
Athene menganga. "Siapa kau sampai berani mengancam ku?!"
Luz mengacuhkannya. Dia tetap berjalan santai menuju labirin yang terletak di sisi selatan taman, tempat di mana bulan purnama terlihat lebih jelas dari sana. Tapi secepat Luz pergi, di situ jualah Athene berlari dan dengan kasar menarik tangannya dari belakang.
"Astaga, apalagi mau mu?" desah Luz frustasi lalu menyentak tangannya sampai cengkraman Athene terlepas.
"Kita belum selesai berbicara, bodoh. Di mana sopan santun mu!"
"Hei, jangan berbicara sopan santun jika kau sendiri masih menarik tanganku seperti singa kelaparan yang berebut daging. Berkaca sedikit, nona terhormat," jawab Luz mencibir. Sama seperti yang sering Athene lakukan padanya.
Mendengar jawaban Luz, Athene mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat sampai jari-jarinya tampak memutih. Luz selalu berhasil membalikkan hinaan yang ia lontarkan tepat di depan sahabat baiknya, Lady Avistasius yang kini hanya diam sambil membenarkan ucapan Luz di dalam hati.
"Apa yang kau inginkan, hah? Dasar kurang ajar!"
Athene hampir melayangkan tamparan keras. Tapi sebelum telapak tangannya berhasil menyentuh pipi, Luz sudah menggenggam tangannya erat-erat sampai Athene mati rasa. Dia ingin meringis, tapi ini bukan saat yang baik untuk terlihat lemah.
"Berani berurusan denganku maka hidupmu akan ku buat seperti neraka," ancam Luz serius. Kilat mata elangnya mampu membuat Athene gentar.
"L-lepaskan...."
"Tadi kau bertanya apa yang aku inginkan, kan?" Luz mengulang ucapan Athene. Dia tidak memberikan ampun bagi wanita iblis. "Tujuanku ke dunia ini untuk membuat hidupmu sengsara sampai tidak berani keluar rumah. Itu yang aku mau."
Athene menatap Luz. Mengetahui Luz tidak main-main dengan ucapannya, hati Athene semakin menciut. Dalam sekejap derai air mata di balik pelupuknya mengalir bak anak sungai yang tiada henti. Athene tidak bisa menekan ketakutannya.
"Tanganmu belum ku patahkan tapi sudah menangis, dasar anak mama," sambung Luz lalu menyentak tangan Athene sampai gadis itu pasrah dan terhuyung ke belakang.
Keberanian Athene lenyap hanya dengan tatapan yang Luz miliki. Awalnya dia menyuruh Lady Avistasius untuk memanggil si Lady bodoh ke taman agar Athene bisa memberinya sedikit pelajaran. Athene ingin Odyssey tidak pernah lagi berniat menginjakkan kaki di pesta manapun. Tapi hasilnya terbalik, justru Athene-lah yang sekarang sibuk mengusap ujung matanya yang tak berhenti menetes sambil sesenggukan.
Athene lady yang kasar pada orang lain, tapi ia ingin orang lain bersikap lembut padanya. Dia tidak bisa diperlakukan serendah ini oleh wanita yang jelas-jelas beban di keluarganya.
"Buat dia berhenti menangis, telingaku sakit mendengar suaranya," sinis Luz pada Lady Avistasius sebelum beranjak dari sana.
Seperti rencananya tadi, Luz berjalan ke sisi selatan taman. Di sepanjang jalan bunga-bunga dalam pot persegi panjang disusun rapi membentuk jalan setapak yang juga dipenuhi bunga dan rumput lembut. Lampu taman setinggi dua meter menghiasi beberapa petak tanah, tak jauh dari sana biasanya juga terdapat sebuah bangku panjang yang cocok untuk dijadikan tempat membaca.
Luz memerhatikan sekelilingnya, di sini damai dan tenang. Namun tak lama maniknya menyipit tatkala melihat siluet yang cukup familiar dalam ingatannya sedang menatapi sesuatu dari dalam danau. Ah, itu Si bangsawan sialan!
Luz mendekat. Ingin sekali rasanya menendang punggung pria itu sampai dia terjatuh ke dalam danau. Tapi Luz masih memiliki rasa kemanusiaan, sebenci apapun dirinya pada Bangsawan Sialan, Luz tidak sampai hati menyakiti orang lengah lebih-lebih dia belum melakukan hal yang kelewatan terhadap dirinya.
"Ada keperluan apa sampai kemari, lady."
Luz tersentak. Langkahnya yang tidak jauh lagi itu berhenti mendadak. Bingung dari mana si Bangsawan Sialan tahu dia mendekat. Lebih-lebih lagi dia tahu bahwa yang mendekatinya seorang perempuan.
Grand Duke berbalik. Manik kelamnya terlihat lebih terang akibat pantulan cahaya bulan yang terlihat dari permukaan danau.
Luz melotot saat Grand Duke masih betah berdiri di tempatnya sambil memasang wajah tanpa ekspresi. Harusnya dia segera minta maaf dan mengganti rugi!
