
Luz memerhatikan rak-rak yang tertempel di dinding. Jika biasanya benda itu berfungsi untuk meletakkan buku, berbeda dengan ruangan rahasia milik Grand Duke ini. Di sana banyak disusun senjata siap pakai dari pisau kecil berbentuk pena sampai senapan besar yang beratnya berkilo-kilo.
Memegangnya saja memerlukan banyak tenaga. Bagaimana jika mengoperasikan? Huh, pasti melelahkan.
"Kakak."
Luz menoleh. Ochonner sudah berdiri di ambang pintu ruang kerja pemimpinnya sambil berucap lagi, "Grand Duke menunggu di dalam."
"Untuk apa?"
Ochonner menghela napas. "Tanyakan hal itu pada Grand Duke."
Meski setengah mencibir, Luz tetap masuk meninggalkan Ochonner. Ia ingin tahu, apa yang Grand Duke mau darinya.
Mendengar pintu dibuka, Alastair mendongak lalu tersenyum simpul, "Silakan duduk di sini, lady." Pintanya sambil menunjuk ke sebuah kursi kayu persis di depannya.
Luz bungkam. Menuruti Grand Duke, ia duduk di depan pria itu sambil menatapnya datar namun penuh kecurigaan.
"Bagaimana menurut Anda tentang ruangan rahasia ini?" tanya Alastair masih mempertahankan keramahannya.
"Sejujurnya tuan Grand Duke, aku kurang suka berbicara terlalu kaku seperti ini jadi lebih baik kita menjadi teman dan berbicara santai saja," jawab Luz melenceng dari pertanyaan Alastair sebelumnya.
"Teman?" Alastair tidak menyangka. Setelah sekian lama akhirnya dirinya dianggap teman. Kemajuan yang sangat bagus. "Baik, teman."
Luz mengerjap. Dia salah bicara. Apa dirinya sudah gila sampai menganggap Grand Duke sebagai teman. Wajahnya saja kaku, se-kaku baju perangnya yang terbuat dari baja. Luz sangsi jika pria ini memiliki teman.
"Menurutku ruangan mu sangat menarik apalagi senjata-senjata yang kau letakkan di rak depan."
Alastair mengangguk.
"Cara memasuki tempat ini juga terbilang unik. Aku bahkan belum kepikiran sampai ke sana."
Alastair kembali mengangguk.
"Tapi ada yang kurang."
Alastair mengernyit. "Apa itu?"
"Di sini cukup menyeramkan," jawabnya jujur. "Apa di jalanan Brighton juga begini?"
"Menyeramkan seperti apa?" Alastair mengerjap. "Aku ... tidak pernah berpikiran sampai ke sana."
Luz syok, "Jangan bilang .... ?!"
Alastair terbengong. "Apa?"
"Ya ampun!"
Luz hanya geleng-geleng kepala. Grand Duke jika di perumpamakan sama seperti robot abad 21, benar-benar canggung dan susah diajak bercanda. Luz jadi mengatakan tempat ini menyeramkan karena nuansanya yang gelap ditambah patung-patung raksasa yang disusun di dekat rak, seolah-olah mereka menatap siapapun yang masuk ke dalam ruangan rahasia ini. Siapapun istrinya di masa depan, Luz hanya bisa mengatakan padanya bahwa ia harus banyak bersabar.
Mempunyai suami seperti Alastair adalah ujian.
"Ah, ya. Ada beberapa hal penting yang harus kita bicarakan."
"Apa?" Luz menebak-nebak, "Jangan bilang perkamen itu hilang."
"Masih aman bersamaku," jawab Alastair setelah melihat kilatan maut dari sorot mata Luz.
"Baguslah."
"Jadi begini." Alastair berdehem, "Melihatmu ingin merebut gelar Crystal Lady, berarti kau sudah mengerti dasar-dasar politik, benar?"
Luz mengernyit. "Langsung pada intinya saja."
"Kau ingin aku membantumu saat perebutan gelar nanti, kan."
"Tentu saja, suaramu cukup penting."
"Seperti perjanjian politik biasanya, aku tidak bisa melakukan itu jika aku tidak mendapatkan keuntungan apa-apa."
"Grand Duke, kau sudah berjanji padaku." sahut Luz kesal. "Jadi kau ingin membatalkannya. Bagaimana bisa seperti itu!"
"Huh?"
