
Suasana makan malam berlangsung sepi. Tidak ada satupun bunyi dentingan sendok yang beradu dengan piring atau pisau seperti di restoran pada umumnya. Semua anggota keluarga de Cera terlatih padahal hanya untuk makan. Luz mencoba mengikuti gaya mereka yang sangat aesthetic itu, namun beberapa kali gagal sampai yang paling parah dirinya tidak sengaja menyenggol sloki hingga pecah berkeping-keping di atas lantai.
Marquis Thompsville ada di sana namun ia tidak berbuat banyak. Pria tua itu hanya menggelengkan kepalanya dengan ekspresi datar atau sesekali mengernyit kesal. Sedikit banyak merasa terganggu dengan cara Luz menghadapi piring makannya.
Dosa terbesarku adalah membiarkan Odyssey makan bersama di saat ada tamu yang berkunjung, pikir Marquis Thompsville marah.
Setelah makan malam selesai, piring-piring dengan cepat kembali dibersihkan para pelayan hingga keadaan meja kembali kosong seperti sedia kala. Tidak lama kemudian mereka kembali menyuguhkan makanan penutup yang membuat Luz tergiur ingin mencoba semuanya.
"Sejak kapan kau bangun?"
Pertanyaan pertama diluncurkan oleh Marquis sambil memotong puding susunya dengan anggun.
Tapi dari pertanyaan tersebut, Luz rasa itu hanyalah basa-basi agar Marquis terlihat mengasihi semua anak-anaknya. Munafik.
"Tadi pagi. Tidak perlu khawatir, aku tidak tersinggung karena kalian tidak menjengukku sama sekali jadi simpan saja ucapan maaf kalian," balas Luz santai.
Athene hampir saja tersedak dan Marchioness melotot tajam. Ha, jangan salah Luz sudah tahu kemana arah pembicaraan yang Marquis inginkan mengingat sekarang ada tamu dari luar manor house yang ikut duduk makan malam bersama mereka. Dia ingin melindungi citranya sebagai bangsawan tinggi, tapi jangan mengira gadis putih ini akan diam saja. Ini kesempatan Luz untuk membuktikan bahwa dirinya bukanlah orang lemah dan penurut yang hanya bisa tertunduk malu saat dihina.
"Apa yang kau bicarakan, nak. Aku tentu saja merasa bersalah karena tidak menjenguk mu tepat waktu. Lain kali kita harus menghabiskan waktu berdua, hm. Bagaimana?"
Diam-diam Luz tersenyum miring. Marquis Thompsville ternyata sangat suka bermain drama. Jika di kehidupan dulunya, pria seperti Marquis ini lebih cocok menjadi pemain sinetron ketimbang bangsawan.
"Tentu saja aku setuju asalkan ayah juga setuju untuk berhenti membanding-bandingkan aku dengan Kak Athene atau nona bangsawan lain lagi."
Di ujung meja Marquis berdehem canggung namun Marchioness yang Agung segera mengambil tindakan untuk melindungi suaminya.
"Baron Lanscouth, ada sesuatu yang istimewa untuk Anda. Cobalah kudapan yang kami berikan hari ini. Omong-omong kudapan kali ini tentu lebih spesial dibanding kudapan lainnya karena menggunakan bahan baku yang sangat berkualitas." Ia tersenyum pongah.
"Kualitas madunya memang berbeda, keluarga marquis memang hebat dalam memilih bahan makanan," puji Baron Lanscouth sambil menikmati pancake madu.
"Madu itu dibeli oleh Lady Athene kami. Dia memang berbakat dalam memilih yang terbaik!" Marchioness menatap Athene dengan bangga. Athene adalah permata kecilnya yang paling berharga.
"Benarkah?" Baron Lanscouth kagum lalu menoleh ke arah putri kedua Marquis Thompsville. Dia mencoba berinteraksi dengan seluruh anggota keluarga de Cera yang tersohor tanpa ada niat merendahkan siapapun. "Lalu bagaimana dengan Lady Odyssey?"
"Dia sulit belajar dan agak lamban. Tidak masalah, Lady Odyssey masih dalam tahap belajar," jawab Marchioness prihatin.
Setelah menjelek-jelekkan dirinya sampai ke dasar jurang, si penyihir ini pura-pura membesarkan hati putrinya lagi? Menjijikkan.
Athene melirik sinis pada Odyssey dan membusungkan dadanya dengan bangga. Putri pertama de Cera adalah wanita paling ideal sebagai calon menantu terbaik, setidaknya itulah pikiran orang-orang saat mendengar namanya.
