Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
70. Desas-desus untuk Menutupi Kepergian Permaisuri



Berita bahwa sang kaisar telah memberangkatkan permaisurinya pergi ke kerajaan tetangga dengan cepat menjadi buah bibir yang hangat di ibu kota. Wanita-wanita yang biasanya mendekam di dalam rumah, kini mau beranjak dari meja rias mereka, berkumpul membentuk lingkaran dan mengobrol saling menimpali.


"Jadi permaisuri tidak berada di istana?"


"Ku dengar begitu. Semenjak menikah, mereka berdua terlihat sangat sibuk bahkan tidak bertemu sapa dalam beberapa hari ini. Sangat berbeda dari yang sebelum menikah!"


"Dari mana berita itu kau dengar?"


"Putriku adalah pelayan dapur istana."


Ochonner yang kebetulan keluar dari toko bunga sontak geram dengan ucapan-ucapan aneh yang melibatkan kakaknya. Ia tanpa banyak bicara langsung mendekati kerumunan tersebut. Melihat calon Marquis dari menghampiri mereka, jelas saja para wanita itu langsung terdiam.


"Omong kosong apa yang sedang kalian bicarakan barusan?"


"Bukan apa-apa, My Lord. Cuaca hari ini cukup cerah, ya," ujar salah satunya mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Aku hanya mengingatkan. Jangan menebar berita bohong di sini." Ochonner kemudian menunjuk wajah wanita yang secara tidak langsung mengatakan hubungan antara kaisar dan permaisuri tidak harmonis tadi. "Dan kau, bisa-bisanya mempercayai ucapan putrimu yang hanya bekerja di dapur. Jika ingin tahu kebenarannya, suruh dia bekerja sebagai tangan kanan kaisar!"


Wanita tersebut meneguk saliva-nya cepat kemudian mengangguk, "Maaf jika sudah menyinggung Anda, My Lord. Saya tidak tahu jika berita itu ternyata bohong."


Ochonner melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menatap semua wanita itu dengan dingin. "Jika aku melihat kalian menjelek-jelekkan kaisar dan permaisuri lagi di lain hari, jangan salahkan prajurit kekaisaran tiba-tiba datang, menyeret kalian dan keluarga kalian masuk ke dalam penjara. Mengerti?!"


"B-baik, My Lord," ucap mereka serempak lalu berlari terbirit-birit ke segala arah.


Melihat Ochonner yang tampak menghela napas, membuat Wilbert McKinney selaku tangan kanannya itu mendekat. "My Lord ...."


"Aku sendiri bahkan belum mengetahui kebenarannya, McKinney," ujarnya gusar. "Apakah menurutmu kita perlu memastikan di mana sebenarnya permaisuri berada?"


Wilbert mengangguk, "Walau sudah menjadi permaisuri, Anda tetaplah saudaranya. Memang sudah seharusnya saling menjaga satu sama lain, kan?" ungkap pria yang lebih tua tujuh tahun dari Ochonner itu bijak.


"Kau benar." Ochonner sudah mengambil keputusan untuk berkunjung ke istana. "Kita langsung menuju istana saja kalau begitu."


Wilbert mengangguk, kemudian meminta kusir untuk mengantarkan mereka menuju istana yang sekarang ditinggali Alastair dan juga Luz. Semenjak mereka menikah, Ochonner memang tidak pernah bertemu dengan mereka lagi. Dia tahu, kedua orang itu pasti semakin sibuk dan Ochonner tidak ingin mengganggunya.


Kereta bergerak menuju jalan lebar yang disambut oleh dua gerbang ganda kurang lebih setinggi dua belas meter. Begitu melihat lambang keluarga Thompsville, prajurit yang berjaga langsung membukakan pintu masuk dan membiarkan Ochonner masuk lebih dalam.


Tepat saat keretanya berhenti di depan undakan tangga paling bawah halaman istana, Ochonner keluar dari dalam kereta dan bertemu Cornelius yang kebetulan berjalan ke arah luar. Pria itu sempat terbelalak sebelum kembali melempar senyum dan menghampiri sang pewaris Thompsville.


"Selamat pagi, Lord de Cera," sapanya ramah.


"Selamat pagi." Ochonner melirik pintu masuk yang tertutup rapat di belakang punggung Cornelius. "Apakah His Majesty ada di tempat?"


Cornelius mengangguk ragu. "Ya, beliau ada di ruangannya."


Mendapat reaksi aneh tersebut, tentu membuat Ochonner mengernyit. "Apakah ada sesuatu yang terjadi tanpa sepengetahuanku?"


"Saya tidak berhak untuk menjelaskan apapun," jawab Cornelius lalu berdehem. "His Majesty mungkin bisa melakukannya untuk Anda. Kalau begitu, saya harus lekas pergi. Permisi, My Lord."


Ochonner melirik langkah Cornelius yang berjalan menjauh darinya, terkesan buru-buru. Pria bersurai putih itu mengedikkan bahu, lalu masuk ke dalam istana sesaat setelah mendapat izin dari pihak pengelola.