"Mari buat keuntungan bersama." Alastair mengambil sebuah pena dan mencoret-coret kertas dengan skema. "Aku tetap membantu, tapi setelah gelar Crystal Lady berhasil menjadi milikmu, kau harus membayarnya."
"Dengan apa?"
"Tinggal di sini. Di Brighton."
Luz menatapnya penuh curiga. "Aku tidak yakin jika hanya sekadar tinggal santai di sini."
"Ya, kau tahu dengan baik." Alastair terkekeh, "Aku mengingat dandanan unikmu di pesta istana kemarin. Bagaimana jika kau bekerja untuk ku?"
Unik apanya, itu fashionable, dasar manusia robot!
Alis Luz terangkat. "Sebagai tata rias?"
"Tepat sekali!"
Luz tertegun. Berbeda dari New York, pria di sini belum mengenal make up. "Kau ingin di dandani?"
"Bukan seperti itu." Alastair sebenarnya gemas bukan main. "Di kota, tidak ada satupun perias yang handal. Aku ingin memperlengkap fasilitas di sana."
Seberapa mengerikannya kota di Brighton sampai tidak ada perias yang kompeten?!
"Maaf, Grand Duke, tapi bayaran ku mahal. Apa kau sanggup?" ucap Luz sedikit sombong.
Wajar saja, kan dirinya adalah tata rias internasional. Gajinya setiap sekali memoleskan make up saja bisa digunakan untuk membeli sebuah rumah. Tapi itu dulu, di New York dan sekarang dia harus berjuang dari titik nol kembali.
"Harga akan diputuskan sesuai kepuasan pelanggan pertamamu." jawab Alastair mutlak.
"Pelanggan tidak akan mencari toko kecantikan lain jika sudah mencoba pelayanan dariku." Luz tersenyum menang. "Sudah banyak buktinya. Itu berarti mereka puas."
"Percaya diri sekali, padahal ini pengalaman pertamamu, kan?" cibir Grand Duke disertai tatapan kasian.
Oh, dia tidak tahu saja seberapa berbakatnya seorang Lovely Anderson.
"Mau ku buktikan sekarang, Grand Duke?"
Tiba-tiba ekspresi Alastair kembali menegang. "Aku tidak ingin menjadi kelinci percobaan mu."
"Biar Ochonner saja." Luz mengeluarkan sebuah kotak. Kotak rias miliknya yang entah kapan ada di situ. "Jika dia sudah didandani, tolong jangan sampai kau terpukau dengan kecantikannya."
Alastair semakin ngeri, "Tidak, laki-laki bukan seleraku."
Luz beranjak dari tempat duduknya dan berlari ke luar. Ia melongokkan kepala di daun pintu, ternyata Ochonner sedang duduk di bangku lorong.
"Ochonner!"
Pria itu menarik kepala dan mengangkat matanya yang sejak tadi melekat pada baris tulisan di buku. Menatap Luz dengan alis terangkat seolah mengatakan 'apa'.
"Kemari!"
Ia meletakkan bukunya dan kembali masuk ke dalam ruang kerja Grand Duke tanpa tahu apa yang sedang direncanakan dua orang tersebut.
"Di mana Grand Duke—hhmp!"
Alastair yang bersembunyi dibalik pintu segera mengikat tubuh Ochonner sampai pria itu tidak bisa bergerak. Setelah dirasa ikatannya cukup kuat, barulah mereka mendudukkan Ochonner di sebuah kursi.
"Kalian tidak waras. Ada apa ini, lepaskan aku!"
"Aku tidak akan menyakitimu, adik tersayang." Luz membuka tasnya, mengeluarkan beberapa kuas, spons, dan bedak. Tidak ditinggal juga perona pipi dan bibir. "Grand Duke sangat perhitungan dan tidak percaya padaku. Jadi biarkan aku membuktikan diri melalui dirimu bahwa aku pantas sebagai perias handal yang berpengalaman. Aku meminjam wajahmu, ya?"
"Tidak, tidak ku izinkan!" Ochonner menggelepar seperti ikan yang terseret ombak ke pinggir pantai. "Odyssey, lepas atau kau tidak ku beri uang lagi!"
"Maka dari itu, aku ingin bekerja supaya tidak meminta uang-uang mu lagi." Tanpa meminta izin, Luz mencecapkan spons pada bedak tabur yang dibawanya. "Diam dan lihat bagaimana dandanan ini bekerja."
Seseorang, tolong selamatkan Ochonner sekarang!