Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
13. Bergegas



Ochonner berdiri di depan jendela sambil sesekali mengamati perubahan warna pada langit lembayung di atas sana. Sebentar lagi malam, pikirnya kacau. Tapi Luz belum juga keluar dari ruang ganti.


"Apa dia tidur, madam. Ini sudah lewat dari setengah jam," keluh Ochonner khawatir jika dirinya sampai tertinggal dari rombongan pesta karena kelambanan Odyssey.


"Setengah jam sebenarnya tidak cukup untuk membedah ulang pakaian yang sudah jadi, My Lord. Lady de Cera bisa saja memakan waktu dua sampai tiga jam," jawab Madam Larrson prihatin.


Ochonner mendesah pasrah. Mungkin sudah menjadi nasibnya, terkurung di toko pakaian dan melewatkan penghargaan pemberian istana dengan sia-sia.


Odyssey tidak berbakat sama sekali. Yang ada gaunnya hanya akan hancur sama seperti kejadian dua tahun yang lalu, saat Odyssey datang ke pesta Earl Of Avistasius sambil menangis dengan gaun yang robek di beberapa bagian. Begitulah kira-kira menurut Madam Larrson.


Tapi apa boleh buat, sayangnya Odyssey merupakan lady yang berasal dari bangsawan terhormat. Mana mungkin Madam Larrson berani melarang kehendaknya.


Ditengah kekhawatiran dua orang tersebut, siluet kepala Luz tiba-tiba keluar dari ruang ganti. "Siap menunggu kejutan dariku?"


"Odyssey, cepatlah. Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni kegilaanmu yang—"


Malas mendengar ocehan kembarannya, Luz segera keluar dari ruang ganti. Rahang Ochonner hampir jatuh tatkala melihat penampilan Odyssey yang terlihat jauh berbeda. Manik amethyst yang biasanya sering memandang sayu itu, kini berubah bak manik ungu tegas yang siap menantang siapapun yang berani mengganggu jalannya.


"Odyss...."


"Kenapa, apa aku terlalu cantik?" tanya Luz bangga sambil berputar-putar dengan gaun buatannya.


"Ini sangat-sangat luar biasa, My Lady. Bagaimana Anda bisa melakukannya?" Madam Larrson menatap gaun ungu miliknya berubah total menjadi suatu maha karya yang belum ada pada zamannya.


Awalnya gaun tersebut mirip seperti gaun putih lebar biasa dengan lengan panjang polos yang menutupi sampai pergelangan tangan. Untuk bagian rok, Madam Larrson memadukan pakaian serba putih tersebut dengan secarik kain ungu dari bagian pinggang sampai lutut. Sesederhana itu.


Tapi sekarang Luz menambahkan kain ungu yang dijahit rumbai di bagian dada membentuk style sabrina yang tepiannya dikerut rapi. Lengan gaun yang awalnya seperti kemeja dipotong hingga pundak dan sisa kain tersebut dijadikannya sebagai sarung tangan elegan. Ditambah aksen ungu dan beberapa permata yang cocok dengan mata amethyst-nya. Bagian rok dibuat lebih lebar sehingga cocok dipakai dengan crinoline* yang menandakan bahwa dirinya adalah lady bermartabat.


Oh, jangan lupakan korset. Walau membuat sebagian wanita merasa sesak nafas, benda yang melilit perut itu berhasil membuat tingkat percaya diri seorang wanita akan meningkat. Perfect.


"Dan coba lihat hiasan kepalamu, astaga. Lady de Cera, Anda sungguh-sungguh berbakat!"


Luz secara khusus menjahit beberapa potong kain menjadi bentuk-bentuk bunga dan menggabungkannya menjadi satu membentuk flower crown yang menghiasi rambutnya dengan apik. Flower crown tersebut mengelilingi rangkaian rambut kristalnya yang digelung rapi dengan poni yang dipotong asimetris untuk menambah nilai kecantikan.


"Ayo pergi, kita tidak punya banyak waktu," ucap Odyssey panik.


Ochonner mengerjap. Harusnya dia yang berkata seperti itu.


"Kita tidak membawa kereta, bagaimana caramu pergi ke pesta?"


"Kita ada kuda."


"Naik kuda dengan gaun lebar-mu ini?" beo Ochonner tak habis pikir. "Tidak-tidak, yang ada kau akan terjatuh, terluka, lalu menangis dan menyalahkanku seharian."


"Itu masa lalu, Chonner. Jangan diingat-ingat lagi!"


