Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
60. Pasukan Authrine



Hari terus bergulir dari hari ke hari. Selama seminggu, tidak diizinkan satu orangpun memakai pakaian berwarna. Hari ini adalah hari keempat saat Luz mengundang kedua lady yang mendadak menjadi temannya saat di debutante. (Episode 46)


Dengan gaun hitam mekar dan lengan berbentuk terompet, Luz tersenyum manis di antara jajaran kue-kue kering yang disediakan. Aroma dari teh hijau menguar dari balik teko, mampu memperhangat suasana hati siapa saja yang duduk di deretan kursi. Di tengah-tengah meja, diletakkan sebuah vas bunga dari tanah liat yang memanjakan mata. Berkat sentuhan Luz, mansion milik Ochonner terlihat lebih segar.


Esme Whitney seperti biasanya menyambut awal pertemuan dengan riang, "Aku tidak menyangka bisa diundang kemari." Ia menoleh cepat ke arah Debora Carter. "Tolong cubit aku. Ini bukan mimpi, kan?!"


"Whitney, tolong jangan seperti gadis desa." Debora menatapnya malas lalu tersenyum lembut saat mengarahkan tatapannya ke Luz yang duduk di ujung meja sebagai tuan rumah. "Maafkan sikapnya yang kelewat semangat, Milady."


"Tidak masalah. Bukankah kita teman, jadi tidak perlu sungkan-sungkan," jawab Luz ramah.


"Kau dengar sendiri, kan." Esme menjulurkan lidahnya. "Crystal Lady saja tidak keberatan."


Jangan kira Debora tidak sama senangnya dengan Esme. Wanita itu sebenarnya hampir menjerit histeris saat kemarin mendapatkan surat undangan Crystal Lady dari kepala pelayan. Debora semakin tidak sabar untuk bertemu Ochonne— eh maksudnya Lady Odyssey.


Oh ya, omong-omong kemana saudaranya Crystal Lady itu? Sejak tadi keberadaannya tidak terlihat sama sekali. Padahal Debora sangat ingin berkenalan dengannya.


"Aish, jangan bertengkar, ok?" Luz kemudian memanggil pelayan untuk membawakan teh spesial. "Ini dia minuman kebanggaan dari Brighton. Teh ekstrak ceri. Mau mencoba?"


"Tentu saja!"


"Enak sekali. Teh di sini memang sangat berbeda!" Esme meletakkan cangkir tehnya kembali setelah menyesapnya sampai setengah. "Omong-omong, milady. Tidak biasanya Anda memanggil kami kemari. Apakah ada sesuatu yang perlu kami lakukan?"


Debora sontak melempar pelototan tajam yang dibalas Esme tak kalah sengit.


Sedangkan Luz malah tertawa ringan. "Ah, Nona Whitney sangat cerdik. Mengerti maksudku tanpa harus panjang lebar."


Mendengar pujian terlontar dari bibir idolanya, sontak membuat pipi Esme merona merah.


Debora yang melihat perubahan Esme hanya bisa mendelik. Ia kembali menatap Luz lebih serius. "Jika boleh tahu, apa itu, My lady?"


"Begini." Luz meletakkan cangkirnya kembali di atas piring kecil bermotif bunga peony. "Ku dengar keluarga kalian berasal dari pimpinan pasukan militer ...."


...----------------...


Sekali lagi Alastair memperhatikan kertas berisikan corat-coret di depannya sambil sesekali menambahkan beberapa goresan di kertas tersebut. Matanya meneliti awas. Semenjak berbagi tugas dua hari yang lalu, Alastair belum pernah lagi melihat Luz disekitarnya.


Wanita itu sedang berada di istana —bukan semata-mata— untuk bertemu sang ratu yang masih berkabung. Ada suatu hal yang perlu dilakukannya di sana. Jelas sama sibuk seperti dirinya secara Luz adalah otak di balik strategi penyerangan.


Yah, terkadang rindu tidak mengenal situasi.


"Grand Duke, kembang api dan barang lain yang kau minta sudah ada. Sekarang apalagi?"


Lamunan Alastair buyar. Ia mengarahkan tatapannya menuju Ochonner yang masih berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan mengangkat sebuah kotak berisikan bermacam-macam alat.


"Olesi semua mata pedang dengan racun. Bawalah beberapa di sakumu untuk berjaga-jaga."


Putra de Cera itu mengangguk paham. Setelah meletakkan barang-barang yang sebelumnya ia bawa, Ochonner kembali angkat kaki dari ruangan tersebut. Saat menuruni tangga, ia melihat Duke of Lancess datang dari arah berlawanan.


