
Sidang keluarga Thompsville berlangsung lebih cepat dari perkiraan. Dilakukan secara tertutup, kini seluruh pihak-pihak yang diwajibkan berhadir sudah duduk sambil harap-harap cemas di kursi masing-masing. Athene melirik ke arah kursi di seberangnya, tampak Luz duduk santai tanpa terganggu sedikitpun pada bisik-bisik cemas yang menyeruak di ruangan tersebut.
Athene mendengus, dasar wanita tebal muka, umpatnya dalam hati.
"Karena seluruh pihak yang bersangkutan sudah berhadir ditambah beberapa orang saksi, tanpa menunggu lama kita akan mulai sidang kali ini," ujar hakim lalu mengetuk palu. "Sehubungan dengan laporan yang barusan kami terima atas nama Lady Odyssey de Cera, putri kedua Marquis Thompsville tentang ketimpangan keadilan yang didapatnya selama tinggal bersama Thompsville yang lain, maka sidang kali ini resmi dibuka!"
"Kepada Nona de Cera, silakan nyatakan keberatan Anda terhadap Thompsville."
Luz berdiri lalu berjalan menuju tempat yang disediakan. Tempat tersebut mirip seperti podium, dibuat lebih tinggi sehingga Luz bisa melihat beragam ekspresi orang-orang yang datang saat ini.
"Terima kasih atas kesempatan yang Anda berikan, hakim ketua. Tanpa mengurangi atau melebih-lebihkan, saya hanya ingin bersaksi bahwa selama hidup, saya tidak pernah merasakan apa itu keadilan," ucap Luz tanpa basa-basi. "Marchioness lebih menyayangi Lady Athene dan Marquis menyayangi Ochonner. Dalam hal apapun, saya yang selalu tersisihkan sampai-sampai saya yang naif ini pernah berfikir; Apa aku bukan putri mereka?"
"Kali ini saya tidak akan membahas masa kecil yang mengerikan itu, sungguh. Saya hanya akan membahas kejadian yang akhir-akhir ini terjadi." Luz menatap Marchioness hingga wanita itu memucat.
"Beberapa hari yang lalu, Marchioness Thompsville dengan sengaja melukai kepala saya dan pergi begitu saja tanpa ada rasa penyesalan." Luz mengalihkan tatapannya kepada hakim. "Saya masih memiliki buktinya. Jika ingin memastikan, tim peneliti kasus bisa mengecek luka saya yang belum kering ini."
"Lalu, masalah berikutnya. Orang-orang berfikir aneh terhadap kematian saya yang bisa berakhir gagal. Apa kalian mau tahu apa yang terjadi sebenarnya?"
"Odyssey, jangan berbicara omong kosong!" bentak Marchioness yang kehabisan kesabaran.
"Bukan maksud merendahkan keluarga kalian, Thompsville. Saya hanya mengatakan kebenarannya kepada publik agar semua orang tahu," balas Luz tanpa rasa takut. "Lady Athene menggoda calon suami paksa saya, namun dia enggan dinikahi seseorang yang hanya berkelas Marquis hingga Marquis Galilee menikahi gadis lain. Oh, tapi jangan salah, bukan berarti dia bisa melupakan Lady Athene."
"Marquis Galilee sering berada di manor house, untuk mencari kepuasan bersama Lady Athene."
"Ap—"
"Eits, Anda tidak bisa mengelak." Luz menatap seseorang yang duduk di kursi belakang hingga orang itu tersadar sedang ditatap Luz dan ia seketika maju ke depan. "Pelayan Anda sendiri yang akan bersaksi atas kejahatan yang Anda lakukan."
Seseorang yang menjadi saksi itu adalah Maida, pelayan setia Athene!
"Astaga, apa itu benar?"
"Tidak bisa dipercaya!"
Wajah Athene memerah malu. Kepalanya tertunduk bahkan bahunya tampak bergetar. Padahal dia sudah bermain mulus agar tidak meninggalkan bukti ataupun saksi mata. Tapi ... orang yang dipercayainya lah yang justru menusuk Athene dari belakang.
Kini semua orang menghakiminya, tidak ada lagi yang bisa menolong reputasi Athene yang terlanjur buruk jika Odyssey sudah berbicara dikuatkan dengan saksi. Sekarang bagaimana ... bagaimana cara agar Athene bisa mempertahankan gelarnya?
"Saat status saya masih menjadi tunangan Marquis Galilee, saya sudah sering memergoki mereka berduaan. Tapi saya yang kecil ini bisa apa. Toh, saya tidak memiliki kekuatan sama sekali untuk melawan Crystal Lady."
"Jangan berbicara tentang hal yang tidak pernah putriku lakukan," potong Marquis Thompsville marah. "Kau ... kau tidak tahu apa-apa!"
"Saya tahu segalanya, Marquis Thompsville. Semuanya." Luz melirik Marquis Galilee yang mematung di pojok ruangan. "Kalian juga, kan, yang mendorong saya untuk melakukan bunuh diri saat itu?"
