Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
30. Pahit Sejak Kecil



Luz tidak pernah meminta hidupnya bisa se-picisan drama Korea yang kadang awal tumbuh perasaan saling suka antara aktor dan aktris pemainnya tak masuk akal, tapi sekarang itulah yang terjadi padanya. Setelah kejadian jatuhnya itu, Luz buru-buru pamit pulang dengan alasan bersiap-siap untuk hari pertamanya bekerja. Tapi nyatanya, sejak tadi siang Luz enggan keluar mansion. Kadang yang dilakukannya hanya melamun, menyesali perbuatannya lalu bergerak panik.


Hari pertamanya di Brighton tidak seindah yang dibayangkan.


Ia mondar-mandir di dalam kamarnya sambil meyakinkan diri.


Hanya ciuman di kening, tidak masalah, Luz. Bukankah di New York hal yang lebih dari itu saja sudah dianggap tabu?


Membayangkan bagaimana jika Grand Duke menjauhinya akibat kejadian tadi mampu membuat Luz semakin takut. Bahkan dia belum menjalankan bisnis kecantikannya, bagaimana jika Grand Duke membatalkan peresmian besok?!


Apa Luz perlu meminta saran Ochonner?


Dengan cepat Luz meraih mantelnya yang tergantung di samping pintu dan keluar dari kamar menuju ruang kerja Ochonner yang letaknya lumayan jauh dari deretan kamar. Mansion yang sepi memantulkan suara benturan antara sepatu Luz dengan lantai marmer, cukup menakutkan jika berjalan sendirian di setiap lorong-lorong. Tapi hal yang creepy seperti itu bukan prioritas Luz saat ini, dia harus berbicara empat mata dengan Ochonner.


"Belum tidur, Odyss?"


Luz menoleh. Tepat di ujung lorong menuju hall utama, Ochonner berdiri dengan secangkir kopi di tangannya.


Dan ya, Luz tidak masalah jika Ochonner hanya memanggil namanya tanpa embel-embel kakak. Toh, usia mereka hanya terpaut tujuh menit. Selain itu, tradisi di Brighton tentang anak kembar juga berbeda. Menurut mereka, anak yang terlahir paling akhir lah yang merupakan kakak dan si kembar putih ini —terutama Luz— sedang beradaptasi dengan lingkungan baru mereka.


"Pas sekali ada kau di sini," ucap Luz lega. Setidaknya dia tidak perlu berjalan lebih jauh lagi. "Apa kau ada waktu?"


Ochonner mengangguk. "Bagaimana jika ke taman? Di jam seperti ini biasanya bulan purnama sedang cantik-cantiknya."


Luz setuju dan mereka sama-sama melangkah menuju taman yang Ochonner maksud. Berbeda dengan manor house Thompsville yang banyak disusun bangku di setiap sudut, mansion Ochonner lebih fokus pada penataan taman yang luar biasa. Sayangnya, saat ini musim gugur sedang menerpa Sormenia sehingga tidak semua bunga bisa dinikmati keindahannya.


"Ku lihat hanya ada sedikit pelayan yang kau pekerjakan," ucap Luz memulai percakapan lebih dulu. "Lalu bagaimana cara mereka yang sedikit itu bisa menata taman seindah ini?"


"Satu hal yang tidak de Cera ketahui tentangku." Ochonner tersenyum kering. "Hobi ku menata tanaman, Odyss."


Luz tampak terkejut. Dilihat dari penampilannya, Ochonner tak tampak seperti orang pecinta alam. "Kenapa kau tidak pernah bercerita?"


"Sebenarnya Marquis Thompsville tahu tentang hobi aneh ku ini," jawabnya ringan, lalu menghela napas. "Saat itu kita masih tujuh tahun, saat-saat di mana Marquis Thompsville fokus ingin menjadikanku sebagai pewarisnya. Kau tahu apa yang dilakukannya saat tahu hobi ku barusan?"


Luz memerhatikan raut wajah Ochonner yang baru pertama kali dilihatnya; pria ini ... begitu rapuh.


"Dia memberikan hukuman cambuk tanpa ampun. Saat itu, aku sudah meminta maaf padanya agar berhenti melayangkan benda terkutuk itu padaku tapi dia sama sekali tidak menggubrisnya. Setelah punggungku penuh darah dan pingsan, barulah dia berhenti menggila."


