Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
45. Problematika Debutante



Dua minggu berlalu. Seperti yang pernah diucapkan Duke of Lancess mengenai debutante, di sederet pertokoan aksesori dan butik tampak dipenuhi oleh kereta kuda yang terparkir rapi. Pesanan gaun, sepatu, hingga pernak-pernik pun tak kunjung surut. Setiap hari bangsawan muda selalu berdatangan, membeli pakaian yang menurut mereka terbaik lalu memborong habis semua yang mereka suka.


Sejak beberapa hari yang lalu Luz sudah merekrut bawahan untuk membantunya bekerja di toko. Setelah diberi arahan dan contoh, mereka langsung bekerja karena pekerjaan yang Luz berikan tidak tergolong susah.


Begitu juga dengan Rose, pelayan setia Luz yang dulu bekerja di Thompsville itu kini memutuskan untuk ikut bergabung bersamanya.


Berawal dari kepulangan Ochonner ke Thompsville beberapa minggu kemarin, Ochonner yang tidak tega dengan tangis Rose yang ingin bertemu dengan nonanya itu akhirnya memberanikan diri untuk meminta izin kepada Marquis Thompsville. Meminta pelayan itu untuknya, lalu ikut serta membawa Rose pulang ke Brighton.


Seperti wanita pada umumnya, kedua orang itu —Luz dan Rose— berpelukan penuh haru saat berjumpa kembali di mansion.


"Ada yang perlu saya lakukan lagi, milady?"


Luz yang baru selesai merias salah satu bangsawan itu pun menoleh. Tersenyum kecil, lalu menjawab, "Kau bisa beristirahat sekarang, Rose."


"Pasti ada sesuatu yang bisa saya lakukan."


"Sejak pagi kau belum duduk."


"Saya lebih kuat dari yang Anda pikirkan."


"Rose." Luz menatapnya datar. "Tugasmu sekarang adalah duduk. Masih banyak teman-temanmu yang belum bekerja, jangan ambil bagian mereka."


Rose merengut lalu tanpa sepatah katapun, ia keluar dari ruang rias namun wanita itu masih mengikuti apa perintah Luz. Sekarang, dengan wajah tertekuk-nya itu, dia duduk di salah satu sofa tepat di samping akuarium yang dihuni oleh beberapa ikan mas koki.


"Beruntung Anda mendapatkan pelayan sepertinya, Crystal Lady." Tania Bradford, sang Viscountess yang terkenal ramah itu akhirnya bersuara. "Pelayan di estat ku tidak ada yang se-rajin pelayanmu."


"Dia memang rajin, tetapi tidak mengerti dengan bahasa tubuhnya sendiri." Luz menyapukan kuas eyeshadow bergradasi ungu dan biru, cocok untuk netra sang Viscountess yang terang. "Jika dibiarkan bekerja seharian, dia bisa sakit."


"Dan ya ... majikan biasanya tidak mempedulikan hal itu."


Luz menatapnya melewati pantulan cermin. Tersenyum tipis. "Mereka juga manusia."


"Tapi derajatnya berbeda dengan kita."


"Hari ini mungkin Anda bisa mengatakannya tanpa beban." Luz kembali teringat dengan kehidupannya di New York. Rakyat ya rakyat, tidak akan ada lagi perbudakan di abad dua puluh satu. "Tapi waktu terus berjalan. Dan pada akhirnya, tidak akan ada lagi orang yang sepemikiran dengan Anda."


"Aku tidak mengerti dengan apa yang Anda bicarakan."


"Itu prediksi ku tentang masa depan."


Luz melanjutkan pekerjaannya. Langkah terakhir, Luz memadukan perona pipi dan voila! Karya istimewanya selesai lebih cepat dari yang diperkirakan.


"Sudah selesai, lady."


"Sangat memuaskan!" Viscountess mengagumi wajahnya yang semakin cantik di usianya yang tidak lagi muda. "Aku tidak tahu dari mana bakat Anda berasal. Tapi satu hal yang perlu Anda ingat, apapun masalah ke depannya tolong jangan tutup toko luar biasa milik Anda ini."


"Aku tidak pernah berpikiran seperti itu."


"Debutante sebentar lagi," jawab Tania Bradford. "Dan di sana, mulut bangsawan bisa saja mengkritik Anda dengan pedas karena mau bekerja seperti rakyat jelata."


"Apakah Anda mempermasalahkan hal itu sama seperti mereka, Viscountess?"


"Aku tidak, justru hal yang kau lakukan saat ini cukup membanggakan bagiku."


"Aku senang saat tahu Anda tidak sedangkal itu." Luz kembali memasukkan perkakasnya di dalam tas. "Dan masalah debutante, aku tidak bisa memastikan bisa datang di sana atau tidak mengingat akhir-akhir ini pekerjaan di toko semakin banyak dan pesanan pun beberapa juga menumpuk."


