
"Untuk anggaran atribut, sisanya ku serahkan padamu, Cornelius."
Bawahan Putra Mahkota itu mengangguk hormat lalu merapikan perkamen yang memenuhi meja kerja Evandre satu-persatu. Setelah dua jam, akhirnya pekerjaan mereka selesai.
Matahari sebentar lagi terbit. Terdengar cuitan burung-burung berlari riang di luar jendela. Setelah Cornelius keluar dari ruangannya, Evandre menghela napas lalu mengacak-acak rambutnya frustasi. Beberapa jam yang lalu Odyssey memutuskan hubungan dengannya, hal itulah yang membuatnya gelisah dan pikirannya yang semakin semrawut.
Nafsu sesaat menghancurkan beribu rencana, kira-kira begitulah menurut Evandre. Setelah kembali dari rumah bordil, dia tidak bisa memejamkan mata sampai Cornelius datang membawakan tugas hariannya saat dini hari.
Mungkin dengan bekerja, aku bisa mengalihkan pikiran dari Odyssey, pikirnya kacau.
Terlarut dalam lamunan, tiba-tiba Evandre tersentak kala pintu dibuka kasar dari arah luar. Dia lekas berdiri lalu menengok keluar, seorang pria berpakaian khas jendral dengan berbagai lencana di dadanya sedang berdiri di depan pintu.
"Astaga, sepupu. Kau mengagetkanku." Evandre mengelus dada lalu mempersilahkan sepupu dari pihak ayahnya itu masuk.
"Aku tidak ingin berbasa-basi, Evan." Alastair mengatakan dengan nada dingin, "Apa yang kau lakukan kemarin di rumah bordil?"
"Kau ... apa maksudmu?!"
"Jangan pura-pura tidak tahu." Alastair mendengus, "Apa yang terjadi andai aku mengatakan hal ini kepada His Majesty?"
"Kau tidak akan berani!"
"Aku akan melakukannya kali ini," jawab Alastair tak main-main. "Tapi sebelumnya aku perlu berterima kasih padamu."
"Berterima kasih atas apa?"
"Berkatmu, aku memiliki kesempatan untuk mendapatkan Crystal Lady," ucapnya lalu terkekeh, "Terima kasih karena kau bersedia membuka topeng aslimu di depannya."
"Brengsek!" Evandre menarik kerah Alastair, nafasnya memburu dengan mata melotot marah. "Jangan sekali-kali berani mendekati wanitaku!"
"Wanita-mu?" Alastair malah tertawa saat Evandre siap menghajarnya.
"Dia bukan wanita-mu lagi saat kau membuatnya hancur!" Alastair menggenggam kepalan tangan Evandre yang ingin mendarat di pipinya lalu dengan mudah memelintir lengan pria itu hingga Evandre menjerit kesakitan.
"Biar ku tegaskan sekali lagi. Sikapmu itu ... sangat tidak cocok untuk Crystal Lady." Alastair berucap pelan, namun sangat menohok bagi Evandre. "Jika kau benar-benar mencintainya, maka jauhi dia dan biarkan Crystal Lady hidup tenang tanpa bayang-bayang mu."
"Dia hanya mencintaiku, Grand Duke." Evandre tertawa sumbang, "Tidak akan ku biarkan dia bersama pria lain selain diriku!"
"Baiklah jika itu mau mu tapi kedepannya, aku tidak akan tinggal diam." Alastair melepaskan Evandre. "Aku kemari hanya untuk memperingatkan dirimu. Mulai saat ini, kau dan aku hanyalah rekan bersaing."
Evandre menyeringai, "Aku tahu kau juga memiliki perasaan padanya, Grand Duke."
Alastair pergi tanpa menoleh. Namun saat di ambang pintu, barulah ia menjawab, "Cinta?" Beonya sinis lalu mendengung geli, "Cinta hanya untuk orang-orang lemah."
Lalu ia pergi meninggalkan si empu ruangan yang masih terduduk di lantai berlapis karpet bulu.
"Sama sepertiku, dia menginginkan Crystal Lady agar kekuatannya di dunia politik semakin kuat," gumam Evandre beropini. "Tapi aku memiliki cinta untuk Crystal Lady. Grand Duke sialan itu tidak akan bisa melewati diriku."
Evandre memperhatikan daun pintu yang kembali tertutup, hatinya semakin kuat.
"Jika membunuhmu bisa membuat Crystal Lady bersamaku, maka apapun itu akan ku lakukan," ucap Evandre penuh ambisi.
