk memberikan hadiah sesuai kemampuan mereka. Tawa riang dari anak-anak kecil yang berlarian kian mengudara, semakin memperjelas bahwa semua orang turut bahagia akan hari ini.
Alastair mengamati semuanya dari balik jendela ruang baca sambil memikirkan banyak hal. Setelah resmi sebagai kaisar, rencananya ia akan membangun kota khusus para penyihir agar kehidupan mereka tidak semakin tersingkir dari peradaban manusia.
"Your Grace, Sir O'Leary sudah tiba."
"Silakan masuk."
Tak lama seorang pria berjubah memasuki ruang baca tersebut. Wajahnya sudah ditumbuhi bulu-bulu halus dengan sedikit keriput di beberapa bagian. Ia menunduk hormat saat berhadapan dengan Alastair.
"Your Grace."
"Silakan duduk, Sir."
Mereka sama-sama duduk di sebuah sofa coklat. Berbasa-basi sebentar, barulah Alastair langsung berbicara ke intinya.
"Ku dengar Anda adalah pemimpin klan penyihir." Alastair menatapnya intens. "Apa itu benar?"
Pria itu tertawa kecil. "Dari mana Anda mendapatkan berita itu?"
Alastair terkekeh sebentar. Tidak mungkin salah orang sebab dia tahu, Sir O'Leary merupakan pemimpin penyihir sejak ratusan tahun yang lalu. Namanya cukup terkenal di kalangan para ksatria.
"Aku mendengar berita dari siapa saja." Alastair mengedikkan bahu.
"Yah." Sir O'Leary manggut-manggut. "Dan dipanggilnya saya kemari, pasti ada suatu hal yang penting, kan, calon kaisar?" ujarnya yang diakhiri dengan senyum miring.
"Klan kalian semakin hari semakin menghilang dari pusat kota. Apakah hal itu tidak mencemaskan dirimu?"
"Selama pilihan mereka begitu." Ia mengangkat bahu. "Kenapa tidak?"
"Masalahnya, hampir semua orang mulai menganggap bahwa kalian telah punah," tukas Alastair tepat sasaran. "Apakah Anda tidak khawatir jika suatu saat klan penyihir dinilai aneh di atas tempat tinggal kalian sendiri, di Sormenia?"
Sir O'Leary terdiam. Tampak menimbang-nimbang.
"Lalu, apakah Anda memiliki jalan keluar dari permasalahan ini?"
Alastair mengangguk. "Rencananya aku akan membangun sebuah kota untuk kalian di perbatasan Brighton dan Lancess. Daripada berkeliaran bebas di dalam hutan, lebih baik memiliki tempat sendiri."
Sir O'Leary terbelalak. "Bagaimana bisa Anda tahu jika klan penyihir tinggal di hutan-hutan?"
"Kau tidak perlu tahu, di mana aku mengetahui hal itu." Alastair menyodorkan sebuah perkamen berisikan perjanjian pembuatan kota untuk para penyihir seperti yang ia katakan. "Yang perlu kau lakukan adalah setuju atau tidaknya kota ini dibuat."
Pria tua itu membaca isi perkamen dengan hati-hati. Belajar dari pengalaman sebelumnya, ia tidak ingin salah mengambil keputusan lagi. Dulu, akibat termakan mulut manis mendiang kakek buyut Raja Izaikhel, klan penyihir hidup tersisihkan sampai sekarang.
"Aku hanya menginginkan Sormenia kembali damai seperti dulu, Sir," sambung Alastair lagi. "Kalau bisa, aku akan membuat negeri ini lebih baik daripada Sormenia yang ada di ingatan Anda."
"Baiklah jika itu niat baik, maka saya setuju." Sir O'Leary membubuhkan stempel resminya di atas perkamen perjanjian.
"Senang mengetahui kita memiliki tujuan yang sama." Alastair kembali menyimpan perkamen tersebut. "Karena hanya Anda yang mengetahui dimana saja para penyihir berkumpul, aku harap Anda tidak keberatan untuk memberitahu mereka tentang perjanjian kita."
"Oh ya, memangnya kapan pembangunan kota akan selesai?"
"Memang belum dimulai sebab aku belum naik takhta. Sebulan setelahnya, pembangunan akan dimulai. Ditargetkan selesai setelah enam bulan pengerjaan."
Sir O'Leary tampak takjub. "Sesingkat itu?"
Alastair mengangguk. "Makin cepat makin baik."
"Baiklah jika itu mau mu, Your Grace. Kami berharap padamu." Sir O'Leary berdiri begitu Alastair melakukannya lebih dulu. "Sepertinya sudah tidak ada lagi yang perlu kita diskusikan. Kalau begitu saya pamit. Sebelumnya, terima kasih atas perhatian Anda kepada kami."
Alastair membalasnya dengan anggukan kecil. "Tidak perlu sungkan, memang sudah seharusnya begitu."
"Omong-omong, Your Grace. Selamat atas pernikahan Anda."
