Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
75. Pertemuan yang Dinanti



Luz merasa senang ketika mendapatkan teman baru di Venezuela. Kebetulan sekali, resort yang Luz tempati berdekatan dengan villa yang perusahaan Peter sewa untuk para pegawainya sehingga mereka tidak perlu repot-repot bertemu di tempat lain.


Seperti saat ini misalnya. Kedua orang yang baru berkenalan itu memutuskan pergi ke Barquisimento, kota yang berada di tepi sungai Turbio nan indah. Kota yang di setiap bangunannya sarat akan sejarah. Arsitekturnya yang didominasi oleh konsep Spanyol kuno yang bergabung dengan konsep Spanyol modern tentu membuat kota ini menjadi tujuan wajib bagi wisatawan yang datang berkunjung ke Venezuela.


"Oi, apa kau ingin mengambil gambar?"


Luz yang awalnya sibuk memfoto bangunan disekitarnya itu pun menoleh. Ia mengangguk, "Boleh juga. Kalau begitu bisakah kau membantuku?"


"Tentu saja."


Peter mengambil kamera yang Luz serahkan padanya. Ia tertawa saat memperhatikan bagaimana Luz berusaha mengambil posisi yang menurutnya aesthetic. Tembok berwarna-warni, bangunan besar, dan monumen unik sudah mereka jelajahi. Kini keduanya sedang sibuk berjalan di kawasan street food.


"Katanya di sini banyak menyediakan makanan khas Venezuela."


"Benarkah?"


Peter mengangguk yakin. "Apa makanan yang pertama kali ingin kau coba?"


Wanita dihadapannya itu tampak berpikir sejenak. "Hm, apa yang menurutmu enak?"


"Semuanya enak."


Luz berdecak, tidak puas dengan jawaban yang Peter berikan. "Bagaimana jika dimulai dari makanan manis?"


"Kalau begitu kau perlu mencoba Golfados!"


"Golfados?"


"Bolu gulung dari cinnamon." Ia menunjuk salah satu stan yang menjual makanan yang ia sebutkan. Terlihat ada banyak orang yang berdesak-desakan di sana. Pasti rasanya benar-benar melebihi ekspektasi. "Paling enak jika di santap bersama kopi robusta. Tunggu di sini sebentar, aku akan membeli Golfados. Jangan kemana-mana."


Luz mengangguk saja saat Peter memutuskan ikut mengantri di dalam lautan manusia tersebut. Sekarang Luz merasa bosan. Daripada membuang waktu lebih lama, ia memutuskan untuk membeli kopi robusta sama seperti yang Peter sebutkan sebelumnya. Mengindahkan perintah Peter yang menyuruhnya menunggu selagi pria itu mengantre.


Sungguh, pergi ke Venezuela sama sekali tidak memberikan penyesalan. Justru Luz sangat senang ketika dirinya berada di dalam kerumunan orang-orang yang tidak mengenali siapa dirinya. Hell, tentu saja sudah bertahun-tahun lamanya menghilang dari kamera membuat Luz perlahan dilupakan media. Mungkin.


Sebagai penata rias terbaik, nama Luz tentu selalu terpampang saat artisnya disorot oleh media massa. Selain berbakat, kecantikan, kekayaan, dan kuasa yang mumpuni dari sang ayah semakin menambah kepopuleran Luz di dalam dunia hiburan. Luz bukan artis, namun media selalu memperlakukannya spesial sama atau bahkan lebih daripada artis itu sendiri.


Jika mengingat hal itu, Luz tentu takut jika di sini ada orang yang mengenalinya. Sungguh.


Dan ketakutannya itu benar-benar terjadi.


"Apakah itu nona Lovely?"


Luz mendengar bisikan serupa berasal dari beberapa orang dibelakangnya. Lupakan saja kopi robusta ataupun Peter, sekarang yang terpenting ia harus berhasil melarikan diri dari orang-orang yang mengenal siapa dirinya.


