Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
55. Dua Orang yang Tidak Lagi Sejalan



Sekali lagi, Evandre menatap ragu ke arah sigaret yang ia bawa. Kotak bertahtakan emas itu terlihat sangat elegan, namun sangat mematikan jika dihisap terus-menerus.


Tidak, Evandre tidak boleh ragu. Jika jawaban sang ayah terbukti mengecewakannya, maka Evandre tidak segan-segan untuk membunuhnya malam ini.


"Di mana His Majesty?"


"Beliau berada di dalam bersama Lady Clausie," jawab pelayan yang berdiri di depan pintu kamar sang raja.


Ah, ternyata pria itu sedang bersama selirnya.


"Katakan padanya bahwa aku ingin menghadap."


Pelayan tersebut mengangguk hormat lalu berbalik dan memasuki peraduan raja yang sedang bersama selirnya. Ah, ralat. Selir kesayangannya.


"Silakan masuk, Your Highness."


Evandre masuk ke dalam kamar tersebut. Dilihatnya dua orang dewasa tengah duduk di salah satu kursi yang mengitari meja bundar yang diletakkan di balkon kamar. Raja hanya meliriknya sebentar sedangkan Lady Clausie, wanita itu justru tersenyum lembut saat melihat kehadirannya. Dengan gerakan anggun, wanita itu melambai ke arah Evandre.


"Putra Mahkota, kemari lah dan minum arak bersama kami."


Evandre memasang senyum palsu. Dia membenci Lady Clausie, hanya karena wanita itu selalu bersikap sok polos sehingga berhasil merebut hati raja. Kebetulan Evandre ingin membunuh raja dan sang lady yang dibenci ada di hadapannya.


Semua kejadian ini ... Evandre bisa melimpahkan semua tuduhan kepada selir keempat, kan?


"Saya tidak minum untuk malam ini," tolaknya halus lalu menghampiri dua orang itu. "Sepertinya kedatanganku terlalu terburu-buru. Jika ayah dan ibu sibuk, maka—"


"Oh, tidak. Urusan kami sudah selesai." Lady Clausie memberikan kedipan manja ke arah suaminya. "Tidak baik untuk menunda pekerjaan apalagi jika menyangkut negara kita. Kalau begitu, aku pamit dulu."


"Kau terlalu cepat pergi, Clau." Raja Izaikhel mencengkeram lembut telapak tangannya hingga wanita itu terkekeh.


"Jika urusan Anda sudah selesai, Anda bisa datang padaku kapan saja."


"Baiklah. Tidur lebih dulu, hm. Aku akan segera menyusul."


"Seperti yang Anda perintahkan, Your Majesty." Lady Clausie memberikan kecupan ringan di pipi sang raja lalu pergi dari peraduan tersebut.


"Ku lihat ayah mencintai wanita itu lebih dari mencintai ibu, ya?" tanya Evandre lalu tertawa kecil.


"Tentu saja. Dia masih muda dan cantik, tidak ada cacat di tubuhnya," jawab Izaikhel tanpa malu. "Omong-omong kenapa malam larut seperti ini kau kemari?"


Evandre sama sekali tidak peduli Izaikhel akan menghabiskan malam bersama siapa. Sama sekali tidak peduli. Tapi mengenai hasil dekrit raja yang diturunkan hari ini, Evandre sangat menantikannya.


"Bagaimana hasilnya?"


Izaikhel tidak langsung menjawab. Ia mengerti ke mana arah pembicaraan putra pertamanya. Pria yang tidak lagi muda itu memilih mengambil cangkir arak yang tersedia di depannya lalu meminum isinya hingga tandas.


"Permintaanmu tidak bisa ku penuhi. Grand Duke sudah melamarnya lebih dulu."


Mendengar jawaban Izaikhel yang seolah tanpa beban, diam-diam Evandre mencengkeram kotak sigaret yang berada di pangkuannya.


"Putra Mahkota, dimanakah letak baktimu?" tanya Izaikhel dingin. "Aku susah payah membantumu tapi justru ini yang kudapatkan. Jika kau lupa, kau tengah menghina raja Sormenia!"


Evandre langsung berlutut dengan kepala tertunduk. "P-putramu ini sudah salah besar. Aku memohon maaf dan welas asih Anda, Your Majesty."


"Setelah begini baru meminta maaf?" Izaikhel menyipitkan matanya lalu tersenyum sinis. "Aku tidak sudi menerima permintaan maaf darimu. Grand Duke benar, kau tidak siap untuk mengemban tugas sebagai raja selanjutnya."


"Ayah ...."


"Aku akan kembali mengangkat Grand Duke dari Brighton menjadi putra mahkota. Kali ini, aku tidak akan membantumu. Merangkak lah sendiri sampai kau pantas mendapatkan kursi tertinggi!"