Desas-desus tidak masuk akal ditambah dengan sikap Cornelius yang aneh pagi ini sukses membuatnya gamang. Ochonner yang notabenenya sudah dikenal sebagai kakak ipar kaisar itupun langsung menggerakkan kakinya menuju ruangan lantai dua yang terletak di tengah-tengah bangunan istana. Satu orang yang ingin ia temui saat ini dan Ochonner harap orang itu bisa menjelaskan segala kerisauannya; Alastair.


"Apakah His Majesty ada di dalam?"


Prajurit-prajurit yang berdiri di depan pintu masuk ruang kerja Alastair itu saling bertatapan. "Beliau di dalam, My Lord. Sedang membahas sesuatu bersama Earl of Travis."


Earl of Travis? Ochonner tahu betul bahwa Alastair tidak terlalu suka bekerja sama dengan sepupunya itu. Jadi jika mereka sedang berdiskusi, pasti bukan sesuatu yang bersifat politik.


"Tapi, My Lord ...."


"Ku bilang, sekarang juga!"


Mereka mengangguk dan salah satunya langsung meminta izin ke dalam, mengumumkan bahwa Ochonner ingin bertemu dengan dua orang penting tersebut. Dan sekarang, prajurit-prajurit itulah yang merasa panas dingin. Jika mengindahkan perintahnya, Ochonner bisa saja mengamuk. Sedangkan jika mereka mengikuti perintah si pria putih tersebut, tidak menutup kemungkinan untuk membuat sang kaisar murka.


"His Majesty mempersilakan Anda masuk, My Lord."


Mendengar jawaban prajurit yang meminta izin, sontak membuat teman-temannya yang lain merasa lega.


Ochonner membuka pintu, masuk dan menutupnya kembali. Di ruangan serba putih ungu tersebut, Ochonner dapat melihat sebuah potret lukisan besar yang terletak tepat di belakang kursi kebesaran Alastair, memperlihatkan senyum manis sepasang pengantin yang baru saja melangsungkan pernikahan. Tapi sekarang, bukan waktunya bagi Ochonner untuk menikmati lukisan-lukisan yang menampilkan kesenangan semu itu, dia harus bertanya suatu hal penting langsung kepada orang yang bersangkutan.


"Your Majesty."


"Lord de Cera, kebetulan sekali kau kemari." Alastair mempersilakan tamunya tersebut untuk ambil bagian di samping Sean yang sejak tadi sudah berada di sana. "Duduklah."


Ochonner menuruti perintahnya dan duduk tepat di samping Sean yang menatapnya rumit. Hanya sekilas, sebelum Alastair kembali membuka suara dan menarik atensi mereka.


"Lord de Cera, aku tahu kau pasti sudah mendengar berita bahwa aku mengirim permaisuri untuk melakukan perjalanan ke kerajaan tetangga, kan?"


Ochonner menatap Alastair, pria itu terlihat benar-benar serius. "Apakah berita itu benar, Yang Mulia?"


"Tidak."


Ochonner menghela napasnya yang sejak tadi tertahan. Untunglah....


"Aku terpaksa membuat alasan tersebut agar rakyat tidak mencari-cari permaisuri untuk sementara waktu."


Deg.


"Jangan katakan bahwa ...."


"Permaisuri menghilang," tandas Alastair tanpa berusaha menutup-nutupi kenyataan. Ochonner berhak tahu. "Dia menghilang tepat di hadapanku sendiri."


"Brengsek!" Ochonner yang sudah melupakan siapa Alastair pun kini menggebrak meja yang memisahkan mereka sampai-sampai tangannya berdarah. "Apa yang sudah kau lakukan pada saudariku? Tiga hari, Your Majesty, tiga hari. Aku belum lama menitipkan dia padamu, berharap kau bisa melindunginya lebih baik dariku dan keluarga Thompsville tapi lihat apa yang sudah kau lakukan? Dasar pembohong besar?!"


Sean yang menyaksikan hal tersebut langsung berdiri, berusaha menenangkan Ochonner yang matanya sudah memerah bak iblis. Sedangkan Alastair menyelipkan tangannya di sela-sela rambut, merasa sangat frustasi dan tertekan melebihi siapapun. Alastair juga tidak masalah andai Ochonner melampiaskan amarah pada dirinya. Ochonner berhak memukul, melukai, ataupun mungkin membunuhnya. Benar, ini semua kesalahan dirinya yang bersikap sebagai suami yang tidak becus.


"Dengarkan kejadiannya dulu, Lord de Cera," ujar Sean menengahi.


Ochonner menarik napas. Berusaha meredam amarahnya yang sudah berada di ambang batas. "Aku berusaha bijak untuk menyikapi suami Odyssey. Sekarang ceritakan semuanya tanpa terlewat sedikitpun."


"Sebelum itu, apakah kau tahu sesuatu, Lord de Cera?" Alastair mendongak, menatap saudara iparnya itu tak kalah tajam. "Bahwa Permaisuri ... dia bukanlah saudarimu yang sesungguhnya."


......................


Sayang banget ga sih kalau punya Abang protektif kayak Ochonner ini. Tolong beri author sebiji yang kayak dia dong🤧


Ochonner ngamok ke kaisar yang notabenenya bisa menjatuhi hukuman apa aja buat dia. Kayaknya Alastair bakal ngehukum Ochonner ngga nih🤔


Jangan lupa kasih vote dan komennya, banyak-banyak yaaa😎💅


See u next episode~