Luz tidak menyangka. Sebegitu mengerikannya Ochonner diperlakukan di rumahnya sendiri hanya dikarenakan hobi yang dia sukai. Marquis Thompsville tidak ingin perhatian Ochonner terbagi dua. Baginya, anak laki-laki semata wayangnya diharuskan kuat dalam segi militer dan politik, bukan membuang-buang waktu di taman mengurus bunga-bunga seharian. Tidak ada laki-laki yang hobi menanam bunga.


Mereka sama-sama duduk di sebuah gazebo kayu berbentuk lingkaran dengan bangku yang mengelilingi sebuah meja kecil. Daun-daun coklat memenuhi lantainya hingga tumpukan daun itu terlihat seperti karpet tebal.


Ochonner terkekeh, "Maaf, tempat ini belum sempat ku bersihkan."


"Ya, jika pekerjaan sudah selesai." Ochonner memutuskan duduk di depan Luz. "Kau tahu sendiri, kan. Grand Duke gila itu suka sekali memberikan banyak urusan ini-itu padaku."


"Berarti dia percaya padamu."


Ochonner terdiam. "Benar, dia percaya padaku." Pria itu menoleh ke samping, memperhatikan bulan yang menggantung indah di antara ribuan cahaya bintang yang mengelilinginya. "Asal kau tahu, saat Marquis Thompsville mengirim ku ke mari sepuluh tahun yang lalu, sangat sulit untuk mendapatkan kepercayaan Grand Duke."


Luz lagi-lagi terkejut. Usia mereka sekarang baru tujuh belas tahun dan Ochonner ternyata sudah dipisah dari keluarga de Cera sejak berusia tujuh tahun. "Kau sudah sangat lama mengabdi pada Grand Duke."


"Saat itu dia bahkan belum mendapatkan gelar Grand Duke seperti sekarang." Ochonner tertawa kecil, "Pertama kali bertemu, usianya belum genap enam belas tahun. Di usia semuda itu, Grand Duke sudah bisa memilah mana orang yang bisa dipercaya dan mana orang yang hanya sampah di atas nama kehormatan keluarga sebagai kaki tangannya."


"Dia selalu mendapat kepahitan sejak kecil," sambung Ochonner lagi.


Luz menoleh. Membiarkan Ochonner bercerita dan melupakan tujuan awalnya mengapa menghampiri kembarannya ini.


"Ibunya berani mengkhianati cinta suaminya sendiri sampai tega memberikan racun demi selingkuhan lamanya. Jadi, jika Grand Duke terlihat membenci wanita, jangan sekali pun mengkritiknya." Ochonner melanjutkan, "Terkadang orang-orang hanya bisa menilai suatu sikap itu salah tanpa tahu apa yang menjadi penyebabnya."


Luz tersenyum miris, "Ku rasa tidak ada yang bisa hidup damai di dunia ini."


"Ada," jawab Ochonner, "Kakak Athene. Selama hidupnya, dia tidak pernah kesusahan. Marchioness sangat menyayanginya karena secara tidak langsung, Athene pernah menyelamatkan pernikahannya dengan Marquis Thompsville."


Luz mengernyit. Lagi-lagi dia mendapatkan kejutan.


"Selama lima tahun pernikahan, Marchioness tidak kunjung hamil sampai *Dowager Marchioness ingin Marquis Thompsville cerai darinya. Dia dianggap tidak subur tapi hal itu dapat dibantahkan sebab tak lama kemudian Marchioness hamil kak Athene."


"Yah, intinya semua orang mendapatkan kesusahannya masing-masing."


"Dan kau, Odyssey. Kau yang mendapatkan segalanya."


Mendapatkan segalanya apanya!


Melihat ekspresi aneh Luz sontak memecahkan tawa Ochonner yang menggema hingga pria itu mengusap ujung matanya. "Tidak-tidak, maksudku, kau mendapatkan semua siksaan yang bisa orang alami."


Luz menunduk, tak berani menatap manik dengan warna yang sama dengan netranya itu secara langsung. Luz berbeda dengan Odyssey yang Ochonner maksud dan ya ... Luz juga merasakan perasaan yang sama seperti Ochonner pada pemilik tubuh yang ia tempati saat ini.


"Odyssey sudah berusaha sebisa mungkin untuk bertahan hidup, dan sekarang giliran ku yang akan membantunya," sahut Luz ambigu dan tentu saja ucapan —seolah dia bukan Odyssey— itu dibalas Ochonner dengan lipatan di dahi dan tatapan bingung.


Satu hal yang Luz pelajari; di zaman ini banyak kebahagiaan orang-orang terenggut hanya karena gila kekuasaan.


......................


*Janda Marchioness, yaitu Ibu dari Marquis yang berkuasa.