
Dan acara yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Dalam tiga hari tinggal di istana, Luz sebisa mungkin menghindari jalan utama yang sering Evandre dan anak buahnya lalui. Cara tersebut terbukti cukup efektif. Mengingat kesibukan Evandre yang semakin padat setiap harinya, tidak ada celah untuk lelaki itu bisa mencari Luz di istana yang super besar ini.
Sekarang pekerjaannya sudah selesai. Luz berhasil membuat keluarga kerajaan berdecak kagum karena kehebatan skillnya dalam bidang merias. Masing-masing dari mereka memberikan tips yang banyak, mungkin jika dikumpulkan Luz bisa membeli beberapa buah toko berserta isinya.
Iri? Ya, Luz pantas mendapatkan hal itu karena kemahirannya.
Merasa begitu puas dengan pantulannya di cermin, sekali lagi Luz memastikan penampilannya. Ok, tidak ada satupun yang kurang, dia pun lantas menarik gagang pintu dan keluar dari kamarnya.
Mendengar gema pertemuan sepatu dengan lantai marmer, salah satu pengawal yang berdiri di antara pilar raksasa tidak sengaja melirik Luz yang berdiri di ambang pintu. Seolah menghipnotis, pengawal tersebut tidak menundukkan pandangannya dari Luz. Bagaimana tidak, dengan gaun merah muda tanpa lengan, ditutupi oleh kain kaca putih transparan yang menjuntai tampak melilit di sekitar pundaknya yang putih bersih, mustahil seseorang bisa melihatnya dalam sekilas saja. Wanita itu terlalu mencolok di antara bangsawan lain. Di atas kepalanya Luz memakai tiara dengan warna serupa. Sangat berlawanan dengan matanya yang berwarna amethyst, namun justru hal itulah yang semakin meningkatkan kecantikannya.
"Crystal Lady!"
Mendengar ada seseorang yang memanggilnya, Luz sempat berbalik. Namun setelah tahu siapa orang itu, dia mendengus lalu kembali fokus pada langkahnya.
"Lady, tunggu sebentar."
Mengingat statusnya sebagai Putra Mahkota, dengan berat hati Luz menoleh melewati bahunya. Pria itu, Evandre dengan pakaian mewah yang dihiasi emas datang menghampiri diikuti oleh seorang pria lain di belakangnya. Ah, ya. Luz ingat, pria yang berada di belakangnya itu adalah Cornelius.
"Biarkan aku berbicara berdua dengan Crystal Lady."
Mendengar perintah tuannya yang menginginkan privasi, Cornelius menunduk patuh lalu menjauh. Memutuskan untuk memperhatikan interaksi tuannya dan Luz dari jauh.
"Aku tahu akhir-akhir ini kau menghindari ku, iya, 'kan?"
"Hanya perasaan Anda, Putra Mahkota. Jangan dilebih-lebihkan."
Evandre mendesah lelah. "Katakan dengan jujur."
Luz sempat terdiam lalu menjawab, "Jika jawabannya adalah 'iya', memangnya apa yang akan Anda lakukan?"
Luz menatapnya berani. Toh, memang seperti itu keadaannya. Dia malas bertemu Evandre, melihat wajahnya saja sudah gerah. Sumpah serapah yang Luz tabung pada lelaki di depannya ini sudah banyak, jangan sampai Luz memecahkannya di saat yang tidak tepat.
Pria itu menggeram, dengan kasar meraih lengan Luz dan menatap matanya dalam-dalam. "Jangan pernah lakukan hal yang seperti itu lagi kepadaku."
Luz berusaha melepaskan tangannya. "Apa hak Anda?" tantangnya tanpa rasa takut. "Hidupku tidak untuk menyenangkan Anda."
"Lady de Cera ...."
"Maaf, Your Highness. Aku ada keperluan lain." Luz mengangkat sedikit ujung gaunnya lalu menunduk anggun. "Senang berbicara bersama Anda. Kalau begitu, aku permisi. Acara akan dimulai sebentar lagi."
Tanpa mendengarkan jawaban Evandre, Luz segera beranjak dari sana. Tidak peduli bagaimana tanggapan para pengawal yang menyaksikan tindakannya yang jauh dari kata sopan, yang terpenting sekarang adalah Luz berhasil menyelamatkan dirinya sendiri.