"Oh, Marquis Galilee. Berapa banyak Marquis Thompsville mau membayar dirimu sampai Anda rela menjadi tunangan palsu saya?" Luz berdecak sebal. "Saya akui, Marquis Thompsville memang cerdas. Dia pasti ingin memunculkan image mencintai seluruh putrinya di depan masyarakat sampai mau repot-repot membayar Marquis Galilee."
"Odyssey!"
Marchioness menyesal telah membuang-buang waktu mencari benda penting itu dengan mengandalkan para pelayan. Sekarang dia harus mendapatkannya. Tapi di mana? Hampir tidak ada waktu lagi.
"Selain itu, saya juga sudah mendapatkan banyak suara dari bangsawan lain. Para hakim bisa melakukan voting untuk itu." Luz tersenyum sopan. "Saya sudah siap untuk mengemban amanah dari tugas Crystal Lady."
"Hanya dengan masalah sepele, kau pikir kau bisa mendapatkan gelar penting itu, Odyssey?" Marquis Thompsville berdecih, "Tidak mendapat izin dariku, maka penyerahan gelar tidak akan sah!"
"Ya, saya memang tidak meminta izin kepada Anda." Luz menengok ke samping Marquis Thompsville, lalu menelengkan kepalanya. "Tapi bagaimana jika saya sudah mengantongi izin dari Marchioness?"
Mata Marquis Thompsville yang merah menyala beralih menatap istrinya. Marchioness bungkam, tidak ada celah untuk membela diri. Luz sangat cerdas, dia mengalihkan kemarahan Marquis Thompsville kepada istrinya sendiri.
"To-tolong dengarkan penjelasan ku dulu," ucap Marchioness tergagap.
Tanpa peringatan, tangan Marquis Thompsville melayang dan mendarat tepat di pipi kiri Selene hingga wanita itu tertoleh ke samping.
"Marquis Thompsville, tolong bersabar," pinta hakim yang terkejut melihat bagaimana tindakan Marquis Thompsville yang diluar kendali. "Anda bisa dikenai denda!"
"Istri bodoh!" umpat Marquis tidak peduli. Walau dia kembali duduk, tapi mulutnya masih mengeluarkan ucapan-ucapan pedas. "Untuk apa kau melakukan itu?!"
"Aku hanya ingin membantumu." Marchioness terisak. "A-aku tidak tahu jika Odyssey akan berani melawan kita."
"Tahan penjelasan mu, Marchioness Thompsville. Setelah Anda diminta buka mulut, maka jelaskan lah semuanya," lerai hakim yang sedikit curiga padanya.
"Tapi ... Odyssey tidak memiliki perkamen itu, kan?" bisik Selene lalu tersenyum kering. "Dia tidak memilikinya. Tidak ada bukti bahwa aku telah menyerahkan gelar mulia Athene padanya!"
"Yah, sayang sekali Marchioness benar. Saya tidak memiliki bukti," jawab Luz yang sekarang menjadi buah bibir masyarakat. Percuma membuka sidang jika tidak ada bukti resmi yang tertulis.
"Tapi seseorang memilikinya untuk saya."
Bertepatan dengan itu, Grand Duke memasuki ruang sidang bersama dengan kaki tangannya, Ochonner. Tapi berbeda dengan Grand Duke yang memang berniat membantu Luz, Ochonner malah memalingkan muka masam nya. Oh, mungkin pria itu masih dendam dengan perbuatan Luz beberapa hari yang lalu.
"Maaf jika saya lancang, hakim ketua." Hakim menjawab pernyataan Alastair dengan anggukan kecil. Dia tidak keberatan jika Grand Duke ikut campur sebab pria nomor dua di Sormenia itu memanglah orang yang sangat bisa dipercaya, Alastair adalah salah satu laskar perang yang memajukan Sormenia hingga sehebat sekarang.
"Katakan."
"Kebetulan saya memiliki barang bukti yang Marchioness minta. Apa Anda keberatan jika saya menyerahkannya kepada Anda?"
Hakim menjawab, "Berikan barang buktinya kepada tim peneliti untuk mengetahui keabsahan perkamen yang Anda bawa. Bukan bermaksud merendahkan, tapi demi keadilan Sormenia, kami harus melakukannya." Ia menjeda. "Pengumuman hasil keaslian perkamen akan diumumkan beberapa hari lagi. Dan dalam beberapa hari ini, tim peneliti akan berusaha sebisa mungkin untuk mengungkapkan keaslian perkamen."
Diam-diam Luz tersenyum miring. Dirinya menang telak!
Sementara itu keluarga Thompsville terdiam. Lebih-lebih Marchioness yang tangannya kini mengeluarkan keringat dingin. Benar. Perkamen yang diberikan Grand Duke memang benar perkamen yang dia cari. Bagaimana bisa benda itu berada di tangan Grand Duke?
Pantas saja, saat Marchioness menggeledah seisi manor house, perkamennya tidak ditemukan. Luz benar-benar cerdik, menyimpan barang pentingnya diluar manor house agar tetap aman. Permainan yang luar biasa, Marchioness akan bertepuk tangan untuknya.
"Sesi pertama selesai." Hakim mengambil palu dan mengetuknya sekali lagi. "Penjelasan dari Nona de Cera, diterima!"