
"Putra mahkota?"
Evandre tidak menjawab. Lagi, ketukan di depan pintunya kembali terdengar namun kali ini lebih keras.
"Putra mahkota, apa anda di dalam?"
"Sial!"
Evandre bangun dari kasurnya dengan emosi yang belum stabil. Ia segera memungut pakaiannya yang berserakan di lantai dan beranjak dari sana.
"Siapa itu, putra mahkota?" tanya seorang wanita dengan suara serak khas bangun tidur. Tubuhnya tidak ditutupi sehelai benangpun, hanya dilindungi selimut putih milik Evandre.
"Sepertinya tangan kananku." Evandre mengancing pakaiannya dengan terburu-buru. "Tunggu di sini sebentar, sayang."
Evandre membuka pintu. Tampak wajah seorang pria berkisar dua puluh tahunan yang dikenalnya sebagai Lord Cornelius, tangan kanannya berdiri di ambang pintu.
"Ada apa, Cornelius. Ini masih pagi buta."
"Ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan mengenai anggaran prajurit." Diam-diam Lord Cornelius memperhatikan penampilan Evandre dan dia langsung mengetahui apa yang telah putra mahkota lakukan di kamarnya. "Jika tidak keberatan, kita bisa membahasnya sekarang."
"Tidak masalah." Tanpa tahu malu Evandre keluar dari kamarnya masih lengkap dengan piyama sutra dan rompi. "Kita bahas hal ini di ruang kerjaku."
"Sebelum itu, saya ingin menyampaikan sebuah surat."
Evandre berbalik, "Dari siapa?"
"Dari Lady Odyssey de Cera, putri kedua Marquis of Thompsville, your highness."
"Oh, wanita itu." Evandre terkekeh. "Dia membalas surat ku begitu cepat. Pasti dia sudah terpikat dengan pesonaku, kan?"
Mereka sama-sama melangkah ke ruang kerja. Lord Cornelius mengernyit, "Anda juga menggoda Lady de Cera?"
Evandre mengedikkan bahu, "Itu lumrah di kalangan pria," jawabnya santai. "Tapi seberapa banyak wanita yang saat ini bersamaku, pada akhirnya aku hanya akan menikahi Lady Odyssey."
"Mengapa begitu?"
Evandre menjawab dengan santai, "Dia wanita yang cocok untuk menjaga keseimbangan takhta ku kedepannya."
"Kenapa harus wanita polos itu?" sahut Lord Cornelius kasihan. "Jika Anda memilih Lady Athene, saya rasa itu lebih sepadan dan berkuasa. Lagipula, Lady Athene adalah kakak tertua."
"Kau tahu, Cornelius, dalam keluarga Thompsville kedudukan Lady Athene itu hanyalah sebuah pajangan. Dia sama sekali tidak mahir dalam bidang pemerintahan." jawab Evandre ringan. "Tapi Lady Odyssey ... wanita itu berbeda. Dari tatapannya, aku tahu dia adalah wanita yang penuh perhitungan sebelum bertindak. Dia mampu, dan tak lama ini ku dengar dia sedang berusaha merebut gelar kakaknya itu."
"Wah, benarkah?" Bola mata Lord Cornelius membulat. "Bagaimana Anda bisa tahu?"
Evandre berdecih, "Mata-mataku ada di mana saja."
Lord Cornelius mengerjap tak percaya, ia bertanya sekali lagi untuk memastikan. "Anda benar-benar ingin menikahinya, menjadikannya putri mahkota?"
Evandre mengangguk. "Pintar, cantik, berbakat, dan berasal dari keluarga yang tersohor. Pria mana yang bisa menolak?"
"Sekarang aku harus membalas pesannya secepat mungkin." Evandre tersenyum tipis. "Dengan sedikit rayuan dan kata cinta, mungkin dia semakin jatuh ke dalam pelukanku."
...----------------...
Semenjak hari di mana Marchioness menjambak Luz sampai kulit kepalanya terluka, dua singa itu tidak pernah bertemu lagi. Marchioness sibuk dengan undangan-undangan pesta bersama dengan Athene, tapi Luz berbeda. Gadis itu justru sibuk melihat-lihat march —kota kekuasaan— Thompsville yang ramai dan menyenangkan.
Luz kali ini sendirian. Dia tidak ingin mengajak Rose untuk yang kedua kalinya setelah mengingat bagaimana perempuan itu terluka akibat perbuatan jahanam Athene. Luz juga tidak mengajak Ochonner, sebab setelah kejadian kemarin pria itu langsung kembali bertugas di Grand Duchy Brighton bahkan tanpa izin dari Marquis dan Marchioness Thompsville. Dia benar-benar marah pada kembarannya ini.
"Tidak, tidak ku izinkan!" Ochonner menggelepar seperti ikan yang terseret ombak ke pinggir pantai. "Odyssey, lepas atau kau tidak ku beri uang lagi!"
