
Ritme bunyi yang dihasilkan elektrokardiogram dan aroma obat-obatan tampak memenuhi ruangan berukuran kurang lebih empat puluh meter persegi tersebut. Di atas ranjang berukuran single, terdapat tubuh seorang wanita yang masih setia menutup matanya walau tahun sudah berganti dari waktu ke waktu.
Di salah satu sudut ranjang pasien, tampak tulisan 'Lovely Anderson' tertera di sana.
Seorang pria berjas putih beserta lima orang perawat tampak rutin mengecek kondisinya. Dokter Calvin, sudah empat tahun ini diberikan mandat —langsung dari Ken Anderson, Presdir Kebely Group— untuk merawat sang penata rias senior yang merupakan putri tunggalnya dengan tangan dokter profesional itu sendiri.
"Tolong gantikan infusnya."
Perawat yang berdiri di sampingnya pun mengangguk lalu mencabut botol plastik yang digantung di sebuah tiang tepat samping ranjang. Sementara itu, Dokter Calvin merasakan kejanggalan saat sepintas melihat jari tangan Luz perlahan bergerak.
Untuk membuktikan kecurigaannya, sang dokter langsung mengecek frekuensi denyut nadi pasiennya. Tidak salah lagi, ada titik terang bagi Luz untuk kembali hidup.
"Perawat, pasien memiliki tanda-tanda siuman. Segera siapkan defribrilator, kita akan memompa jantungnya!"
"Baik!"
Usai mendengarkan perintah dokter, mereka langsung bergerak cepat. Kebetulan saat itu Ken Anderson sedang berada di meeting room perusahaan, begitu antusias saat mendapatkan kabar bahwa putrinya akan segera siuman.
Ken Anderson mendadak berdiri, menarik perhatian semua orang di ruang rapat. Anak buahnya menatap pria tua itu dengan mimik kebingungan.
"Sorry, Mr. Anderson. Ada apa?"
"Rapat cukup sampai di sini," ujarnya tangkas. "Jika ada yang ingin disampaikan, silakan tanyakan pada sektretaris pribadiku."
Tanpa membuang waktu, Ken segera melesat pergi ke rumah sakit terbaik di New York. Ia sangat bersyukur saat jalanan lenggang dikarenakan sudah masuk jam kerja. Dengan kecepatan penuh mereka tiba dalam waktu singkat. Padahal, jarak antara perusahaannya dan rumah sakit terhitung cukup jauh.
Mendengar kabar bahwa Luz sudah siuman jauh lebih membahagiakan dibanding tahu perusahannya akan membuka cabang di tujuh belas negara berbeda. Langkah kaki pria tua itu dengan cepat membawanya ke sebuah lift khusus yang diperuntukkan bagi tamu VIP. Saking cepatnya langkah Ken, anak buahnya bahkan sampai kehilangan jejak.
"Lovely ... sudah sadar," ungkapnya lirih saat berlari di koridor rumah sakit. Sudah lama. Sudah lama Ken menantikan hari ini.
Langkahnya mendadak berhenti di sebuah kamar bernomor 247. Ken mengelus dada, antara merasa gugup dan takut jika lagi-lagi kabar siumannya Luz hanyalah angan-angan belaka.
Bertepatan dengan Ken yang ingin membuka pintu, terdengar suara dari dalam yang berarti ada seseorang yang ingin keluar. Setelah pintu terbuka, Ken tersenyum saat tahu bahwa orang itu adalah Dokter Calvin.
"Anda sudah sampai. Kebetulan sekali, nona Lovely sudah sadar. Anda bisa melihatnya sendiri," ucap pria itu sopan.
"Apakah dia benar Lovely-ku, Calvin?"
Calvin, adik dari Erickson itu tersenyum senang. "Dia benar-benar Lovely Anderson, orang yang Anda maksud." Ia mengulurkan tangannya, "Selamat, penantian empat tahun ini ternyata tidak sia-sia."
"Berkat bantuan mu," sanjung Ken yang hampir tidak bisa menahan haru. Ia balas jabatan tangan Dokter Calvin yang sempat menggantung di udara. "Kalau begitu aku ke dalam."
Calvin mengangguk, "Saya juga permisi."
"A-ayah ...."
