
Bel yang diletakkan di atas pintu berbunyi saat seseorang mendorong pintu dan masuk ke dalam toko. Luz yang kebetulan sedang santai karena pelanggan-pelanggan sudah ia serahkan kepada para bawahannya itu menoleh ke sumber suara. Ia segera berdiri saat tahu siapa pria yang berada di dalam topi jerami itu. Dengan isyarat mata, ia mengajak Cornelius masuk ke dalam ruang rahasia yang tersembunyi di bagian dalam toko.
Cornelius takjub saat memperhatikan bagaimana cara Luz membuka pintu rahasia tersebut. Wanita itu menarik sebuah kandelir yang tertempel di salah satu dinding. Jika dilihat sekilas, tidak ada perbedaan antara kandelir itu dengan kandelir lain. Semuanya tampak sama.
Luz menarik tuasnya ke bawah dan seketika suara dinding yang saling bergesekan memenuhi Indra pendengaran mereka.
Tak lama, dinding terbelah. Membuka sebuah jalan yang mengantarkan menuju sebuah ruangan gelap di ujung sana. Luz masuk diikuti Cornelius. Dalam sekejap, dinding tersebut kembali tertutup seolah tidak pernah ada apa-apa di sana.
Setelah pintu kembali tertutup, ruangan tersebut semakin terdengar sepi. Hanya terdengar langkah kaki mereka yang seolah saling bersahutan saat menapaki lantai yang kering. Jalan dibuat menurun, dan yang pasti tempat ini adalah ruang bawah tanah.
Saat berhasil melewati lorong tersebut, Cornelius melihat ada beberapa pintu tertutup. Luz membuka salah satu pintu yang terletak di tengah-tengah ruangan lain. Di dalam sana, terlihat seorang pria sudah duduk menunggu di atas sebuah kursi bertakhtakan naga yang meliuk ganas.
Alastair.
"Selamat datang, Orang kepercayaan putra mahkota," sindir Alastair. Maniknya tidak lepas dari Cornelius, untuk mengamati ekspresinya yang mungkin saja janggal. Tapi pria itu tetap datar, tidak menunjukkan reaksi apapun.
Baik. Alastair bisa mempercayainya.
Sebab jika Cornelius mata-mata, ekspresinya tidak mungkin bisa setenang itu. Alastair mengenal banyak orang di dunia ini, dia tidak akan bisa ditipu.
"Kalau begitu langsung saja katakan apa yang ingin kau sampaikan." Alastair menyadari bahwa Cornelius sempat melirik Luz yang duduk di salah satu sofa. "Kau tidak keberatan 'kan jika Crystal Lady ikut serta?"
"Tentu saja tidak masalah," jawab Cornelius cepat. "Hanya saja untuk beberapa masalah besar, biasanya wanita tidak ikut andil."
"Anda meragukan ku, tuan?" Luz terkekeh, tidak merasa tersinggung dengan ucapan halus Cornelius yang mengatakan bahwa dirinya tidak harus ikut campur. "Jika kalian berperang menggunakan kekuatan, maka aku akan bertarung menggunakan akal. Saranku jika ingin hidup selamat, jangan pernah sekalipun meremehkan ular tanpa racun. Memang tidak menggigit, tapi mereka bisa melilit tubuh lawannya sampai mati. Anda mengerti, kan?"
Jika tidak bisa membunuh menggunakan pedang, maka Luz bisa membunuh dengan strategi tanpa mengenal kata menyerah. Camkan itu baik-baik.
Luz sudah mengatur siasat. Hanya tunggu waktu mainnya saja.
Kilatan mata Cornelius menajam. Ia melirik ngeri, tidak menyangka jika calon istri Grand Duke akan sama mengerikannya dengan sang pemimpin. Sedangkan Alastair menatap kedua orang di depannya dengan senyuman miring terukir di bibir.
"Kalau begitu saya sudah salah menilai." Cornelius memberikan senyum tipis tanda perdamaian. Benar, ia tidak bisa meremehkan Crystal Lady. "Mohon maafkan saya yang kurang pandai berbicara ini."
"Langsung jelaskan saja. Apakah benar lagi-lagi putra mahkota yang melakukan semua ini?" Luz membuka suara, menembak tepat pada sasaran.