"Crystal Lady."
Luz merasa kesal. Kenapa pria itu selalu memanggilnya.
"Aku hanya ingin mengatakan padamu untuk bersiap-siap."
Luz menatapnya diam. Walau jarak mereka terbilang cukup jauh, Evandre mengerti bahwa dari maniknya yang ungu itu, Luz sedang bertanya.
"Bersiap-siaplah karena sebentar lagi, istana ini akan menjadi rumahmu juga."
Setelah mengatakan hal tersebut, Evandre sempat tersenyum miring lalu berbalik pergi diikuti Cornelius di belakangnya.
Luz mengerjap, what the—
Luz paham apa yang dia maksud. Jika Evandre mengatakan jika sebentar lagi istana akan menjadi rumahnya juga, otomatis pria itu akan melamarnya dalam waktu dekat.
Tidak bisa, Luz harus bergerak lebih cepat.
Tapi sebelum itu, Luz harus menyelesaikan acara malam ini terlebih dahulu. Wanita bersurai putih itu mempercepat langkahnya menuju hall utama istana. Terlihat pintu-pintu yang berdiri di setiap sudut ruangan di buka lebar, begitu juga dengan kandelir mewah yang ikut memeriahkan acara di tambah kelompok musik yang bersusun rapi di pojok ruangan sedang sibuk memainkan salah satu musik klasik.
"Lady Brietta Odyssey de Cera of Crystal Lady dari Thompsville!"
Setelah penjaga mengumumkan kedatangannya, mau tak mau eksistensi seolah tersedot kepadanya. Refleks orang-orang menolehkan kepala ke arah pintu, kemudian berdecak kagum saat melihat Luz dengan paduan gaun lebar yang cocok dengan tubuh rampingnya. Ditambah lagi rambutnya, siapa yang tidak percaya bahwa dirinya benar-benar Crystal Lady yang legendaris itu?
Luz melihat acara mulai ramai membentuk beberapa lingkaran orang-orang yang terlihat sudah berbicara akrab. Selama ini Luz akui dirinya termasuk kurang bergaul. Daripada berdiam diri seperti orang bodoh, Luz memutuskan untuk duduk di salah satu kursi para wallflower.
"Crystal Lady."
Lagi, Luz menoleh lalu tersenyum tipis. Seorang wanita bergaun krim tampak memamerkan senyum ke arahnya.
"Ya?"
"Di sini kursi wallflower."
Luz terdiam. Luz tahu di sini kursi wallflower lalu apa salahnya? Toh, dia juga tidak ingin mencari suami. "Ya, aku tahu. Apa ada masalah?"
"Apa?!"
Sabar Luz, sabar. Kuatkan rasa malumu. Jangan sampai di malam yang indah dan spesial ini terjadi baku hantam yang mungkin saja bisa mencoreng nama baiknya.
Mendengar pekikan Luz, dua orang wanita yang tengah berbincang langsung datang menghampiri. Sejak awal memasuki hall, Luz sudah tahu bahwa kedua wanita itu selalu memperhatikannya lalu mengobrol. Entahlah, antara mereka memuji atau justru sebaliknya.
Salah satu dari keduanya yang memakai gaun biru ikut menimpali, "Apa maksudmu berkata begitu kasar kepada Crystal Lady?!"
Oh, ternyata kedua orang ini berada di pihak Luz.
"Aku mengatakan yang sebenarnya. Bukankah kursi wallflower khusus untuk wanita yang tidak laku?"
"Wanita ini benar-benar...." desis wanita yang satunya, memakai gaun merah marun dengan belahan dada yang rendah.
Adu mulut tidak bisa dihindari. Luz kebingungan, perhatian orang-orang mulai terarah kepada mereka berempat.
"Berhenti atau aku yang pergi."
Mendengar ucapan tegas meluncur dari bibir Luz, sontak ketiga wanita itu langsung diam tanpa suara.
"Aku tidak memiliki masalah apa-apa denganmu, Lady. Kau yang tiba-tiba datang menghampiri lalu mengatai yang tidak benar. Bolehkah aku menyebut tindakanmu barusan sebagai bentuk panjat sosial?"
