
Beberapa jam yang lalu
Setelah sampai di dalam kamarnya, Luz mondar-mandir resah sambil sesekali menatap kesal ke arah kantong yang berisikan lima koin perak yang teronggok di atas kasur. Sudah beberapa kali desahan kasar keluar dari mulutnya, tapi kali ini Luz yakin ia tidak akan kehabisan akal.
Beruntungnya suatu keajaiban datang. Saat kereta yang membawa Marquis dan keluarganya pergi, seseorang justru datang dan masuk begitu saja ke dalam manor house Thompsville dengan pakaian rapi. Tidak tampak seperti peminta-minta apalagi maling.
Luz tidak ingin menyapanya sebelum tahu siapa orang itu dan apa kedudukannya di keluarga de Cera. Tapi setelah mendengar kepala pelayan memanggilnya dengan sebutan My Lord, Luz yakin bahwa orang itu adalah saudara kembar Oddysey, Ochonner. Sama seperti yang tercantum di dalam buku silsilah keluarga de Cera.
"Apa ayah dan ibu sudah pergi?"
"Sudah, My Lord, seperti biasa hanya tersisa Lady de Cera yang masih berada di kamarnya."
"Baiklah. Tolong buatkan teh untukku."
Cih, dia kemari pasti untuk mengunjungi keluarganya sebelum pesta di istana berlangsung. Semua anggota keluarga kecuali Odyssey tentu saja. Luz sudah tahu bahwa Odyssey benar-benar tidak penting di mata siapapun.
"Bukankah kau sakit, lalu kenapa berdiri di sini?"
Luz mengerjap. Dia baru menyadari bahwa Ochonner sudah berdiri di ambang pintu dengan tatapan penuh selidik ke arahnya. Ok, Luz pasti ketahuan sudah menguping barusan.
"Aku sehat, saudaraku."
Ochonner mengernyit. Mungkin itu bukan panggilan yang biasa Odyssey katakan padanya.
"Maksudku ... kembaranku."
Lipatan di dahi Ochonner semakin dalam. Apa panggilan yang Luz sebutkan semakin aneh?
"Aku sehat .... sayangku?" ucap Luz pelan dan Ochonner semakin menatapnya syok.
Luz tidak bermaksud apa-apa, dia hanya ingin menyesuaikan sikap seperti Odyssey lama tapi sayangnya, tidak ada satupun memori Odyssey yang melekat di otaknya. Seseorang, tolong telan saja Luz sampai ke dasar laut. Dia sangat malu mengatakan panggilan barusan.
Inilah akibat tidak memiliki saudara di masa lalu. Ketika punya, Luz malah terkena tremor.
Syarat dan ketentuan berlaku. Wanita busuk seperti Athene tidak termasuk saudaranya.
"Sepertinya kau masih sakit. Lebih baik kembali ke kamarmu," ujar Ochonner setelah sembuh dari keterkejutannya tapi masih dengan nada canggung.
"Aku benar-benar sehat, sungguh. Sekarang aku sedang bingung."
"Apa yang membuatmu bingung?"
"Aku membutuhkan sepotong gaun dan riasan untuk pergi ke pesta tapi aku tidak memiliki uangku sendiri."
Manik amethyst Luz tiba-tiba bersinar. Aha, dia punya ide.
"Bukankah kau benci pesta, sejak kapan kau ingin pergi. Dan riasan atau apalah itu—gaun bagaimana kau menyukai semuanya?" Ochonner heran, ia merasa dihadapkan dengan Odyssey yang memiliki sosok berbeda.
"Kita tidak memiliki banyak waktu untuk ngobrol, Chonner. Jika kau memiliki uang tolong pinjami aku beberapa!"
"Berapa yang kau perlukan?"
"Itu...." Luz kebingungan. Boro-boro mengetahui harga gaun, mengetahui bentuk yang sesuai saja dia masih ragu. "Kita pergi bersama-sama saja, bagaimana?"