"Hei, nona. Tunggu dulu!"


Masa bodoh. Luz tidak mau tinggal diam saat orang-orang itu berusaha mendekatinya. Luz berlari. Bukan berarti Luz ingin menghindar, ia hanya tidak siap jika lagi-lagi harus dilempari pertanyaan yang tidak bisa ia jawab. Menghilang dari depan kamera karena mengalami time travel? What the— di dunia serba modern ini, siapa yang akan percaya?!


Luz terus berlari sambil menutupi setengah wajahnya. Dari suara langkah yang dihasilkan oleh orang yang berlari dibelakangnya, Luz perkiraan ada tiga orang yang masih mengejarnya bahkan di saat Luz memasuki celah-celah antara rumah krem bernuansa Spanyol. Setelah berhasil melewati celah tersebut, Luz disuguhkan sebuah jalan raya yang entah terletak di mana.


Luz belum pernah melewati jalan ini yang artinya dia tidak hafal ke mana arah menuju resort. Sungguh.


Rasanya Luz ingin menyerah dari kejaran para wartawan itu dan meminta mereka untuk mengantarkannya pulang. Tapi jika mereka meminta Luz angkat bicara, bagaimana dengan usaha Ken yang selama ini berusaha menjauhkan mereka dan pertanyaan tidak berbobotnya itu dari Luz agar Luz tidak merasa tertekan? Itukah caranya Luz menghargai usaha ayahnya yang sudah bersusah payah?


"Ikut aku."


Luz tersentak saat lengannya tiba-tiba ditarik oleh seseorang yang tidak ia kenal. Pria itu memakai kaus hitam polos yang dipadukan dengan celana selutut dengan warna yang sama. Luz belum melihat wajahnya, namun ia merasa aman saat tangannya ditarik lembut seperti ini.


"Permisi, tuan."


Pria itu tidak menyahut. Dia terus memimpin jalan tanpa mau menolehkan kepalanya.


Luz berdehem, berusaha menarik perhatiannya. "Tuan," panggilnya lagi dengan nada yang lebih tinggi.


"TUAN?!"


"Apa."


Luz mengelus dada. Huh, sabar. Disaat dia berteriak, barulah ucapannya ditanggapi. Dasar es batu!


Pria itu kembali diam. Luz sebenarnya sangat tidak sabar untuk menarik rambutnya sampai botak. ****!


Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah taman hiburan yang dipenuhi orang-orang. Di rasa sudah cukup aman, pria itu melepaskan genggamannya. Berbalik, lalu tiba-tiba memberikan sebuah sentilan di dahi Luz sehingga membuat warna di bagian dahinya berubah merah.


"Aw, what fucking are you doing?!"


"Gadis nakal!" ujar pria itu garang. "Pernikahan kita yang tidak tahu bagaimana akhirnya itu saja belum sampai satu tahun dan kau dengan senangnya sudah bisa berlibur di sini?"


Deg.


Luz buru-buru mendongak. Mata topaz yang selalu menatapnya lembut itu benar-benar nyata. Surai karamel yang selalu dirindukannya itu juga terpampang jelas. Lalu ... Ini benar-benar— astaga, tak terasa lelehan air matanya sudah berhasil membasahi pipi Luz yang memerah. Ia membekap mulutnya, setengah tidak percaya dengan apa yang ia lihat tepat di depan matanya ini.


"Alastair," ucapnya sambil tersedu-sedu lalu memeluk pria di depannya itu erat-erat. Seolah jika ia longgarkan sedikit saja, Alastair akan pergi selama-lamanya.


"Bagaimana kabarmu, hm?" Alastair membalas pelukan Luz. Tangannya naik, mengelus lembut rambut Luz penuh cinta. "Berbulan-bulan tidak bertemu denganmu rasanya sama seperti beratus-ratus tahun. Apakah kau merasakan hal yang sama, Love?"