"Ah, benar. Toko milikmu memang semakin ramai setiap hari." Tania mengangguk maklum. "Tapi usahakan tetap datang. Bekerja boleh, tapi menikah jangan sampai tertunda. Aku tidak ingin melihat Anda menjadi perawan tua."


Dan setelah mendengar ucapan Viscountess barusan, Luz baru teringat bahwa tujuan debutante sendiri adalah ajang untuk mencari suami ditemani oleh pendamping masing-masing. Begitu juga sebaliknya, gentleman yang hadir pasti berniat untuk mencari istri atau yang terparahnya lagi untuk mencari mistress* dari para lady yang tidak ada mensponsori.


Tolong jangan katakan Luz harus hadir. Dia tidak ingin menikah!


Sosok Rose kembali muncul di ambang pintu ditambah dengan ekspresi semangatnya yang cerah.


"Ada apa, Rose?"


"Putri Giselle dan Earl Travis datang dan sedang menunggu Anda di ruang tamu."


"Ku lihat Anda sangat sibuk." Viscountess tetawa pelan. "Maaf kalau aku sudah mengganggu pekerjaan Anda."


"Tidak, Viscountess. Aku justru senang bisa bertukar pikiran dengan Anda."


"Nilai plus untuk toko-mu. Lain kali aku akan berkunjung, terima kasih atas riasan memukau ini!"


Luz tersenyum cerah saat memastikan Viscountess Bradford benar-benar puas dengan hasil kerja kerasnya. Tanpa menunggu lebih lama, Luz beranjak menemui kedua tamu istimewa yang baru saja Rose sebutkan.


Di atas sebuah sofa panjang, Putri Giselle yang memakai gaun coklat tampak cantik saat tersenyum setelah menyadari kehadiran Luz yang berdiri di daun pintu.


"Crystal Lady."


Sean Travis ikut menoleh ke arah pintu. Bersemangat lalu menegakkan tubuhnya yang awalnya sedang bersandar di lengan sofa.


Mendengar seruan sang putri, Luz tersenyum tipis sebagai sambutan awal untuk kedua tamunya. Luz lalu memutuskan untuk duduk di sebuah sofa tunggal yang bersebelahan dengan sebuah pohon imitasi.


"Senang mengetahui Anda kemari, Your Highness." Luz mengarahkan tatapannya pada Sean. "Dan Earl Travis, lama tidak berjumpa."


"Aku tidak bisa kemari karena akhir-akhir ini ayah memberikanku banyak pekerjaan di wilayah Selatan dan aku harus menyelesaikannya tepat waktu." Sean mendesah lelah, "Dia berencana ingin menjadikanku Baron di sana."


"Berita bagus, kalau begitu kekuasaanmu akan semakin besar, kan?"


"Ya."


"Lalu kenapa kau masih murung seperti itu?"


"Aku sebenarnya malas menjadi bangsawan."


Mendengar jawaban Sean, Luz tentu saja terkejut. Maksudnya malas itu apa? Bangsawan termasuk ke dalam kasta yang spesial, tidak perlu bekerja bisa mendapatkan uang dari hasil sewa tanah. Memakai pakaian mewah setiap hari, bergelar, dan lain sebagainya.


Tapi Sean....


"Hei, kedatangan kita kemari bukan untuk membahas hal itu." Putri Giselle tanpa rasa bersalah memukul paha Sean hingga pria itu meringis. "Langsung pada intinya saja, Crystal Lady. Melihat penampilanku yang semakin luar biasa berkat tangan ajaib-mu, Yang Mulia Ratu secara khusus meminta agar kau bersedia menjadi perias istana untuk debutante musim ini."


"Suatu kebanggaan tersendiri bagiku. Tentu saja aku tidak akan menolak."


Walaupun menolak, Luz pun tidak akan bisa sebab ini permintaan langsung dari Ratu. Berani menolak? Siap-siap bertemu tiang gantung.


"Bagus, seperti yang diharapkan!" maniknya berbinar. "Kalau begitu segera berkemas-kemas. Dua jam lagi kereta dari istana menjemputmu."


"Apa?!" Luz terbelalak. "Apa maksudnya, You Highness. Bukankah aku hanya perlu datang ke istana tepat di hari acara, mendandani kalian, lalu selesai?!"


Mendengar protes keras dari Luz, baik Sean maupun Putri Giselle tak tahan untuk menyemburkan tawa geli. "Siapa bilang semudah itu? Kau harus menginap di istana dari besok sampai tiga hari setelah acara debutante selesai."


Luz mendadak diam. Membayangkan setiap hari akan bertemu dengan Evandre adalah hal buruk yang sulit dihindari karena mereka akan berada di tempat yang sama. Bersyukur jika Evandre sudah melupakannya dan fokus pada wanita lain, tapi jika sebaliknya....


Tapi bukan berarti Luz gagal move on, dia hanya malas bertemu apalagi sampai berbicara dengan pangeran buaya itu.


Argh, kenapa semuanya jadi seperti ini?!


......................


*Wanita simpanan, bukan istri sah.