Alastair yang awalnya baru ingin fokus pada suatu bacaan akhirnya menoleh. "Ya, terima kasih."
"Apakah Anda ingin mengetahui sesuatu yang mengejutkan tentang calon permaisuri?"
"Apakah itu?"
Pria tua itu tersenyum misterius. "Dia bukan orang yang Anda cintai."
Oh, jadi Sir O'Leary tahu jika Crystal Lady bukanlah Odyssey yang asli?
Tapi Alastair tidak terkejut mengingat pria di depannya ini merupakan seorang penyihir.
Alastair lagi-lagi mengangguk ringan. "Aku sudah tahu."
Ia tampak terbelalak, "B-bagaimana Anda bisa tahu. Bukankah Anda bukan penyihir? Lagipula, Anda belum mengenal orang itu sebelumnya, jelek atau cantik, bagaimana bisa menikah!"
"Aku sudah mengenalnya beberapa bulan terakhir. Bagaimanapun rupa aslinya, sama sekali bukan masalah bagiku," jawab Alastair sambil mengingat kelakuan wanitanya itu akhir-akhir ini. "Aku mencintai jiwanya yang sempurna, Sir. Bukan hanya karena kecantikannya."
"Biar ku beritahu. Jika alasan seseorang mau menikahi wanita hanya karena kecantikannya, sungguh, keputusannya itu sangat murahan," sambungnya telak.
...----------------...
Luz mengamati tubuhnya yang berbalut gaun pengantin mewah dengan bentuk tiered di masing-masing bagian tangan, ditambah sarung tangan putih yang panjangnya hanya sampai pergelangan. Memakai crinoline agar gaunnya semakin lebar, Luz tidak percaya bahwa dirinya akan kembali merasakan bagaimana rasanya memakai gaun pengantin.
Sedikit kecemasan menghampiri. Bagaimana jika kejadian lama terulang kembali? Bukankah Manuel sebelumnya juga menggagalkan pernikahannya tepat di detik-detik terakhir?
Tanpa ia sadari, Luz menggigit bibir bawah. Tangannya meremas tangkai bunga yang rencananya akan ia pakai saat berjalan di altar.
Oh, omong-omong tentang siapa walinya, Luz bisa memilih sendiri. Alhasil Ochonner lah yang akan menggandengnya selama di altar. Tentu saja ia tidak akan memilih Marquis Thompsville, seseorang yang datang hanya sebagai penjilat agar citranya semakin bagus di depan orang-orang.
Luz sebenarnya tidak ingin menaruh dendam. Hanya membuang-buang waktunya yang berharga. Tetapi jika mereka berani mengusik ketenangannya, Luz mungkin tidak akan segan-segan.
Seperti saat ini contohnya. Luz mendengar beberapa keributan dari arah luar dan memutuskan untuk menengok. Kebetulan, sebelum ia mencapai pintu Rose masuk dengan wajah bersungut-sungut.
"Rose, ada apa?"
"Marchioness Thompsville dan Lady Athene ingin menerobos masuk untuk menemui Anda, Milady," ucapnya menjelaskan. "Tebal sekali muka mereka. Setelah mencampakkan, berani sekali datang ke ibu kota dan berkunjung kemari."
"Oh, mereka datang?" Luz terkekeh. Sesuai perkiraannya, pasti keluarga sampahnya berusaha hadir, menunjukkan diri bahwa dari keluarga de Cera lah permaisuri pertama Sormenia berasal.
"Bagaimana, Milady?"
"Aku ingin menjamu mereka, tapi sayangnya sebentar lagi aku akan masuk altar." Bersamaan dengan itu, Ochonner masuk. Memakai pakaian putih yang semakin menambah aura ketampanannya. "Nah, itu dia. Ochonner sudah datang. Lagipula, tidak baik jika para tamu menungguku terlalu lama. Kau bisa katakan pada mereka berdua untuk menungguku sambil ... berdiri barangkali? Ku harap mereka tidak keberatan."
Menunggu orang yang akan menikah. Mungkin kedua orang itu berakhir dengan berdiri di depan pintu seharian.
Rose mengangguk cepat. "Kalau begitu akan saya sampaikan," ujarnya lalu pamit undur diri meninggalkan Luz bersama Ochonner selepas ia menutup pintu dari luar.
Ochonner memperhatikan penampilan saudarinya itu. Menghela napas, lalu berujar, "Bagaimana, apakah kau sudah siap?"
......................
Jeng jeng jeng jeng~
Udah nikahan nih. Tenang aja, readers diundang sama Alastair juga kok tapi jangan lupa bawa kado berupa mansion, permata, atau sejenisnya yaak😆
Alastair nih, udah mau naik pelaminan masih sempat-sempat aja kerja. Untung ga ketinggalan acara, kalau iya kan kasian Luz bingung kemana pengantin prianya😭
Mari berikan selamat kepada pasangan Luz Alastair di kolom komentar. Setelah 65 episode, akhirnya kapal mereka sukses😭👍🏻
^^^With love,^^^
^^^Luztair 😎🤙🏻^^^