"Apakah kau tidak merasakan apapun saat melihat ku?" tanya Luz heran. Manusia satu ini sangat tidak tahu malu. Hati yang dia miliki sebenarnya terbuat dari apa?
Fix, dia sedang mabuk.
"Percuma bicara pada orang tidak waras," gumam Luz lalu berbalik pergi. Namun sebelum kakinya melangkah jauh, ia kembali berbalik.
"Sampai hutangmu lunas, aku akan terus menggentayangi hidupmu, my lord," peringat Luz lalu pergi.
Alastair sebenarnya masih dalam keadaan setengah sadar saat wanita itu menanyakan sesuatu yang ambigu padanya. Awalnya Alastair mengira dia sama seperti nona muda lain, datang hanya untuk merayu dan menggoda berharap gelar Grand Duchess jatuh ke tangan salah satu dari mereka. Tapi Alastair salah, Luz justru datang karena ingin menagih hutang. Hutang yang mana, Alastair juga tidak tahu karena hampir seumur hidupnya, dia tidak pernah terlibat dalam hal pinjam-meminjam uang orang lain.
Lama berdiri, akhirnya Alastair memutuskan duduk di bangku yang berada di bawah pohon tua tepat menghadap ke danau. Maniknya mengerjap polos sesaat setelah mengenali siapa wanita tadi.
Itu orang yang sama dengan pria yang mencak-mencak di pasar karena perhiasannya remuk redam akibat diinjak pasukan berkuda, bawahan Alastair yang otomatis menjadi tanggung jawabnya.
Jadi si lady dan pria tempo hari adalah orang yang sama?!
...----------------...
Alunan musik dari biola semakin menonjolkan sisi mewah dari Sormenia. Saat Luz kembali, dansa belum usai. Hall kembali masih ramai dengan wajah-wajah asing yang tidak ada satupun dari mereka yang Luz kenali.
Di sisi kanan terdapat kumpulan gentleman bujangan yang biasanya akan melihat-lihat nona muda dari berbagai tingkat kebangsawanan untuk dijadikan istri. Sejak awal pesta di mulai, mereka tak henti-hentinya menatap Luz kesana-kemari seperti CCTV.
"Dia sangat cantik. Aku bisa merasakan aura keanggunannya bahkan dari sini," seloroh Earl muda Eustreau terkagum-kagum.
"Aku tidak mengerti dengan Galilee. Apa yang ada di pikirannya saat memutuskan hubungan dengan wanita semenarik itu?" sambung Theodore Aegera lalu tergelak saat mendapati wajah Achilles berubah pias sejak kedatangan Odyssey.
"Sayangnya dia bukan Crystal Lady. Jika Lady Odyssey yang memiliki gelar itu, aku jamin mendapatkan hatinya akan lebih sulit," sambung Theodore mengikuti jejak penglihatan Earl Eustreau pada sosok wanita paling bersinar di tengah hall utama. "Semakin sulit mendapatkan hati wanita, maka akan semakin menantang bagi kaum pria. Bukan begitu?"
"Menjadi Crystal Lady ataupun tidak, jika dia masih lajang maka sebentar lagi lamaran ku akan segera sampai di manor house Thompsville."
Achilles Galilee meradang. Dia mengikuti arah pandang teman-temannya lalu mendesah berat. Bolehkah ia berharap bisa mendapatkan Odyssey kembali meski Odyssey tahu dia sudah beristri. Maukah wanita itu menjadi simpanannya dan bersedia menolak semua lamaran?
Mereka harus bicara. Ia yakin Odyssey pasti menerima cintanya karena memang itulah yang Odyssey harapkan sejak dulu.
Mendengar pujian terhadap Odyssey, Marquis Thompsville mendengus. Awalnya dia berniat lewat di sisi kanan hall agar mempermudahnya memanggil si putri kedua mengingat jalan tersebut bisa dikatakan lebih dekat dibandingkan harus melewati jalan lain. Tapi dia sedikit kesal karena dengan entengnya mereka mengharapkan Odyssey yang lemah sebagai Crystal Lady, menggantikan posisi Athene.
Odyssey tidak sekuat itu untuk mengemban gelar Agung.
Dan secara tidak langsung mereka juga bisa dikatakan menghina Marquis Thompsville. Karena terpilihnya Athene sebagai Crystal Lady merupakan keputusan sang kepala klan de Cera.
"Yang Mulia raja memanggilmu," bisik Marquis Thompsville diiringi tatapan takut dan gelisah sesaat setelah menemukan Luz. "Tolong buat semua ini mudah. Jangan terlalu memaksakan diri jika mereka membicarakan sesuatu yang tidak kau pahami, mengerti?"
Luz melipat kedua tangannya di depan dada lalu mendengus. Meragukan, eh?
Alih-alih menjawab 'mengerti', Luz segera bangkit dari kursinya dan berjalan anggun menuju takhta di sisi utama istana.
Mari buat hari ini semakin menarik.