
Saat mereka sampai di sebuah keramaian, binar antusias tidak bisa Luz tahan saat melihat berbagai macam hal yang tidak pernah ditemuinya di New York.
Lampu kelap-kelip menghiasi setiap kedai yang berjejer di sisi jalan. Lampion unik digantung meriah, ditambah sorak-sorai kanak-kanak yang berlarian riang semakin menambah rasa kekeluargaan yang cukup kental.
"Ini bukan pasar yang kau maksud," ujar Grand Duke lalu melirik wanita di sampingnya. "Ini pameran, tidak menjual bahan mentah yang kau cari."
"Oh, pameran, ya? Tidak masalah, pergi ke pasar bisa dilakukan besok," jawabnya tidak sabar. Sedetik kemudian tanpa ia sadari Luz menarik lengan Alastair, "Grand Duke, coba lihat ada apa di sana!"
Tanpa ba-bi-bu, Luz mengajaknya mendekati sebuah gerai kecil yang dijaga oleh seorang wanita tua. Gerai tersebut didominasi oleh kayu tua yang dicat lebih gelap sehingga menampilkan kesan tradisional, namun tidak ketinggalan. Melihat sepasang pembeli mendekati gerainya, wanita tua itu tersenyum hangat.
"Anda menjual apa, Madam?"
"Kue lemon," jawab wanita itu ramah, "Cobalah dulu, kalian pasti suka."
"Aku ingin satu." Luz mengangguk lalu merogoh sakunya. Sayang, ia kalah cepat dari Alastair yang sudah menyerahkan uangnya lebih dulu.
Wanita tersebut tersenyum. "Anda beruntung memiliki pasangan yang tidak pelit. Tunggu sebentar, pesanan Anda akan saya siapkan."
Dan ya ... suasana kembali canggung. Karena ucapan terakhir Si Madam Lemon.
Alastair berdehem, "Setelah ini kita akan pergi ke mana?"
"Ke mana saja asal tidak pulang," jawab Luz ringan. "Aku terlalu malas bertemu Ochonner."
Alastair mengernyit, "Kalian bertengkar?"
"Tidak, kami baik-baik saja. Aku hanya bosan melihat wajahnya yang galak itu."
Jauh di dalam hatinya, bukan itu alasan Luz enggan bertemu Ochonner. Gadis itu hanya bingung dan takut ... bingung pada keputusannya sendiri dan takut jika Ochonner semakin memantapkan hatinya untuk mundur dari kandidat putri mahkota. Posisi yang sangat Luz impikan sejak menginjakkan kaki di dunia ini.
"Omong-omong, tidak biasanya Ochonner membiarkanmu pergi sendirian terlebih sekarang sudah malam." Alastair menatap curiga, "Atau jangan-jangan kau belum meminta izin darinya?"
"Aku sudah meminta izinnya tadi pagi."
Anggap saja seperti itu, anggap saja Luz tidak berbohong.
"Aneh." Alastair masih memeriksa ekspresi Luz yang kelewat santai. Malas berdebat, akhirnya Alastair memutuskan untuk percaya.
"Ini pesanannya." Wanita tua tadi kembali dengan sebuah kantong kertas berisikan kue-kue berwarna kuning cerah. "Terima kasih sudah mampir."
"Kami pergi dulu, Madam." Luz melambai lalu berlalu dari tempat tersebut sambil mengambil salah satu kue yang tersedia di dalam kantong. Menggigitnya lalu mengernyit sedikit kala rasa asamnya tiba-tiba memenuhi seisi rongga mulut.
"Dari warnanya saja membuat asam lambung ku naik," komentar Alastair yang kurang suka dengan rasa utama dari kue lemon. Dia membenci rasa asam.
"Kau hanya tak terbiasa." Tanpa aba-aba Luz memasukkan sepotong kue lemon ke dalam mulut Alastair hingga pria itu dibuatnya terbatuk-batuk.
"Kegam, aku kidak uka! (Kejam, aku tidak suka!)" sahut Grand Duke dengan mulut penuh.
"Lama-kelamaan pasti suka," kelakar Luz sambil terbahak lalu ikut mengunyah kue lemon yang dipegangnya dengan mood yang semakin baik. Ya, tentu saja mood nya meningkat sebab reaksi baru dari Grand Duke tadi yang di luar ekspektasi.
"Terlalu asam."