"Maka dari itu, aku ingin bekerja dan tidak meminta uang-uang mu lagi." Tanpa meminta izin, Luz mencecapkan spons pada bedak tabur yang dibawanya. "Diam dan lihat bagaimana dandanan ini bekerja."
Sebelum melakukan aksinya, Luz menengok ke samping dan melihat bagaimana Grand Duke sedang menahan tawa sampai wajahnya memerah. Bahunya bergetar, namun mulutnya tidak menghasilkan suara geli apapun.
"Jangan senang dulu, Grand duke. Setelah ini giliran mu yang akan ku hias, mengerti?"
Sontak Grand Duke berhenti tertawa lalu ia berdehem, "Tidak, satu orang saja cukup sebagai percobaan."
"Kalian benar-benar kejam!" Ochonner berusaha melepaskan tali yang mengikat tangan dan kakinya. Tapi terlambat, spons yang dibaluri bedak tiba-tiba mendarat tepat di pipinya. "AAAAAAAAA!!"
Luz melotot lalu memukul kepala adiknya. "Jangan berlebihan, aku terkejut!"
"Di hukum di penjara bawah tanah mungkin lebih baik daripada ini." Ochonner menggeliat kala Luz ingin memberikan gincu berwarna merah marun sampai mengenai dagunya. "Odyssey, berhenti!"
"Lady de Cera, sepertinya sudah cukup. Aku percaya padamu." Lama-kelamaan Grand Duke tidak tahan menonton aksi kelewat kriminal yang terjadi tepat di depan matanya saat ini. "Lepaskan Ochonner, kau sudah ku akui sebagai perias yang berkompeten."
Sepanjang perjalanan, Luz tidak berhenti mengingat hal lucu tersebut sampai bibirnya berkedut-kedut menahan gejolak tawa yang ingin menyembur keluar. Tapi tidak mungkin jika tertawa di sini sebab orang-orang akan mencap dirinya sebagai orang yang tidak waras.
"Ochonner akan menjadi cantik jika dia mau diajak kerjasama waktu itu," gumam Luz lalu kembali menahan tawa.
"Lihat, wanita itu sepertinya sudah gila setelah menggoda suami orang!"
Luz tidak merasa pernah menggoda suami siapa-siapa, jadi dia tetap berjalan masih dengan ekspresi yang sama.
"Jalang, aku berbicara denganmu!"
Tanpa basa-basi Marchioness Galilee menarik penutup kepala Luz hingga tampaklah warna surainya yang langka. Orang-orang langsung mengenalinya, sebab lady lain dalam manor house Thompsville tidak memiliki warna rambut yang serupa.
"Apa Lady de Cera masih mengejar mantan tunangannya? Kasihan Marchioness Galilee, dia pasti sakit hati!"
"Itulah akibatnya, Marchioness Galilee terlalu berani mengambil resiko dengan menikahi mantan tunangan orang lain. Sekarang lihat, tinggal tunggu Marquis Galilee berkhianat maka berakhirlah sudah hidupnya!"
Luz menatapnya dari atas ke bawah. Wanita yang tidak jauh seumuran dengannya, tengah hamil, dan Luz dengar dia adalah Marchioness Galilee, istri dari si mata keranjang.
"Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Kau perebut suamiku!" tuding Marchioness dengan napas terengah-engah. "Tak akan ku biarkan kau merusak rumah tanggaku dan Marquis Galilee. Jadi sebelum itu terjadi, langkahi dulu mayat ku!"
"Lain kali sebelum menyerang orang lain, tolong sertakan bukti." Luz merampas penutup kepalanya yang berada di tangan Marchioness Galilee.
"Kau yang mengundang Marquis Galilee ke manor house Thompsville, kan? Cepat katakan!"
Oh, Luz ingat. Itu hari yang sama di mana Luz melemparkan sepatunya tepat mengenai wajah Marquis Galilee.
"Berita dari mana itu. Apa kau percaya, wah, naif sekali." Luz tertawa geli. "Pada hari itu, aku hanya mengundang para bujangan ke manor house Thompsville untuk berkenalan. Tapi anehnya suamimu juga ikut serta padahal tidak ada undangan yang ditulis untuknya. Jika masih tidak percaya, silakan tanya gentleman lain yang datang pada hari itu."
Marchioness Galilee menggeram marah, mengepalkan tangan sampai jari-jarinya memutih.
"Lagipula, marah-marah tidak baik untukmu." Luz melenggang pergi tapi ia kembali berbalik disertai tatapan khawatir yang dibuat-buat. "Kasian bayi yang ada di dalam perutmu. Jika kau tidak bisa mengontrol emosi dengan baik, maka sikap buruk mu itu akan ikut menular padanya."
Skak mat!