Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
36. Akhir Hubungan



"Jika sudah tertangkap, akan ku penggal sembilan jari kakimu, dasar pencuri!"


Mendengar umpatan, pencuri tersebut sempat menoleh ke belakang lalu dia terbelalak saat menyadari bahwa jaraknya dan Luz semakin dekat. Sial, jika seperti ini terus dirinya pasti akan tertangkap.


Tak habis akal, pencuri itu pun langsung berbelok ke sebuah tempat ramai agar bisa bersembunyi diantara orang-orang. Tempat tersebut terlihat berbeda, setiap meja yang tersedia di depan bangunannya dipenuhi tamu laki-laki yang dikerubungi banyak perempuan cantik dengan pakaian minim, sambil berpelukan mesra, lalu menikmati arak sambil tertawa bersama.


Luz menengok ke atas. Sebuah tulisan indah dengan tinta merah menyadarkannya bahwa ini adalah tempat berbuat dosa. "Astaga, pencuri gila itu nekat masuk ke dalam rumah bordil. Dikiranya aku tidak berani menyusul, apa?" gumamnya kesal.


Si pencuri kembali menengok melewati bahu dan merasa kebingungan saat Luz masih mengejar dirinya. dia seolah tidak tahu arah, berlari sekuat tenaga sampai beberapa kali menabrak wanita-wanita yang bekerja di sana. Seperti biasa, pekikan dramatis menggema di mana-mana. Begitupun dengan Luz sampai beberapa penjaga sudah ikut mengejarnya. Tapi jika hanya penjaga bukan halangan bagi si amethyst untuk terus mengejar, dia terus berlari sampai Luz tertawa bengis saat tembok lah yang menghambat si pencuri untuk kabur.


"Mau lari ke mana, pencuri? Sekarang kau tidak bisa kabur lagi dari ku."


Si pencuri memutar otak. Dia tidak ingin tertangkap konyol dan hanya satu jalan yang tersisa untuknya. Sebuah kamar sewa yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Dengan sigap dia berlari ke sana dan masuk menerobos tanpa tahu malu padahal ada dua orang dewasa berbeda jenis kelamin sedang memakai kamar tersebut.


Dan ya ... tak kalah gila, Luz ikut masuk ke dalam!


Luz sebenarnya enggan untuk melihat dua insan yang sedang berbaring di atas ranjang. Niatnya hanya ingin menangkap si pencuri, namun setelah menyadari pakaian siapa yang berserakan di lantai, sebuah pakaian yang menggantung bros pedang amethyst-nya di sana, sontak Luz perlahan menoleh dan persangkaannya terbukti benar.


"Apa-apaan ini, masuk ke dalam kamar orang lain tanpa izin!"


Luz begitu syok saat menyaksikan siluet Evandre buru-buru bangkit dari ranjang. Tapi tunggu, si pencuri sudah kabur dengan melompat dari sini. Ya Tuhan, ini lantai dua!


Luz bergegas menengok ke luar jendela. Setelah melihat Grand Duke sudah mengamankan si pencuri di bawah sana, Luz akhirnya bisa bernapas lega.


"Dasar kampungan, di mana sopan santun mu!"


Malas berdebat, Luz membuka penutup kepalanya. Sebuah tatapan dingin bak karang es di Kutub Utara miliknya seolah menusuk Evandre hingga jantung pria itu mencelos.


"Lady Odyssey," jawab Evandre buru-buru, "I-ini tidak seperti yang kau pikirkan."


Luz diam, tidak ada lagi senyum lebar yang sering ia perlihatkan kepada Evandre, juga tidak ada kata-kata penyemangat yang sering dia berikan saat Evandre memiliki banyak tugas. Tatapan itu ... berisikan pandangan sinis dan kecewa namun Luz tidak tahu bagaimana cara meluapkannya. Dia begitu bodoh untuk mendeskripsikan perasaannya, perasaan yang redam dan kini tidak ada tersisa sedikitpun ruang di dalamnya untuk Putra Mahkota.


"Setelah aku melihat segalanya, Anda masih berusaha mengelak, Putra Mahkota?" Luz tertawa sumbang. "Lucu sekali jika Anda mengira diriku hanyalah wanita bodoh yang bisa dibohongi."


"Tidak, bukan seperti itu." Evandre menggenggam tangan Luz dengan tatapan memohon, "Tolong jangan marah padaku, sayang. Kita sebentar lagi akan menikah, jadi jangan buat permasalahan yang bisa meretakkan hubungan kita."