Luz mengangguk cepat. "Jangan pergi. Tolong jangan pergi sama seperti diriku sebelumnya," pinta Luz mendayu. Tatapan orang-orang tidak lagi ia hiraukan. Yang terpenting Alastair-nya sudah kembali—oh bukan. Alastair-nya sudah datang. Selamanya, Alastair harus di sini. Di sisinya.


Luz menguraikan pelukan mereka. Menatap Alastair bingung kemudian bertanya, "Bagaimana caramu bisa kemari?"


Alastair terkekeh. Tangannya yang tanpa peringatan itu langsung mengacak-acak rambut Luz dengan gemas. "Jangan tanya macam-macam. Sekarang yang perlu kau lakukan adalah menebus dosa kepada suamimu ini."


"Dosa apa maksudmu?!"


"Apakah kau tidak tahu? Baiklah, akan ku ingatkan kembali." Alastair mendekat, "Yang pertama. Kembali ke mari tanpa seizin ku. Itu sudah termasuk dosa."


"Tapi—"


"Yang kedua, menuduhku sama seperti orang-orang yang mengejar dirimu barusan. Apa namanya—wartawan. Iya itu."


"Aku tidak—"


"Dan yang ketiga, berani dekat-dekat dengan pria lain. Apakah kau sudah melupakan suamimu ini, istri kecil? Tidak perlu memohon, sebagai kompensasi atas kejahatanmu, kau harus dihukum!"


Oh tidak, Luz membenci ini. Alastair yang dulunya tidak segan-segan untuk membunuh orang, pasti hukuman yang akan ia berikan juga tidak jauh-jauh dari sana. Tidak masalah, Luz ikhlas. Asalkan suaminya ini bahagia.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Luz hati-hati.


"Bawa aku ke rumah dan katakan pada ayahmu bahwa aku adalah calon suamimu. Beres," ujar Alastair tersenyum lebar. "Di dunia ini, mari kita ulang semuanya dari awal. Menikah dengan restu ayahmu, lalu mengumumkan ke publik bahwa aku adalah milikmu."


"Hanya itu?" Senyum Luz mengembang. Semua bebannya terangkat sudah. Euphoria menggelitik perutnya, Luz tidak sabar untuk kembali ke New York. "Bagaimana jika kita pulang sekarang? Mumpung akhir-akhir ini ayah sering berada di rumah."


"Tentu saja bisa. Tapi sebelum itu, aku perlu mengurus beberapa hal terkait bonus pegawai. Nanti malam rencananya akan ada pesta ulang tahun perusaahan ku."


Dari jauh Peter melihat itu semua. Ya, semuanya. Dua bungkus Golfados yang ia beli susah payah dibuangnya ke tempat sampah. Belum berjuang namun harapannya langsung pupus sirna sampai tak bersisa, ibarat kertas yang dilalap api. Tentu saja, bagaimana mungkin dirinya akan menang jika rivalnya adalah pemimpin dari perusaahan tempat dia bekerja?


Pria itu adalah Alastair Miller. CEO perusahaan raksasa dari Jerman.


Ckrek!


Breaking News!


Bertahun-tahun Hengkang Dari Dunia Hiburan, Lovely Anderson Tertangkap Kamera Sedang Berbulan Madu Di Venezuela!


...END...


......................


Hallo readers~


Maafin author yaa kalau ga sesuai target up dua hari sekali karena di episode ini memerlukan observasi mengenai Venezuela yang sesungguhnya. Dari tempat, makanan khas, dan yang lainnya itu beneran ada di sana yaa jadi aku ga ngadi-ngadi😂👌🏻


Ini beneran end yaa aku ngga canda lagi. Gimana, apa perlu extra part? Kalau mau coba komen banyak-banyak dulu. Spam juga gapapa aku sukak kok itung-itung jadi moodboster🤣


See u next episode(maybe)~