Mendengar ucapannya sendiri membuat Luz terdiam lalu memegang bibirnya. Itu ucapan refleks, tapi sekelebat ingatan bahwa Odyssey pernah bermain dengan Ochonner di pacuan kuda dan adegan dimana dirinya jatuh itu sungguh ada di benaknya. Mereka masih remaja, dan seingat Luz itu terjadi sekitar lima tahun yang lalu.


Dan adegan yang Ochonner sebutkan tadi juga ada dalam ingatan asingnya.


"Odyssey, apa kita jadi pergi atau kau ingin berdiri saja di sana sampai besok?"


"Seperti biasa, kirim tagihan sore ini ke mansion-ku saja, madam. Jangan sampai kau mengirimkannya ke manor house Thompsville," ujar pemuda itu sopan namun memperingatkan.


"Aku tahu," jawab Madam Larrson terkekeh kecil.


Madam Larrson adalah segelintir orang yang tahu bahwa Odyssey hanyalah anak yang tidak dianggap. Athene sering mengeluhkan tentang adik perempuannya didukung Ochonner yang diam-diam selalu membeli gaun untuk Odyssey menggunakan uangnya sendiri. Hal itu semakin memantapkan rumor yang sering Madam Larrson dengar dari pelanggannya yang datang sambil membawa gosip hangat.


Dan mungkin hal itu memang benar.


"Sampai jumpa, Madam Larrson. Aku suka kain-kainmu yang berkualitas." Luz melambaikan tangannya sambil berjalan keluar.


"Sampai jumpa. Omong-omong Anda berlebihan, My Lady. Kecantikan Anda malam ini merupakan hasil kerja keras Anda sendiri. Saya yakin malam ini orang-orang akan terpana dengan Anda."


Ochonner menunggu diluar saat dua orang wanita itu masih bercakap-cakap kemudian berdecak sebal, "Ayolah, Odyss!"


"Baik, tuan tidak sabaran," sindir Luz lalu mengaitkan kaki kanannya pada tanjakan kuda.


"Tunggu-tunggu ... kau tidak serius, kan. Maksudku kau tidak akan pergi ke pesta bersamaku dengan kuda ini, kan?" Ochonner melotot saat Luz berhasil menaiki kuda dengan posisi duduk menyamping.


"Kenapa, kau malu pergi ke pesta bersama kembaran-mu, Chonner?"


"Bukan masalah malu, kekhawatiranku ini terbentuk berdasarkan pengalamanmu yang payah saat menaiki kuda."


Sekali lagi Ochonner melihat langit yang hampir gelap. Ini tidak baik, acara akan segera dimulai.


"Lihat, kita tidak memiliki banyak waktu untuk menyiapkan kereta kuda. Seperti awal pertemuan kita, percaya saja padaku. Cukup duduk tenang di belakang dan aku pastikan kita tidak akan terlambat," ujar Luz lalu tersenyum penuh kemenangan.


"Jika kau terjatuh dan lain sebagainya jangan salahkan aku."


Luz mengangguk mantap.


Ochonner hanya bisa menghela napas. Dia menancapkan kakinya pada tumpuan lalu duduk tepat di belakang Luz.


"Mungkin kita harus mengebut. Jadi pegangan, ok?"


"Apa maksud—eh"


Ochonner hampir terhempas ke tanah andai dia tidak memiliki ketangkasan dan bergerak cepat. Luz membawa kuda putih kesayangannya dengan kecepatan tinggi. Bunyi sepatu kuda bergemelatuk saling bersahut-sahutan saat benda tersebut berbenturan dengan jalanan. Ketenangan tidak dapat Ochonner dapatkan lebih-lebih disaat Luz hampir saja menabrak orang di depan halaman istana.


Ochonner tercekat, Luz segera menarik kekangnya agar langkah kuda berhenti. Ia segera turun untuk melihat bagaimana kondisi pria yang hampir di-geprek si kaki kuda.


"Ya ampun, tuan. Apa ada yang terluka?"


"Tidak ada, Anda jangan khawatir." Pria itu mendongak. Surai kelabu miliknya tampak remang-remang saat tertimpa cahaya terang dari dalam istana. Dan dari matanya yang bergetar, Luz tahu bahwa pria ini sedikit terkejut dengan kejadian barusan.


Satu kata yang cocok untuknya. Dia tampan.


...****************...


*Kerangka gaun di Eropa yang berfungsi untuk menopang dan memberi bentuk pada gaun wanita.