Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
51. Ancaman yang Berbalik Arah



Athene duduk diam sambil meremat gaunnya hingga muncul jejak-jejak lusuh. Sial, ada apa ini. Grand Duke bahkan belum mengucapkan sepatah katapun tapi mengapa dirinya merasa begitu tertekan?


Ruangan tersebut begitu sepi. Merasa bosan, akhirnya Alastair membuka suara lebih dulu, "Apa yang ingin kau bicarakan, lady?"


Athene menarik napas.


Dia bisa.


"Bukankah aku yang mengetahui rahasia terbesar Anda? Lalu mengapa Anda justru memilih melamar Odyssey?!"


"Rahasia terbesar?"


"Oh, Anda lupa?" Athene menyeringai lebar. "Malam itu, di halaman gelap istana. Acara debutante."


Alastair memijit keningnya. "Kau sudah salah paham. Aku berusaha menjelaskannya malam itu tapi kau justru pergi begitu saja."


"Anda pikir aku akan percaya?" Athene merasa menang. Kali ini Grand Duke tidak akan bisa membantah keinginannya. "Aku melihatnya dengan jelas, dengan mata kepala sendiri saat Anda bersama dengan pria lain di dalam kereta."


"Jadi, kau pikir aku ini apa?"


"Tidak salah lagi." Athene mengangkat cangkirnya lalu kembali menampilkan ekspresi puas. "Anda memiliki orientasi yang berbeda dari pria kebanyakan."


Alastair rasanya ingin tertawa. "Lady de Cera ... sikapmu barusan membuatku sempat tidak percaya bahwa kau adalah putri sulung dari Marquis Thompsville."


Athene melotot. Ia bahkan hampir menyemburkan minumannya. "Ap-apa?!"


"Penilaian mu begitu tergesa-gesa." Pada akhirnya Alastair tidak bisa menahan tawanya akibat kebodohan Athene. "Apa kau tidak mengenali siapa pria yang bersamaku waktu itu?"


"T-tempatnya cukup gelap sehingga aku tidak bisa melihat dengan jelas," jawabnya mulai ragu.


"Dia Duke of Lancess. Datang ke debutante bersamaku dengan niatan untuk mencari istri," jawab Alastair dengan tatapan merendahkan. "Ku harap dia mendapatkan wanita yang cerdas dan juga pintar. Bukan wanita yang hanya bisa menuduh orang lain tentang berita yang tidak benar. Tuduhan barusan sangat tidak berdasar."


Telak. Ucapan Grand Duke barusan sangat menampar.


"L-lalu mengapa kalian berada di tempat gelap? Untuk apa selain berusaha menutupi hubungan rahasia?!"


"Tempat lain sudah penuh karena kami datang terlambat, lagipula apa aku harus menjelaskan semuanya lebih mendetail? Kereta kuda milikku jauh lebih besar dari milikmu, Lady. Memerlukan tempat yang luas untuk meletakkannya."


Athene berubah pucat pasi. Dirinya ... salah mengukur lawan.


"Lagipula, jika aku benar seperti yang kau sebutkan, aku tidak akan gegabah dengan mengumbar kemesraan di depan halaman istana. Berpikiran bahwa aku berbeda? Ck, tidak ku sangka isi otakmu sangat kotor. Sampai di sini, apa kau paham?"


Athene lagi-lagi menunduk. Dengan suara mencicit ia kembali berkata, "M-maaf."


"Sudahlah. Tidak perlu di perpanjang."


Alastair berdiri lalu berjalan ke arah pintu. Sebelum keluar, ia kembali menoleh lewat bahunya dengan tatapan dingin.


"Berbicara omong kosong tanpa bukti adalah tindak kejahatan. Kali ini aku biarkan, akan tetapi lain kali, jika kau kembali berbuat ulah aku tidak akan segan untuk membahas masalah ini di pengadilan terkait pencemaran nama baikku. Mengerti?"


Athene mengangguk cepat. "Baik, Your Grace. Maafkan aku jika perkataan barusan sangat menyinggung perasaan Anda. Lain kali, hal yang seperti ini tidak akan terulang lagi."


Tanpa sahutan, Alastair pergi begitu saja meninggalkan Athene yang marah bukan main. Tangannya mengepal, siap menumpahkan amarah yang sudah berada di ujung tanduk.