"Ya, sedikit membuatku lapar."
"Ya."
"Di sekitar sini ada kedai arak yang enak," ujarnya mengajak. "Sepertinya kau tidak pernah ke sana."
"Aku mau makan, Grand Duke. Bukan minum," jawab Luz sedikit kesal.
"Di sana juga menjual daging asap yang cukup terkenal se-Brighton."
"Daging asap?" Luz seperti biasa langsung menggandeng tangan Alastair lalu menuju tempat yang pria itu maksud. "Kalau begitu tunggu apa lagi!"
Deg
Grand Duke memperhatikan tangannya yang bertautan mesra bersama gadis itu. Tangan yang jauh lebih kecil dari telapak tangannya, terasa begitu lembut dan halus secara bersamaan. Walau begitu rasanya tangan Luz cukup dingin atau ... justru tangan Alastair yang memanas?
"Grand Duke, itukah Anda?"
Sontak mereka menoleh pada objek yang memanggil Alastair dari belakang. Seorang pria berkisar empat puluhan tahun dengan rompi hijau gelap dan cravat hitam tengah mendekat memastikan bahwa yang ditemuinya benar-benar Grand Duke. Di usianya yang tidak lagi muda itu, Alastair akui matanya cukup tajam sehingga bisa mengenali dirinya yang tidak memakai pakaian seperti biasanya ini di antara kerumunan orang.
Bah, lagi-lagi ada yang mengganggu waktu romantisnya.
"Ternyata benar, beruntung saya bertemu Anda di sini."
"Ada perlu sesuatu, Lord Caleon?"
"Tentang pajak di bagian timur ...."
Selanjutnya percakapan meluncur begitu saja oleh kedua orang gila kerja itu. Luz memutar bola mata, merasa bosan. Menyadari kue lemon nya masih bersisa, Luz melepaskan genggamannya pada Alastair —sampai pria itu melirik sebentar— lalu berjalan menjauh untuk mencari kursi. Makan sambil berdiri itu tidak baik untuk kesehatan, Luz tidak ingin organ pencernaan dan ginjalnya yang menjadi korban.
"Tinggal sedikit," gumam gadis bermata amethyst itu lalu tanpa sadar meletakkan kantong koin berisikan uang hasil dari hari pertamanya bekerja tepat di sampingnya. Karena mereka tidak berada di jalan utama, jadi ia mengira di sini cukup sepi sehingga kejahatannya pun pasti juga tergolong kecil.
Tapi dugaan Luz salah. Entah datang dari arah mana, tiba-tiba seorang pria berpakaian hitam merampas kantong koin miliknya yang baru dilepas sebentar. Dia melotot, secara refleks melemparkan batu tepat mengenai kepala si pencuri namun itu bukanlah hal yang bisa mencegah si tangan panjang untuk terus berlari.
"GRAND DUKE!"
Alastair berubah panik sehingga ia melupakan Lord Caleon dan menghampiri Luz yang lumayan jauh dari pandangannya dengan tergesa-gesa.
"Kenapa, ada terjadi sesuatu padamu?"
"Uangku hilang!" Luz menunjuk arah tempat terakhir kali si pencuri kabur. "Cepat kejar dia lalu pukuli sampai mati!"
"Sabar-sabar, memangnya berapa jumlah uangmu?"
"Cukup banyak. Uang itu untuk membeli bahan-bahan kecantikan," sahut Luz lemas. "Ah, uangku. Ayolah, Grand Duke. Kejar dia sebelum makin jauh."
"Tidak perlu cemas, aku akan mengganti uangmu itu." Alastair tidak ingin mempersulit keadaan. Lagipula, hari sudah malam dan mengejar pencuri itu hanya akan menciptakan keributan lain di tengah-tengah keramaian. "Lebih baik kita segera pergi dari sini sebelum hal-hal buruk kembali datang."
"Bukan masalah nominalnya, Grand Duke. Itu uangku, hasil kerja kerasku. Ah, kalau begini terpaksa aku sendiri yang turun tangan."
Luz menyerahkan kantong kertas kue lemon yang isinya sudah habis itu kepada Alastair. Tanpa pamit ia segera berlari mengejar pencuri yang mengambil harta berharganya dengan ganas seperti seekor monster yang kelaparan.
Luz harus mendapatkan uangnya kembali. bagaimanapun caranya. Titik.