Ochonner terbelalak, "Kau gila? Aku pulang sebentar hanya untuk memastikan keadaanmu baik-baik saja dan akan kembali lagi ke mansion Grand Duke Brighton sebelum acara dimulai. Mana sempat pergi ke toko Madam Larrson!"
"Oh, manis sekali. Apa kau mengkhawatirkan ku, bro? Tapi permintaanku ini termasuk kekhawatiran terbesarku, tolonglah sekali ini saja!" pinta Luz sungguh-sungguh. Dia memiliki sebuah rencana di pesta dan jika ini tidak berhasil, maka harapannya untuk merebut gelar Crystal Lady akan gagal.
Mau tahu apa rencananya? Yap, merebut perhatian raja dan ratu. Katakan saja jika Luz nekat, tapi dia benar-benar ambisius untuk memiliki gelar kehormatan tersebut.
"Sepertinya kau memang benar-benar amnesia. Namaku Ochonner, bukan bro. Cepatlah bersiap-siap, aku akan meminta kepala pelayan untuk menyiapkan kereta untukmu," ucap Ochonner final sambil bergeleng-geleng kepala akibat panggilan aneh yang Luz sematkan.
"Apa pakaianku kurang bagus untuk dibawa keluar, ini lebih dari cukup. Lagipula tidak perlu kereta, sangat membuang-buang waktu lebih baik kita naik kuda. Omong-omong ku lihat kuda milikmu lumayan besar."
Luz menatapnya penuh harap. Tidak sia-sia Luz belajar sekolah berkuda di US beberapa tahun yang lalu. Di dunia barunya, kebisaan yang satu ini sangat berguna.
"Jangan pura-pura hebat di depanku, Lady de Cera. Jika kau berkuda, bukannya sampai ke toko Madam Larrson kita hanya akan kembali dengan babak belur!" sembur Ochonner kesal lalu berbalik menuju pintu keluar.
Luz ingin tergelak namun sekuat tenaga tawa yang hampir pecah itu ditahannya agar Ochonner tidak merajuk semakin jauh.
"Aku serius, Chonner." Luz mengimbangi langkah Ochonner yang lebar-lebar. "Begini saja. Jika aku gagal mengendarai kudamu, kau tidak perlu mengeluarkan uang untuk biaya gaun dan riasanku. Tapi jika aku berhasil, semua total belanja sore ini menjadi tanggunganmu, bagaimana?"
Dalam beberapa menit, Ochonner merasa berhadapan dengan Odyssey yang baru.
"Baik."
Ochonner menyanggupinya. Bukan berarti ia ingin menghemat uang jika Odyssey gagal, tapi Ochonner ingin melihat sejauh mana kembarannya berubah. Beberapa bulan mereka terpisah, siapa tahu Odyssey benar-benar berbeda dari yang terakhir diingatnya.
"Ayolah, Chonner. Jangan membuang waktuku."
Ochonner berbalik dan ia lagi-lagi terkejut saat melihat Luz sudah duduk santai di atas kuda putihnya.
"Bagaimana bisa...." gumam Ochonner linglung.
"Mau ku bantu?" Luz mengulurkan tangannya yang disambut Ochonner dengan wajah masam.
Terbalik. Harusnya Ochonner yang melakukannya, bukan Odyssey!
Ochonner naik ke atas kuda yang sama dengan kembarannya itu lalu duduk di bagian belakang. Sudah tampak seperti suami istri saja jika orang tidak melihat kemiripan di antara mereka. Merasa saudaranya sudah duduk nyaman, Odyssey tanpa aba-aba menghempaskan kekang kuda tersebut dengan semangat.
"Jika kau tidak tahu, Odys. Malam ini kerajaan akan memberikan penghargaan kepada kami selaku pemimpin pasukan di medan perang. Tolong jangan liar, aku tidak ingin mati sebelum menerima penghargaan itu," ucap Ochonner ragu dengan mata tertutup. Bukannya takut, hanya saja rambut putih Luz yang berkibar-kibar layaknya bendera itu dengan kejamnya menusuk mata Ochonner jauh lebih ganas melebihi butiran pasir di gurun.
