Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
57. Klan Penyihir



Kereta kuda mereka bergerak dari mansion barat menuju istana. Alastair sudah menyerahkan kunci mansion tersebut untuk Luz sebagai hadiah permulaan untuknya. Awalnya Luz merasa berat hati. Ia juga tidak mempermasalahkan hutang Grand Duke yang dulu. Sudah banyak hal yang pria itu lakukan untuknya, justru Luz sendirilah yang bingung bagaimana cara membalas perbuatan baik sang pemimpin Brighton.


Angin berhembus lembut, menerbangkan beberapa helai anak rambut Luz yang dibiarkan tergerai indah. Alastair terkekeh saat mendapati wanita itu menguap, berusaha menahan kantuk. Merapatkan diri, Alastair memindahkan kepala Luz yang awalnya bersandar di dinding kereta kini bersandar nyaman di bahunya.


"Perjalanan masih lama. Tidurlah."


Tak kuasa menahan berat di pelupuk mata, Luz menjawabnya dengan anggukan pelan. Ia menyamankan posisi lalu dalam beberapa saat, wanita bersurai putih itu sudah terbang ke alam mimpi.


Alastair yang melihatnya menjadi gemas sendiri. Dengan lembut, tangannya terulur untuk mengelus rambut Luz yang memiliki sedikit gelombang di ujung-ujungnya.


Perjalanan berlangsung damai selama beberapa saat sampai terdengar suara teriakan anak laki-laki tepat di dalam hutan yang terbentuk di sisi jalan.


"Hentikan kudanya."


Perlahan Alastair memindahkan kepala Luz. Ia keluar dari kereta, menatap sekitar yang terlihat sepi dan tidak ada apa-apa.


"Apakah ada hal darurat, Your Grace?" tanya kusir yang kebingungan.


"Apakah kalian mendengar teriakan tadi?"


Para pengawal saling berpandangan. Memiliki pendengaran yang sama, mereka serempak menggeleng.


Apakah anak buah Evandre lagi-lagi beraksi dengan menculik anak-anak?


"Kalian tunggu di sini dan tetap jaga keamanan Crystal Lady. Aku tidak akan lama."


Tanpa mendengarkan panggilan para pengawalnya, Alastair semakin masuk ke dalam hutan. Pencahayaan yang semakin minim tidak membuatnya gentar, justru semakin penasaran dengan rupa anak buah Evandre yang selama ini hanya pernah ia dengar dari Duke Lancess.


Setelah sampai di sebuah aliran mata air, hal yang ia cari akhirnya membuahkan hasil. Empat orang pria tengah memaksa seorang anak laki-laki masuk ke dalam kotak kayu.


Alastair mengacungkan pedangnya. "Lepaskan anak itu sebelum kepala kalian yang ku lepaskan dari badan kalian."


Mereka menoleh, begitu terkejut saat mengenali siapa orang yang menyaksikan perbuatan mereka. "G-Grand Duke!"


"Lepaskan!"


"Tidak bisa," jawab salah satunya yang memiliki tubuh gempal. "Hadapi kami dulu jika Anda berani."


"Ingin bermain-main, eh?" Alastair memijit jari-jarinya hingga terdengar bunyi gesekan antar tulang.


Diantara empat orang itu, dua diantaranya sudah bergetar ketakutan. Grand Duke dan pedang adalah dua hal yang bisa menghancurkan sebuah negara, tidak peduli siapa lawannya. Tapi sudah tidak ada celah untuk kabur, jalan keluar dihadang oleh Grand Duke sedangkan berlari ke belakang sama saja dengan mati sia-sia karena akan tersesat di dalam hutan.


"Kalian berempat maju bersama-sama pun aku tidak takut," tantang Alastair lagi tanpa memperlihatkan ketakutan yang berarti.


"Hya!"


Dalam sekejap, hutan yang tenang berubah menjadi arena tarung antara hidup dan mati. Salah seorang dari mereka berusaha menebas bagian leher, namun Alastair dengan sigap menunduk dan melumpuhkan kakinya hingga pria itu tersungkur.


Tiga orang lainnya tidak tinggal diam. Berbekal sebilah pedang, mereka berani mengelilingi Alastair dan menghujaninya dengan berbagai sayatan yang sama sekali tidak bisa menyentuh tubuh sang Grand Duke. Alastair masih menghindar, belum memberikan gerakan melawan.


Setelah bosan bermain-main, barulah Alastair melompat ke udara, mendarat dengan cara menginjak dada dua orang tersebut. Menekannya tepat pada titik sensitif jantung hingga mereka mengalami kejang-kejang.


