Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
74. Mendapatkan 'Teman' Baru



Beberapa waktu yang lalu di Sormenia, tepatnya saat Alastair berhasil menemukan cara agar dapat kembali dengan istrinya. Duke of Lancess yang awalnya ingin menyerahkan data terkait perkembangan pembangunan pelabuhan baru itu berhasil menjatuhkan dokumen-dokumennya. Alhasil, surat-surat penting tersebut jatuh berserakan di atas lantai.


"Apa maksud Anda, Your Majesty. Menggantikan posisi sebagai kaisar?!"


Alastair mengangguk yakin. "Kau seorang duke, sudah seharusnya menjadi wakilku jika terjadi sesuatu."


"Lalu, apakah ada sesuatu yang terjadi pada Anda?"


Louis menatapnya frustasi. Sedangkan Alastair justru terkekeh, geli melihat ekspresi pria di depannya ini yang bisa dibilang cukup aneh.


Bagaimana tidak aneh, di saat orang lain berusaha memperebutkan takhta, pemimpin Lancess ini justru syok seolah besok akan terjadi kiamat. Tapi dengan sikapnya yang begitu, Alastair semakin yakin untuk menyerahkan Sormenia bulat-bulat kepadanya.


"Aku akan pergi dan kemungkinan besar tidak akan kembali lagi," jawab Alastair masih enggan memberitahukan yang sebenarnya.


"Ke mana Anda akan pergi. Tolong jangan tinggalkan Sormenia!"


"Ini keputusanku, Georgetown," sahut Alastair mutlak. "Apakah perlu bertanya sampai sejauh itu? Sudah. Tugasmu sekarang hanya perlu menjadi kaisar."


Hanya?


"Kenapa harus saya, kenapa tidak Lord de Cera saja?"


"Lord de Cera bahkan belum menjadi Marquis, kurang berpengalaman dibandingkan dirimu yang sudah memimpin Lancess selama beberapa tahun. Lagipula, jika dia sudah menjadi Marquis sekalipun, aku tetap tidak akan menyerahkan mahkota kaisar padanya."


"Apakah karena sama-sama berasal keluarga Thompsville? Anda sudah menikahi salah satu putri mereka dan menjadikannya permaisuri."


"Tepat sekali." Alastair menjawab lugas. "Apa kata bangsawan lain jika aku terus merekrut anggota penting kekaisaran dari keluarga Thompsville? Pemberontakan bisa terjadi kapan saja."


Louis mengangguk, setuju. "Dan si bangka pasangan Thompsville itu akan semakin besar kepala jika kedua anak kembarnya berhasil menjadi orang paling penting di pemerintahan."


"Maka dari itu aku memilihmu, Georgetown," lanjut Alastair kembali ke topik awal. "Keputusanku sudah bulat. Mengenai mandat ku ini, sebentar lagi rapat tertutup akan diadakan bersama para menteri. Aku harap kau tidak keberatan untuk ikut bersamaku."


...----------------...


Matahari terik tepat berada di atas kepala saat Luz berhasil tiba dengan selamat di stasiun Propatria di Caracas, Venezuela. Sejak beberapa bulan telah berlalu, Luz sudah berusaha menata hatinya kembali. Memberikan senyum tipis sebelum beranjak dari tempat duduknya di dalam kereta.


Usai melakukan perjalanan dari New York menuju Venezuela menggunakan kereta api, kini Luz sudah sampai di tujuannya setelah empat menit berlalu. Waktu yang cukup singkat. Venezuela tidak kalah ramai, kurang lebih sama seperti New York di jam weekend. Negara yang berada di Amerika Selatan tersebut dinilainya cukup panas sebab memiliki iklim tropis yang tentu saja berbeda dengan New York. Namun panas yang Luz maksud tidak separah iklim gurun seperti di negara Asia barat.


Luz menjalankan kopernya. Menaiki bis menuju penginapan yang berada di Los Roques, pantai yang katanya termasuk pantai terindah di dunia.


"Bolehkah aku duduk di sampingmu?"


Luz menarik earphone yang menempel di telinganya. Mendongak, menatap pria yang kira-kira tidak jauh usianya dari dirinya sedang berdiri menunggu persetujuan Luz. Memiliki wajah yang kental dengan gen Eropa. Mata berwarna biru, rambut pirang, dan ada bintik-bintik samar di antara pipinya.


Luz mengangguk. "Silakan," ucapnya lalu menggeser tubuhnya sedikit untuk memberi ruang kepada pria tersebut.


"Terima kasih." Tak sengaja matanya melirik ponsel Luz yang menyala. "Ah, musik ini. Aku juga menyukainya."


"Kau tahu siapa penyanyinya?"


Pria itu mengangguk semangat. "Eum— Jeon Jung-kook? Pria dari boyband asal Korea Selatan itu, kan?"


Luz tertawa kecil, "Bukankah penyanyinya Pink Sweats?"


Pria itu tampak menggaruk kepalanya. "Aku pernah melihat Jeon Jung-kook menyanyikannya."


