
Usai mengucapkan selamat malam selepas dinner bersama satu-satunya keluarga yang ia miliki, Luz berjalan ke arah lift yang mengantarkan dirinya langsung di depan pintu kamar. Tangannya terangkat saat pelayan ingin membukakan pintu. Aku bisa melakukannya sendiri, batin Luz lalu menatap pelayan tersebut.
Merasa diperhatikan, pelayan pria berkisar dua puluhan tahun itu menunduk. Menunggu sepatah dua patah kata meluncur dari bibir majikannya.
"Sudah malam. Tidak perlu bekerja lagi, kau bisa beristirahat di kamarku sekarang."
Mendengar kalimat 'Tidak perlu bekerja lagi', Pelayan tersebut mendongak. Mengerjap bingung. "Apakah saya sudah membuat kesalahan, nona?"
"Tidak-tidak, bukan begitu," timpal Luz buru-buru. "Bekerja seharian pasti melelahkan. Lebih baik segera beristirahat, mempersiapkan stamina untuk besok. Aku bisa melakukannya sendiri."
Paham dengan penjelasan sang nona muda, pelayan tersebut mengangguk cepat dengan wajah berseri. "Terima kasih banyak, nona."
Ternyata, gosip yang mengatakan bahwa putri tunggal Anderson sudah berubah menjadi pribadi yang lebih mandiri itu benar adanya. Dulu, jangankan membuka pintu. Menarik selimut saja Luz perlu meminta bantuan pada pelayannya.
Membuka pintu kamar, Luz menyalakan lampu hingga ruangan berdindingkan kaca itu seketika terang benderang. Di sisi kanan ruangan terdapat pintu lain yang terkoneksi dengan kamar mandi, ruang berganti pakaian, dan lemari fashion miliknya yang memuat pakaian, sepatu, sampai aksesoris. Ranjang berukuran besar berbentuk lingkaran yang juga dihiasi kelambu gantung berwarna putih gading menjadi tempat favoritnya di kamar ini.
Luz menyapukan pandangannya. Mungkin ia akan merindukan tempat ini. Untuk beberapa tahun ke depan, ia tidak akan tinggal di New York.
Beberapa buah koper berukuran besar sudah tersusun tak jauh dari tempat tidur. Awalnya para pelayan ingin mengepakkan barangnya, tapi Luz menggeleng dan mengatakan akan mengepak barangnya sendiri sampai mereka terheran-heran.
Beberapa hari yang lalu juga begitu. Denise yang kebetulan bertandang ke rumahnya tiba-tiba terkejut dengan perubahan drastis dari sohibnya sejak kecil ini. Sebelum mengalami koma, jangankan mau repot-repot menyambut tamu, membawa peralatan make up nya saja Luz enggan. Kalau tidak percaya, silakan kalian baca kembali episode awal.
Luz mengambil pakaiannya yang digantung di dalam lemari raksasa. Mengambil beberapa dan melipatnya satu persatu. Di tengah kesibukannya memasukkan pakaian ke dalam tas, Luz mengernyit kala menyadari ada sebuah kertas terselip di antara tumpukan dress yang akan ia bawa.
Mengambil kertas tersebut, Luz membacanya perlahan.
Di semua kehidupan, kita tidak pernah ditakdirkan bersama.
Aku selalu bersamamu walau kau tak tahu
Manuel dan Evandre adalah orang yang sama. Aku penyihir, bukan hal mustahil untuk hidup ribuan tahun, kan?
Aku memiliki segalanya, aku sempurna. Tapi mengapa kau tidak pernah sekalipun memilihku?
Karena aku membutuhkan orang yang benar-benar tulus padaku, bukan orang yang sempurna, batin Luz menjawab.
Pertanyaan yang selama ini bercokol di dalam benak Luz akhirnya terjawab.