Grand Duke bastard! Bisa-bisanya dia bersilat lidah hingga keadaan terbalik seratus delapan puluh derajat. Harusnya dia yang ditekan, dia yang akan mengikuti perintah Athene karena kelemahannya berada di tangan si sulung de Cera. Tapi kini semuanya berbalik arah, bukannya sia-sia malah berakhir Athene yang dirugikan.


Athene memukul kepalanya sendiri. Ini salah dirinya, tidak mengusut lebih dalam sebelum berbicara. Andai dia tahu hari ini Grand Duke akan datang berkunjung, mungkin dia akan mencari informasi lebih banyak mengenai pria itu.


Huh, awas saja!


"Crystal Lady, bagaimana dengan ini?"


Luz meletakkan tangannya di bawah dagu dengan pose berpikir. "Em, kurang ke kanan, Travis. Coba geser sedikit."


Sean mengangguk pasrah. Dengan sekuat tenaga ia mendorong guci keramik raksasa berusia ratusan tahun itu sedikit ke kanan. Rose yang baru selesai membersihkan halaman depan tampak antusias menyemangatinya. Hari ini, Luz sedang mendekor toko kecantikannya sedemikian rupa.


Entah dalam rangka apa.


"Karena usianya yang sudah sangat lama, jadi guci asli ini memang sangat berat," jelas Luz menjawab rasa ingin tahu yang terpatri jelas di dalam netra Rose yang berbinar. "Maka dari itu aku meminta bantuan Lord Travis untuk melakukannya. Tenaga wanita tidak seberapa untuk memindahkannya."


"Kata siapa wanita tidak kuat?" Rose menjawabnya berapi-api. "Saya kuat, Milady. Sini-sini, Lord Travis saya akan turut membantu!"


"J-jangan, Rose. Ya, aku tahu kau sangat kuat." Luz tersenyum lebar. Penuh paksaan. Jangan sampai Rose mengeluarkan tenaga gorila nya atau guci berharga ratusan ribu keping emas itu akan hancur sia-sia. "Lebih baik kau periksa kotak surat di depan. Hari ini aku belum mendapatkan tabloid gosip."


"Baik!"


Setelah Rose pergi, barulah Luz bisa menghela napas panjang sambil mengelus dada. Kali ini guci-nya aman. Akan tetapi si biang masalah Rose selalu berkeliaran di sekitar sini. Entah besok atau kapan, Luz pikir guci-nya tidak akan panjang umur.


Mungkin dirinya bisa meminta bantuan Ochonner untuk memindahkan guci berharga ini ke mansion.


"Di sini sudah cukup?"


Luz kembali memperhatikan Sean yang tampak kelelahan setelah menggeser guci tersebut dengan penuh hati-hati.


"Kurang ke kiri, Travis. Guci itu menghalangi pemandangan dari luar jendela. Bisakah kau menggesernya sedikit?"


"Crystal Lady!"


"Kenapa?"


"Kau ingin membunuhku secara perlahan?!"


"Tapi, kan, memang menghalangi jendela." Luz rasanya ingin menggigit Sean. Tapi apa daya, pria itu lebih besar daripada dirinya.


Seharusnya Sean yang berfirasat buruk seperti itu.


"Huft, katakan 'cukup' jika kau merasa letaknya sudah pas."


Tidak ada pilihan lain. Demi menyenangkan pemilik toko, akhirnya Sean kembali mendorong benda besar tersebut ke sisi kiri. Walau mulutnya tak henti-henti menggerutu, tetapi Sean benar-benar ikhlas dijadikan pesuruh seperti ini.


"Milady!"


Luz kembali menoleh ke arah pintu. Di sana Rose dengan dua lembar kertas di tangannya tampak begitu cerah, wanita itu berekspresi seolah dirinya sudah memenangkan lotre di antara ribuan pesaing.


"Ada apa?"


"Ada berita penting yang dituliskan langsung oleh Marquis Thompsville untuk Anda!"


Luz mengernyit, "Berita?"


"Berita bahwa tadi pagi Marquis Thompsville sudah menerima lamaran Grand Duke secara langsung. Selamat, sebentar lagi Anda akan resmi menjadi Grand Duchess!"


Luz mematung. Sedangkan Sean justru terperanjat kaget. Melupakan guci yang harus ia pindahkan, bersama dengan Rose, Sean tampak menari bahagia seolah mereka lah yang akan segera menikah.


Grand Duke ... ternyata pria itu tidak main-main dengan ucapannya.