Luz mengangguk singkat. Orang di sebelahnya ini ternyata menyenangkan juga, tidak kaku dan kikuk terhadap orang yang baru dikenal.


"Mau mendengarkannya?"


Pria tersebut lantas menyambut earphone yang Luz berikan lalu memasukkannya ke dalam lubang telinga. Musik yang lembut itu diputar, ia lalu menganggukkan kepala, berusaha mengikuti setiap bait lagu.


I need somebody who can love me at my worst


No, I'm not perfect, but I hope you see my worth


'Cause it's only you, nobody new, I put you first


And for you, girl, I swear I'll do the worst


Bolehkah Luz mengganti kata 'girl' di sana menjadi 'boy' dan mendedikasikan lagu ini khusus untuk Alastair?


"Peter."


Luz menoleh. Pria disampingnya itu melempar senyum tipis.


"Aku peter. Dan ... ?"


"Panggil saja aku Luz," jawab Luz singkat. "Omong-omong, ke mana kau akan pergi. Apakah tujuan kita sama?"


"Aku menuju pantai Los Roques untuk menghadiri pesta perusahaan," jawabnya ramah. "Bagaimana denganmu?"


"Ternyata kita satu tujuan."


Mendengar hal tersebut, membuat wajah Peter cerah. "Pergi liburan?"


Luz mengangguk, singkat.


"Mengapa hanya sendirian?"


Luz mengalihkan tatapannya, kembali menatap pemandangan di luar. "Ayahku sedang sibuk."


"Tidak, bukan begitu maksudku," ujarnya cepat. "Misalnya bersama pacar, barangkali?"


Luz menggeleng getir. "Aku tidak memiliki pacar."


Aku hanya memiliki suami, suami yang benar-benar kucintai!


Luz hanya berani menyuarakan hal tersebut di dalam hatinya. Hatinya masih rapuh. Ia takut jika mengatakannya secara langsung maka tangisnya akan kembali tumpah.


Mendengar hal tersebut tentu membuat Peter semakin semangat. Ia merapatkan posisi, membuat Luz sepintas mengernyit risih. "Kau bukan orang sekitar sini, kan? Bagaimana jika aku yang menunjukkan jalan?"


"Sejenis tour guide?"


Pria itu tertawa, "Ya, bisa dibilang begitu."


"Tapi itu merepotkan," jawab Luz ragu. "Bukankah kau sendiri juga memiliki keperluan? Apakah tidak masalah meninggalkannya demi menemaniku?"


"Hanya sebuah pesta, bukan hal besar," sanggah Peter meyakinkan. "Bagaimana nona, apa kau setuju?"


Jika Luz menerima ajakannya, apakah Alastair akan marah?


Luz menggeleng. Lupakan pria itu. Mereka tidak akan pernah berjumpa lagi. Waktu terus berjalan dan Luz harus secepat mungkin bisa melupakan sosok spesial di hatinya itu.


"Luz?"


"Ah, iya?" Ia tergagap, "Tentu saja bisa."


Peter bersorak di dalam hati. Entah mengapa ia merasa jika wanita di sebelahnya ini berbeda dari wanita kebanyakan. Peter tertarik bahkan saat di awal tatapan mereka bertemu. Mandiri, humble, dan dewasa. Selain itu juga memiliki tubuh proporsional dan paras yang cantik alami dihiasi polesan tipis. Dengan wajah rupawan wanita ini, mustahil ada yang mengabaikan keberadaannya.


Ha, apakah sepulangnya dari pesta perusahaan membuat Peter menyetujui permintaan orang tuanya untuk segera menikah. Melawan prinsipnya yang ingin melajang sampai tua karena memandang semua wanita itu sama saja?


Karena sungguh ... Peter tidak pernah se-tertarik ini kepada makhluk yang bernama wanita.


......................


Si Alastair lama amat sih dia nyasar apa gimana yaa itu loh Luz udah diembat orang😭😭


Apakah ada yang mendukung Peter sebagai pengganti Alastair? Cakep loh itu mayan buat pajangan🤣


Btw andai di Noveltoon ini ada mulmednya, pasti udah aku taroh itu lagu yang Luz sama Peter dengerin. Biar kalian makin menghayati gitu tapi apa daya saya cuma bisa nulis, ga bisa bikin aplikasi sendiri yang ada mulmednya😭👍🏻


Kalau ada yang nanya, 'Kak, kenapa tiba-tiba ada nyerempet nama salah satu member BTS?'


Jawabannya begini;


Author lupa antara tahun 2020 atau 2021 ini ya si Jung-kook itu pernah nyanyi At My Worst —judul lagu di atas— pas dia lagi live. Berbekal live itulah mengapa nama Jung-kook tiba-tiba muncul di sini sebagai penambah warna cerita😂


P.s: Dalam episode ini tidak ada maksud menyinggung pihak manapun. Damai ya🤝


Coba komentarnya sini😼