Sebenarnya menjadikan Alastair sebagai raja selanjutnya hanyalah ancaman. Izaikhel tentu tidak benar-benar ingin menjadikan putra Derrick itu sebagai raja. Ia hanya menekan Evandre agar putranya itu tidak bergantung pada dirinya lagi.


Akan tetapi, menjadikan Alastair sebagai putra mahkota berikutnya tentu bukan main-main. Izaikhel ingin agar Grand Duke sementara waktu tinggal di istana agar pria berpengaruh itu masih bisa ia kendalikan. Izaikhel semakin hari semakin khawatir, Alastair sudah terlalu jauh dari jangkauannya. Tidak menutup kemungkinan pria itu sudah membelakangi keluarga kerajaan dan mendapatkan banyak perhatian dari rakyat Sormenia melebihi Evandre sendiri.


Wajah Evandre mengeras. Ia sungguh tidak percaya jika raja benar-benar akan menggulingkannya, persis seperti yang pernah Grand Duke ucapkan. Raja sudah tidak mempercayainya. Dan lagi, seperti perkataan Grand Duke, ia akan mendapatkan haknya kembali sebagai putra mahkota.


Evandre berhasil diprovokasi. Dan raja berhasil dibuat khawatir sehingga dua orang itu sekarang bersebrangan. Mereka tidak lagi berada di jalan yang sama.


Dan perpecahan mereka terbentuk berkat kecerdikan Grand Duke dari Brighton.


Keputusan Evandre sudah bulat. Tidak main-main, malam ini Izaikhel harus mati.


"Aku mengerti," jawab Evandre singkat setelah keterdiaman mengambil alih dalam waktu cukup lama.


Raja Izaikhel menghela napas lega. Ia mengira putranya itu sudah mengerti tujuannya tanpa harus ia jelaskan satu-persatu. "Baguslah. Ayah hanya menginginkan yang terbaik untuk negeri kita."


"Daripada pusing memikirkan takhta, bagaimana jika kita bersenang-senang sebentar?" ucap Evandre mengalihkan topik pembicaraan.


"Kemarin aku mendapatkan hadiah dari Kerajaan Authrine. Kedatanganku kemari juga bermaksud untuk menyerahkan hadiah ini kepada Anda." Evandre mengeluarkan sekotak sigaret yang sudah ia bawa sebelumnya dan meletakkan benda itu di atas meja.


Alis sang raja menukik. Matanya melirik benda yang Evandre bawa dengan tatapan heran. "Hati-hati dengan Authrine, Vandre. Mereka musuh karena mereka berasal kaum bar-bar, bukan sekutu kita. Lagipula, benda apa yang kau bawa."


"Bukankah lebih baik untuk menjalin hubungan dengan seluruh kerajaan. Dengan begitu tingkat peperangan yang kita alami akan menurun," jelas Evandre sembari membuka kotak emas tersebut. "Ini adalah sigaret dari tembakau pilihan, Your Majesty. Hanya ada di Authrine dan produksinya juga terbilang sangat sedikit."


Izaikhel menatap kotak tersebut dan Evandre secara bergantian. Tanpa pikir panjang, ia meraih benda tersebut dan menyalakan ujungnya dengan api. Cukup membantu meringankan beban yang seharian ini bertumpu di pundaknya walau sedikit ada rasa sepat di tenggorokan setiap kali sang raja menghisapnya.


Diam-diam Evandre mengambil sebatang rokok dan membuka isinya. Racun tersebut terletak di bagian tengah, jadi tidak takut bubuknya akan berjatuhan saat mengambilnya. Ia pura-pura mengambil botol arak Izaikhel untuk minum. Saat Izaikhel lengah, Evandre memasukkan racun tersebut ke dalamnya agar saat pelacakan nanti Lady Clausie yang membawa arak tersebut akan dituduh sebagai pelaku pembunuhan raja.


Asap dari sigaret tersebut cukup unik. Tidak mengepulkan aroma yang menyesakkan seperti sigaret kebanyakan tapi cukup untuk merusak organ tubuh jika terpapar lebih dari lima menit. Evandre berdiri, lalu membungkuk hormat. "Sepertinya aku sudah memblokir waktu tidur ayah. Kalau ayah berkenan, aku akan pergi."


"Ah, ya. Pergi saja. Setelah ini aku ingin menghabiskan waktu bersama Lady Clausie."


Evandre mengangguk lalu berjalan ke arah pintu. Sekali lagi ia menoleh, memastikan sang raja menghisap sigaret-nya seperti orang kecanduan dengan senyum miring yang terpatri di atas bibir.


"Aku tunggu kabarmu besok pagi, Your Majesty."