Wanita bergaun krim itu terbelalak, "Ak-aku tidak ...."
Kedua wanita yang sempat membela Luz merasa puas dengan dagu terangkat. Dari tatapannya seolah berbicara penuh kemenangan Lihat, itulah akibatnya jika berani mencari masalah dengan Crystal Lady!
"Lebih baik kau pergi sekarang sebelum aku tertarik mengetahui dari mana kau berasal." Luz melemparkan senyum sinis. "Kau tidak ingin keluarga Thompsville berani menginjak keluargamu hanya karena mulut busuk-mu itu, bukan?"
Ia menggeleng cepat. Menaikkan ujung gaunnya sedikit lalu menundukkan kepala. "Aku permisi dulu, My Lady. Selamat menikmati debutante malam ini."
Setelah itu dia benar-benar berbalik pergi. Meninggalkan Luz bersama dua orang wanita yang sempat membelanya.
"Dia berasal dari keluarga Carter, My Lady." ucap wanita bergaun marun lalu mengerjap polos saat temannya —wanita bergaun biru— menatap dirinya seolah ingin menelan hidup-hidup. "Apa?"
"Aku hanya mengancamnya. Tidak ada waktu untuk mengurus orang-orang yang seperti itu." Luz mengibaskan tangan. "Ah, omong-omong, siapa nama kalian?"
"Aku Esme Whitney," jawab wanita bergaun marun cepat, lalu is menyenggol lengan temannya. "Dan ini Debora Carter."
"Carter?"
"Wanita tadi adik tiri ku, My Lady." Debora meringis, "Dia memang wanita terbodoh di keluarga kami, bahkan di ujian aristokrat saja tidak lulus."
Ah, pantas saja Debora sempat melotot pada Esme. Tapi Debora dan adik tirinya terlihat saling bermusuhan. Yah, itu wajar terjadi kepada sesama saudara apalagi berstatus tiri.
"Sudah kubilang, aku hanya becanda, jangan terlalu dipikirkan."
"Terima kasih, My Lady. Anda memang murah hati," puji Debora yang sempat takut akan nasib keluarganya.
"Lady, wanita di ibukota selalu membicarakan saudara kembar Anda," ucap Esme dengan mata berbinar. "Bolehkah aku berdansa dengannya? Hanya satu putaran lagu saja, ya?"
"Kalian bisa membujuknya sendiri." Luz agak sangsi jika Ochonner mau berdansa dengan sembarang wanita. Pria itu biasanya hanya akan berdansa dengan tunangannya atau paling tidak bersama wanita yang ia butuhkan untuk membangun relasi antar keluarga. "Tadi dia berada di lantai dansa. Sebentar, biar aku cari ...."
Luz menajamkan matanya pada setiap orang yang berada di lantai dansa. Ada Sean Travis yang berdansa bersama seorang wanita berambut merah, lalu Luz begitu terkejut saat tatapannya mengarah kepada Grand Duke yang sedang berpasangan dengan Putri Giselle.
Mereka terlihat dekat. Bahkan kadang-kadang Grand Duke yang terlihat begitu antusias melemparkan pertanyaan, sedangkan wanita yang berada di pelukannya itu selalu menjawab disertai senyum manis yang tidak pernah absen. Tampak seperti pasangan serasi.
Tapi Luz kesal.
"Sialan ...." Luz cepat-cepat mengambil anggurnya. Oh, ada apa ini.
"My Lady, apa terjadi sesuatu?"
"Tidak ada. Kalian bisa mencari Lord de Cera, aku ingin sendirian."
Keduanya bertatapan bingung.
"Ada apa lagi?"
"B-baik!" jawab keduanya tergagap lalu angkat kaki sebelum Luz mengeluarkan taringnya.
Setelah dua orang itu pergi, diam-diam Luz mengarahkan tatapannya sekali lagi di hall utama. Merasa ada sesuatu yang patah di dalam relung hati, lalu menghela napas berat.
Alastair, aku sendiri tidak mengerti. Sebegitu berpengaruhnya kah dirimu padaku?