Cornelius mengangguk pelan. Ia mengeluarkan sebuah kotak emas dan botol arak yang sebelumnya ia simpan di balik punggung. "Dua barang ini adalah bukti terkuat yang saya dapatkan di kamar His Majesty tadi pagi sebelum pasukan penyelidik datang memeriksa."
Cornelius menyentuh ujung botol arak. "Benda ini saya dapatkan di meja santai. Dari informasi para pelayan yang berjaga, malam itu Lady Clausie memang bersama dengan His Majesty mengobrol sambil meminum arak. Tapi ada beberapa kejanggalan sebab saya melihat ada dua cangkir sudah dipakai ditaruh di atas meja, yang artinya Lady Clausie juga meminum arak dari botol yang sama. Jika memang racun tersebut bermula dari arak ini, mengapa hanya His Majesty yang terkena dampaknya?"
"Tapi siapa pelakunya, belum diket—"
"Putra Mahkota." Alastair semakin puas saat menyadari wajah Cornelius menatapnya pias. "Aku sudah tahu. Dan ku harap, kau tidak akan berbohong demi melindungi pria manja itu."
"Saya tidak mengelak." Cornelius menghela napas panjang. "Itulah penyebab saya datang kepada Anda, Your Grace. Jika semua bukti ini saya serahkan bulat-bulat kepada putra mahkota, tidak perlu hari esok untuknya membunuh Lady Clausie di hadapan semua orang."
"Tapi aku masih meragukanmu." Alastair menatap dingin. "Kau orangnya, kenapa kau tiba-tiba berbalik dan ingin bergabung bersamaku?"
"Saya orang His Majesty, bukan putra mahkota." Tangan Cornelius mengepal. "Andai bukan atas perintah Yang Mulia raja, saya tidak akan sudi menjadi tangan kanan putra mahkota. Sekarang, orang yang paling disayangi His Majesty itu justru menikam ayahnya sendiri dari belakang. Grand Duke, menurut Anda, apakah saya masih pantas berdiri di samping putra mahkota?"
Luz hanya diam, mendengarkan pembicaraan dua orang itu dengan seksama sambil memikirkan strategi yang tepat sebelum menyerang istana.
Alastair menggeleng, "Kau tidak pantas berdiri di sampingnya. Cornelius, kau berhak mendapatkan kemuliaan yang lebih tinggi dari itu."
"Saya juga berpikir demikian," jawabnya jujur. "Siapapun yang berada di balik kematian His Majesty, aku tidak akan memberinya ampun sedikitpun."
Cornelius hanya tidak tahu bahwa dalang di balik kematian Raja Izaikhel yang sesungguhnya adalah orang yang sedang duduk di depannya itu. Mengangguk santai seolah tidak ada masalah sama sekali.
"Orang setia sepertimu sangat sulit didapatkan. Cornelius, bagaimana jika kita bekerja sama?" tawar Alastair pada akhirnya.
"Apa yang bisa ku dapatkan dari kerjasama ini?"
"Jika kita berhasil mengkudeta istana, aku tidak akan main-main." Alastair tersenyum misterius. "Apakah kau tertarik dengan kursi panglima jenderal?"
Menjadi seorang panglima jenderal tentu merupakan sebuah kehormatan yang sangat besar. Selain melambung tinggi nama keluarga, Cornelius tentu tidak akan terkungkung dalam penjagaan satu orang saja. Bakatnya adalah pedang, membunuh adalah kesukaannya dan bau anyir adalah semangatnya. Bukan berdiri sepanjang hari di depan ruangan putra mahkota saja, mengumumkan siapa yang datang berkunjung, dan membuntuti kemanapun orang itu pergi seperti seorang kasim.
Cornelius tidak akan menyia-nyiakan kesempatan.
"Kalau begitu saya merasa sangat dihormati." Ia menundukkan kepala, sebagai tanda penghormatan awal seorang bawahan kepada pemimpinnya. "Anda bisa mencari saya jika ada informasi yang ingin Anda ketahui. Apapun itu, karena istana bukan lagi tempat asing bagi saya. Hanya saja ... sekarang kita memerlukan strategi."
Alastair melirik ke belakang, tepat ke arah sofa. "Crystal Lady, apakah kau sudah memiliki ide?"
"Tentu saja ada."
Luz berdiri. Membentangkan kain putih di atas meja dan mengambil sebuah pena yang sebelumnya sudah ia celupkan di dalam cairan tinta. "Mari saya jelaskan satu-persatu agar tuan-tuan bisa memahaminya."