Tersisa satu orang yang Alastair yakini sebagai penjahat paling tidak berguna. Tubuhnya semakin bergetar saat melihat teman-temannya terkapar tidak berdaya. Alastair mendekat, menatap dingin dengan mengarahkan ujung mata pedang di bawah dagunya agar orang tersebut mau mendongak.


"Apakah kau pesuruh Putra Mahkota?" Tidak mendengar jawaban dari pria tersebut, Alastair menambahkan dengan penuh emosi. "Jawab!"


"Ak-aku ...." Matanya terus menatap ke belakang Alastair. Salah satu temannya yang hanya mengalami cidera di bagian kaki perlahan bangkit, lalu berusaha diam-diam kabur sendiri masuk ke dalam hutan.


"Atau kau ingin bernasib sama dengan teman-temanmu?"


Alastair tanpa menoleh ke belakang tahu bahwa ada seorang diantara mereka ingin kabur. Dengan gesit ia mengambil belati beracun di balik jubah hitamnya, melempar benda tersebut dan membidik punggung penculik yang ingin kabur itu tepat sasaran hingga ia kembali ambruk. Alastair melakukannya tanpa menoleh sedikitpun, mata elangnya yang memancarkan keganasan masih setia berfokus pada penculik yang sedang ia tekan.


"Katakan, apakah kau ingin bernasib sama?" tuntutnya lagi, tajam.


Nyali penculik tersebut menciut. Sebagai balasan, ia mengangguk cepat lalu menjawab, "Ya-ya, kami diperintahkan langsung oleh Putra Mahkota."


"Untuk apa dan ke mana anak-anak itu akan dijual?"


"Orang-orang Authoris suka meminum darah anak kecil untuk meningkatkan stamina j-jadi His Highness bisa menjual satu anak dengan harga tinggi." Sang penculik meneguk ludahnya susah payah saat pedang Alastair semakin dekat dengan urat lehernya. "Y-yang saya tahu, anak-anak itu dijual ke Kerajaan Authrine."


Authrine ... bukankah sejak dulu Sormenia tidak pernah menyatakan damai dengan negara kelam itu? Kehidupan mereka seperti manusia kanibal, sangat tidak sesuai dengan Sormenia yang aman damai sebelum Evandre berani berulah.


Jika Evandre berhubungan baik dengan mereka, sama saja Evandre sendiri yang membukakan pintu kesengsaraan untuk Sormenia.


"Apakah ada hal lain yang kau ketahui?"


"It-itu ... Sebelumnya saya memohon ampun kepada Anda!" ungkapnya terpaksa lalu bersujud tepat di depan kaki Alastair. "Akhir-akhir ini Putra Mahkota banyak menekan pria muda dari masyarakat kalangan bawah untuk menjadi pekerjanya, berburu anak-anak. J-jika kami menolak, maka anak-anak kami lah yang akan menjadi sasaran empuk. Mohon Grand Duke bersedia membantu kami menghadapi masalah pelik ini!"


"Aku akan membantu, tapi sebelum itu ...." Alastair melirik salah satu mayat yang sudah dihabisinya. "Bawa mayat salah satu dari mereka dan katakan bahwa aku akan membasmi kalian jika tidak segera berhenti dari pekerjaan kotor yang Putra Mahkota berikan. Brighton selalu terbuka jika kalian ingin mengamankan anak-anak dari penculikan. Patroli bergilir selalu berjalan seharian jadi tidak perlu khawatir."


Alastair kembali memasukkan pedangnya ke dalam sarung yang tersampir di pinggang. "Cepatlah pergi sebelum aku berubah pikiran."


Dengan langkah tergopoh-gopoh penculik tersebut pergi dengan membawa mayat salah satu dari mereka. Berlari ke arah luar sampai sosoknya menghilang diantara rimbunan pohon dan rerumputan liar.


"Grand Duke, terima kasih karena telah menyelamatkan putraku."


Alastair kembali berbalik. Dilihatnya seorang wanita tua berpakaian terusan hitam polos dengan surai pucat berwarna pirang.


Alastair memiliki Indra pendengaran yang tajam, akan tetapi ia tidak bisa mendeteksi saat wanita ini mendekat. Kejadian yang sangat langka.


"Di tengah hutan seperti ini ... di mana letak rumah Anda?" tanya Alastair hati-hati. Sebab setahunya, disepanjang hutan barat ini sama sekali tidak ada rumah apalagi pemukiman penduduk.


