Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
29. Kejadian Tak Terduga



Sesampainya di Brighton, mereka langsung kembali ke tempat masing-masing. Melebihi ekspektasi, kastil Grand Duke benar-benar terlihat paling besar dan megah seantero kota bagian barat laut Sormenia. Wajar, pangkatnya sebagai Grand Duke adalah kedudukan tertinggi di Brighton, dilanjutkan Ochonner sebagai kaki tangannya dan terus kebawah.


Jika Grand Duke kembali ke ruang kerjanya dan Ochonner yang kembali mengurung diri bersama tumpukan dokumen baru, maka Luz justru tidak bisa diam. Setelah puas melihat-lihat mansion Ochonner yang sempit dan menata kamarnya, dia kembali keluar dan memanggil kereta kuda layaknya memanggil taksi.


"Kereta, aku butuh kereta!" Luz melambaikan tangannya, berusaha menghentikan langkah si kuda.


Padahal Luz tidak perlu bersikap seperti itu.


"Keliling Brighton saja, setelah itu baru antarkan aku ke toko yang ingin diberikan Grand Duke."


Setelah kereta dengan ukuran yang hanya bisa memuat satu orang itu bergerak, Luz membuka tirai, membiarkan cahaya matahari memasuki keretanya sambil memperhatikan tumpukan pekerjaan orang-orang di luar sana.


Sama seperti perkotaan pada umumnya, di sisi kanan dan kiri jalan dipenuhi oleh toko-toko besar persenjataan elit yang menjadi icon tersendiri bagi Brighton. Transaksi senjata jenis apapun legal, asalkan pembeli memenuhi syarat dan memiliki surat izin.


Oh, jadi di sinilah hobi Grand Duke mengoleksi senjata tersalurkan.


Setelah melewati toko-toko besar, kini mereka melewati sebuah tugu besar di pusat kota. Sebuah patung perisai raksasa yang memiliki mahkota di bagian atasnya tampak terpahat kokoh di sana, benar-benar indah dan menakjubkan. Luz pikir, perisai raksasa itu terbuat dari perunggu asli. Di sekeliling tugu tersebut juga ditumbuhi tanaman hias yang bunganya bisa bermekaran di setiap musim.


Ah, andai aku membawa kamera, pasti semua monumen di sini ku foto semua dan setelah kembali ke New York, foto-foto gila di sini akan ku perlihatkan kepada ayah, desah Luz di dalam hati.


Luz diam memperhatikan langit biru yang mengantarkan hawa dingin awal musim gugur ke bumi.


Jujur dalam lubuk hatinya, Luz sangat merindukan Ken Anderson, ayahnya. Dan juga Erickson.


Apa memang tidak ada jalan untuk kembali?


Tapi satu hal yang mengganjal di pikiran Luz. Ke mana perginya arwah Odyssey yang asli?


Tanpa terasa, kereta yang ia tumpangi berhenti di depan sebuah bangunan baru yang besar. Dinding bagian luarnya dicat merah muda dan putih dengan aksen yang mirip wallpaper. Luz diam-diam mengumpat, merah muda lagi?!


Sebelum berpisah, Grand Duke sempat memberinya sebuah kunci toko bertingkat dua ini. Setelah berhasil terbuka, Luz masuk ke dalam calon tokonya sendirian untuk memastikan apakah janji Grand Duke —yang mengatakan tempat ini lengkap dan besar— sesuai dengan keadaan yang sebenarnya atau tidak.


Tapi setelah masuk lebih dalam, tingkat kewaspadaan Luz meningkat tatkala terdengar suara pintu tertutup dari lantai atas. Tidak mungkin jika itu disebabkan oleh hembusan angin, sebab seluruh jendela masih terkunci rapat.


Lalu tak lama terdengar suara barang jatuh tepat di lantai yang sama dengan pintu yang tertutup sendiri tadi.


Luz merapalkan doa sebisanya. Ya Tuhan, jangan biarkan hantu datang kemari untuk menakut-nakuti ku. Jujur, aku memang jarang beribadah kepada-Mu tapi tolonglah aku saat ini, Ya Tuhan, pinta Luz sungguh-sungguh.


Tapi tak ada gunanya jika ia berdiri diam di sini tanpa melakukan apapun. Dengan langkah sepelan mungkin, Luz menaiki anak tangga yang melingkari sebuah pilar raksasa di tengah ruangan satu-persatu. Sebisa mungkin tidak menimbulkan suara, berbanding terbalik dengan hatinya yang berdegup keras. Ditambah lagi ruangan tersebut gelap, semakin menambah adrenalin Luz untuk melihat apa yang ada di atas sana.


Keringat dingin membasahi dahinya saat berada di depan sebuah pintu yang Luz yakini suara tadi berasal dari sini. Perlahan ia memutar kenop pintu, mendorongnya, dan terbelalak.