Pantas saja tidak ada kabar lagi setelah Evandre ditangkap. Tidak tahu apakah dia bunuh diri, dibunuh, atau melarikan diri. Benar-benar tidak ada kabar. Bisa hidup sampai sekarang, entah bagaimana cara ia bisa kabur dari penyekapan pasukan khusus Sormenia. Yang jelas Evandre adalah Manuel di kehidupan lama. Orang yang sama, namun tidak serupa.
...----------------...
...SURAT PENGUNDURAN DIRI...
...Dengan ini menyatakan bahwa Alastair Ephraim la Empyrean, Kaisar pertama Sormenia resmi mengundurkan diri dari pemerintah dan jabatannya. Segala kewajiban, kebutuhan, dan kepentingan masyarakat akan dialihkan kepada Kaisar Baru yang sudah ditunjuk atas kemauan sang Kaisar tanpa paksaan dari pihak manapun disertai persetujuan dari para menteri. Jika ditemukan adanya pemberontakan atas perintah ini, maka Kaisar berwenang untuk menyerahkan pasukannya kepada Kaisar Baru. Memerangi para pemberontak, dan menertibkan Sormenia seperti semula....
^^^Sormenia,^^^
^^^Kaisar I Ephraim la Empyrean^^^
Giselle melangkah tak percaya sekaligus lunglai tatkala selesai membaca selebaran pengumuman paling menggemparkan itu. Semua orang berdesakan, lalu bergosip. Sama seperti biasanya. Belum genap tiga bulan namun Alastair memutuskan untuk mangkat. Sebenarnya apa yang terjadi?
"Ibu!"
Giselle berlari di lorong-lorong istana selatan. Monetta, sang ibu yang sebelumnya sibuk merajut itu pun kini menoleh, menatap heran putrinya yang terlihat tergesa-gesa.
"Ada apa, Giselle. Tenanglah, tidak perlu berlari-lari seperti membawa berita buruk saja," gerutunya kesal.
"Memang berita buruk!" jawab Giselle yang berhasil menghentikan gerakan ibunya yang sedang memasukkan benang di dalam jarum. "Di ibukota, selebaran pengumuman resmi ditempel, mengatakan Kaisar telah mangkat."
"Apa? Kaisar Alastair mangkat maksudmu?!" ulang Monetta tak percaya. Matanya bergerak liar, memikirkan berbagai cara agar posisi Giselle tetap menjadi calon permaisuri. "Apa kau tahu siapa kaisar baru yang dia tunjuk?"
"Belum diumumkan," jawab Giselle tak kalah bingung. "Jika seperti ini, tidak ada harapan lagi menjadi permaisuri—seperti kehendak ibu sebab kaisar telah mangkat."
"Masih ada cara," sanggah Monetta cepat. "Kaisar baru mungkin saja masih melajang. Jika tebakan ibu ini benar, peluang menjadi permaisuri tentu lebih besar untuk kau wujudkan. Tenang saja, ibu akan mencari tahu."
Tentu saja orang terdekat sang Kaisar. Ochonner de Cera.
"Aku tahu setelah ini kau akan menjadi kaisar," ungkap Monetta langsung lalu meraih salah satu cangkir di atas meja, meminum sedikit isinya hanya untuk basa-basi. "Selamat. Posisimu akan melonjak naik, ya?"
Ochonner membalasnya dengan kekehan kecil. "Jauh-jauh kemari, katakan. Apa tujuan Anda?"
"Tidak, aku hanya khawatir karena ini kali pertamanya kau akan menjadi pemimpin. Pasti sulit. Aku sendiri heran kenapa Yang Mulia Kaisar menyerahkan mandat yang begitu besar padamu. Sangat tidak bertanggung jawab," kritiknya tajam.
Ochonner mengangguk perlahan, "Lalu?"
"Sebagai orang yang mahir di pemerintahan, aku menawarkan jalan pintas untuk calon kaisar seperti dirimu," ujar Monetta seraya menatap lawan bicaranya lekat. "Demi Sormenia dan masa depan kita, aku siap membantu."