"Your Grace," sapanya ramah. "Anda datang."


Louis Georgetown, Duke of Lancess itu mengangguk. "Apakah His Grace ada di sini?"


"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu."


Mendapat anggukan dari Ochonner, Louis bergegas melangkahi anak tangga sehingga dalam sekejap ia sudah berada di lantai dua kastil Grand Duke. Sebuah pintu berukir naga menyambutnya. Louis mengetuk beberapa kali. Setelah ada sahutan dari dalam, barulah pria itu berani mendorong engsel pintu dan masuk ke dalamnya.


"Oh, Lancess." Alastair mendongak sebentar sebelum kembali fokus pada kertas di hadapannya. "Cepat juga kau ke mari. Bagaimana kabar pelabuhan, apakah peti-peti misterius itu masih berkeliaran bebas?"


"Angkanya sangat jauh berkurang, Your Grace. Anda berhasil menekan pergerakan putra mahkota." Usai mengatakan hal tersebut, Louis memutuskan duduk di salah satu bangku rotan yang tak jauh dari Alastair.


"Putra mahkota tidak ada apa-apanya tanpa bantuan raja." Alastair kemudian terkekeh sambil menggeleng samar, "Evandre ... Evandre. Begitu bodohnya dia sampai kekuatannya sendiri ia bunuh. Eh, atau justru aku yang perlu berterima kasih padanya karena sudah memuluskan jalanku?"


"Tetapi masih ada beberapa hal yang patut dicurigai."


"Oh ya, apa itu?"


"Setelah kematian raja, banyak sekali pendatang baru dari negara luar yang bebas keluar masuk Sormenia," jelas Louis gusar. "Penampilan mereka sangat mencolok. Andai tidak memiliki kartu bebas pemeriksaan, saya tentu akan memulangkan mereka ke negeri asalnya."


"Mereka memiliki kartu bebas pemeriksaan, siapa yang memberikannya?"


"Kemarin saya sempat berbicara pada salah satu dari rombongan mereka saat duduk di kedai pesisir." Duke of Lancess itu sempat berdehem canggung sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "Putra Mahkota sendirilah yang menawarkan kartu itu kepada mereka. Dan menurut data yang tertulis, Putra Mahkota memberikan izin legal itu tepat di hari yang sama dengan kematian His Majesty."


Alastair mengangguk. "Sekarang aku mengerti. Evandre sedang memasukkan orang baru di dalam istana secara diam-diam."


Louis terkejut, "Benarkah, untuk apa?!"


"Untuk menambah pasukan," tukas Alastair pendek. "Katakan, bagaimana ciri-ciri rombongan yang kau lihat di pelabuhan?"


"Mereka mengenakan pakaian dari kulit binatang buas tanpa alas kaki. Dan yang paling mencolok, mereka memiliki tinggi badan melebihi manusia pada umumnya."


"Orang-orang Authoris ...." desis Alastair yakin. "Karena meminum darah manusia, mereka memiliki kekuatan yang sangat besar. Segera perintahkan Ochonner untuk mengomando pasukan tambahan dari timur!"


Duke of Lancess langsung menunduk, menerima perintah.


"Jika tidak segera dibasmi, orang idiot yang menginginkan takhta itu akan berubah menjadi iblis."


Wajah Alastair menampilkan urat-urat tegang, semakin serius dalam menghadapi hal ini. Evandre tidak main-main. Dengan membukakan pintu masuk Sormenia untuk orang-orang bar-bar, sama saja dengan dirinya bersekutu dengan mereka. Pengkhianat bangsa. Mengorbankan nyawa rakyat yang tidak berdosa demi uang. Tidak ada kepantasan untuknya memimpin.


Mungkin memang inilah saatnya Alastair merebut apa yang sudah menjadi miliknya. Setelah puluhan tahun lamanya dipaksa duduk diam menyaksikan ketidakadilan. Bukannya lemah, Alastair hanya menunggu waktu yang tepat dan bala bantuan besar untuk melakukannya.


Malam ini, Sormenia kembali berjaya.


......................


Author gabut guys jadi update😆✌🏻


Happy weekend, Readers. Besok kita mulai perangnya, yaa. Ditunggu komen dan vote dari kalian biar babang Alastair dan Luz makin semangat gempur istana Sormenia💪🏼


^^^Salam manis dari pasangan savage uwu kita,^^^


^^^Luztair😎🤙🏻^^^