Sesosok hantu berdiri di depan jendela!


"T-tuan, tolong jangan munculkan wujudmu di depanku lagi. Sekarang aku benar-benar takut karena wajah jelekmu itu, cepat pergi atau Tuhan akan menghukummu!" Luz meringsek mundur sambil mengeluarkan semua sumpah serapahnya. "Enyahlah, pergi, setan!"


"Nona de Cera?"


Luz mematung. Perlahan ia mengalihkan tatapannya dan menemukan Grand Duke sedang menatapnya aneh.


"Seharusnya aku yang bertanya kenapa kau ada di sini, sebab jam kerja dimulai besok, bukan sekarang," jawab Grand Duke sambil meletakkan kembali buku yang sempat dijatuhkannya beberapa waktu yang lalu di atas meja.


"L-lalu itu apa?" Luz menunjuk ke arah siluet putih yang berada di depan jendela.


"Itu kaca," jawab Grand Duke tidak habis pikir. "Semuanya masih baru, jadi para pekerja belum sempat membuka kain penutupnya."


Astaga, Luz benar-benar malu!


Dari jauh, kaca —yang kebetulan setinggi orang dewasa— tersebut terlihat seperti sesosok tubuh yang berdiri kaku, tapi ternyata ... Ah, tidak perlu dibahas lagi, Luz terlanjur kehilangan muka di depan Grand Duke.


"A-aku akan pulang." Luz berbalik pergi, mencoba hilang secepatnya dari tempat ini.


"Sebentar," sahut Alastair cepat lalu membuka sebuah rak paling bawah yang berisi banyak tumpukan buku. "Aneh rasanya jika semua buku ini diletakkan di bawah. Kebetulan kau ada di sini, bagaimana jika kau membantuku meletakkan semua buku ke lemari atas?"


"Lemari atas mana?"


"Di sana." Alastair menunjuk sebuah rak besar di samping kaca yang masih berbungkus kain tadi. "Simpan bukunya di sana."


"Kau gila?" tanya Luz pelan. Ia mendongak lalu kembali berucap, "Lemarinya sangat tinggi. Bagaimana caranya agar aku bisa sampai ke sana?"


"Di sebelah sana ada tangga." Alastair menunjuk sebuah tangga yang terhalang di belakang pintu.


"Kenapa harus aku, kenapa tidak menggunakan pelayan saja?!"


"Di sini hanya ada kita. Oh, aku menitip buku ini sekalian." Alastair menyerahkan buku yang tadi ia baca dengan senang hati. "Dan ya ... tidak selamanya pelayan bisa membantu majikannya menyelesaikan tugas ini-itu. Sekali-sekali majikannya harus belajar mandiri."


"Yang benar saja," sungut Luz kesal namun ia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengerjakan apa yang Grand Duke suruh. Dia mengambil tangga dengan berat hati, lalu membawa buku satu-persatu ke atas sana.


"Selamat bekerja, aku ingin mengecek ruangan lain. Selamat tinggal."


Luz mencebikkan bibirnya saat Alastair berbalik pergi tanpa menutup pintu. Luz pikir, setelah pekerjaan ini selesai, kedus kakinya akan patah sebab bukan satu atau dua buku saja yang harus ia pindahkan.


Melainkan ada kurang lebih tujuh puluh buku!


Waktu terus bergulir sementara buku-buku yang ia susun tinggal sedikit. Tersisa enam buku lagi dan Luz benar-benar sudah lelah. Apa bisa dia sekalian membawa keenam buku tersebut tanpa perlu bolak-balik dua kali?


Jika tidak dicoba, maka tidak tahu. Bermodalkan nekad, Luz menumpuk buku-buku tebal tersebut lalu perlahan menaiki tangga satu persatu. Napasnya ikut tertahan, sementara tangannya sama sekali tidak berpegangan pada tangga.


"Bagaimana, apa sudah sele— Hei, hati-hati!"


Terlambat. Karena kaget dengan suara berat Alastair, Luz gagal mempertahankan keseimbangannya hingga tangga yang ia pijak ikut bergoyang. Tidak sempat meraih pegangan, Luz sudah pasrah jika tubuhnya menghantam lantai dengan telak.


Namun hal itu tidak terjadi sebab Alastair berusaha sigap untuk menangkapnya dari bawah.


Dan selanjutnya, hal paling naas terjadi. Entah karena panik sehingga Alastair tidak sempat berpikir macam-macam, Luz benar-benar mendarat di pelukannya. Tapi wanita itu tidak bisa melawan gravitasi, layaknya seorang dewi yang turun dari langit, Luz terjatuh namun bibirnya-lah yang lebih dulu mendarat tepat di atas kening Alastair hingga wajah pria itu dibuatnya merah.


Hidup ini sangat konyol dan si putih itu semakin kehilangan muka. Teruntuk bumi, tolong telan lah Luz sekarang!