Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
34. Berdua



"Putra mahkota ... apa Anda baik-baik saja?"


Evandre memijit pelipisnya, "Cukup buruk saat Crystal Lady menghampiriku," jawabnya jujur. "Cornelius, aku ingin menyelinap sebentar."


"Anda akan pergi ke mana?" Cornelius tersentak, "Sebentar lagi makan malam. Orang-orang akan tahu Anda pergi saat melihat kursi Anda kosong di ruang makan."


"Bilang saja aku makan di kamar," sahut Evandre santai lalu meraih penutup kepala yang hampir menyelimuti seluruh tubuhnya. "Ayo pergi lewat pintu belakang."


"Ke mana Anda pergi?" tanya Cornelius sekali lagi.


"Rumah bordil," ucap Evandre singkat. "Aku ingin mencari apakah ada wanita yang wajahnya mirip Crystal Lady di sana untuk malam ini."


Tanpa disadari, Evandre menaruh obsesi besar pada putri kedua Marquis Thompsville itu!


...----------------...


Setelah pulang dari istana, Luz tidak langsung memerintahkan kusirnya untuk mengantar ke mansion. Sekarang hampir memasuki pertengahan musim gugur, daun maple nan cantik bertabur riang di setiap tempat. Rugi rasanya jika hanya menonton daun-daun berjatuhan dari balik jendela sambil menikmati secangkir teh, Luz lebih memilih di sini, duduk di luar sambil menikmati pohon yang perlahan merontokkan daunnya helai demi helai.


Taman tampak sepi, mungkin karena udara yang cukup dingin hingga memunculkan uap-uap kecil setiap kali Luz menghela napas. Sejenak dia mencoba berfikir jernih, melihat dari tabiat buruk Evandre, apa keputusannya untuk mendekati pria itu benar?


Jika pada akhirnya Evandre menjadi raja pun, Luz rasa dia tidak akan bertahan lama duduk di kursi takhta. Saingannya banyak, musuh seorang raja juga pasti dimana-mana. Jika dia hanya senang berleha-leha, tidak menutup kemungkinan bangsawan yang akan bergerak menggulingkan kekuasaannya karena jengah ditambah hasutan dari pihak eksternal.


Selama ini putra mahkota bisa hidup mewah karena nasibnya mujur sebab dalam bertahan hidup, dia tidak ada usahanya sama sekali.


Lama melamun, Luz akhirnya tersadar lalu mendongak. Menyapukan pandangan, tak sengaja Luz melihat Grand Duke dengan jubah mantelnya tengah sibuk melakukan sesuatu di seberang jalan.


"Putra mahkota tidak seperti Grand Duke," gumamnya tanpa sadar.


Entah karena merasa diperhatikan, tak lama Grand Duke ikut menoleh tepat ke sisi jalan yang lain. Manik topaz-nya bertubrukan dengan tatapan amethyst yang kini menatap dirinya ditambah dengan ekspresi terkejut lalu memalingkan muka. Alastair tersenyum kecil, tapi tidak ada satu pun yang menyadari bahkan orang yang berada di sampingnya.


"Sesuai perintah Anda, lahan milik Viscount Joule di sini sudah kami sewa untuk proyek pembangunan gedung pertunjukan teater dan seni. Selain menambah banyak pendatang, kita juga bisa melestarikan kekhasan Brighton agar tidak kalah dengan khas wilayah lain," jelas Louis Graham, pihak yang bekerja sama dengan Grand Duke of Brighton. "Apa ukuran lahannya sudah cocok dengan apa yang Anda inginkan, Your Grace?"


Grand Duke memberikan pekerjaan yang cepat selesai, tidak memerlukan banyak izin darinya tapi sesuai keinginan. Untuk itu dia menyerahkan proyek di sini bulat-bulat pada Louis Graham, salah satu orang yang ia percaya.


Ia mengangguk, "Sudah sesuai. Satu pekan lagi kau bisa menyuruh kuli untuk mulai bekerja di sini. Pastikan tidak ada kendala apapun atau segeralah melapor, mengerti?"


Louis Graham mengangguk, "Baik, Your Grace."


"Kalian boleh pergi."


Setelah itu mereka benar-benar pergi sampai menyisakan Grand Duke dan pengawalnya sendirian. Pria itu berbalik, berbicara pada kusirnya. "Aku bisa pulang sendiri, jadi kau bisa pulang sekarang."