"Menikah, ya?" Luz melepaskan tautan tangan mereka. "Sepertinya Anda perlu kaca. Tidak perlu menyalahkanku seperti itu karena akar permasalahannya ada pada Anda, Putra Mahkota."


"Ya, aku salah." Evandre rela menurunkan ego-nya sebagai salah seorang putra raja yang seumur hidupnya tidak pernah merasa bersalah. "Dan ku harap kau bisa tutup mulut demi reputasi ku, Lady. Tidak, ini demi reputasi kita berdua karena hanya kau yang akan menjadi istriku."


"Tidak akan!"


"Kenapa tidak?" Luz mengintip wanita yang menemani Evandre di balik pria itu. "Nikahi saja wanita-mu itu bisa jadi dia hamil setelah malam ini."


Wanita bersurai pirang itu meringsut takut, semakin menarik selimut hingga menenggelamkan seluruh tubuhnya yang tidak menggunakan sehelai benang pun. Siapa yang tidak mengenal Crystal Lady yang baru, hanya orang bodoh saja yang tidak tahu siapa dirinya. Lagipun ... kecantikan Crystal Lady lah yang menjadi kiblat wanita itu sehingga dia bisa sukses di dunia gelapnya sekarang.


Dia pernah bermimpi untuk bertemu Crystal Lady, berbicang bersama atau berbagi cerita. Sesederhana itu untuk mewujudkan kekagumannya kepada putri kedua Marquis Thompsville. Namun tidak dengan keadaan yang seperti ini. Crystal Lady jelas memancarkan aura kebencian padanya. Apalagi setelah dia tahu bahwa Putra Mahkota dan Crystal Lady ternyata memiliki hubungan khusus. Hubungan yang sekarang rusak akibat dirinya.


"My Crystal, tolong pikirkan sekali lagi dengan pikiran jernih." Evandre tidak pernah memohon seperti ini kepada wanita manapun, justru wanitalah yang tunduk padanya. "Jujur dari lubuk hatiku yang terdalam, aku hanya mencintaimu."


Terlepas dari ambisinya, Evandre ... tidak ingin Odyssey pergi. Dia tidak rela. Dan sekarang perasaan salah dan menyesal sedang bekerja sama untuk mencambuk hatinya sendiri.


"Berani sekali mengatakan cinta padaku setelah bercinta dengan wanita lain?" Luz terkekeh kecil, "Terima kasih atas waktu Anda selama ini, Putra Mahkota. Aku sangat terhibur dengan sandiwara mu. Kalau begitu aku pergi, selamat tinggal."


Selamat tinggal. Luz berjanji tidak akan pernah kembali padanya lagi.


Luz kembali melirik bros pedang pemberiannya yang berserakan di lantai. Dia ingat betul saat membeli barang mahal tersebut, Marchioness Galilee dan dirinya sempat adu mulut walau hasil akhir tetap dimenangkan si rambut putih. Luz membelinya dengan perjuangan, tapi sepertinya hal itu tampak sia-sia di mata Evandre.


Tanpa basa-basi Luz berjalan keluar lalu seolah tidak disengaja, ia pun menginjak bros pedang tersebut sampai patah menjadi beberapa bagian.


Perbuatan itu sudah cukup untuk membuat Evandre mengerti. Mereka tidak memiliki keterkaitan dalam hal apapun lagi entah itu untuk ambisi Luz ataupun kepentingan Evandre. Semuanya sudah selesai sampai di sini.


Dan ya ... Luz semakin tidak percaya dengan cinta. Menurutnya cinta hanyalah ilusi perasaan yang tidak berdasar!


Setelah Luz pergi, Evandre memungut bros pedang pemberian wanita itu dengan perasaan hancur. Akibat perbuatannya, Odyssey menjauh.


Aku bajingan.


Aku bodoh.


Evandre terus mengumpat di dalam hati sampai tidak sengaja serpihan bros tersebut mengenai lengannya hingga mengucurkan darah.


"Putra mahkota..." panggil si wanita yang berada di atas ranjang begitu takut saat melihat banyak darah menetes di atas lantai.


"Tidak apa-apa, ini sama sekali tidak sakit." Evandre memperhatikan tangannya tersebut dengan tatapan nanar. "Sakitnya sama sekali tidak sebanding dengan luka yang sudah ku torehkan padanya. Wanitaku."


Evandre tersenyum kecut. Dia baru menyadari bahwa dirinya benar-benar pecundang besar.