"Love sayang." Ken bergerak maju dan merengkuh tubuh putrinya ke dalam pelukannya. Saling melepas rindu setelah empat tahun, sering berjumpa namun tidak bersama. Wajah Ken basah, penuh dengan air mata. Luz juga merasakan rindu yang amat mendalam, namun tubuh lamanya ini belum terlalu kuat untuk menopang seluruh emosinya yang ingin mendekap balik tubuh Ken yang masih sehat di usianya yang tidak lagi muda.
"Empat tahun. Sudah empat tahun, apa saja yang kau lakukan, nak?" tanya Ken dengan suara bergetar. "Kenapa kau begitu betah tertidur dan meninggalkan aku sendirian?"
"Em-empat tahun?" Luz menguraikan pelukan mereka lalu memperhatikan ekspresi Ken. Tidak ada senyum jahil yang tercetak di wajahnya. Tidak ada sama sekali.
Seingat Luz, dirinya berada di Sormenia selama kurang lebih setahun yang berarti dia sudah melewati empat musim. Jadi, selama satu musim di Sormenia sama dengan satu tahun di New York.
"Alastair." Luz sejenak termenung, memikirkan bagaimana keadaan pria yang kini sudah berhasil menjadi kaisar tersebut. Apa yang sedang ia lakukan, Luz benar-benar ingin tahu.
"Siapa Alastair?" tanya Ken bingung.
"Aku harus kembali," ujar Luz tiba-tiba. "Suamiku ... dia pasti terguncang. Aku harus kembali," ujarnya kekeuh.
Luz hampir melepaskan selang infus yang melekat di punggung tangannya sebelum Ken mencegah. "Apa maksudmu, nak. Suami? A-ayah tahu kau pasti tidak terima jika pada akhirnya Erickson menikah dengan wanita lain. Tapi jika berbuat nekat seperti ini di saat kondisi mu belum stabil, ayah sama sekali tidak mengizinkan!"
Luz termenung. Sulit untuk menjelaskan keberadaan Alastair kepada ayahnya karena Ken tipikal orang yang rasional, dan jika Luz bercerita tentang kehidupannya di Sormenia pun, pasti sang ayah akan sulit percaya.
Dan apa tadi, Erickson menikahi wanita lain? Cih, Luz sama sekali tidak peduli. Jika pria itu benar-benar mencintainya, sampai lima puluh tahun lagi pun pasti akan ia lewati.
"Erickson memang tidak bisa kau miliki lagi, tapi masih banyak putra dari kolega bisnis ayah yang menyukai dirimu. Putri ayah sangat cantik dan terkenal, pria mana yang bisa menolak terkecuali jika matanya buta," canda Ken yang berusaha menghibur setelah menyadari perubahan ekspresi putrinya.
"Aku lelah." Luz perlahan menarik selimutnya kembali, berbaring dan berbalik menghadap dinding. "Aku ingin tidur. Ayah bisa datang lain kali."
Ken memandang punggung putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Walau tahu Luz tidak melihat ke arahnya, pria tua itu tetap mengangguk. "Beristirahatlah sampai benar pulih. Ayah akan mengirimkan body guard untuk berjaga di sekitar sini agar para wartawan-wartawan itu tidak mengetahui keadaanmu."
Setelah mendengar derap langkah kaki menjauh disusul derit pintu yang ditutup, Luz tidak bisa lagi menahan isakannya. Dia sangat merindukan manik topaz yang setiap hari menatapnya penuh puja. Dia merindukan kekehan geli pria itu sambil sesekali mengelus lembut rambutnya. Dan dia juga merindukan suara berat yang beberapa hari ini selalu membuatnya terngiang-ngiang.
Tangisan Luz semakin keras kala menyadari sebuah cincin permata ikut melekat di jari manisnya. Cincin pernikahan mereka, yang entah mengapa bisa sampai kemari. Luz menggenggam benda kecil itu erat, mencurahkan perpaduan antara rasa takut kehilangan dan perasaan rindu yang membuncah.
"Manuel."
Tangis Luz reda saat ia mengingat nama itu. Manuel, orang pertama yang membawanya ke Sormenia. Pasti dia tahu bagaimana caranya agar Luz bisa kembali ke sana.
Setelah berhasil menyusun ide, Luz bertekad agar tubuhnya cepat pulih. Ia akan berusaha bagaimanapun caranya agar dapat bertemu dengan Alastair lagi. Lalu tinggal di Sormenia untuk selama-lamanya.
Luz tidak akan semudah itu untuk menyerah, ia akan mengambil kembali apa yang sudah menjadi miliknya.
Termasuk Alastair.