
Mereka tiba di istana saat matahari hampir terbenam. Semburat jingga menghiasi sebagian langit, begitu kontras dengan apa yang berada di atas bumi. Semua orang serempak memakai pakaian serba hitam, dupa di nyalakan tanpa henti sejak berita kematian sang raja tersebar luas. Di depan peti tempat peristirahatan terakhir sang raja, ratu tengah berlutut sambil menangis pilu bersama tujuh orang dayang-dayangnya. Evandre berdiri tak jauh di sana, memperhatikan keadaan sekitar sambil memasang ekspresi duka.
Sejauh ini tidak ada yang berani menyinggungnya. Evandre mengira dirinya akan aman.
"Lepaskan aku! Aku hanya ingin melihatnya untuk yang terakhir kali, apa hak kalian untuk melarang ku seperti ini?!"
Evandre mengarahkan tatapannya. Di ambang pintu, ia melihat Lady Clausie berusaha memberontak terhadap dua orang pengawal yang berusaha menyeretnya menjauh dari ruang duka. Kecantikan wanita itu seolah ditiup angin. Dengan rambut acak-acakan, pakaian bekas kemarin, dan mata yang membengkak. Jika tidak mendengar suaranya yang khas —karena sang selir berasal dari penyanyi kerajaan, orang-orang tidak akan percaya bahwa wanita kesayangan raja itu sudah berubah sedemikian rupa dalam waktu semalam.
"Evandre ... singkirkan wanita iblis itu dari hadapanku," ucap Ratu Monetta lirih.
Evandre mengangguk mantap. Tanpa pikir panjang ia melangkahkan kaki keluar dari ruang duka. Lady Clausie menyadari kehadirannya dan mereka saling melempar tatap.
"Bajingan, aku tahu kau pelakunya!" jerit Lady Clausie melotot murka. "Hei, anak durhaka. Apa kau mengira dengan menuduhku maka kejahatanmu akan tersimpan, begitu?"
Lady Clausie tertawa terbahak. "Tidak, tidak. Aku bersumpah atas nama Yang Mulia raja, kau akan mendapatkan balasan berkali-kali lipat lebih mengerikan dari yang kau lakukan sekarang. Ingat itu, Evandre!"
Jantung Evandre berdentum keras. Wajahnya berubah kaku, namun mulutnya kelu untuk membalas ucapan sang selir.
"Jebloskan wanita gila ini ke dalam penjara. Potong lidahnya yang berani memberikan tuduhan palsu terhadap diriku. Dan aku berubah pikiran, saat matahari terbenam kita akan memenggal lehernya."
"Baik, putra mahkota!"
Alastair memperhatikan kejadian itu dengan tatapan datar. Dari samping, ia mengeratkan pelukannya pada bahu Luz hingga wanita itu menoleh ke arahnya.
Rasanya tidak adil jika Lady Clausie yang tidak tahu apa-apa harus menanggung dosa besar Evandre sendirian.
Tetapi Alastair tidak bisa berbuat apa-apa. Dirinya tidak memiliki bukti yang cukup kuat. Salah-salah tudingan bisa merembet kepadanya karena berani membela pembunuh sang raja.
"Hidup Lady Clausie berakhir malang." Luz menyapukan pandangan, ia tak mendapati satu orang pun yang bersimpati kepada selir raja tersebut. "Bagaimana bisa Putra Mahkota melakukan ini semua demi menyelamatkan namanya?"
"Pria itu keras kepala," desis Alastair sambil melirik Evandre yang berdiri di seberang sana. "Dan sialnya lagi sifat keras kepalanya itu bersatu dengan sikap sembrono dan tidak mau introspeksi diri. Dalam genggamannya aku tidak yakin Sormenia berumur panjang."
"Aku akan berbicara padanya."
Alastair menatap tajam. "Untuk apa?"
"Aku menginginkan keadilan untuk Lady Clausie." Luz balas tatap. "Nyawa manusia tidak semudah itu untuk dihilangkan, apalagi Lady Clausie tidak bersalah."
Rahang Alastair mengeras, "Tapi aku tidak suka melihatmu berdekatan dengannya."
"Hanya sekali, Alastair. Ku mohon izinkan aku," rengek Luz pelan namun berhasil membuat Grand Duke menghela napas. Lalu mengangguk lemah.
"Jika aku terus menatapmu, maka kau harus segera kembali. Mengerti?"
Luz mengangguk senang. "Ya, serahkan saja padaku."
Alastair tersenyum tipis. "Aku percaya padamu."
Dengan berat hati Alastair melepaskan dekapannya pada Luz hingga wanita itu berjalan menjauh bersatu dalam kerumunan. Alastair mengambil tempat duduk, memperhatikan interaksi dua orang itu dari jauh.
Merasa ada seseorang yang mendekat, refleks Evandre menoleh ke samping. Bibirnya tersungging lebar saat tahu siapa yang menghampirinya. Pria itu merentangkan kedua tangannya untuk memberi sebuah pelukan. Melihat hal tersebut, langkah Luz terhenti. Membentangkan jarak yang cukup jauh untuk saling berbicara.
"Crystal Lady, lama tidak berjumpa," sapanya tanpa mempedulikan respon Luz barusan. Matanya masih sama cerahnya seolah tidak ada kesedihan sama sekali.
"Saya turut berduka, putra mahkota. Semoga raja akan hidup abadi selamanya di surga."
Evandre mengangguk lemah, kembali kepada kepura-puraan lalu berjalan mendekat. "Sampai kapanpun His Majesty akan selalu hidup. Tidak di sini, tapi di hati rakyat Sormenia."