Dalam politik kerajaan, tidak ada yang namanya memandang status seseorang. Baik itu saudara apalagi hanya sebatas sepupu, pembunuhan bisa saja terjadi jika orang tersebut dirasa cukup mengganggu seperti duri dalam daging.
Anggota keluarga kerajaan tidak ada yang bersih. Hidup mereka tidak akan pernah tenang sebelum incarannya sudah tewas.
Dan Evandre tidak akan segan melakukannya.
"Cornelius!"
Tak lama sosok yang dipanggil muncul di ambang pintu. "Ya, your highness?"
"Siapkan kereta kudaku," ucapnya dingin. "Kita pergi ke barat Thompsville."
"Barat Thompsville?" Cornelius pernah mendengar bahwa di tempat itu merupakan pusat pembuatan ramuan. "Anda kurang sehat sampai ingin membeli obat dari sana, Your Highness?"
Jika Grand Duke tidak bisa ditembus besi, maka racun adalah satu-satunya jalan untuknya menemui ajal.
Dan jika dia tidak bisa dibunuh secara langsung, maka Evandre akan melakukannya menggunakan tangan pelayan.
...----------------...
"Odyssey."
Wanita yang berdiri di depan jendela yang menghadap ke arah danau buatan itu menoleh. Mengetahui siapa yang memanggilnya, ia kembali menghadap ke depan sambil memegangi kepala.
Uh, sepertinya dia mabuk berat sampai-sampai merasa sepusing ini.
"Bukankah aku sudah mengatakan dari awal, jangan pulang malam-malam?" sembur Ochonner kesal ditambah respons Luz yang mengabaikannya. "Jika bukan Grand Duke yang menjaga dan mengantarkan dirimu tadi malam, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu di luar sana!"
"Ssh, jangan marah-marah. Kepalaku semakin sakit saat mendengar cicitan mu itu," jawab Luz masih memegangi kepalanya.
"Anak ini benar-benar." Ochonner gatal ingin memukul Odyssey hingga gadis itu jera. "Omong-omong kenapa kau sakit kepala?"
"B-bukan apa-apa." Luz melepaskan tangannya yang sempat memijit pelipisnya pelan.
Apa Ochonner tidak tahu kelakuannya tadi malam. Tapi ... bagaimana bisa Grand Duke merahasiakannya?
Luz memekik begitu Ochonner tiba-tiba mendekat. "Apa yang kau lakukan?!"
"Bau alkohol. Odyss, apa kemarin kau mabuk?!"
Luz meringis, "Hanya sedikit."
"Siapa yang mengizinkanmu mabuk?!"
"Itu keinginanku."
"Mabuk tanpa izin dariku?!"
"Ochonner, aku sudah dewasa. Maksudmu aku perlu izin atas segala tindakanku, begitu?"
"Di Brighton, aku walimu."
"Aku tidak membutuhkan wali." Luz sebenarnya malas berdebat namun karena Ochonner yang memancing, emosinya seketika melambung. "Aku sudah menjadi wanita dewasa, bukan lagi anak kecil yang kau jaga sejak belasan tahun silam."
"Baik, terserah apa mau mu. Jika terjadi sesuatu, jangan panggil aku lagi."
Setelah mengucapkan hal itu, Ochonner berbalik lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Dalam sejarah hidup keduanya, ini adalah pertengkaran pertama mereka.
Luz tidak merasa bersalah. Wanita itu justru mendengus dan kembali pada kegiatannya, yaitu memperhatikan tukang kebun yang sibuk merapikan taman belakang. Tangannya begitu telaten, jujur Luz menginginkan pekerjaan yang seperti itu dibandingkan harus berkutat dengan tugas harian.
"Crystal Lady, ada surat yang dikirimkan untuk Anda."
Seorang pelayan yang berusia tidak begitu jauh dari Luz mendekat. Membawakan sebuah kotak dari bludru merah yang tiba-tiba membuat firasat Luz memburuk.
"Dari siapa?"
"Dari istana. Langsung dari Her Majesty, My Lady."
Firasat buruknya benar. Surat ini ... berasal dari Ratu. Setelah membuka dan membaca isinya, Luz menyimpulkan bahwa ratu ingin mengajaknya untuk bergabung dalam acara afternoon tea.
Kenapa harus sekarang. Kenapa ratu baru bersikap seolah mendekati dirinya setelah hubungan Luz dengan Putra Mahkota sudah putus?
Luz tidak ingin berburuk sangka, tapi Ibu dan anak yang satu ini cukup mencurigakan.