"Iya-iya, aku tahu. Lebih baik kau diam dan katakan selamat tinggal pada uang-uang mu yang akan kuhabiskan."
Diam-diam Ochonner merasa kagum dengan saudarinya. Luz tahu cara mengemudikan kuda dengan benar bahkan tidak sekalipun terlihat kuda putih kesayangannya merasa tidak nyaman saat Luz menyentak kekang kuda. Setelah beberapa kali salah jalan akibat Ochonner yang lupa arah, akhirnya mereka tiba di depan toko Madam Larrson yang sebentar lagi akan tutup.
"Itu salahmu, kenapa berkendara terlalu cepat."
"Adik tersayang, jelas-jelas itu salahmu karena memberikan petunjuk jalan yang salah sampai kita tersesat beberapa kali. Sekarang lihat, waktu kita habis untuk di jalan karena siapa?"
Ochonner menatap kakaknya kesal.
Luz menaikkan alisnya, menantang balik. "Apa, mau melawan?"
"Cepat pilih gaunnya lalu pulang." Ochonner masuk ke toko Madam Larrson disusul Luz yang mengekorinya dengan senang hati.
"Selamat sore, Madam Larrson," sapa Ochonner pada seorang wanita yang terlihat masih cantik di usianya yang tidak lagi muda.
Wanita yang berdiri di depan sebuah manekin itu menoleh ke arah pintu, lalu senyumnya semakin mengembang setelah tahu siapa yang mengunjungi tokonya. "Oh, rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali Anda kemari. Suatu kejutan melihat Anda berada di toko saya, My Lord. Ini sudah sore, bukankah nanti malam kerajaan akan mengadakan pesta untuk seluruh pasukan Grand Duke termasuk Anda?"
Ochonner melirik sombong ke arah Luz. "Tentu saja. Padahal aku jenderal pasukan berkuda, tapi aku dipaksa seseorang untuk mengantarnya kemari."
"Eh, siapa dia. Sepupu Anda?" tanya Madam Larrson setelah melihat Luz keluar di balik punggung Ochonner.
"Ini Lady de Cera, madam. Apa kau lupa?"
"Lady de Cera?" Madam Larrson tampak terkejut. "Saya rasa lady tampak sangat berbeda dari yang terakhir saya ingat. Ah, lupakan saja saya memang sering pelupa akhir-akhir ini."
"Aku membutuhkan gaun yang cantik, madam. Apakah masih ada?" tanya Luz sambil menyapukan pandangannya ke seisi toko yang hampir kosong melompong.
Madam Larrson membawa Luz masuk lebih jauh ke dalam tokonya.
"Sayang sekali, Anda datang terlambat. Sejak seminggu yang lalu ladies mulai berburu dan memborong banyak gaun untuk persiapan pesta nanti malam. Entah mengapa alasan mereka membeli gaun sebanyak itu sama, mereka ingin memikat hati Grand Duke dan calon pewaris Marquis Thompsville di pesta."
Luz menyenggol lengan kembarannya lalu terkikik geli sedangkan yang disenggol hanya mendengus kesal. Walau menyebalkan dan sedikit pemarah, ternyata Ochonner banyak diminati oleh para wanita, pikir Luz heran.
Apa yang mereka lihat dari Ochonner?
Setelah puas mengejek si bungsu de Cera, mereka menghampiri sebuah gaun sederhana berwarna putih dipadukan ungu yang diletakkan di pojok seperti barang tak terpakai.
"Hanya tersisa ini, milady. Seluruh gaun di tokoku sudah habis."
Gaun yang tersisa sangat sederhana. Tidak ada aksen apapun yang membuat penampilan menonjol dan tidak ada ciri khasnya sama sekali. Gaun ini lebih terlihat seperti ... gaun yang dibuat tanpa desain. Acak-acakan.
"Kau masih memiliki gunting, benang, dan beberapa potong kain juga manik?"
"Ya, ada," jawab Madam Larrson ragu. "Tapi untuk apa?"
Luz tersenyum miring.
Saatnya menunjukkan bakat terpendamnya!