"Itu dia." Wanita itu menunjuk ke arah bangunan sederhana yang tiba-tiba sudah ada di seberang aliran anak sungai. Alastair yakin betul, tidak ada bangunan apa-apa di sebelah sana saat ia datang kemari tapi kenapa tiba-tiba ....


"Anda klan penyihir?" Alastair tersenyum miring, "Tak disangka ternyata populasi kalian masih ada."


"Kehidupan di kota tidak lagi nyaman, manusia seringkali mengkudeta segala hal yang berada di luar bidangnya. Untuk itu semua penyihir memutuskan tinggal di dalam hutan," terang penyihir tersebut sambil menggendong tubuh putranya yang masih syok. "Oh, putraku yang malang pasti kau ketakutan, kan?"


Anak laki-laki yang memiliki surai yang sama pucatnya itu mengangguk lemah. Ia menyandarkan kepalanya lalu memeluk tubuh penyihir tersebut.


"Anda adalah penyihir, kenapa tidak menggunakan kekuatan saja untuk mengalahkan orang-orang Putra Mahkota?'


"Terlahir menjadi penyihir bukan berarti bisa melakukan segalanya. Yang pertama, putraku belum bisa menghilangkan diri sehingga ia akan terlihat seperti manusia biasa. Yang kedua, aku adalah penyihir waktu. Bertarung bukanlah kebiasaan ku dan lagi, jumlah mereka banyak."


Bertemu langsung dengan klan penyihir membuat Alastair sedikit banyak paham dengan kehidupan mereka. "Kalau begitu tugasku sudah selesai. Permisi, semoga putra Anda dalam kondisi baik-baik saja."


"Tunggu!"


Alastair yang hampir melangkah pergi itu kembali menoleh. Ia melihat sang penyihir membuka telapak tangannya dan dalam sekejap, sebuah batu giok bulat berwarna ungu muncul tiba-tiba setelah cahaya berpendar dalam waktu singkat.


"Aku melihat dari matamu, anak muda. Kehidupanmu tidak berakhir baik. Untuk itu, aku menghadiahkan batu giok ini untukmu."


Alastair menerima batu tersebut dengan perasaan bingung. "Untuk apa aku membawa batu ini?"


"Pecahkan batu itu dan kau bisa mempermainkan waktu dalam sekali percobaan."


Mempermainkan waktu. Itu berarti Alastair bisa mempercepat atau memperlambat waktu, bukan?


Sebelah alisnya terangkat. "Lalu apa hubungannya dengan kehidupanku?"


"Kau akan tahu saat waktunya tiba."


Sekali lagi Alastair memperhatikan batu giok ungu yang berada di tangannya. Bertepatan dengan hal itu, seruan seorang wanita dari arah belakang sontak membuat Alastair berbalik.


"Grand Duke, kenapa kau sendirian di sini. Apa yang sedang kau lakukan sampai begitu lama, aku khawatir!"


Alastair menyeringai geli. "Lihat, siapa yang tidak tahan berpisah dari calon suaminya."


Mendengar ujaran Alastair, mau tak mau pipi Luz memerah seperti buah persik yang ranum.


"Nyonya, jika sudah tidak ada yang bisa kulakukan—"


Ucapan Alastair terhenti. Ia mengamati sekitar, tidak ada siapapun lagi yang berdiri di depannya. Sama seperti kedatangan penyihir itu, kepergiannya pun lagi-lagi mengejutkan Alastair. Rumah yang berada di seberang aliran anak sungai pun juga lenyap tak bersisa. Seperti sebuah ilusi. Namun giok ungu pemberiannya masih utuh di tangan sang Grand Duke.


"Ayo kembali."


Alastair mengangguk. Menghampiri Luz, akhirnya mereka keluar dari hutan tersebut tanpa kekurangan apapun.


Klan penyihir ... ternyata masih ada tetapi mereka memilih hidup tersisihkan dari manusia.


......................


Selamat hari Kemerdekaan RI yang ke-76 semua🇮🇩~


Episode kali ini dibikin lebih panjang loh dari episode-episode kemaren. Sekarang apakah kalian bertanya-tanya, kenapa penyihir mulai muncul di Sormenia?


a. Kedatangan penyihir menjadi titik terang bagi Luz untuk bisa kembali ke New York


b. Penyihir datang untuk membantu Alastair mempercepat waktu pemberontakannya menggunakan giok ungu sehingga dalam sekejap Alastair menjadi kaisar


c. Kedatangan penyihir hanya sebagai pemanis cerita


Atau ada pendapat lain? Silakan tulis di kolom komentar. Ditunggu yaa😆


See u next episode😉