
"Anda datang lebih awal, Crystal Lady."
Luz memamerkan senyum walau terpaksa. Jelas-jelas di surat undangannya menuliskan pukul dua, tapi saat Luz sampai di paviliun utama yang terletak di bangunan Utara istana, belum ada satupun lady lain yang datang kecuali Ratu Monetta sendiri yang sudah duduk di kursi kebesarannya.
Ah, ratu mengundang terlalu cepat. Wanita ini hanya ingin bermain-main atau ingin membicarakan sesuatu pada Luz secara empat mata?
"Saya datang sesuai jadwal yang Anda tuliskan di dalam undangan, Your Majesty," jawab Luz lalu memberi hormat.
Wanita yang masih cantik di usia senjanya itu tampak tertawa anggun. "Tidak salah Putra Mahkota memilihmu. Gadis yang dicintainya ternyata cukup cerdas dan pandai memilah kata yang sopan."
"Suatu kehormatan bagi saya," sambung Luz yang —jujur— berkebalikan dengan isi hatinya.
"Silakan duduk."
Meja persegi panjang yang kira-kira cukup untuk menampung puluhan orang ditata apik di tengah-tengah paviliun yang di sisi kanan dan kirinya dipenuhi daun kering yang cukup estetis. Rak-rak yang menampung kue-kue kering seperti cookies dan croissant ditambah cangkir yang disediakan tampak serasi dibuat dari porselen bercorak emas. Luz mengeratkan mantelnya, angin musim gugur kadang tidak cukup bersahabat dengan tubuh Odyssey yang mudah kedinginan.
"Aku membiarkan daun-daun itu di sana karena warnanya yang cantik," ucap Ratu yang mengerti arah tatapan Luz yang menampilkan rasa ingin tahu. "Daun di pohon sudah rontok semua, iya 'kan."
Luz mengangguk. "Sudah pertengahan musim gugur," sambungnya sambil mengamati ranting-ranting kering yang hampir lapuk di atas pohon. "Cuaca mulai dingin karena sebentar lagi musim salju akan tiba." Ia mengalihkan tatapan. "Lama tidak bertemu. Omong-omong bagaimana kabar Anda, Your Majesty?"
"Akhir-akhir ini aku tidak bisa melakukan pekerjaan yang terlalu memforsir banyak tenaga lagi, punggungku sering sakit," jawabnya lalu terkekeh pelan. "Untungnya aku memiliki Evandre, dia putra yang sangat mencintai ibunya. Saking perhatiannya dia membeli kolam pemandian air panas pribadi khusus untukku di gunung sebelah selatan."
Sang ratu melemparkan senyum ramah, "Siapa pun yang menjadi istrinya kelak, pasti akan sangat beruntung."
"Selamat siang, Your Majesty."
Kedua wanita tersebut menoleh ke arah pintu masuk. Bertepatan dengan itu, Evandre yang kebetulan baru dibicarakan tiba-tiba datang menyapa dan menghampiri ibunya. Mengecup punggung tangan Ratu lalu menoleh.
"Dan, Crystal Lady," sapanya sopan lalu melemparkan tersenyum lembut.
Luz menjawabnya dengan anggukan sopan. "Selamat siang juga, Your Highness."
"Kebetulan sekali kau di sini, Putra Mahkota. Ada beberapa hal yang ingin ku bicarakan pada kalian."
Di bawah meja, cengkraman Luz pada gaunnya semakin mengencang hingga menimbulkan serat-serat kusut di permukaannya. Luz tidak bodoh, dia tahu pasti bahwa Ratu dan Putra Mahkota-lah yang sengaja merancang adegan ini agar bisa menekan dirinya yang berani memutuskan hubungan dengan Putra Mahkota secara sepihak.
Benar dugaannya. Evandre dan Ratu sama-sama orang yang licik. Luz pun harus berhati-hati. Salah sedikit, ucapannya bisa saja melahap dirinya sendiri.
Evandre mengambil kursi tepat di samping Luz sampai diam-diam wanita itu mendelik. Namun Luz tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya melirik sekilas lalu kembali memperhatikan sang ratu.
"Aku dengar kalian memiliki hubungan khusus."
"Tid—"
"Dari mana Ibunda tahu, kami bahkan belum mengumumkan apapun," potong Evandre lebih dulu.
"Tapi Your Majesty ...."
"Ibu, sudahlah. Crystal Lady malu jika kita terus-terusan membahas hal ini," ujar Evandre lalu tertawa kecil. "Jika ibunda ingin mengadakan acara, aku tidak masalah. Ku serahkan segalanya padamu, iya, 'kan Crystal?"