"Tapi tidak gratis, kan?"
"Di dalam dunia politik, tidak ada yang namanya gratis," sahut wanita itu lagi. "Jadikan putriku sebagai permaisurimu. Aku jamin bagian istana dalam akan kembali sejahtera jika berada di tangan orang yang tepat seperti diriku."
"Apakah maksud Anda, Anda ingin kembali memerintah, mantan ratu?" tekan Ochonner saat ia mengucapkan 'Mantan Ratu' membuat Monetta merah padam. "Setelah semua kekacauan yang putra Anda lakukan, apakah Anda masih berani menampakkan wajah di dewan istana?"
"Belum menjadi kaisar saja sudah lancang!"
"Teruslah jajakan putrimu itu pada pria lain, saya tidak tertarik," ketus Ochonner tajam. "Ah, dan satu lagi. Anda datang pada orang yang salah. Saya bukanlah calon kaisar yang terpilih."
Monetta terpaku.
"Sekedar informasi. Duke of Lancess lah yang akan menjadi kaisar selanjutnya." Ochonner menampilkan senyum manis yang berkebalikan dengan suasana hatinya yang tiba-tiba memburuk setelah datangnya Monetta. "Saya tahu maksud Anda. Tidak usah mengelak, pasti demi menjaga agar bisa tetap tinggal di istana, Anda melakukan perjodohan ini, kan?"
Lidahnya kelu sekadar untuk mengelak perkataan Ochonner. Akhirnya Monetta hanya diam sampai calon Marquis itu kembali melanjutkan ucapannya.
"Duke Lancess tidak menyukai Anda, mustahil menjadikan Putri Giselle sebagai istrinya. Sebagai saran, bagaimana jika mulai dari sekarang Anda berkemas sebelum Duke Lancess naik takhta." Ochonner tampak menikmati wajah pias wanita di hadapannya. "Daripada malu sendiri saat gosip tentang pengusiran mantan ratu terdengar di seluruh Sormenia."
"Dia tidak akan berani mengusirku," desisnya kasar.
"Bukankah kalian tidak memiliki hubungan kekerabatan sama sekali. Apa yang menyebabkan Duke Lancess tidak berani?"
Telak, mantan ratu tidak bisa membuka mulut.
"Kalau begitu, aku pulang." Monetta segera menyambar topinya lalu berdiri. Menatap Ochonner tajam sebelum memutuskan keluar dari ruangan tersebut. "Jika terjadi sesuatu, jangan pernah sekalipun meminta pertolongan padaku, putra Thompsville!"
Ochonner tertawa, "Anda sangat lucu, nyonya." Ia menyapukan sebutir air mata yang menetes di ujung matanya akibat tertawa berlebihan. "Justru Anda lah yang akan meminta pertolongan kepada kami. Nanti, suatu saat."
Monetta semakin geram dengan kekurangajaran Ochonner. Mendengus kasar, ia akhirnya benar-benar keluar tanpa meninggalkan sepatah katapun.
"Ada-ada saja." Ochonner menggeleng kecil lalu bangkit bersamaan dengan datangnya Wilbert McKinney yang membawa mantel musim gugur.
"Untuk apa, Wilbert?"
"Musim gugur diperkirakan turun hari ini. Cuaca di luar mulai dingin, My Lord. Apa tidak seharusnya Anda memakai ini?"
Ochonner meraih pemberian Ochonner dan menerawang jauh mantel tersebut dengan tatapan rindu.
"My Lord...."
"Mantel pemberian Odyssey."
"Y-ya?"
"Ambilkan mantel pemberian Odyssey," ulang Ochonner lagi lalu meletakkan kembali mantel lembut yang dibawa Wilbert.
Ha, Ochonner merindukan suara wanita itu. Apalagi saat mendengarkan keantusiasan dirinya.
"Lovely ... akankah kita bisa bertemu kembali?"