Tanpa diperintah untuk kedua kalinya, kusir tersebut menghentakkan kekang kudanya hingga bergerak maju lebih dulu, meninggalkan Grand Duke sendirian sambil memperhatikan Luz dari jauh. Wanita itu kembali mengarahkan pandangannya pada kereta kuda Grand Duke yang lewat, menatapnya lekat hingga kereta tersebut hilang di tikungan jalan.


"Banyak masalah hidup, eh?"


Luz hampir memekik kaget andai dia tidak cepat-cepat berbalik. Grand Duke lagi-lagi muncul di belakangnya.


"Itu ... kereta mu bukannya sudah pergi?" Luz menunjuk tempat terakhir kali kereta Grand Duke terlihat.


"Ya, tidak masalah. Aku ingin jalan kaki, memangnya kenapa?" Luz menatap Alastair dengan curiga. Pria itu menambahkan lagi, "Jalan kaki itu lebih sehat dibandingkan duduk diam di dalam kereta saja. Kau tidak suka jalan kaki, ya? Pantas selalu terlihat sakit-sakitan."


"Sembarangan!" Luz melayangkan pukulan kecil. Bukannya sakit, pukulan tersebut malah mengundang tawa Grand Duke. "Aku selalu berolahraga, tahu. Apalagi dulu, ayah sampai membangun gym pribadi di dalam rumah agar bisa sehat setiap hari."


"Sejenis tempat olahraga seperti itu pokoknya," jawab Luz malas.


Grand Duke memutuskan duduk di sampingnya. "Tapi seingatku, Marquis Thompsville tidak memiliki tempat olahraga seperti yang kau sebutkan itu. Dia tidak suka olahraga."


"Oh ya?"


"Kebiasaan ayah sendiri tidak tahu," dengus Alastair.


Luz menyahut dengan dingin, "Dia bukan ayahku."


"Ayah biologis," jawab Alastair lagi tak mau kalah.


Luz hanya diam tapi jauh di dalam hatinya, ia membatin. Pria serakah itu benar-benar bukan ayahku, dia ayah Odyssey!


Inilah susahnya hidup di dalam raga orang lain.


"Terserah apa mau mu." Luz berdiri lalu masuk ke dalam kereta kudanya.


Grand Duke mengira Luz akan pulang namun tak lama wanita itu kembali keluar dengan sebuah jubah penutup kepala yang diikatkan di bawah leher.


"Tidak pulang?"


"Nanti saja, masih banyak yang harus ku lakukan." Luz memberi hormat, "Kalau begitu, Your Grace. Aku permisi."


"Sebentar lagi malam," peringat Alastair datar.


"Aku tahu."


"Pergi bersamaku." Alastair melepaskan mantel bulu yang dia pakai lalu menyerahkannya kepada Luz. "Apa ada penutup kepala yang lain?"


Luz mengerjap. Perempuan tidak masalah ingin jalan-jalan kapan saja, tapi itu di New York, bukan di Brighton. Lagipula, daripada sendirian lebih baik ada teman, kan.


"Sebentar." Luz menyambut mantel Grand Duke dan menggantinya dengan penutup kepala yang jauh lebih sederhana. "Ini."


"Terima kasih." Alastair memasangnya lalu mengikat tali di bawah leher dengan serampangan asal terikat. Melihat bentuknya, Luz tidak tahan. Dia menarik tangan Grand Duke lalu mereka berdiri berhadapan.


"Jangan mengikatnya seperti itu, membuat orang yang melihatnya sakit mata saja," gerutunya sambil meraih tali-tali dan menghubungkannya satu-persatu dengan telaten.


Dari jarak sedekat ini, Alastair bisa mencium aroma asing yang membuat hatinya berdebar. Terlebih lagi saat telapak tangan Luz tidak sengaja menyentuh lehernya, semacam ada sengatan tak kasat mata yang tidak bisa Alastair dijelaskan.


"Crystal Lady, apa saya harus pulang?"


Sontak Luz mendorong Alastair seolah dia terkena hipnotis lalu berbalik, menatap horor kusir yang sejak tadi menunggu diperintah olehnya.


"Pulang saja. Aku akan pergi bersama Grand Duke."


Di dalam hati, Alastair kesal setengah mati pada kusir Odyssey itu. Kenapa dia mengganggu di saat yang tidak tepat, saat dimana mereka berdua sedang terbawa suasana. Kenapa sebelumnya dia tidak pergi saja daripada menonton kegiatan orang lain?


Bah, rasanya Alastair ingin mencekik orang!