"Itu dia yang aku tunggu." Ratu tersenyum tipis. "Pesta pertunangan kalian akan ku rancang seindah mungkin dan tidak akan mengecewakan. Semua orang akan selalu mengenangnya sampai kalian tua bersama."
"Maaf menyela, Your Majesty. Saya rasa saya belum bisa bertunangan apalagi menikah dalam waktu dekat ini," ucap Luz pada akhirnya. Ia kembali beralibi, "Saya baru menjalankan bisnis di Brighton dan itu sama sekali belum berkembang. Akan sangat mengecewakan jika hasilnya nihil sementara Grand Duke of Brighton sudah menyediakan tempat."
"Itu dia hal yang kurang aku sukai darimu, Lady." Ratu mengambil cangkir perak murni miliknya lalu menyesap isinya perlahan, "Kita bangsawan. Dan bangsawan tidak ditakdirkan untuk bekerja. Lebih-lebih dirimu perempuan, bukankah di pelajaran tata Krama sudah dijelaskan bahwa tugas wanita hanya perlu bersolek dan menikmati waktu senggang seperti sekarang? Kenapa kau malah mempersulit hidupmu sendiri?"
Di dalam hati, Luz bergumam. Orang tua kolot sepertimu lah yang kurang disukai orang!
"Bahkan bangsawan pria sekalipun tidak perlu bekerja. Bukankah kalian mendapatkan uang dari hasil pajak sewa tanah rakyat setiap bulan, ke mana Marquis Thompsville sampai putrinya dibiarkan bekerja?" elak ratu dengan lihainya. "Aku sudah tidak muda lagi, Crystal Lady. Aku menginginkan pewaris untuk Evandre putraku."
Tapi di dunia ini, aku tidak akan menikah.
"Jika Putra Mahkota sudah memiliki seorang putra, barulah aku bisa tenang untuk mengamankan peralihan takhta berikutnya."
Diam-diam Luz mendengus kesal. Dengan mudahnya Ratu Monetta menyuruh ini-itu melebihi ayah kandungnya sendiri. Dikira Luz ini mesin pembuat anak?!
Tapi Luz cukup mengerti. Keberadaan anak laki-laki menjadi suatu kewajiban bagi kaum bangsawan terlebih keluarga kerajaan jika mereka ingin mempertahankan takhta di atas nama keluarga mereka. Jika tidak ada anak laki-laki, takhta bisa saja jatuh ke tangan Grand Duke sebagai pewaris kedua.
"Lagipula kau Crystal Lady, kan?" sambungnya lagi. "Jadilah contoh untuk bangsawan lain. Mengingat sudah banyak ratu dari keluarga de Cera yang berkualitas, jujur hanya dirimu yang pernah ku tawari untuk kursi ratu berikutnya dengan mengesampingkan putri dari kerabat-kerabat dekatku. Bukankah itu suatu kehormatan yang besar untuk keluarga de Cera sendiri?"
"Maaf, Your Majesty. Saya tidak bermaksud melawan Anda. Sesuai ucapan Anda, saya sekarang adalah Crystal Lady dan saya memiliki hak untuk memutuskan apa yang baik untuk diri saya sendiri termasuk menikah." Luz tersenyum tipis lalu memperhatikan langit yang menguning, "Sudah hampir sore. Sebentar lagi saya ada janji dengan Lord de Cera, kalau begitu saya permisi. Terima kasih atas jamuan istimewanya, Your Majesty dan Your Highness."
Luz mengangkat ujung gaunnya lalu menunduk hormat. "Permisi."
Setelah pintu ditutup, barulah Evandre bersandar lelah di sandaran kursi sambil menghela napas. "Sudah ku bilang, kan, ibu. Membujuknya tidak semudah yang kita kira."
"Berpuluh tahun menjadi ratu, baru kali ini ada orang yang berani menolak permintaanku," ujar Ratu Monetta geram namun hal itu ditutupinya dengan ekspresi setenang air danau. "Kali ini dia selamat, tapi tidak dengan berikutnya."
"Apa maksud ibunda?"
"Dia bisa menolak permintaanku hari ini." Sang ratu menoleh, "Tapi bagaimana jika perintah pernikahan kalian turun atas dekrit Raja?"
Evandre bergeming. "Apa ibu yakin?"
"Orang yang berani melawan dekrit Raja akan mendapat hukuman gantung dan ibu yakin Crystal Lady tidak mungkin mau mengorbankan nyawanya hanya karena bisnis yang dia agung-agungkan itu," desis ratu lalu tersenyum simpul, "Suka atau tidak, kita harus mendapatkan Crystal Lady agar dukungan klan de Cera semakin kuat terhadap keturunanmu kelak."
Demi memperkuat kedudukannya, Ratu Monetta rela melakukan apapun termasuk menjebak Lady Odyssey. Calon menantunya.