Baron Lanscouth memiliki seorang putra, Clairon. Tapi Athene sama sekali tidak tertarik. Dibandingkan bangsawan bujangan lainnya, putra Baron Lanscouth sebenarnya memiliki visual yang termasuk luar biasa. Rambutnya abu-abu dan juga memiliki rahang yang tegas. Tapi Athene tidak ingin derajatnya turun drastis menjadi Baroness jika nantinya ia sampai menikah dengan putra Baron yang tampan. Mungkin jika Athene sudah menikah, dia bisa menjadikan putra Baron Lanscouth itu sebagai selingkuhannya.
Standarnya paling tidak memiliki suami bergelar marquis yang setara dengan ayahnya atau yang lebih baik lagi; duke.
Menikah dengan Grand Duke of Brighton sama dengan surga. Titik.
"Aku tidaklah lamban, bu. Ibu saja yang tidak tahu bagaimana perkembangan ku karena selalu sibuk dengan segala urusan Kak Athene. Beri aku waktu satu bulan, kalian akan tahu sejauh mana aku bisa melangkah," ujar Luz menantang.
"Jangan pura-pura hebat, bodoh, sejauh apapun kau berusaha, kau tidak ada apa-apanya dibandingkan diriku!" sahut Athene marah. Sejak tadi siang kemarahannya sudah terpendam dan sekarang semuanya meledak.
Tapi ini waktu yang salah untuk menyemburkan kemarahan. Secara tidak langsung Athene menghancurkan citranya sebagai lady teristimewa sebab Baron Lanscouth kini menatapnya terkejut seolah tak menyangka bahwa lady paling fenomenal bisa membentak adiknya yang masih belajar. Sungguh di luar dugaan. Awalnya Baron Lanscouth sempat menaruh perhatian besar terhadap Athene agar bisa menjadi menantunya tapi ... Baron cepat-cepat menelan keinginannya tersebut.
Wanita angkuh dan ingin menang sendiri, bagaimana jika dia sudah menjadi nyonya besar nanti? Mungkin kediaman Baron akan dikuasainya dalam sekejap.
"Sepertinya acara makan malam kita sudah selesai, bagaimana jika kita membicarakan tentang tanah perkebunan bagian barat di ruang kerjaku, Baron Lanscouth?" ajak Marquis Thompsville cepat.
"Oh, benar aku sampai melupakan maksudku datang kemari," ucap Baron Lanscouth lalu terkekeh.
"Mari," ajak Marquis Thompsville bangkit dari tempat duduknya lebih dulu dan barulah Baron Lanscouth mengikutinya dari belakang.
"Datang ke ruangan ku, Odyssey. Aku perlu bicara denganmu," ucap Selene de Cera yang lebih dikenal dengan Marchioness Of Thompsville segera setelah Baron Lanscouth pergi dari ruang makan.
Athene tersenyum penuh kemenangan. Siapa suruh Odyssey berani melawan dirinya. Lihat, sekarang Marchioness sendiri yang turun tangan atas perbuatannya yang tidak sopan dan kemungkinan besar ia akan dihukum.
"Ya, aku akan ke sana tapi nanti setelah aku memastikan beberapa hal di kamarku sudah berada di tempatnya atau belum." Luz berdiri dan melangkah ringan menuju pintu keluar.
"Apa maksudmu riasan-riasan yang kau pinta itu?"
Langkah Luz terhenti lalu ia berbalik, "Tepat sekali. Aku memerlukan bedak atau gincu juga tidak masalah. Eh, tapi tolong jangan samakan milikku dengan warna gincu milik Kak Athene, terlalu merah seperti vampir pemakan darah saja."
"Odys!"
"Bercanda. slow, jangan terlalu serius, kak. Nanti wajahmu cepat keriput jika berteriak setiap saat," jawab Luz menahan tawa.
Marchioness segera mengangkat tangannya agar Athene tetap tenang. Ekspresi wanita itu tidak berubah ataupun terusik, ia kembali berkata, "Datang saja ke ruangan ku. Kita juga akan membahas mengenai riasan-riasan yang kau inginkan itu."
"Ibu," panggil Athene lirih. Ia tidak terima jika Odyssey bisa memiliki barang yang sama dengan dirinya.
"Baik, sebentar lagi aku akan ke sana," jawab Luz santai lalu melanjutkan langkahnya pergi dari ruangan tersebut.
"Perhatikan sikapmu, Athene, jangan mudah marah atas ucapannya. Adikmu bersikap aneh, itulah sebabnya ibu mengundangnya ke ruangan ibu untuk memastikan apa yang membuatnya seperti ini." Marchioness masih menatap pintu yang dilewati Luz saat keluar tadi.
"Apa ibu akan menghukumnya? Dia sudah mempermalukan keluarga kita di hadapan Baron Lanscouth!"
"Mungkin," jawab Marchioness singkat dan ambigu. "Malah ibu akan memberikannya hukuman yang tidak akan Odyssey lupakan seumur hidupnya."