Cih, pencitraan. Dasar pembunuh!
"Orang yang membunuh Yang Mulia tidak akan pernah tenang selama sisa hidupnya," gumam Luz sungguh-sungguh. Evandre mendengarnya dengan jelas dan hal itu mampu membuatnya meneguk saliva susah payah.
Luz mengerjap, "Ada apa, Your Highness. Kenapa wajah anda menjadi kaku?"
Luz sengaja melakukannya. Sekadar untuk mengetes kejujuran putra mahkota.
"Apakah sudah ada bukti bahwa Lady Clausie lah yang melakukannya?"
"Belum, tapi akan." Evandre mengusap wajahnya, lelah. "Kamar tidurnya dan His Majesty sedang dalam proses penggeledahan. Aku yakin Cornelius dan para pasukannya akan mendapatkan barang bukti yang bisa menjadi titik terang dari permasalahan ini."
"Saya harap begitu." Luz menatap ke bawah. "Tapi ... Your Highness. Bolehkah saya meminta satu permintaan kepadamu?"
"Tentu, katakan saja."
"Hukuman mati Lady Clausie. Bisakah saya meminta keringanan untuknya?"
Evandre tampak menimbang-nimbang. "Keringanan seperti apa yang kau maksud?"
"Saya dengar belum ada bukti jelas yang mengarah kepada Lady Clausie. Jika boleh, saya meminta Yang Mulia Putra Mahkota calon Raja Sormenia ini bisa menunda hukumannya sampai ada bukti yang kuat." Luz memberikan tatapan penuh harap. "Saya tahu, Anda adalah orang yang bijaksana dan dicintai rakyat. Tidak akan sulit untuk mengabulkan permintaan wanita lemah ini, kan?"
Setahu Luz, orang-orang yang memiliki kepribadian keras kepala dengan tempramen buruk akan luluh pada pujian. Luz melakukannya walau ia harus berbohong.
Bijaksana? Dicintai rakyat? Ha, itu semua hanya omong kosong!
Evandre memutar otak. Jika tujuan Odyssey memohon kepadanya agar gagal membunuh Lady Clausie, maka permintaan itu sama sekali tidak berguna. Evandre sudah memberi bukti di kamar tidur raja untuk menyudutkan Lady Clausie. Ia membubuhi racun di dalam arak. Dengan hal itu, sudah cukup bukti yang memperbolehkan Evandre untuk menyeretnya ke tiang gantung.
Lagipula, mengabulkan permohonan Odyssey mungkin saja membuka peluang agar wanita itu bisa kembali ke pangkuannya.
"Baiklah, berkatmu aku berubah pikiran. Lady Clausie tidak akan dihukum apapun sebelum bukti ditemukan."
Dari jauh, Alastair diam-diam masih memperhatikan wanitanya itu. Setiap kali ada bangsawan yang menegurnya, ia hanya membalas dendam anggukan kecil.
Lelah berbicang, Alastair undur diri dan memutuskan duduk lebih dekat dari Luz yang terlihat masih bernegosiasi. Tempat yang ia pilih cukup terisolir dari orang-orang. Tapi tak lama, seseorang yang ia kenal sebagai tangan kanan putra mahkota diam-diam datang menghampiri.
"Your Grace."
Alastair berusaha menebak-nebak apa penyebab Cornelius menghampirinya sementara di seberang sana tuannya terlihat sama sekali tidak sibuk.
"Cornelius, ada apa?"
"Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan terkait kejadian akhir-akhir ini," ujarnya serius. "Tapi saya tidak bisa melakukannya di sini karena masih banyak orang dan dinding istana tidak pernah tuli. Bagaimana jika kita bertemu di luar?"
Alastair mengerti. Cornelius pasti ingin menyampaikan informasi perihal kematian raja.
Tapi tak semudah itu Alastair mempercayai pria di depannya. Maka dari itu, ia akan mengetes Cornelius. Tentang apa yang pria ini inginkan dan kepada siapa dia berpihak.
"Tentu saja. Toko milik Crystal Lady jam tiga pagi."
Cornelius terdiam, lalu menggeleng. "Maafkan saya, Your Grace. Tapi di jam itu Putra Mahkota masih bangun. Saya tidak bisa pergi."
"Masih bangun? Wah, aku tidak menyangka dia pria yang suka bekerja keras."
"Tidak seperti yang Anda pikirkan. His Highness biasanya akan pergi ke rumah bordil di beberapa malam sampai pagi. Di saat itu, saya harus tetap berjaga di sana."
Alastair diam-diam menyeringai. Memberikan informasi rahasia mengenai putra mahkota secara cuma-cuma. Ah, ternyata satu abdi Evandre sudah berbalik arah. Bagus sekali.
Bagaimana tidak dikatakan rahasia. Jika anggota keluarga kerajaan pergi dari istana, hanya ada dua cara agar bisa memastikan mereka senantiasa tetap aman.
Yang pertama, biasanya akan selalu ada pengawalan ketat dari prajurit.
Atau yang kedua, pergi sembunyi-sembunyi yang mana kepergian anggota keluarga kerajaan itu hanya boleh diketahui oleh orang terdekatnya.
Dan kepergian Evandre setiap malam termasuk dalam kategori nomor dua. Tapi Cornelius memberitahukannya dengan enteng kepada Alastair, seolah pria ini sudah kehilangan kepercayaan kepada tuannya.
"Baiklah, kalau begitu kapanpun kau bisa datang, aku akan menunggu di toko Crystal Lady."
Dan Alastair tidak sabar. Berita apa yang akan Cornelius katakan padanya sampai berani diam-diam bergerak di balik punggung putra mahkota.